
Kanaya menghela napas beberapa kali setelah motor Andi tak terlihat lagi. Gadis itu masuk ke dalam kontrakan kecil nya dan mengunci pintunya. Kontrakan yang di dalamnya hanya ada lemari plastik dua susun, kasur lantai, dan jam beker.
"Huff.. Capek sekali!"
"Brugh"
Kanaya menjatuhkan tubuhnya di atas kasur lantai tempatnya bermimpi setiap hari. Gadis itu melirik jam beker di samping kasur lantai nya yang sudah menunjukkan pukul satu malam.
"Huff.. Sudah larut sekali. Selama berada di kota ini, baru kali ini aku jalan-jalan. Sebenarnya seru, sih! Tapi, sayangnya mulut pedas si roller coaster itu bikin rusak suasana. Eh, aku lupa mengembalikan jas si roller coaster itu. Jas orang itu bau harumnya enak banget. Nggak menyengat, seger. Pasti bukan parfum murahan,"gumam Kanaya seraya mencium parfum yang menempel di jas Andi.
"Seumur hidup baru kali ini aku bertemu dengan orang seperti dia. Kadang manis, kadang pedes, kadang romantis, kadang terlihat jutek, bahkan datar dan dingin. Plus tukang modus lagi. Dia itu seperti permen nano-nano, rame rasanya. Karena besok adalah hari Minggu, aku akan mengembalikan jas si roller coaster itu lusa,"gumam Kanaya yang beranjak bangun dan menggantung jas milik Andi.
"Jas ini pasti harganya sangat mahal. Sepertinya masih bagus jas milik si roller coaster ini dari pada jas milik Pak Randy. Dengar-dengar, si roller coaster ini kaya. Banyak wanita yang ingin jadi istrinya. Kaya dan tampan, tapi mulutnya pedes seperti cabe setan, udah kayak petasan. Kalau tahu seperti itu sifatnya, gadis mana yang bakal mau sama dia? Di bikin baper, terus di bikin kesel. Dinaikin, habis itu dibanting. Menyebalkan! Kalau bukan karena dia atasan ku, ogah aku deket-deket sama dia. Haishh.. Kenapa aku jadi mikirin dia?"
"Huff.. Besok adalah waktunya nyuci, bersih-bersih dan setelah semua beres, aku bisa istirahat dengan tenang. Tapi, sampai sekarang aku belum juga mendapatkan pekerjaan di malam hari. Aku tidak mau ibu sakit karena terlalu banyak bekerja. Walaupun sebenarnya aku terbantu dengan penghasilan ibu berjualan. Tapi, kalau terlalu capek, lalu sakit, 'kan, aku sendiri yang repot. Hanya ibu satu-satunya keluarga yang aku miliki. Ah, sudahlah. Tidak usah terlalu di pikirkan. Sebaiknya sekarang aku tidur saja,"gumam Kanaya yang akhirnya memilih tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah.
Di sisi lain, Andi baru saja masuk ke dalam rumah majikannya dengan wajah yang terlihat cerah.
"Apa saja yang kamu kerjakan di kantor sampai pulang larut malam seperti ini?"
"Astagaa.. Tuan senang sekali mengagetkan saya,"ujar Andi yang terkejut saat mendengar suara bariton Rayyan.
"Kamu dari kantor apa dari maksa cewek buat nge-date?"tanya Rayyan yang mendekati Andi seraya mengendus dan mengamati tubuh Andi.
"Tentu saja dari kantor Tuan,"sahut Andi yang memang dari kantor, tapi... Tapi setelah dari kantor, Andi memang memaksa Kanaya nge-date dengan dirinya.
__ADS_1
"Jangan bohong! Aku sudah lama mengenal kamu. Kamu habis nge-date sama cewek, 'kan? Pasti sama gadis yang bernama Kanaya itu. Tadi siang kamu mendadak membeli motor dan tiba-tiba ingin lembur tanpa aku suruh. Aroma tubuh kamu ini juga ada bau-bau parfum cewek. Di kemeja bagian punggung kamu juga ada noda lipstik nya. Kamu pulang juga nggak pakai jas. Pasti jas kamu, kamu pakaian sama si Kanaya itu, 'kan?"tebak Rayyan yang semuanya benar.
"Haish.. Tuan sudah seperti cenayang saja,"sahut Andi yang tidak bisa berkilah lagi karena tidak menyadari jika ada lipstik Kanaya yang menempel di punggungnya. Dan itu karena Andi ngegas motornya karena modus ingin mendapatkan pelukan tadi.
"Ha..ha..ha.. Akhirnya kamu jatuh cinta juga. Baru sehari aja sudah begini mode PDKT nya. Pakai ada lipstik yang nempel di punggung. Jangan-jangan, jalan sekali lagi ada yang nempel di leher. Awas! Jangan sampai bunting, tuh, anak orang! Nikah dulu, baru kawin,"ledek Rayyan.
"Haishh.. Saya bukan pria brengseek dan mesum yang tega menghamili anak orang tanpa di nikahi, Tuan,"sahut Andi percaya diri,"Hadehh.. Pakai terciduk, lagi. Kan, akhirnya jadi di ceramahi sama, Tuan,"gerutu Andi dalam hati.
"Jangan terlalu percaya diri! Kamu, 'kan, belum pernah pacaran dan usia kamu sudah matang. Pasti kamu sangat penasaran bagaimana rasanya berciuman. Kamu tahu, saat bibir mu bertemu dengan bibirnya, jantung mu akan berdetak dengan cepat, darahmu terasa mengalir deras, tubuhmu akan terasa semakin panas dan meremang. Lalu, kamu tidak akan hanya ingin menikmati bibinya saja, tanganmu akan reflek menyentuh tubuhnya dan kamu akan merasa gelisah. Kamu akan menginginkan lebih dari sekedar ciuman dan sentuhan. Ingin lebih dan lebih yang akan membuat tubuh mu semakin terasa gelisah dan sulit untuk di kendalikan,"ujar Rayyan dengan suara dan ekspresi yang begitu menjiwai," Dan... Kamu akan berakhir menghamili anak orang,"lanjut Rayyan lalu kembali tertawa.
"Haishh.. Saya tidak se mesum itu, Tuan,"lagi-lagi Andi begitu percaya diri tidak akan melakukan seperti apa yang di katakan oleh Rayyan. Walaupun otaknya sempat traveling mendengar setiap kata yang diucapkan Rayyan dengan penuh penghayatan itu.
"Halahhh.. Aku tidak percaya. Buktinya kamu hari ini mendadak beli motor. Kamu pasti sengaja beli motor agar bisa di peluk sama tuh, cewek, 'kan? Pasti kamu sengaja ngegas motor kamu biar kena peluk. Buktinya, noda lipstik ini nggak beraturan. Kamu ingin merasakan bagaimana rasanya di peluk dan bagaimana rasanya jika dada seorang gadis menempel di punggung mu, 'kan?Itu sudah termasuk mesum! Sekarang sudah tahu, 'kan, bagaimana rasanya jatuh cinta? Masih ngeles kayak bajaj aja kamu,"tebak Rayyan yang lagi-lagi semuanya benar.
"Hei! Aku belum selesai bicara! Dasar! Alasan mau kabur aja kamu!"Teriak Rayyan yang merasa belum puas meledek Andi, tapi Andi malah kabur,"Baru kali ini dia kabur saat berdebat dengan aku. Aku senang sekali meledeknya,"ujar Rayyan kemudian tertawa.
"Haish.. Tuan sudah seperti emak aku aja. Pulang-pulang di interogasi. Jangan-jangan, Tuan memata-matai aku. Tapi, apa benar aku jadi mesum? Cuma peluk doang, kok. Itupun dia yang meluk aku. Ya.. Walaupun rasanya agak gimana, gitu. Pas dia meluk aku dan dadanya menempel di punggung ku, rasanya.. Aaakhh.. Tuan selalu saja membuat pikiran ku jadi kacau,"gerutu Andi seraya berjalan menuju kamarnya.
Semua yang dikatakan oleh Rayyan memang benar adanya. Dan Andi tidak dapat berkilah lagi. Dalam hal teori, Andi memang jagonya, tapi dalam hal praktek, Rayyan adalah suhunya.
***
Tanpa terasa hari pun berganti. Randy yang masih berjuang untuk mendekati Kanaya pun menjemput Kanaya di kontrakannya. Pemuda itu menunggu Kanaya di depan gang.
"Kanaya!"panggil Randy penuh senyuman saat melihat Kanaya keluar dari gang yang merupakan jalan menuju kontrakkan Kanaya.
__ADS_1
"Eh, Pak Randy,"ujar Kanaya yang agak terkejut melihat Randy di depan gang. Pemuda itupun langsung menghampiri Kanaya.
"Ayo, berangkat bareng!"ajak Randy tersenyum manis.
"Ah, bapak nggak usah repot-repot menjemput saya,"sahut Kanaya basa basi, karena sebenarnya merasa senang di jemput Randy.
"Nggak repot, kok. Aku senang bisa menjemput kamu,"ujar Randy seraya meraih tangan Kanaya dan mengajaknya menuju mobilnya. Randy membukakan pintu mobil untuk Kanaya. Setelah itu, Randy pun menutup pintu mobil dan berjalan memutar, masuk ke dalam mobil lalu duduk di kursi kemudi. Pemuda itupun mulai melajukan mobilnya,"Oh, ya, manggil aku nya jangan bapak, dong. Aku jadi berasa sudah tua,"ujar Randy terkekeh kecil.
"Bapak adalah atasan saya. Jadi, wajar jika saya memanggil anda bapak,"sahut Kanaya tersenyum tipis.
"Ya, panggil bapak nya pas di kantor aja. Kalau di luar kantor jangan panggil bapak,"pinta Randy.
"Lalu, saya harus memanggil dengan panggilan apa?"tanya Kanaya menatap Randy.
"Apa saja, agar terdengar akrab,"ujar Randy menatap Kanaya sekilas, lalu kembali fokus pada jalan raya.
"Ya, sudah. Kakak aja, bagaimana?"
"Boleh. Kalau begitu, 'kan, terdengar lebih akrab,"sahut Randy tersenyum manis.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
__ADS_1