
Rayyan tiba di kantornya lima menit sebelum meeting di mulai. Setelah berada di ruang meeting selama dua jam, akhirnya Rayyan keluar juga dari meeting room. Andi nampak mengekor di belakang Rayyan seraya membawa setumpuk dokumen di tangannya. Setelah tiba di ruangannya, Rayyan langsung duduk di kursi kebesaran nya. Sedangkan Andi meletakkan dokumen yang di bawanya di atas meja Rayyan.
"Kamu sudah menyuruh sekretaris ku untuk membuat salinan file kerja sama kita dengan perusahaan lain?"tanya Rayyan seraya membuka laptopnya.
"Sudah, Tuan. Tuan, saya sudah menemukan orang yang mengetahui tentang latar belakang nona Sumi,"ucap Andi terlihat serius.
"Oh, ya? Cepat juga kamu bergerak. Katakan, apa informasinya!"pinta Rayyan yang terlihat penasaran.
"Orang itu tidak mau mengatakan apapun, Tuan. Dia bilang, dia akan menceritakan semuanya jika dia bertemu langsung dengan nona Sumi. Karena itu, saya sudah menyuruh anak buah saya untuk membawa orang yang memiliki informasi tentang nona Sumi ini ke kota ini. Mereka sedang dalam perjalanan menuju kota ini, Tuan,"
"Sepertinya penuh misteri. Aku jadi sangat penasaran. Tapi, bagaimana kamu bisa secepat ini mendapatkan informasi ini?"
"Kami menyelidiki rute bus tempat ditemukannya nona Sumi sesuai informasi ibu angkat nona Sumi, Tuan. Dan ternyata nona Sumi berasal dari kabupaten yang berbeda dari tempat nona Sumi ditemukan,"
"Okey. Bawa saja orang itu ke rumah Sumi. Kita berkumpul di sana,"
"Baik, Tuan. Emm.. Tuan, apa saya perlu mengabari Tuan Hendrik tentang masalah ini?"
"Kabari saja. Kakak ingin menjadikan Sumi sebagai istrinya, jadi dia juga harus tahu tentang masa lalu Sumi,"
"Baik, Tuan. Tapi, apa Tuan Hendrik masih frustasi seperti tadi pagi, Tuan?"
"Sepertinya tidak lagi,"
"Syukurlah!"sahut Andi lega.
Hari ini Rayyan pulang sore, karena harus ke rumah Sumi untuk mendengar langsung dari saksi mata yang mengetahui siapa Sumi sebenarnya.
"Ceklek "
"Ray! Kamu pulang lebih awal?"tanya Aurora dengan senyuman lebar saat melihat Rayyan masuk ke dalam kamar mereka. Wanita itu langsung menghampiri suaminya.
"Kenapa? Apa kamu sudah sangat rindu padaku, hemm?"tanya Rayyan seraya memeluk pinggang Aurora yang berdiri menghadap dirinya.
"Narsis!"cibir Aurora seraya melepaskan dasi Rayyan.
"Jadi, kamu tidak merindukan aku?"tanya Rayyan dengan ekspresi kecewa.
"Mana ada orang yang rindu hanya karena berpisah dalam waktu satu hari? Kenapa kamu jadi lebay begini, sih? Dimana wajah dingin dan datar mu dulu?"geruti Aurora yang sudah selesai melepaskan dasi Rayyan dan beralih melepaskan kancing kemeja Rayyan. Sedangkan Rayyan masih tetap memeluk pinggang Aurora.
__ADS_1
"Tapi aku selalu merindukan kamu. Setiap saat dan setiap waktu. Lagi pula, apa kamu suka jika aku bersikap dingin dan datar seperti aku bersikap pada orang lain, hemm?"
"Terserah kamu, lah!"sahut Aurora seraya melepaskan kemeja Rayyan.
"Sayang!"
"Hemm,"
"Setelah makan malam, kita ke rumah Sumi!"
"Kerumah Sumi? Untuk apa? Apa kakak akan melamar Sumi?"tebak Aurora.
"Bukan. Tapi utuk bertemu dengan orang yang mengetahui informasi tentang siapa Sumi sebenarnya,"
"Benarkah?"tanya Aurora antusias.
"Tentu saja benar. Apa kamu pikir aku ini suka berbohong?"
"Kadang,"sahut Aurora santai,"Apa mama juga akan ikut?"
"Mama tidak ada di rumah. Mama menginap di resort di tepi pantai bersama teman-temannya, mengadakan acara arisan bulanan mereka,"
Setelah makan berdua dengan Aurora, Rayyan dan Aurora langsung meluncur ke rumah Sumi. Aurora nampak sudah sangat penasaran dengan asal usul Sumi yang sebenarnya.
"Andi, apakah orang yang di bawa dari kampung itu sudah berada di rumah Sumi?"tanya Rayyan seraya memegang tubuh Aurora yang merebahkan tubuhnya di kursi penumpang dengan kepala yang berada di atas pangkuan Rayyan. Wanita itu nampak asyik bermain game.
"Belum, Tuan. Mungkin sebentar lagi,"
"Bukannya dari siang tadi anak buah kamu sudah berangkat membawa orang itu, ya? Kenapa belum sampai? Apa kampung orang itu sangat jauh dari kota ini?"
"Lumayan jauh juga, Tuan. Sekitar lima jam perjalanan. Mereka lama belum sampai karena orang itu mabuk, Tuan. Jadi harus beristirahat beberapa kali. Maklum, usianya sudah sepuh, Tuan,"
"Memangnya berapa usianya, Ndi?"tanya Aurora yang masih asyik bermain game.
"Sudah tujuh puluh lima tahun, nyonya,"
"Wah, sudah tua sekali, ya?"sahut Aurora dengan mata yang fokus pada layar handphonenya.
"Iya, nyonya. Tapi masih sehat dan nggak pikun. Setiap hari dia berkeliling kampung untuk berjualan telur bebek hasil ternaknya sendiri,"
__ADS_1
"Apa dia tidak punya keluarga?"tanya Aurora lagi.
"Menurut penyelidikan saya, dia tidak punya keluarga, nyonya. Warga di kampungnya juga mengatakan, jika selama puluhan tahun dia hanya tinggal sendirian dan tidak pernah ada orang yang mengunjunginya,"
"Kasihan sekali,"sahut Aurora.
Beberapa menit kemudian, mereka pun tiba di rumah Sumi. Saat mereka sampai, Hendrik juga baru saja sampai bersama asistennya.
"Kamu juga ke sini, Ray? Ada apa kita berkumpul di sini, Ray?"tanya Hendrik yang sebenarnya sangat penasaran, kenapa dirinya tiba-tiba di suruh datang ke rumah Sumi.
"Kakak akan tahu nanti,"sahut Rayyan seraya berjalan menuju pintu utama rumah Sumi.
seraya merangkulnya pinggang Aurora.
"Haiss.. bikin penasaran saja,"gumam Hendrik.
Sumi berjalan menuju pintu utama rumahnya saat mendengar suara bel rumahnya berbunyi.
"Auro...Ra..."Sumi nampak senang saat melihat Aurora, namun Sumi menjadi tertegun saat melihat siapa saja yang datang bersama Aurora. Sumi menatap sekilas pada Rayyan yang memeluk pinggang Aurora.
Ini adalah kedua kalinya Sumi bertemu dengan Rayyan. Selaman ini Sumi hanya bertemu dengan Andi sebagai tangan kanan Rayyan.Tapi baru dua kali ini melihat dan bertatap muka secara langsung dengan Rayyan. Pria yang merupakan suami sahabatnya, orang yang membiayai operasi wajahnya, memberikan uang, memberikan restoran dan rumah yang ditinggalinya saat ini.
"Sum!"panggil Aurora yang melihat Sumi tertegun seraya melambai-lambaikan tangannya di depan mata Sumi.
"Ah, iya, ma..mari! Silahkan masuk!"ucap Sumi yang sempat terdiam itu terlihat gugup. Wajah datar dan dingin Rayyan membuat Sumi jadi agak grogi berhadapan dengan suami sahabatnya itu.
"Astagaa! Sudah dua kali ini aku bertemu dengan suami Aurora ini. Wajahnya tetap saja datar seperti papan setrikaan dan dingin seperti es balok, seperti kata Aurora. Bahkan wajahnya lebih menyeramkan dari Tuan Andi. Walaupun sedikit lebih tampan dari Hendrik. Tapi... OSRAM, alias seram. Tapi, saat dia menatap Aurora, tatapannya terlihat lembut dan penuh cinta. Eh, tapi, kenapa tiba-tiba mereka rame-rame datang ke rumah ku, ya? Bahkan Hendrik juga ikut datang,"gumam Sumi dalam hati. Bertanya-tanya tentang masud kedatangan rombongan Aurora ke rumahnya.
Sumi memanggil ibu dan adik-adiknya, memperkenalkan keluarganya pada orang yang telah membantu mereka sekeluarga, terutama Sumi. Jika tidak ada Aurora, Sumi pasti sudah jadi hantu gentayangan di jembatan. Dan jika Rayyan tidak memberikan dirinya uang, restoran dan rumah, Sumi pasti akan tetap menjadi wanita penghibur dengan bayaran yang tidak seberapa besar. Dan yang pastinya hanya bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarganya tanpa bisa memberikan pendidikan yang tinggi pada adik-adiknya. Karena itu, Sumi merasa sangat berhutang budi pada Aurora dan Rayyan.
"Maaf, kalau boleh tahu, apa ada hal yang sangat penting, sehingga Tuan menyempatkan waktu Tuan untuk bertandang ke rumah kami?"tanya Sumi terdengar sopan dan tenang. Walaupun sebenarnya merasa grogi. Entah mengapa, Sumi selalu grogi jika melihat Andi, dan sekarang malah kembali melihat Rayyan yang menurut Sumi lebih seram dari pada Andi. Aura dingin dan mendominasi Rayyan begitu memancar. Bahkan keluarga Sumi pun ikut menciut melihat asisten dan majikan itu.
"Kami ke sini sedang menunggu seseorang yang sebentar lagi akan datang. Orang ini mengaku mengetahui tentang asal usul Sumi yang sebenarnya,"ucap Rayyan dengan suara datar, namun terlihat sangat berwibawa.
.
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
To be continued