Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
112. Menenangkan Diri


__ADS_3

Suara dering alarm dari handphone terdengar menggema di sebuah kamar. Dengan mata yang masih tertutup, Aurora meraba-raba, mencari handphonenya di atas nakas.


"Astagoeii.. ternyata bangun pagi itu susah sekali. Kalau ada Rayyan, alarm di handphone ku tidak akan berguna. Dia pasti akan bangun lebih dulu dan mematikan alarm. Dan ujung-ujungnya, aku pasti bangun kesiangan juga seperti biasanya,"gumam Aurora dengan suara lesu, rambut acak-acakan dan mata yang kembali terpejam.


Sudah satu minggu Rayyan tidak pulang, semenjak pamit ke luar kota. Tujuh hari yang lalu saat Aurora pingsan di kamar mandi dan dinyatakan stres oleh dokter. Dan sudah selama enam hari ini Aurora berusaha bangun pagi.


Awalnya, Mastuti dan Nala nampak heran karena majikan mereka bangun lebih pagi dari biasanya. Bahkan mereka sempat kelabakan karena belum bersiap-siap melayani majikan mereka yang biasa bangun siang itu. Mungkin selama ini majikan mereka itu menganut prinsip "Kesuksesan itu berawal dari mimpi, maka banyaklah tidur agar kamu bisa bermimpi".


Semenjak Aurora bangun pagi, Nala dan Mastuti pun bersiap-siap lebih pagi. Dan akhirnya mereka terbias dan malah merasa senang dengan perubahan majikan mereka. Dengan membiasakan diri bangun lebih pagi, Aurora terlihat lebih segar dan tentunya semakin cantik.


Aurora tidak lagi keluar rumah dari siang hari, tapi pagi hari. Setelah mandi, Aurora sarapan pagi, berolahraga, mandi lagi, kemudian baru berangkat ke toko kuenya. Dan siangnya baru ke kafe nya.


Kenapa harus mandi dua kali? Alasannya adalah untuk menghilangkan rasa kantuk. Selain itu, karena mengikuti saran dari ibunya, "Sebelum suami kamu bangun, kamu harus sudah cantik dan wangi!". Itulah saran dari ibunya.


Aurora beranjak dari tempatnya berbaring. Dengan mata yang masih enggan untuk terbuka lebar, Aurora berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Aurora mengguyur tubuhnya dengan air dingin yang mengucur dari shower. Hingga mau tak mau matanya yang enggan terbuka itu menjadi terbuka lebar karena merasakan dinginnya air shower.


Setelah mandi, Aurora bergegas menuju ruang fitness untuk berolahraga dan memperdalam ilmu bela diri yang diajarkan oleh Nala. Setelah itu sarapan, mandi lagi dan berangkat ke toko kue nya. Setelah menempuh perjalanan yang lumayan macet, akhirnya Aurora tiba juga di toko kuenya.


Hari beranjak siang. Di dalam ruangan kerjanya, Aurora baru saja mengecek pemasukan dan pengeluaran di toko kue nya.


"Akhirnya.. selesai juga. Huff... Kalau cuma ngitung pemasukan dan pengeluaran, mengurus pembukuan, aku sih, bisa. Tapi kalau diluar itu, aku nggak sanggup,"gumam Aurora kemudian bersandar di kursi kerjanya,"Sudah satu minggu Rayyan pergi ke luar kota. Tapi belum pulang juga. Dia seperti menghilang di telan bumi. Tidak ada kabar sama sekali. Apa begitu sibuknya, hingga buat nelpon atau sekedar nge-chat aja nggak sempat? Kalau aku yang nge- chat atau nelpon duluan.. aku bingung harus ngomong apa,"gumam Aurora membuang napas kasar.


"Aku ingin melihat wajahnya. Sudah satu minggu aku tidak melihatnya. Dia lebih tampan jika tersenyum,"gumam Aurora merubah posisi tubuhnya. Menumpukan ke dua sikunya di atas meja, memapah dagunya dengan kedua tangannya. Tanpa disadarinya, kedua sudut bibirnya terangkat ke atas saat teringat Rayyan tersenyum.


Sementara itu, di kantor Rayyan. Pria itu nampak teliti memeriksa dokumen. Sebenarnya Rayyan cuma tiga hari pergi ke luar kota. Namun setelah kembali, Rayyan enggan untuk pulang. Karena sebelum pergi ke luar kota kemarin, Rayyan sudah berjanji pada Aurora untuk membicarakan tentang hubungan mereka. Dan Rayyan merasa, hubungan mereka akan segera berakhir setelah pembicaraan mereka nanti.


Rayyan merasa belum sanggup untuk berpisah dengan Aurora. Namun juga tidak ingin egois mempertahankan hubungan yang membuat Aurora tidak bahagia. Karena itu, Rayyan ingin menenangkan diri beberapa waktu sebelum nantinya melepaskan Aurora.

__ADS_1


Andi mengetuk pintu ruangan Rayyan dan masuk setelah diijinkan Rayyan masuk. Andi membawa makanan untuk makan siang majikannya dan juga dirinya. Walaupun Andi adalah bawahannya, tapi Rayyan selalu mengajak Andi untuk makan bersama dirinya.


"Tuan, makan dulu! Tuan harus sehat agar tetap bisa bekerja dan mengahasilkan banyak uang. Tuan adalah donatur terbesar di panti. Anak-anak berharap bisa melanjutkan sekolah dengan uluran tangan dari Tuan,"ujar Andi seraya menata makanan di meja sofa yang ada di dalam ruangan itu. Andi tahu benar, Rayyan akan bersemangat jika mengingat anak-anak panti.


"Aku ingin berkunjung ke panti,"ucap Rayyan tiba-tiba.


"Anak-anak panti pasti akan senang jika Tuan berkunjung,"sahut Andi tersenyum lebar.


"Seharusnya mama pergi ke panti asuhan. Menghabiskan waktu di sana lebih menyenangkan daripada berkumpul dengan teman-teman sosialita nya yang cuma menghambur-hamburkan uang percuma itu,"ujar Rayyan seraya berjalan menuju sofa.


"Sudah dua hari ini, Nyonya Naima menginap di resort di pinggir pantai bersama teman-temannya,"sahut Andi memberitahu.


Rayyan hanya menghela napas panjang mendengar tentang kabar mamanya itu. Semenjak hukumannya selesai, Naima langsung kembali berkumpul dengan teman-teman sosialitanya.


Setelah makan siang, Rayyan dan Andi pergi ke panti asuhan. Seluruh penghuni panti nampak sangat bahagia melihat kedatangan Rayyan dan Andi. Dua orang pria itu membawa banyak makanan ringan, mainan, dan juga alat tulis. Rayyan nampak mengajari beberapa anak yang sedang mengerjakan tugas. Rayyan juga menemani anak-anak main bola. Sesekali pria itu tersenyum dan tertawa bersama anak-anak itu.


Andi menghela napas panjang melihat Tuan nya. Pria dingin dan kaku itu terlihat hangat jika bersama anak-anak panti.


Atensi Rayyan teralihkan saat mendengar suara bayi yang sedang menangis'. Rayyan mendekati ibu panti yang sedang menenangkan bayi laki-laki yang berusia sekitar enam bulan itu.


"Boleh saya menggendongnya?"tanya Rayyan.


Ibu panti itu tidak menjawab, wanita yang sudah berusia lima puluh tahun itu hanya tersenyum tipis seraya menyerahkan bayi yang di gendongnya itu pada Rayyan.


Rayyan menggendong bayi itu dengan posisi tegak menghadap dirinya, tapi kepala bayi itu berada di atas pundak Rayyan. Pria itu menepuk-nepuk punggung bayi itu dengan lembut.


"Tadi dia mau tidur, tapi diciumi terus sama kakak-kakak nya. Akhirnya dia tidak bisa tidur dan menangis seperti ini,"jelas ibu panti yang menggendong bayi itu tadi.

__ADS_1


"Pantas saja menjadi rewel,"sahut Rayyan tersenyum tipis.


Perlahan tangis bayi itu mulai reda, dan beberapa menit kemudian, bayi itu pun terlelap hingga kepalanya terantuk di pundak Rayyan. Setelah bayi itu nampak lelap Rayyan memberikan bayi itu pada ibu panti.


"Aku berharap, Tuan tidak jadi bercerai. Seandainya saja nyonya mau berusaha mencintai Tuan dan mereka memiliki keturunan. Tuan pasti akan sangat bahagia,"gumam Andi menghela napas panjang. Menatap majikannya yang baru saja menyerahkan bayi yang digendongnya pada ibu panti, lalu duduk bersama anak-anak panti yang sedang menggambar.


"Hei! Kembali! Berikan parfum itu! Itu milik ibu!"teriak seorang anak perempuan berusia sekitar dua belas tahun yang mengejar anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahun. Anak laki-laki itu menyemprotkan parfum ke semua orang sambil berlari. Hingga...


"Brukk"


"Srosss..."


Anak laki-laki itu terjatuh karena tersandung, lalu menabrak Rayyan dan Rayyan pun langsung menangkap tubuh anak itu agar tidak terjatuh. Tangan anak itu tanpa sengaja menekan di pencettan parfum hingga menyemprot di kemeja yang di pakai Rayyan.


"Maaf, Tuan."ucap anak itu seraya bangkit, kemudian menunduk. Anak itu sangat tahu siapa Rayyan. Orang yang menjadi donatur tetap di panti dan membiayai sekolah dan kuliah anak-anak yang berprestasi di panti.


"Kembalikan parfumnya pada kakak mu! Jangan nakal!"ucap Rayyan tersenyum tipis, mengacak-acak rambut anak itu.


Rayyan memang suka pergi ke panti jika merasa bosan bekerja. Melihat anak-anak yang bermain dan tertawa tanpa beban membuat Rayyan merasa senang.


...🌟Bahagia itu sederhana, tapi yang bikin rumit itu hati manusia....


...Mencintai itu mudah, namun membuat orang lain mencintai kita itu susah."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❤️🌸...

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2