
"Itu karena kamu kurang perhatian padaku, Ray. Kamu lebih mementingkan pekerjaan kamu daripada aku,"kilah Dila beralasan.
Selama berpacaran dengan Rayyan, Rayyan memang tidak punya banyak waktu untuk Dila. Tidak perhatian apalagi romantis pada Dila. Dan hal itu membuat Dila menjadi bosan.
"Apapun alasannya, tidak dibenarkan jika mengkhianati pasangan. Dan aku tidak menerima itu. Sekarang, lebih baik kamu pergi. Tidak ada lagi yang perlu di bicarakan di antara kita. Kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi. Jika di lain waktu kita bertemu lagi, anggap saja kita tidak pernah saling mengenal. Pergilah! Aku masih memiliki banyak pekerjaan yang harus segera aku selesaikan,"ujar Rayyan seraya membuka laptopnya dan mulai mengetik di laptopnya.
"Ray, jangan membohongi hatimu sendiri! Aku tahu kamu masih mencintai aku. Buktinya, kamu tidak menjalin hubungan dengan siapapun setelah aku pergi,"ucap Dila penuh percaya diri.
Rayyan tertawa tanpa suara mendengar kata-kata Dila,"Apa selama kita berpacaran aku pernah berkata bahwa aku mencintai kamu?"tanya Rayyan tersenyum sinis.
Dila terdiam dengan kedua tangan yang terkepal mendengar pertanyaan Rayyan. Selama berpacaran dengan Rayyan, pria itu memang belum pernah mengatakan mencintai Dila. Mereka mulai berpacaran setelah Dila berhasil menjebak Rayyan untuk menidurinya.
Waktu itu Andi sedang berada di luar kota dan Dila menghampiri Rayyan di kantornya sebagai klien Rayyan. Tak disangka Dila berhasil memasukkan obat ke dalam minuman Rayyan dan terjadilah apa yang tidak seharusnya terjadi. Dari kejadian itu akhirnya mereka sepakat untuk berpacaran.
Namun saat Rayyan berusaha mencintai Dila, Rayyan malah mendapati kenyataan bahwa Dila berselingkuh di belakang Rayyan dengan kakak kandung Rayyan sendiri. Dila berselingkuh dengan Hendrik karena mengira bahwa yang akan menjadi penerus perusahaan keluarga Rayyan adalah Hendrik yang merupakan anak sulung di keluarga Rayyan.
Namun Dila akhirnya pergi meninggalkan Rayyan dan Hendrik demi suaminya sekarang. Apalagi saat itu perusahaan Rayyan kurang stabil. Suaminya yang awalnya lembut, perhatian, royal dan menuruti apapun keinginannya. Tanpa di duga adalah seorang pimpinan mafia yang memiliki kelainan dalam berhubungan suami-istri.
Rayyan sama sekali tidak patah hati saat Dila pergi tanpa kabar. Karena Rayyan baru belajar mencintai Dila yang ternyata menyelingkuhi dirinya.Tunas cinta untuk Dila itu sudah mati ketika baru di semai.
"Tapi, Ray.."
"Pergilah! Kamu sudah terlalu banyak menyita waktu ku yang berharga,"ucap Rayyan datar memotong kata-kata Dila.
"Ray..."
"Apa kamu tidak dengar? Tuan masih banyak pekerjaan. Cepat pergi! Kehadiranmu di sini seperti tulang yang menyangkut di gigi. Menganggu sekali,"ketus Andi memotong kata-kata Dila.
"Kau!"geram Dila terlihat sangat kesal pada Andi.
"Cepat pergi, atau kamu ingin aku panggilkan security untuk menyeret kamu keluar dari sini!"tegas Andi dengan tatapan tajam mengintimidasi.
__ADS_1
"Ray! Asisten kamu ini sungguh tidak sopan. Kenapa kamu memperkerjakan orang tidak punya sopan santun seperti dia?"keluh Dila pada Rayyan.
Namun Rayyan nampak acuh dan tetap mengetik di laptopnya dengan mata yang fokus pada layar laptopnya.
"Halo! Ada ulat bulu di ruangan Tuan. Cepat kalian buang jauh-jauh ulat bulu ini!"ucap Andi dalam sambungan telepon dengan suara datar.
"Kau! Awas saja kamu nanti!"ancam Dila menatap Andi penuh amarah.
"Apa? Kamu pikir aku takut dengan wanita jalangg yang tidur dengan sembarang pria seperti kamu? Kamu tidur dengan Tuan Rayyan, setelah itu tidur dengan Tuan Hendrik. Dan sekarang kamu ingin kembali pada Tuan Rayyan? Mimpi! Mana mau Tuan Rayyan sama barang bekas seperti kamu. Dasar wanita jalangg! Apa perlu aku sebutkan berapa lelaki yang sudah pernah kamu tiduri? Kamu pikir semua lelaki bisa kamu rayu, kamu bodohi dan kamu manfaatkan sesuka hati mu?"sinis Andi.
Dila semakin kesal dan marah mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Andi. Kata-kata yang sangat menusuk hati. Namun Dila sama sekali tidak bisa berkilah karena semua yang dikatakan oleh Andi adalah benar adanya. Sedangkan Rayyan nampak tidak peduli dengan perdebatan Andi dan Dila. Rayyan memilih melanjutkan pekerjaannya agar cepat selesai dan bisa cepat pulang berkumpul dengan anak dan istri tercintanya.
Dila keluar dari perusahaan Rayyan dengan perasaan dongkol yang menggunung pada Andi. Dila merasa Andi menjadi penghalangnya untuk mendekati Rayyan. Terlihat jelas kebencian di wajah Andi pada Dila.
"Bagaimana caranya agar aku bisa mendekati Rayyan? Andi benar-benar membuat aku kesulitan mendekati Rayyan,"gerutu Dila merasa kesal,"Aku penasaran dengan istri Rayyan,"gumam Dila.
Dila mengendarai mobilnya menuju sebuah toko kue, yaitu toko kue milik Aurora. Namun sayangnya Aurora tidak ada di toko kue itu. Dila kemudian kembali melajukan mobilnya ke kafe milik Aurora. Setelah beberapa menit berkendara, akhirnya Dila sampai juga di kafe milik Aurora.
Dengan gaya angkuh, Dila berjalan masuk ke kafe milik Aurora. Kemudian mengatakan pada kasir bahwa dirinya ingin menemui Aurora dengan berpura-pura mengatakan dirinya adalah teman lama Aurora. Seorang waiter pun bergegas memberitahu Aurora.
"Nyonya, ada seorang wanita ingin menemui nyonya,"lapor seorang waiter menghampiri Aurora yang sedang berada di dapur kafe memeriksa bahan makanan di dapur kafenya.
"Siapa?"tanya Aurora mengernyitkan keningnya. Aurora merasa tidak memiliki teman di kota ini kecuali Sumi.
"Katanya teman lama nyonya. Orangnya cantik seperti foto model. Tapi, ya, masih cantik nyonya,"ujar waiter itu jujur adanya.
Aurora meminta waiter yang tadi menghampirinya untuk mengantar wanita yang mengaku sebagai temannya itu ke ruangannya. Aurora sangat penasaran, siapa gerangan wanita yang ingin menemui dirinya itu. Wanita yang mengaku sebagai teman lamanya.
Tak lama kemudian pintu ruangan Aurora di ketuk, dan Aurora mempersilahkan orang yang mengetuk pintu ruangan nya untuk masuk ke dalam ruangannya.
Aurora melihat seorang wanita cantik dengan bentuk tubuh layaknya foto model. Aurora mengernyitkan keningnya mencoba mengingat wanita itu yang katanya adalah tema lamanya.
__ADS_1
Namun sekeras apapun Aurora mencoba mengingatnya, Aurora merasa belum pernah bertemu dengan wanita yang memasuki ruangannya itu, apalagi berteman dengan wanita itu.
"Silahkan duduk!"ucap Aurora sopan, memberi isyarat agar Dila duduk di sofa yang ada di ruangannya.
"Istri Rayyan ini memang cantik. Tapi aku juga tidak kalah cantik dari wanita ini,"gumam Dila dalam hati.
Melihat Aurora yang cantik dengan body bohay itu membuat Dila iri. Namun hatinya tetap ingin menyangkal jika dirinya tidak kalah cantik dari Aurora. Padahal sudah jelas jika Aurora lebih cantik dan lebih bohay dari dirinya. Walaupun Aurora jauh kalah tinggi dengan Dila.
"Siapa anda? Saya merasa tidak pernah mengenal anda,"ujar Aurora setelah mereka duduk di sofa.
"Aku? Aku adalah Dila, pacar Rayyan,"sahut Dila penuh percaya diri.
"Deg"
Pacar Rayyan? Dada Aurora terasa di pukul di bagian jantung mendengar pengakuan Dila. Namun sesaat kemudian Aurora mulai berpikir. Hampir setiap malam Rayyan meminta jatah padanya. Setiap hari, Aurora lah yang memakaikan dan melepaskan baju suaminya itu. Tidak ada parfum lain yang menempel di pakaian dan tubuh suaminya selain parfum yang dipakai dari rumah. Tidak ada pula tanda di tubuh suaminya selain tanda yang dibuat oleh dirinya. Tingkah laku suaminya pun seperti biasanya, tidak ada yang berbeda, apalagi aneh.
Aurora tidak percaya Rayyan punya pacar yang artinya berselingkuh dari dirinya. Apalagi jika mengingat perjanjian hitam di atas putih yang sudah mereka buat. dan tandatangani. Tidak mungkin Rayyan rela kehilangan anak, istri dan juga hartanya demi seorang wanita di depannya itu
Tapi jika wanita di depannya itu adalah mantan pacar suaminya, Aurora percaya. Karena Andi memang pernah mengatakan jika Rayyan pernah memiliki pacar. Aurora tidak menyangka jika mantan pacar Rayyan itu mendatangi dirinya dan bahkan dengan bangganya mengatakan bahwa dia adalah pacar Rayyan.
"Ohh.. mantan? Bekas pacar? Berarti, sudah di buang, dong,"ucap Aurora santai seraya tersenyum remeh pada Dila menekankan kata mantan, bekas dan di buang.
...π"Jangan bangga menjadi mantan, karena mantan adalah orang yang paling ingin dilupakan dari ingatan."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
To be continued
__ADS_1