Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
64. Memangnya Kenapa?


__ADS_3

Rayyan keluar dari kamarnya, meninggalkan Aurora yang masih terlelap. Melewati Nala yang sudah berjaga di samping pintu kamarnya. Andi yang juga menunggu di depan pintu pun melirik wajah majikannya.


"Wajah Tuan tidak terlihat suram atau marah. Sepertinya kali ini aku aman. Tidak apa-apa harus keluar uang U$$ 1.500, nggak nyampe 25 juta, tapi aman dari lembur tanpa digaji dan selamat dari amukan Tuan. Uhuiii.. Yes! Yes! Yes!,"gumam Andi lirih, tersenyum lebar seraya mengepalkan kedua tangannya ke atas, kemudian bergegas menyusul Tuan nya.


Nala mengernyitkan keningnya melihat tingkah laku Andi. Namun wajah perempuan itu tetap saja datar tanpa ekspresi.


Rayyan bergegas keluar dari rumah dan Andi bergegas membukakan pintu mobil untuk majikannya. Setelah itu, Andi bergegas masuk ke dalam mobil. Duduk di kursi penumpang di sebelah kemudi. Andi menyodorkan sarapan pada Rayyan seperti biasanya.


Andi melirik majikannya dari kaca spion depan dalam mobil. Pria itu sedang mengetik di handphonenya. Tak lama kemudian, ada notifikasi pesan masuk di handphone Andi. Andi bergegas membuka pesan itu saat tahu pesan itu dari Rayyan, lalu membacanya.


Sedangkan Rayyan mulai memakan sarapannya. Rayyan jadi terbiasa sarapan di dalam mobil gara-gara Andi yang ingin membujuk Rayyan agar tidak marah padanya waktu itu. Saat Andi tidak menyelidiki dengan detail siapa Aurora, hingga baru tahu bahwa Aurora berprofesi sebagai kupu-kupu malam saat Andi dan Rayyan dalam perjalanan pulang dari luar kota. Waktu itu, Rayyan sangat marah saat melihat Aurora akan masuk ke sebuah kamar hotel bersama seorang pria. Dan dapat dipastikan, Andi pasti dihukum lembur tanpa digaji, jika waktu itu Aurora sudah tidak perawan lagi.


"Buat surat perjanjian itu dua rangkap!"titah Rayyan pada Andi.


"Tuan.. Tuan yakin akan membuat surat perjanjian seperti ini?"tanya Andi setelah membaca surat perjanjian yang di inginkan Rayyan.


"Kerjakan saja seperti yang aku kirimkan!"titah Rayyan tidak ingin dibantah.


"Baik, Tuan,"sahut Andi seraya kembali membaca surat perjanjian yang harus dibuatnya.


"Nanti malam, saat pulang harus sudah siap!"ujar Rayyan mengingatkan.


"Baik, Tuan,"sahut Andi. Namun sesaat kemudian, kedua sudut bibir pria itu terangkat ke atas membentuk bulan sabit. Sepertinya ada ide nakal di kepala pria itu.


"Apa tahun ini ada anak panti yang berprestasi?"tanya Rayyan seraya menatap layar laptopnya.

__ADS_1


"Ada tiga orang, Tuan. Ada yang berminat kuliah jurusan arsitek, satunya IT dan satunya lagi kedokteran. Apa kita akan menawari mereka bekerja di perusahaan kita setelah lulus kuliah, Tuan?"tanya Andi.


"Iya. Jika mereka mau bekerja di perusahaan kita setelah lulus kuliah, lakukan saja seperti biasanya,"ujar Rayyan tanpa mengalihkan pandangannya pada laptopnya.


Hampir setiap tahun Rayyan membiayai kuliah anak panti asuhan yang berprestasi. Dan setelah lulus kuliah, maka anak-anak berprestasi itu akan di rekrut Rayyan menjadi karyawan di perusahaannya sesuai bidangnya. Karena itu, anak panti asuhan tempat Rayyan memberikan sumbangan rutin berlomba-lomba agar menjadi anak yang berprestasi, sehingga bisa kuliah yang keseluruhan biayanya di tanggung oleh Rayyan. Jadi, hampir setengah dari karyawan Rayyan berasal dari panti asuhan.


Apa yang dilakukan Rayyan juga dilakukan oleh Aiden. Karena Aiden juga merasakan menjadi anak yatim piatu. Dan ingat, Andi dan Roni asisten Aiden, sama-sama berasal dari panti asuhan.


***


Aurora menjalani rutinitasnya seperti biasanya. Semenjak menjadi istri Rayyan, rutinitas Aurora seharian setelah bangun pagi adalah sarapan, latihan fisik, istirahat, makan siang, pergi ke toko kue, ke kafe, kemudian pulang sore harinya. Dan kegiatan malam harinya, jangan di tanya lagi, yaitu melayani Rayyan yang termasuk maniak dalam hal berhubungan suami-istri.


Aurora berbaring di atas sofa Tantra seraya menggulir layar handphonenya. Sofa itu memang sangat nyaman dijadikan sebagai kursi malas. Sehingga Aurora sangat suka berbaring di sofa itu. Aurora melihat foto kebersamaannya bersama ayah dan ibunya dan juga Sumi yang selama setahun terakhir menjadi sahabat, sekaligus partner kerja nya.


"Apa Rayyan benar-benar menyetujui persyaratan yang aku ajukan? Bagaimana jika dia membohongi aku lagi? Waktu itu saja, dia merobek surat perjanjian yang sudah kami tandatangani. Pernikahan macam apa yang sebenarnya aku jalani dengan dia? Bahkan kami jarang berkomunikasi. Setiap pulang, dia selalu meminta haknya sampai aku kelelahan dan tertidur. Bahkan keesokan harinya pun, aku sudah tidak melihatnya lagi. Hubungan macam apa ini? Aku juga ingin bermesraan dengan suamiku, pergi berdua menghabiskan waktu seperti orang lain. Tapi dia sama sekali tidak punya waktu untuk ku selain untuk bercinta. Bahkan sampai saat ini, dia belum datang menghadap kedua orang tua ku,"gumam Aurora menghela napas berkali-kali.


Mendengar suara pintu yang di buka dari luar, Aurora bergegas beranjak dari sofa tempatnya berbaring. Tidak ingin kejadian kemarin malam terulang. Rayyan akan menganggap dirinya telah menunggu Rayyan untuk bercinta, jika dirinya tetap berada di sofa itu. Aurora bergegas duduk di tepi ranjang seraya pura-pura men-scroll layar handphonenya. Saat masuk ke dalam kamar, Rayyan hanya melirik Aurora, kemudian bergegas ke kamar mandi.


"Huff... Bahkan dia tidak menyapaku,"gerutu Aurora menatap kesal ke arah pintu kamar mandi yang sudah tertutup.


Tidak ada komunikasi saat bersama, karena setiap bersama, Rayyan hanya menggunakannya untuk bercinta. Itulah yang terjadi dalam pernikahan mereka selama ini. Karena itulah, Aurora ingin sekali mengakhiri pernikahan yang menurutnya tidak normal itu.


Beberapa menit kemudian, Rayyan keluar dari dalam kamar mandi. Pria itu hanya menggunakan celana boxer saja. Rambut pria itu masih setengah basah. Dan tentu saja sangat menggoda. Aurora berusaha mengendalikan matanya agar tidak melihat ke arah Rayyan dengan tetap fokus pada layar handphonenya, membaca komik online. Mati-matian menahan diri untuk tidak melihat tubuh Rayyan yang sangat memanjakan mata. Aroma segar dari sabun yang digunakan Rayyan menyeruak di indera penciuman Aurora, semakin membuat hati Aurora tergoda untuk menatap Rayyan, tapi masih tetap di tahannya.


"Greb"

__ADS_1


Tiba-tiba Rayyan memeluk Aurora dari samping dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Aurora. Mencium dan menggosok-gosokkan hidungnya di ceruk leher Aurora.


"Ray! Hentikan!"pinta Aurora seraya menjauhkan lehernya dari Rayyan, dan mencoba melepaskan tangan Rayyan yang melilit di perutnya.


"Aku suka aroma tubuhmu,"ucap Rayyan mengeratkan pelukannya dan terus saja menggosok-gosokkan hidungnya di ceruk leher Aurora.


"Lepas! Mana surat perjanjian nya? Kamu jangan pura-pura lupa!"ucap Aurora masih berusaha untuk melepaskan diri dari Rayyan.


"Ck, kenapa hanya itu yang ada di pikiran kamu?"decak Rayyan seraya melepaskan pelukannya.


"Kamu juga! Apa hanya bercinta saja yang ada di dalam otakmu itu? Dasar mesum! Maniak!"umpat Aurora kesal.


"Aku memang mesum, maniak, memangnya kenapa? Lagian, untuk apa membuat perjanjian konyol itu? Kartu yang aku berikan padamu, sampai saat ini juga baru kamu pakai sekali"gerutu Rayyan, karena Aurora memang hanya pernah memakai kartu yang diberikan Rayyan sekali.


"Jangan mengalihkan pembicaraan! Kalau kamu tidak sanggup memenuhi persyaratan yang aku minta, ceraikan aku!"ketus Aurora.


"Ck, kenapa kamu suka sekali mengucapkan kata cerai?"decak Rayyan tidak suka.


"Karena dari awal pernikahan, kamu sudah memaksa aku, bahkan membohongi aku. Kita sudah sepakat untuk menikah kontrak selama satu tahun tanpa sentuhan fisik. Tapi kamu malah merobek surat perjanjian kontrak itu. Bahkan setiap malam kamu selalu memaksa aku untuk melayani mu. Aku tidak percaya lagi padamu!"ujar Aurora meluapkan kekesalannya.


"Jadi, selama ini kamu terpaksa melayani aku? Setiap malam kamu mendesah dan melenguh di bawah kungkungan ku, apa kamu tidak menikmatinya?"


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2