
Aurora memejamkan matanya merasa sangat lelah karena baru saja selesai melayani Rayyan. Membiarkan tubuhnya di peluk oleh Rayyan yang baru saja menggendong dirinya dari sofa Tantra dan membaringkan dirinya di atas ranjang ini.
Rayyan masih belum tidur setelah membuat Aurora kelelahan melayaninya. Pria itu membelai wajah dan rambut Aurora. Menatap wajah cantik Aurora tanpa merasa bosan. Perlahan mulai menundukkan wajahnya, mengecup bibir Aurora beberapa kali.
"Rayy! Cukup! Hentikan, Rayy!"gumam Aurora yang benar-benar merasa lelah. Mendorong pelan dada Rayyan dan membuka matanya yang terasa berat.
"Aku hanya ingin mencium mu saja. Tidak akan lebih dari itu,"ucap Rayyan tersenyum tipis, sangat tipis hingga terlihat samar.
"Aku bukan orang yang baru mengenal kamu, Rayy! Kamu akan melakukan yang lain setelah mencium aku. Biarkan aku tidur, Rayy! Aku lelah sekali,"ujar Aurora kembali memejamkan matanya, benar-benar merasa lelah.
"Oke.. oke... istirahatlah! Kita akan melanjutkan nya nanti,"ujar Rayyan.
Aurora yang mendengar kata-kata Rayyan pun hanya bisa menghela napas berat. Aurora tahu benar, beberapa jam ke depan, suaminya itu pasti akan meminta jatahnya lagi. Menggerayangi tubuhnya hingga hasratnya untuk bercinta naik dan menginginkan Rayyan untuk menuntaskan hasratnya.
Dan beginilah pagi ini. Rayyan baru saja mendapatkan apa yang diinginkan nya. Pria itu mengecup bibir Aurora berkali-kali dengan posisi masih berada di atas tubuh Aurora. Aurora hanya pasrah, memejamkan matanya membiarkan apa yang diinginkan oleh Rayyan.
"Nanti siang, aku akan menjemputmu,"ucap Rayyan yang masih enggan untuk turun dari atas tubuh Aurora, merapikan anak rambut yang menutupi wajah Aurora.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Rayyan, Aurora pun membuka matanya menatap Rayyan,"Menjemput aku? Memangnya, kita akan pergi kemana?"tanya Aurora.
"Kamu akan tahu nanti,"sahut Rayyan tersenyum tipis,"Persiapkan saja dirimu!"ucap Rayyan mengecup bibir Aurora beberapa kali, lalu beranjak dari atas tubuh Aurora. Pria itu membenahi selimut Aurora, lalu memakai bathrobe nya, dan bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Aurora menatap pintu kamar mandi yang sudah tertutup. Kedua sudut bibir Aurora tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman manis.
"Jadi dia meminta Andi mengosongkan jadwal nya hari ini untuk mengajak aku pergi bersamanya? Dia meluangkan waktunya yang sangat berharga untuk ku?"gumam Aurora merasa sangat senang saat mengetahui bahwa Rayyan berusaha meluangkan waktunya untuk pergi bersamanya.
Beberapa menit kemudian, Rayyan sudah keluar dari kamar mandi dengan tubuh dan wajah yang terlihat segar. Pria itu berjalan ke arah walk-in closet dan beberapa menit kemudian sudah keluar dengan pakaian yang terlihat rapi. Rayyan menghampiri Aurora yang masih bermalas-malasan di atas ranjang.
"Jangan lupa! Aku akan menjemputmu setelah makan siang,"ucap Rayyan kemudian mengecup bibir Aurora beberapa kali,"Aku pergi!"pamit Rayyan mengelus kepala Aurora.
__ADS_1
"Hum,"sahut Aurora, menatap Rayyan yang berjalan menuju pintu, dan kemudian menghilang di balik pintu itu.
"Aku pakai baju apa, ya, nanti? Ah, aku lupa bertanya padanya aku harus memakai baju apa? Kalau salah kostum, 'kan, nggak lucu! Tapi malu-maluin,"gumam Aurora membuang napas kasar.
Akhirnya Aurora beranjak dari tempatnya berbaring dan bergegas membersihkan diri. Setelah selesai memakai pakaian, Aurora pun sarapan.
"Aku akan melihat-lihat pakaian yang ada di dalam walk-in closet. Aku ingin memilih pakaian untuk pergi bersama Rayyan. Aku yakin, jika salah kostum, dia pasti akan memberitahuku. Tidak mungkin, 'kan, dia akan membuat dirinya sendiri malu karena.membawa diriku yang salah kostum? Tapi.. aku sangat penasaran, sebenarnya dia akan mengajak aku pergi kemana?"gumam Aurora yang semakin penasaran akan di ajak pergi ke mana oleh Rayyan.
***
Hari sudah siang, Aurora sudah siap pergi dengan memakai dress yang panjangnya di bawah lutut, berwarna putih tulang dan perhiasan yang terlihat simpel, tapi elegan. Sedikit memoles wajahnya dengan riasan natural yang membuat Aurora terlihat semakin cantik.
Mobil Rayyan baru saja memasuki pekarangan rumah.
"Kamu sudah mempersiapkan semuanya?"tanya Rayyan pada Andi.
"Sudah, Tuan. Tapi Tuan harus ingat, besok jam delapan pagi, Tuan sudah harus berada di dalam kantor,"ujar Andi memperingati.
"Tunggu di sini! Aku akan menghampiri istri ku,"ujar Rayyan setelah mobilnya berhenti. Pria itu bergegas masuk ke dalam rumah menuju kamarnya.
"Ceklek "
Rayyan membuka pintu kamarnya dan mendapati Aurora yang duduk di tepi ranjang dengan dress yang berwarna putih tulang dengan rambut bagian depan di kepang menyamping dan bagian belakangnya di biarkan tergerai. Satu set perhiasan dari emas putih bertahtakan berlian yang tidak terlalu besar dengan model sederhana melengkapi penampilan Aurora. Terlihat simpel, tapi elegan. Pria itu menatap Aurora penuh rasa kagum.
"Apa tidak apa-apa jika aku berpenampilan seperti ini?"tanya Aurora ragu.
"Tidak. Kamu tetap cantik walaupun tanpa riasan dan..."Rayyan menjeda kalimatnya seraya mendekati Aurora,"Walaupun tanpa riasan dan pakaian sekali pun, kamu tetap terlihat cantik. Apalagi saat mendesah dan melenguh menyebut namaku dengan peluh yang membasahi wajahmu, kamu terlihat sangat seksi,"ucap Rayyan menatap lekat pada Aurora dengan tatapan penuh arti.
Mendengar kalimat Rayyan yang pertama membuat wajah Aurora tersipu malu, Namun setelah mendengar kelanjutan kalimat Rayyan, wajah Aurora yang tadinya tersipu malu menjadi cemberut.
__ADS_1
"𝘿𝙞𝙖 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙧𝙖𝙨𝙖 𝙩𝙚𝙧𝙨𝙖𝙣𝙟𝙪𝙣𝙜, 𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙨𝙚𝙩𝙚𝙡𝙖𝙝 𝙞𝙩𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙩𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙩𝙖-𝙠𝙖𝙩𝙖 𝙢𝙚𝙨𝙪𝙢. 𝘼𝙥𝙖 𝙞𝙨𝙞 𝙤𝙩𝙖𝙠𝙣𝙮𝙖 𝙞𝙩𝙪 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙥𝙞𝙠𝙞𝙧𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙨𝙪𝙢 𝙨𝙖𝙟𝙖? 𝙈𝙚𝙣𝙮𝙚𝙗𝙖𝙡𝙠𝙖𝙣!,"gumam Aurora dalam hati merasa kesal.
"Ayo, kita berangkat sekarang!"ucap Rayyan mengecup bibir Aurora beberapa kali, kemudian merangkul Aurora keluar dari dalam kamar mereka.
Tak lama kemudian, mobil Rayyan pun melaju meninggalkan rumah yang terlihat megah itu. Di belakang mobil yang di tumpangi oleh Rayyan dan Aurora, ada satu buah mobil milik Rayyan lainnya yang terus mengekor pada mobil yang ditumpangi Rayyan dan Aurora. Rayyan menggenggam jemari tangan Aurora dengan mata yang fokus pada layar handphonenya.
Aurora melihat jalanan yang mereka lewati tanpa bicara apapun dengan Rayyan. Rayyan meletakkan handphonenya saat menyadari Aurora tertidur dengan kepala yang terantuk di bahunya. Perlahan Rayyan membaringkan kepala Aurora di pangkuan nya.
"Apa masih jauh?"tanya Rayyan pada Andi dengan suara pelan seraya mengelus kepala Aurora.
"Menurut google map, masih sekitar setengah jam perjalanan lagi, Tuan,"sahut Andi ikut memelankan suaranya karena melihat Aurora yang tidur di pangkuan Rayyan.
Mobil Rayyan terus melaju hingga memasuki sebuah perkampungan yang tidak terlalu padat penduduk. Jalannya pun tidak terlalu baik, sehingga mobil Rayyan melaju dengan kecepatan lambat.
"Hati-hati mengemudi nya! Aku tidak ingin istriku terbangun,"ujar Rayyan memperingati supir pribadinya.
"Baik, Tuan,"sahut sang supir.
Benar kata Andi, setengah jam kemudian, mereka berhenti di sebuah rumah yang tidak terlalu besar, tapi terlihat lebih bagus dari pada rumah-rumah yang ada di sekitarnya. Dua mobil mewah itu menjadi pusat perhatian semua orang yang melihatnya dari awal masuk kampung tadi, sampai saat ini yang berhenti didepan sebuah rumah.
"Apa benar, ini rumahnya?"tanya Rayyan menatap sebuah rumah.
"Menurut informasi, sih, memang ini rumah nya, Tuan,"sahut Adi.
"Turunlah! Tanyakan siapa pemilik rumah ini pada salah seorang warga yang berkerumun itu.
"Baik, tuan,"sahut Andi.
...🌸❤️🌸...
__ADS_1
.
To be continued