
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, tapi Rayyan masih berkutat dengan laptopnya. Saat berada di rumah, Rayyan hanya ingin menghabiskan waktunya bersama Aurora. Karena itulah, Rayyan tidak akan pulang sebelum pekerjaan nya selesai.
"Ceklek"
"Ray! Kata Andi, rumah kamu dari di satroni orang?"tanya Aiden yang tiba-tiba muncul.
Mendengar suara Aiden, Rayyan pun menghentikan jemarinya yang sedang bergerak lincah di keyboard laptopnya, lalu menatap Aiden,"Iya. Orang itu meretas dan merusak cctv di rumah aku, dan mencoba membuka pintu ruangan kerja ku. Aku curiga, orang ini adalah orang suruhan orang yang sama yang membunuh papa beberapa tahun yang lalu. Kamu harus berhati-hati, Den!"ucap Rayyan memperingati.
"Pasti karena tender proyek pembangunan ibu kota baru itu, 'kan?"tebak Aiden. Aiden langsung duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Rayyan.
"Aku juga merasa seperti itu. Apa kamu ingat? Papaku mengalami kecelakaan lalu lintas yang tidak wajar, lalu dibunuh sebelum tender proyek KRL, stadion, dan juga beberapa jalan tol itu diadakan. Dan sampai sekarang, kita belum mengetahui siapa dalang di balik meninggalnya papa. Waktu itu,.ada empat perusahaan yang bersaing dengan perusahaan kita untuk mendapatkan tender itu. Dan sekarang, kita pun bersaing dengan perusahaan yang sama,"ujar Rayyan menghela napas panjang.
"Lalu, apa kamu tidak akan mengikuti tender proyek besar ini karena masalah di masa lalu itu?"tanya Aiden.
"Justru aku bersemangat untuk ikut. Aku penasaran, siapa sebenarnya yang telah membunuh papa. Siapa tahu, dengan mengikuti tender ini, kita bisa mendapatkan keuntungan yang lumayan dan juga bisa mendapatkan petunjuk tentang siapa sebenarnya yang telah membunuh papa,"ujar Rayyan penuh harap.
Sudah bertahun-tahun Rayyan menyelidiki siapa yang membunuh papanya. Tapi sampai saat ini belum menemukan titik terang. Dan Rayyan sangat penasaran, siapa sebenarnya yang telah membunuh papa nya.
"Sampai kini, kita juga belum menemukan, orang yang telah menyuntikkan racun pada papamu,"sahut Aiden menghela napas berat.
"Iya. Sulit sekali mencari orang itu. Orang yang matanya terlihat sayu, rambutnya keriting dan tanda lahir berwarna merah di antara jari jempol dan telunjuknya. Memang cukup spesifik, tapi tidak mudah mencari orang yang mempunyai ciri-ciri seperti itu tanpa mengetahui nama dan wajahnya. Kita seperti mencari jarum di dalam tumpukan jerami. Sama seperti mencari adik kamu,"ujar Rayyan menghela napas berat.
"Kamu benar. Bahkan aku tidak tahu bagaimana wajahnya sekarang. Dia juga tidak memiliki tanda lahir apapun. Aku benar-benar kesulitan mencari dia,"sahut Aiden membuang napas kasar.
"Tapi, walaupun ini sulit, kita tetap tidak boleh menyerah. Bukankah selama kita masih hidup, kita masih punya harapan?"ujar Rayyan yang sebenarnya memberi semangat untuk Aiden dan juga dirinya sendiri.
"Kamu benar. "Oh, iya, Ray, aku dengar, Tante Naima sempat menyeret istri kamu,"ujar Aiden yang mengetahuinya dari Andi.
"Iya. Entah dari mana mama tahu tentang masa lalu Aurora. Tapi, aku curiga mama tahu dari Natalie. Kamu tahu, 'kan, kalau selama ini Natalie sengaja mendekati mamaku agar dia bisa mendekati aku?"tanya Rayyan.
"Iya. Melihat wajahnya saja, aku sudah tidak suka padanya,"sahut Aiden.
__ADS_1
"Aku juga. Bahkan Andi juga sangat membenci dia,"sahut Rayyan yang tahu jika Andi sering berdebat dengan Natalie setiap kali bertemu dengan Natalie.
"Apa kamu mencintai Aurora?"tanya Aiden tiba-tiba.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa kamu ingin menunggu jandanya?"tanya Rayyan seraya memicingkan sebelah matanya menatap Aiden.
"Boleh juga. Jika kamu sudah bosan dan sudah tidak menginginkan nya lagi, aku akan mengambilnya,"sahut Aiden tersenyum penuh arti.
"Sebaiknya kamu membuang jauh-jauh harapan kamu itu. Karena sampai matipun, aku tidak akan pernah menceraikan dia,"sahut Rayyan sinis.
"Siapa tahu kamu ingin menikah dengan Natalie. Menantu idaman mama kamu itu,"goda Aiden.
"Najis. Aku tidak akan pernah menikah dengan perempuan seperti dia. Dan lagi, papa Natalie adalah salah satu dari empat pengusaha yang kita curigai sebagai pembunuh papa ku,"lanjut Rayyan.
"Iya. Kamu benar. Ngomong-ngomong, wajah kamu hari ini terlihat cerah, nggak kusut lagi seperti dua malam yang lalu. Apa kalian sudah baikan?"selidik Aiden yang melihat wajah Rayyan malam ini berbeda jauh dari dua malam yang lalu.
"Bisa di bilang begitu,"sahut Rayyan ambigu.
"Bisa di bilang begitu? Maksudnya?"tanya Aiden yang ingin mendapatkan jawaban yang pasti dan spesifik.
Tidak mungkin, 'kan, Rayyan mengatakan bahwa dirinya dan Aurora semalam tidak mendiskusikan apapun, apalagi bicara dari hati kehati. Tapi malah bergulat panas di atas ranjang menikmati indahnya surga dunia. Tidak mungkin juga mengatakan pada Aiden bahwa dirinya hanya bercinta dengan Aurora sampai Aurora kelelahan.
"Bicaralah dengan lembut pada istri mu. Jika tidak bisa bicara dengan bahasa yang lembut dan tidak bisa merayunya, ekspresikan melalui bahasa tubuh dan sentuhan. Sering-seringlah memeluknya, mencium, mengelus kepalanya, atau sentuhan apa saja yang bisa membuat dia merasa nyaman saat bersama kamu. Karena bahasa tubuh dan sentuhan lembut itu lebih berarti dari bahasa yang kamu keluarkan dari bibirmu yang kalau salah bicara bisa menyakiti hati,"ujar Aiden memberikan saran.
"Hum, thanks!"ucap Rayyan.
Rayyan membenarkan kata-kata Aiden. Jika disuruh bicara lembut atau merayu, Rayyan memang tidak bisa. Tapi kalau bicara melalui bahasa tubuh, khususnya melalui sentuhan, Rayyan bisa berusaha melakukannya. Apalagi kalau di suruh menyentuh yang menjurus ke arah urusan ranjang, tidak perlu diragukan. Rayyan adalah jagonya.
"Kamu masih belum mau pulang?"tanya Aiden seraya beranjak dari duduknya. Membuyarkan lamunan Rayyan yang menatap layar laptop, tapi pikirannya ke Aurora.
"Sebentar lagi. Masih ada yang harus aku selesaikan,"sahut Rayyan yang memang masih harus menyelesaikan pekerjaan nya.
__ADS_1
"Kalau begitu, aku mau pulang duluan,"pamit Rayyan.
"Hum,"sahut Rayyan singkat.
"Jangan terlalu malam! Sayang, punya istri cantik di anggurin,"ujar Aiden menggoda Rayyan.
"Berisik! Pulang sana!"ketus Rayyan.
"Iya.. iya.. sensi amet! Sudah nggak tahan pengen main kuda-kudaan, ya!"goda Aiden lalu terkekeh.
'Berisik!"ketus Rayyan, namun Aiden malah tertawa.
Mengingat Aurora, Rayyan jadi ingin cepat-cepat pulang. Rayyan juga tidak tahu, kenapa dirinya mempunyai nafsu yang begitu besar pada Aurora. Padahal selama ini, Rayyan juga sering bertemu dengan banyak wanita cantik yang berpakaian seksi dengan lekuk tubuh yang menggoda. Tapi tidak satupun dari mereka yang bisa membuat Rayyan tertarik apalagi berhasrat untuk bercinta dengan salah satu di antara mereka.
Namun, setelah bertemu dengan Aurora dan merasakan nikmatnya tubuh Aurora, Rayyan seperti orang yang kecanduan narkoba. Tidak bisa berhenti menginginkan tubuh Aurora. Setiap inci lekuk tubuh Aurora terlihat sangat menggoda di mata Rayyan.
"Huff! Aurora benar-benar membuat aku gila. Aku tidak pernah mempunyai hasrat bercinta apalagi sebesar ini pada wanita manapun. Namun saat melihat dia, aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diri untuk tidak menyentuh dia. Pantas saja dia merasa bahwa aku hanya menjadikan dia sebagai pemuas kebutuhan biologis ku saja,"gumam Rayyan membuang napas kasar.
Rayyan juga tidak mengerti, kenapa apapun yang ada pada diri Aurora begitu menggoda di matanya. Dan selalu bisa membangkitkan hasrat nya. Rayyan sendiri juga tidak bisa menemukan jawabannya.
Rayyan kembali lanjutkan pekerjaannya, agar bisa pulang lebih cepat. Kedatangan Aiden tadi sudah membuat dirinya berhenti bekerja. Maka dari itu, Rayyan harus lebih cepat menyelesaikan pekerjaan nya.
...π"Bahasa tubuh mu lebih berarti, dari pada bahasa bibir mu yang terkadang tanpa di sengaja menyakiti hati."π...
...."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
Notebook :
Tender adalah proses penawaran antara pihak penyelenggara dengan vendor untuk mendapatkan penawaran harga serta pengadaan barang yang paling bagus. Proses tender biasa pemerintah atau perusahaan swasta lakukan terutama proyek yang besar.
__ADS_1
.
To be continued