Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
365. Untuk Kebaikan


__ADS_3

Di ruangan Rayyan, seorang pria yang merupakan pengacara kepercayaan Rayyan datang menghadap Rayyan. Pria paruh baya itu nampak menelan ludahnya kasar dengan ekspresi wajah yang mengerut saat melihat Rayyan yang nampak santai memakan potongan buah mangga. Dari penampilan potongan buah itu, sudah bisa di pastikan jika potongan buah mangga itu masih muda dan rasanya pasti asam.


"Kenapa ekspresi wajah bapak seperti itu?"tanya Rayyan saat menatap wajah pengacara itu.


"Tuan yang makan buah mangga itu, tapi saya yang merasa ke asaman,"sahut pengacara itu jujur.


"Ohh.. Saya kira kenapa. Silahkan , duduk, Pak!"ujar Rayyan mempersilahkan.


"Terimakasih, Tuan,"sahut pengacara itu, lalu duduk di kursi yang ada di seberang meja Rayyan. Duduk berhadapan dengan Rayyan.


"Bagaimana dengan masalah tadi, Pak?"tanya Rayyan to the point.


"Semua sudah beres, Tuan. Sekarang mereka sudah menjadi suami-istri yang sah di mata hukum. Ini buku nikahnya, dan juga berkas perjanjiannya,"ucap pria itu seraya menunjukkan buku nikah dan sebuah map pada Rayyan.


"Bagus. Bapak memang paling bisa di andalkan. Hanya beberapa jam sudah selesai,"puji Rayyan tersenyum tipis nampak puas dengan hasil kerja pengacara itu. Dan tentu saja pujian Rayyan itu membuat pengacara itu merasa senang.


Setelah selesai menunjukkan hasil kerjanya pada Rayyan, pengacara itu pun pamit undur diri pada Rayyan. Rayyan tersenyum sendiri setelah pengacara itu pergi, karena melihat isi map yang di serahkan pengacara tadi. Pria itu meletakkan map itu, lalu kembali asyik mengunyah buah mangga nya sambil membaca berkas yang harus di tandatanganinya.


"Tok! Tok! Tok!"


"Masuk!"ucap Rayyan dan Andi pun muncul dari balik pintu.


"Kamu sudah bertemu dengan pengacara tadi?"tanya Rayyan menatap sekilas pada Andi, lalu menandatangani berkas yang baru selesai di bacanya.


"Tidak, Tuan. Apa semuanya berjalan lancar sesuai yang kita rencanakan, Tuan?"tanya Andi seraya berjalan menghampiri meja kerja Rayyan.


"Iya. Semuanya berjalan mulus sesuai rencana. Ternyata ibu mertua kamu itu memang bisa di andalkan. Ini buku nikah kalian. Selamat, ya! Sudah menjadi pengantin baru dengan cara licik,"cibir Rayyan menyodorkan buku nikah milik Andi dan sebuah map berwarna coklat yang di berikan oleh pengacara tadi.


"Walaupun licik, tapi ini positif, Tuan. Ini semua untuk kebaikan bersama,"sahut Andi yang baru saja meletakkan berkas-berkas yang di bawanya di atas meja Rayyan. Lalu pemuda itu mengambil buku nikah dan map yang di berikan oleh Rayyan.

__ADS_1


"Ck Kebaikan bersama apanya? Itu hanya kebaikan untuk kamu dan ibu mertua kamu. Kata orang tua zaman dulu, jangan suka menghina keburukan orang lain. Karena yang buruk itu mudah menular, seperti penyakit. Sedangkan yang baik itu sulit untuk ditularkan, harus di perjuangkan dan tidak mudah untuk di dapatkan. Kamu mencibir aku karena mendapatkan Aurora dengan cara menjerat. Tapi kamu lebih parah dari pada aku. Aurora dan aku masih nego saat akan menikah secara kontrak, walaupun aku sedikit memaksa.Tapi kamu menikahi gadis itu tanpa di ketahui gadis itu. Bahkan menikung Randy secara diam-diam. Kamu mengandalkan kekayaan dan wajah tampan mu untuk merayu ibunya. Ibu mana yang tidak akan setuju jika putrinya di pinang pria yang tampan dan mapan yang bisa menjamin masa depan putrinya? Dasar licik!"cibir Rayyan.


"Bukan cuma untuk kebaikan saya dan ibu mertua saya, Tuan. Ini juga demi kebaikan dia, Tuan. Dia tidak perlu lagi bekerja siang dan malam membanting tulang untuk membayar angsuran rumah,"sahut Andi yang memang benar adanya. Pemuda itu terlihat senang melihat buku nikahnya bersama Kanaya. Pemuda itu juga tidak lupa memeriksa map yang diberikan oleh Rayyan.


"Kamu memang paling pintar bicara. Sekarang, pikirkanlah risiko dari apa yang telah kamu lakukan ini! Dia pasti akan membenci kamu setelah mengetahui kalau kamu telah menjebak dia,"ujar Rayyan menghela napas panjang.


"Tuan tenang saja! Saya telah menyiapkan dan mengatur segalanya. Saya akan membuat dia mencintai saya. Saya tidak akan mengadakan resepsi pernikahan, jika belum bisa membuat dia mencintai saya,"sahut Andi terlihat sangat percaya diri.


"Terserah kamu lah! Sudah! Tidak usah banyak bacot! Kerjakan saja pekerjaan kamu sekarang. Melihat banyaknya pekerjaan kamu itu, aku jamin kamu tidak akan bisa menyelesaikannya tepat waktu pada saat jam kerja di kantor ini berakhir. Dan istri baru kamu itu pasti akan di antar pulang si Randy. Pengantin baru, tapi istrinya malah di antar pulang pria lain,"cibir Rayyan membuat Andi menghela napas panjang.


"Tidak apalah, Tuan. Anggap saja ini sebagai kompensasi dari saya karena saya telah menikung dia dengan sadis,"sahut Andi santai seraya mengambil berkas-berkas yang harus diselesaikannya hari ini dan juga map berisi berkas yang sudah ditandatangani oleh Kanaya.


"CK. Ngaku juga kamu, kalau kamu menikung dia secara sadis,"sahut Rayyan kembali melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Andi hanya menyengir kuda mendengar perkataan Rayyan.


Andi mengantongi buku nikahnya. Setelah pamit pada Rayyan, pemuda itu melangkah keluar dari ruangan Rayyan dengan wajah yang terlihat cerah.


***


"Kanaya!"panggil Randy saat sudah dekat dengan Kanaya. Senyuman manis menghias bibir pemuda itu.


"Eh, Pak Randy,"sahut Kanaya yang memanggil bapak karena mereka masih di area perusahaan dan mereka berada di tempat terbuka dengan banyak orang yang saat ini hendak pulang.


"Yuk, aku antar pulang!"ajak Randy seperti biasanya.


"Terimakasih, Pak!"sahut Kanaya tersenyum tipis.


Saat tiba di parkiran, Randy membuka pintu mobil untuk Kanaya. Setelah Kanaya masuk ke dalam mobil, Randy pun menutup pintu mobil itu dan bergegas masuk ke dalam mobil. Pemuda itu duduk di kursi kemudi, lalu melajukan mobilnya. Sepanjangan perjalanan mereka mengontrol dengan akrab seperti biasa.


"Oh, iya, Ya, kok kamu kemarin nggak ngomong dulu kalau mau check up? Aku, 'kan, bisa mengantar kamu,"tanya Randy menatap sekilas pada Kanaya lalu kembali menatap jalan yang mereka lalui.

__ADS_1


"Tuan Andi mengantar aku check up pukul tiga sore, kak. Masih jam kerja. Jadi, nggak mungkin aku minta kakak untuk mengantarkan aku ke rumah sakit,"jawab Kanaya jujur adanya.


Randy sebenarnya masih merasa kesal saat mengingat kejadian kemarin. Kemarin sore Randy lama menunggu Kanaya di lobby, tapi Kanaya tak kunjung muncul juga. Randy akhirnya menghubungi Kanaya, dan Randy merasa kecewa saat mengetahui Kanaya pergi check up bersama Andi.


Randy merasa tidak suka jika Kanaya jalan bersama Andi. Randy takut Kanaya tertarik pada Andi. Karena sudah menjadi rahasia umum jika banyak karyawan wanita yang mengagumi Andi. Selain Andi jabatannya lebih tinggi dari Randy, Andi juga lebih kaya dan lebih tampan dari pada Randy. Karena itulah Randy selalu merasa was-was saat Kanaya pergi bersama Andi.


"Oh, begitu,"sahut Randy terlihat tidak suka,"Aku dengar, kemarin pas jam kerja kamu pergi bersama Tuan Andi. Tuan Andi mengajak kamu kemana?"tanya Randy kepo. Sekilas pemuda itu menatap ekspresi wajah Kanaya, lalu kembali fokus mengemudikan mobilnya.


"Aku di ajak mencari mangga muda,"sahut Kanaya jujur, tapi entah mengapa Kanaya merasa agak tidak nyaman dengan pertanyaan-pertanyaan Randy itu.


"Kita, jalan-jalan dulu, yuk!"ajak Randy yang ingin memanfaatkan waktu sebaik-baiknya bersama Kanaya,"Mau, ya!"pinta Randy menatap Kanaya dengan ekspresi wajah memelas.


"Hum,"sahut Kanaya tersenyum tipis.


Randy ingin memberikan kesan baik pada Kanaya dan menyenangkan hati Kanaya agar esok hari Kanaya menjawab pernyataan cintanya dengan jawaban "Iya".


"Ckiiit"


Randy langsung menginjak pedal rem nya dengan kuat saat tiba-tiba mobil di depannya mengerem mendadak. Randy dan Kanaya nampak sangat terkejut dengan kejadian barusan. Dua orang itu nampak masih menetralkan degup jantung mereka. Randy dan Kanaya mengamati mobil di depan mereka yang semua pintunya mulai terbuka.


Keadaan di sekitar tempat itu tiba-tiba terasa mencekam. Karena kebetulan jalan yang mereka lewati itu lumayan sepi dari lalu lalang kendaraan karena tadi Randy mengambil jalan lain untuk menghindari kemacetan.


"Kak, ada beberapa orang keluar dari mobil itu,"ucap Kanaya yang entah mengapa merasakan firasat buruk saat melihat ada empat orang pria keluar dari dalam mobil yang mengerem mendadak di depan mereka itu. Pasalnya empat orang pria itu sepertinya akan menghampiri mobil Randy.


"Mau apa mereka?"gumam Randy yang masih bisa di dengar oleh Kanaya.


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2