Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
252. Percaya Diri


__ADS_3

Sebelum makan malam tiba, Rayyan sudah kembali ke rumah Aurora. Rayyan menekan bel dirumah itu dan tak lama kemudian seorang pelayan membukakan pintu. Pelayan yang melihat Rayyan tadi siang. Pelayan itu nampak terpesona melihat wajah tampan Rayyan. Hingga pelayan itu berdiri membatu di depan pintu menatap Rayyan.


"Bisa beri saya jalan?"ucap Rayyan membuat pelayan yang masih berusia sekitar dua puluh lima tahun itu terhenyak.


"Ray! Kamu sudah kembali?"sapa Aurora penuh senyuman menghampiri suaminya yang kembali berpenampilan seperti dulu.


Pelayan itu memiringkan tubuhnya menatap Aurora yang tersenyum manis menyambut Rayyan. Senyuman yang baru pertamakali dilihatnya semenjak bekerja di rumah itu. Apalagi, saat ini majikannya itu terlihat semakin cantik karena memakai riasan. Walaupun riasan itu tipis dan terlihat natural, tapi sudah membuat Aurora bertambah semakin cantik. Dan selama bekerja di rumah itu, baru kali ini pelayan itu melihat Aurora berdandan seperti itu.


Rayyan melangkah masuk melewati pelayanan yang masih bengong itu. Senyuman manis terukir di wajahnya yang tampan.


"Cup"


"Kamu semakin cantik saja,"puji Rayyan setelah mengecup bibir Aurora.


"Ayo, kita makan! Bik Mastuti sudah menghidangkan makan malam,"ucap Aurora seraya memeluk lengan Rayyan mesra.


Pelayan di rumah Aurora yang dari tadi masih berdiri di depan pintu pun membulatkan matanya dan menutup mulutnya sendiri saat melihat Rayyan mencium bibir Aurora. Merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Siapa pria itu? Ada hubungan apa dengan nyonya?"gumam pelayan itu bergegas menutup pintu dan menyusul sepasang suami-isteri itu ke ruangan makan.


"Tuan.."ucap Mastuti yang nampak sangat terkejut sekaligus bahagia saat melihat Rayyan.


"Apa kabar, Bik?"tanya Rayyan ramah.


"Baik, Tuan,"jawab Mastuti penuh senyuman, bergegas menyiapkan piring untuk majikannya.


"Ternyata feeling ku tidak salah. Yang aku lihat tadi sore memang benar-benar Tuan Rayyan,"gumam Mastuti dengan wajah yang terlihat cerah. Senyuman tipis tersungging di wajah wanita paruh baya itu.


Rayyan menghampiri Bu Ella yang terlihat bahagia saat melihat Rayyan. Mata wanita paruh baya itu nampak berkaca-kaca menatap Rayyan.


"Syukurlah, akhirnya kamu kembali,"ucap Bu Ella yang tidak bisa diucapkannya.


Rayyan menyapa ibu mertuanya itu dengan hangat. Walaupun Bu Ella hanya bisa merespon sapaan Rayyan dengan kedipan mata.


Pria itu kemudian menghampiri Pak Hamdan yang dari tadi masih terdiam penuh tanda tanya menatap dirinya.


"Pak, ini suamiku. Rayyan,"ucap Aurora memperkenalkan Rayyan pada Pak Hamdan penuh senyuman.


"Syukurlah. Akhirnya kamu selamat,"ucap Pak Hamdan yang langsung memeluk Rayyan dan nampak terharu.

__ADS_1


Rayyan melirik Aurora seraya menghela napas panjang mengingat cerita Aurora yang mengatakan pada Pak Hamdan bahwa dirinya menghilang dalam kecelakaan kapal pesiar.


Aurora yang dilirik Rayyan pun hanya menyengir bodoh melihat Rayyan meliriknya penuh arti. Karena kebohongan dirinya, Pak Hamdan jadi berkata seperti itu pada Rayyan.


Akhirnya mereka makan malam dengan suasana yang hangat. Walaupun Bu Ella harus di suapi perawat yang mengurus Bu Ella selama ini.


"Aku senang, akhirnya Tuan bisa berkumpul lagi dengan nyonya dan Tuan Muda,"gumam Mastuti yang merasa bahagia melihat majikannya kembali berkumpul dengan anak dan istrinya.


"Bik, itu beneran suaminya nyonya Aurora?"tanya pelayan yang dari tadi penasaran tentang siapa Rayyan.


"Benar,"sahut Mastuti singkat.


Setelah makan malam, Rayyan sedikit mengobrol dengan Pak Hamdan selama sekitar lima belas menit. Setelah itu Rayyan masuk ke kamar menyusul Aurora yang sudah masuk terlebih dahulu.


Saat membuka pintu kamar Aurora, Rayyan menelan salivanya kasar karena melihat putranya sedang menyusu pada Aurora. Benda yang selama ini menjadi favoritnya itu saat ini sedang dikuasai putranya.


"Ray, aku sudah menyiapkan pakaian ganti kamu yang diantarkan anak buah Andi tadi,"


"Hum,"sahut Rayyan seraya menghampiri Aurora dan putranya.


"Ray, jangan menganggu, Zayn. Dia baru saja tidur,"ucap Aurora mendorong pelan bahu suaminya yang sedang mencium putra mereka yang nampak sudah memejamkan mata dengan bibir yang masih mengenyot ASI dari sumbernya itu.


Aurora membaringkan Zayn di box bayinya. Kemudian keluar dari kamar untuk mengisi teko air minum yang kosong.


"Nyonya, Tuan Lucas mencari anda,"ujar pelayan yang tadi terpesona melihat Rayyan.


"Aku akan menemuinya. Tolong kamu bawa teko ini ke dapur. Tidak perlu mengisinya. Apalagi mengantarkan teko ini ke kamar ku. Suamiku tidak suka ada orang lain masuk ke dalam kamar kami, kecuali bik Mastuti,"ujar Aurora memperingati. Karena di rumah Rayyan, memang hanya Mastuti lah yang diijinkan Rayyan untuk masuk dan membersihkan kamar mereka.


"Iya, nyonya,"sahut pelayan itu.


Pelayan itu menatap Aurora yang berjalan menuju ruangan tamu.


"Bilang saja kalau takut aku menggoda suaminya. Sudah punya suami, tapi tadi sore membiarkan pria lain masuk ke kamar nya. Ngapain saja dia di dalam kamar bersama pria brewok tadi? Belum lagi tentara yang bernama Bima dan pria yang bernama Lucas itu. Jangan-jangan, nyonya itu adalah wanita nakal,"gumam pelayan yang memang masih muda dan lumayan cantik itu seraya melirik ke arah kamar Aurora,"Pria itu tampan sekali. Aku ingin punya anak dari pria tampan seperti itu,"gumam pelayan itu tersenyum-senyum sendiri mengingat betapa tampannya Rayyan.


Pelayan itu kemudian berjalan menuju dapur dan melihat Mastuti ada di sana.


"Itu teko dari kamar nyonya, 'kan?"tanya Mastuti saat melihat pelayan yang paling muda di rumah itu membawa teko yang biasa di pakai Aurora.


"Iya, Bik,"

__ADS_1


"Sini! Biar aku cucu dulu. Oh, ya, aku perlu memberitahu kamu. Kamu jangan lagi masuk ke kamar nyonya. Tuan tidak suka ada orang asing masuk ke dalam kamarnya. Khusus kamar nyonya, aku yang akan membersihkannya. Kamu ingat ini baik-baik,"tegas Mastuti memperingati.


"Iya, Bik,"


"Bagus,"ucap Mastuti, kemudian berjalan menuju wastafel. Sedangkan pelayan muda itu terlihat tidak senang.


Di ruang tamu.


"Ada perlu apa anda datang kemari?"tanya Aurora terlihat malas.


"Kamu hari ini bertambah cantik saja,"puji Lucas yang semakin ingin memiliki Aurora.


"Katakan apa keperluan anda!"ucap Aurora tidak menanggapi pujian Lucas.


"Aku ingin menghabiskan waktu ku bersama Rayyan. Aku masih rindu padanya. Tapi si buaya darat ini malah kesini menganggu aku,"gumam Aurora dalam hati seraya memijit pelipisnya karena tiba-tiba kepalanya menjadi pusing.


"Ada apa? Kamu sakit?"tanya Lucas sok perhatian.


"Iya. Saya kurang enak badan. Jika anda tidak punya hal yang penting untuk dibicarakan, sebaiknya anda pulang. Suami saya tidak akan suka jika melihat anda. Karena suami saya orangnya tipikal pencemburu,"usir Aurora secara halus.


"Sudahlah, tidak usah bersembunyi di balik kata suami. Semua orang juga tahu, jika kamu tidak memiliki suami. Akulah calon suamimu,"


"Anda terlalu percaya diri. Kalau mimpi jangan terlalu tinggi! Kalau jatuh nanti sakit. Sampai matahari terbit dari Barat pun saya tidak akan pernah menikah dengan anda,"tanggap Aurora dengan senyuman sinis.


"Oh, ya? Jadi, kamu benar-benar tidak mau menikah dengan ku?"tanya Lucas tersenyum miring.


"Tidak!"sahut Aurora tegas.


"Jika kamu tidak mau menikah dengan ku, aku akan melenyapkan anakmu yang lucu itu,"ancam Lucas yang benar-benar kesal dengan sikap Aurora yang hari ini terlihat semakin ketus dan sinis padanya.


"Apa anda pikir bisa menyentuh putra saya. Jika anda berani menyentuh putra saya, saya tidak yakin anda masih bisa menyombongkan diri dan tertawa di depan saya,"sinis Aurora yang sekarang tidak takut lagi dengan siapapun. Karena ada Rayyan yang akan melindungi dirinya dan orang-orang yang dicintainya.


"Kamu benar-benar wanita yang sombong dan keras kepala. Sekarang kamu tidak punya pilihan lagi. Anakmu sudah berada di tangan ku. Kamu harus menikah dengan ku, dan menjadi istri ke tigaku. Jika tidak..."


"Jika tidak apa?"


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2