Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
335. Menenangkan


__ADS_3

Lana berlari menghampiri Neil tanpa memikirkan apapun. Hanya rasa khawatir pada Neil yang ada di hati Lana mendengar letusan senjata api itu.


"Brukk"


Pria berambut pirang yang berniat menembak Neil itu ambruk dengan dada yang berlumuran darah. Saat pria itu ingin menembak Neil, dengan cepat Neil membalikkan moncong peluru hingga saat pelatuk pistol itu di tarik, pria itu sendiri lah yang tertembak.


"Akkhh"


"Jangan bergerak!"ucap pria yang memakai anting bergerak cepat menyandera Lana yang mendekat. Pria itu mengarahkan pisau di leher Lana. Menyadari tidak mudah melawan Neil. Dirinya tidak ingin mati konyol seperti rekannya. Apalagi sekarang dirinya juga dalam keadaan babak belur karena di hajar oleh Neil tadi.


"Neil.."ucap Lana lirih dengan mata yang sudah berkabut,"Kalau aku mati sekarang, maafkan aku karena tidak bisa menepati janjiku untuk menikah dengan kamu. Semoga kamu bisa menemukan gadis yang baik yang bisa mencintai kamu dan membahagiakan kamu,"gumam Lana dalam hati menatap Neil lekat.


Pria yang menyandera Lana itu membulatkan matanya mendengar Lana memanggil pria yang menghajarnya itu dengan panggilan Neil.


"Neil? Aku tidak salah dengar, 'kan? Pria dengan aura menakutkan ini bernama Neil? Dia sangat ahli ilmu bela diri. Dia juga terlihat sangat tenang saat melawan kami. Dengan mudah dia menangkis, dan menyerang kami balik hingga kami kewalahan dan babak belur. Jangan-jangan, dia adalah Neil pimpinan mafia Tengkorakk itu. Jika benar, mampus lah aku. Tapi, dari mana pria itu mengenal gadis ini? Dan gadis ini, dia nampak sangat akrab dengan pria itu. Apa nasibku akan sama seperti rekanku?"gumam pria yang memakai anting itu dalam hati.


"Berani sekali kamu menyentuh wanita ku,"ucap Neil dengan wajah tersenyum dingin. Aura membunuh dari pria itu benar-benar pekat dan membuat tangan pria beranting yang memegang pisau itu gemetar.


"Sial! Dia memiliki tato tengkorakk di lehernya. Jangan-jangan, dia benar-benar Neil pimpinan mafia itu. Mampus! Kali ini mungkin nyawaku tidak akan selamat,"gumam pria itu dalam hati merasa semakin ketakutan.


"Dor"


"Akhhh"


Entah dari mana arah tembakan itu berasal, tangan pria yang menodongkan pisau di leher Lana itu tertembak tepat di tangannya yang memegang pisau, hingga pisau yang di pegangnya pun terlepas.


"Bugh"


"Akhh"


Dengan cepat Neil menendang pria itu hingga jatuh. Dengan aura yang sangat menakutkan, Neil kembali menendang pria yang sudah terjatuh itu tanpa ampun.


"Akkh! Ampun! Ampuni aku!"pekik pria yang memakai anting itu dengan wajah yang berlumuran darah karena di tendang Neil bertubi-tubi.


"Neil! Cukup, Neil! Lepaskan dia! Aku tidak ingin tanganmu kotor oleh darahnya,"ucap Lana memegang tangan Neil untuk menenangkan pria itu. Memilih kata-kata yang paling tepat agar tidak menyinggung, apalagi menyulut emosi Neil.

__ADS_1


Neil menghela napas berkali-kali untuk menurunkan emosinya. Pria itu mencoba tersenyum pada Lana.


"Kita pulang!"ajak Neil.


"Iya,"sahut Lana tersenyum tipis.


Menurut dan bersikap sabar serta mencari kata-kata yang sekiranya tidak menyinggung perasaan Neil dan tidak terkesan membela, apalagi melindungi pria yang sempat menyandera dirinya tadi adalah pilihan Lana untuk menenangkan Neil.


Bukankah api harus di lawan dengan air, agar api itu padam? Neil yang keras dan mudah emosi harus di sikapi dengan lembut dan sabar.


Neil memberi isyarat pada anak buahnya untuk membereskan orang yang baru saja di hajarnya. Tentu saja Neil tidak akan melepaskan pria itu begitu saja. Apalagi pria itu telah berani menyentuh gadis yang di cintainya, bahkan berani menodongkan pisau di leher gadis yang di cintainya di depan matanya.


Neil hanya melepaskan pria itu di depan Lana saja. Tidak ingin Lana membenci dirinya karena tidak mendengarkan Lana. Tidak ingin kehilangan Lana karena masalah seperti itu.


"Lan, kita pulang ke mansion ku, ya!?"tanya Neil saat mereka sudah berada di dalam mobil.


Troy mengatakan bahwa semua jejak Dila di mansion nya sudah di hapus. Troy sudah membuang semua barang yang pernah di pakai Dila. Troy juga mengecat ulang serta membeli furniture yang baru untuk kamar yang dulu di tempati Dila. Di rombak total dan di desain ulang. Benar-benar berubah dari sebelumnya.


"Aku terserah kamu saja,"sahut Lana tersenyum lembut. Namun sesaat kemudian Lana menatap Neil dengan tatapan serius,"Neil, aku hanya bisa menikah dengan kamu secara agama saja. Aku tidak bisa menikah dengan kamu secara hukum,"ucap Lana hati-hati, karena takut Neil tersinggung.


"Bukan! Bukan aku tidak mau meresmikan pernikahan kita secara hukum dan agama. Aku sangat ingin. Masalahnya, aku tidak memiliki dokumen apapun untuk menikah dengan kamu secara hukum. Semua dokumen milikku tertinggal di rumah ayah sambung ku. Karena itulah aku tidak bisa menikah dengan kamu secara hukum,"jawab Lana jujur adanya.


Neil tersenyum mendengar jawaban Lana,"Kamu tidak perlu khawatir soal itu. Aku yang akan mengurus segalanya. Aku pasti akan mendapatkan semua dokumen milikmu dan kita akan menikah secara hukum dan agama,"sahut Neil tersenyum lembut.


"Benarkah?"tanya Lana antusias.


"Tentu saja. Aku akan melakukan apapun untuk kamu. Aku pasti akan mendapatkan semua dokumen milikmu,"jawab Neil jujur adanya dan yakin bisa melakukan apa yang di janjinya pada Lana.


"Neil, bisakah kamu mengambilkan foto-foto ibuku juga?"tanya Lana ragu.


"Katakan saja barang apa saja yang ingin kamu ambil dari rumah ayah sambung kamu itu. Aku pasti akan membawanya untuk kamu,"ucap Neil serius.


"Hanya dokumen dan foto-foto ibuku saja. Yang lainnya tidak terlalu penting bagiku,"


"Pasti akan aku ambilkan,"ucap Neil serius.

__ADS_1


"Terimakasih, Neil,"ucap Lana tersenyum tulus.


"Sebentar lagi kita akan menikah. Kamu tidak perlu berterima kasih padaku. Sebentar lagi, ayah sambung kamu itu pasti juga akan bangkrut. Tuan Rayyan pasti akan balas dendam padanya. Karena dia telah banyak merugikan Tuan Rayyan dengan segala macam kebijakannya di kota ini,"ujar Neil.


Neil mengetahui, jika Rayyan sudah mulai bergerak untuk menghancurkan bisnis ayah sambung Lana dengan menggunakan koneksinya di bidang bisnis. Dan Neil yakin jika bisnis ayah sambung Lana pasti akan segera hancur karena Rayyan. Sedangkan Neil sendiri sudah menghancurkan mafia yang bekerja sama dengan ayah sambung Lana.


Bahkan Neil sudah hampir mendapatkan bukti-bukti kejahatan ayah sambung Lana. Jika semua buktinya sudah lengkap, Neil akan mempublikasikan bukti-bukti itu ke media. Jika menyerahkan bukti ke polisi, prosesnya akan lama dan mungkin saja polisi akan bekerja sama dengan ayah Lana untuk menyembunyikan kejahatannya.


Jadi, Neil akan menyebar bukti-bukti itu ke media masa dulu, baru ke polisi. Agar tidak ada kolusi antara ayah Lana dan polisi. Sehingga ayah Lana tidak akan selamat dari hukum karena tuntutan dari massa. Hal itu akan mempercepat ayah Lana jatuh dari posisinya sebagai pejabat dan semua usahanya akan benar-benar bangkrut.


"Kamu yakin Tuan Rayyan bisa menghancurkan ayah sambung ku?"tanya Lana.


"Tentu saja. Dengan koneksi nya di bidang bisnis, aku yakin Rayyan Nugroho bisa menghancurkan ayah sambung kamu dengan mudah. Rayyan Nugroho bukan pebisnis kemarin sore. Dia itu pebisnis handal yang memiliki banyak pengaruh. Ayah sambung kamu salah mencari mangsa. Dia pikir bisa menjadikan Rayyan Nugroho sebagai sumber dana untuk menyokong dia menuju posisi yang lebih tinggi. Tapi, pemikirannya itu seratus persen salah. Yang ada, dia bukan naik posisi jabatan, tapi jatuh dari jabatannya karena menyinggung Rayyan Nugroho,"jelas Neil.


"Tapi, aku tidak mengerti dengan jalan pikiran pria itu. Dia rela membuat surat perjanjian yang isinya akan memberikan semua harta yang di milikinya pada istrinya, jika dia sampai mengkhianati istrinya,"


"Benarkah?"tanya Neil yang tidak mengetahui soal itu.


"Hum. Dia akan menjadi pria miskin yang tidak punya apa-apa, jika sampai berani mengkhianati istrinya. Karena itulah, ayah sambung ku tidak bisa memaksa dia untuk menikah dengan aku,"jelas Lana.


"Berarti, dia sangat mencintai istrinya,"sahut Neil tersenyum tipis.


"Iya..Kamu benar,"sahut Lana tersenyum manis.


"Aku juga akan memberikan semua harta ku serta seluruh jiwa dan ragaku jika kamu mau tinggal di sisiku dan mencintai aku,"gumam Neil dalam hati.


"Apa kamu akan mengundang mereka ke acara pernikahan kita?"


"Tentu saja. Mereka adalah orang yang telah menolong kamu dan mempertemukan aku dengan kamu. Mana mungkin mereka tidak aku undang dalam acara pernikahan kita,"sahut Neil tersenyum lembut.


...🌸❤️🌸...


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2