
Malam itu, setelah makan malam bersama keluarganya, Hendrik mendatangi sebuah klub malam dan minum minuman keras. Rasa kecewa karena mamanya yang terlihat tidak setuju dirinya menikahi Sumi, dan penolakan Sumi terhadap dirinya membuat Hendrik frustasi.
Asisten Hendrik sudah melarang Hendrik untuk minum, tapi pria yang sedang putus asa itu tidak menghiraukannya. Tidak seperti biasanya, pria yang biasanya sangat suka ditempeli wanita-wanita cantik itu, kali ini mengusir semua wanita yang mendekatinya. Hendrik menghabiskan beberapa botol minuman keras hingga akhirnya terkapar.
Asisten Hendrik membawa Hendrik kembali ke kantor mereka dalam keadaan tidak sadarkan diri karena terlalu mabuk.
"Huff.. Berat sekali tubuh Tuan Hendrik ini,"gerutu asisten Hendrik setelah susah payah membawa Hendrik pulang dari klub malam tempat Hendrik mabuk kembali ke kantor mereka. Asisten Hendrik membaringkan tubuh Hendrik di ranjang yang ada di ruangan pribadi Hendrik. Lalu menghubungi Andi dan melaporkan keadaan Hendrik pada Andi. Setelah itu, asisten Hendrik pun meninggalkan Hendrik sendirian di ruang pribadinya.
Pagi harinya...
"Byurr"
"Akkhh! Hujan.. hujan.! Banjir!"pekik Hendrik yang mendadak terbangun saat tiba-tiba tubuhnya di guyur air.
Hendrik langsung duduk dan mengusap wajahnya yang basah oleh air dengan kedua tangannya. Pria itu melihat dua pasang sepatu kulit di depannya, kemudian dengan perlahan mendongak menatap sosok pemilik sepatu yang ada di depannya itu.
"Kau!"geram Hendrik yang melihat Rayyan dan Andi di depannya. Mata pria itu menatap Andi dengan tatapan tajam, marah dan kesal. Pasalnya Andi yang berdiri di sebelah Rayyan itu berdiri dengan membawa ember. Sudah dapat dipastikan, Andi lah yang tadi menyiram tubuhnya dengan air. Karena itulah Hendrik menjadi geram pada Andi.
"Cih! Hanya sampai segitu perjuangan kakak untuk mendapatkan kebahagiaan kakak? Mabuk, tidur di lantai. Bagaimana jika semalam asisten kakak tidak membawa kakak pulang? Pemilik klub malam itu akan melempar kakak ke jalanan,"ketus Rayyan yang kesal saat melihat Hendrik tidur di lantai setelah semalam mabuk berat.
Semalam, karena asisten Hendrik kelelahan membawa Hendrik pulang, asisten Hendrik hanya membaringkan Hendrik di pinggir ranjang. Sehingga Hendrik terjatuh dari ranjangnya saat memiringkan tubuhnya. Hingga saat Rayyan masuk ke ruangan itu, pria itu menjadi geram dan menyuruh Andi menyiram Hendrik dengan air. Laporan dari asisten Hendrik semalam tentang Hendrik yang mabuk sudah membuat Rayyan kesal. Apalagi saat pagi ini membuka ruangan Hendrik dan menemukan Hendrik masih tidur. Dan tidurnya di lantai pula.
"Biar saja mereka membuang aku di jalanan. Tidak akan ada juga yang peduli padaku,"sahut Hendrik seraya bangkit dari lantai, lalu duduk di tepi ranjangnya dengan rambut basah dan wajah yang terlihat sangat kesal.
"Cassano Cemen! Begitu saja sudah putus asa. Dimana kesombongan dan percaya diri Tuan kemarin? Tuan seperti kerupuk yang disiram air. MELEMPEM!"cibir Andi menekankan kata melempem.
"Dasar asisten sialan! Beraninya kamu mencibir aku!"sergah Hendrik yang merasa kesal pada Andi. Sedangkan Rayyan memilih duduk di sofa yang ada di dalam ruangan itu.
__ADS_1
"Dengar, Tuan! Semua yang ada di dunia ini harus diperjuangkan. Harus diusahakan. Jangan selalu bergantung pada orang lain! Bagaimana Tuan akan mendapatkan kebahagiaan, jika Tuan tidak mau berusaha dan berjuang? Malu sama semut, Tuan! Mereka yang kecil dan nggak pernah sekolah aja selalu bekerja keras tanpa mengenal lelah. Membawa makanan yang lebih besar dari tubuh mereka agar mereka tidak kelaparan. Apa Tuan tidak malu, lulusan sarjana, punya tubuh yang sehat dan kuat dan ribuan kali lipat lebih besar dari semut, tapi akal dan semangat Tuan dikalahkan oleh semut,"lagi-lagi Andi mencibir Hendrik.
"Kau!"geram Hendrik.
"Benar yang dikatakan oleh Andi. Kakak itu Cemen. Mana bukti kata-kata kakak yang akan berubah dan hanya menjadikan Sumi sebagai motivasi kakak saja. Kata kakak kemarin, jika kakak tidak bisa mendapatkan Sumi, kakak akan mencari wanita lain yang mau menerima kakak apa adanya. Mencari wanita yang benar-benar tulus ingin menjadi pasangan hidup kakak hingga kalian menua bersama. Ternyata semua kata-kata kakak itu hanya omong kosong belaka. Bullshit!" imbuh Rayyan yang membuat Hendrik semakin kesal.
"Jika kalian ke sini untuk menghina ku, sebaiknya kalian pergi!"ucap Hendrik seraya memijit pelipisnya sendiri. Kepalanya terasa sangat berat dan pusing karena efek mabuk semalam. Dan semakin pusing mendengar ceramah adiknya dan asisten adiknya.
"Cih! Gara-gara tidak direstui dan ditolak perempuan saja frustasi dan putus asa,"cibir Rayyan yang duduk di sofa dengan kedua tangan yang di rentangkan di atas sandaran sofa dan paha kanan yang di naikkan di paha kiri.
"Haiss.. apa Tuan lupa? Tuan juga mabuk berat sampai terkapar saat nyonya meminta pisah dari Tuan,"celetuk Andi yang mulutnya ceplas-ceplos.
"Cih! Teryata sama saja. Tapi sok sombong!"Hendrik balas mencibir Rayyan.
"Itu beda! Kami adalah suami istri yang terikat oleh ikatan suci. Wajar saja jika aku frustasi. Sedangkan kakak, kakak dan Sumi tidak memiliki hubungan khusus selain pertemanan. Itu pun baru seumur jagung. Tapi kakak langsung frustasi karena tidak direstui dan di tolak Sumi,"kilah Rayyan membela diri.
"Cih! Mental Tuan Hendrik memang mental tempe!"ujar Andi tersenyum mencibir pada Hendrik.
"Tuan, saya akan pergi ke kantor lebih dulu. Saya harus bersiap-siap untuk meeting. Dan ingat! Dua jam lagi, Tuan harus ada di meeting room!"pamit Andi sekaligus memperingatkan Rayyan.
"Iya, aku tahu! Sebenarnya, CEO nya itu aku apa kamu, sih?!"gerutu Rayyan.
"Time is money, Tuan,"sahut Andi santai seraya meletakkan ember yang dibawanya sedari tadi di atas kasur di sebelah Hendrik duduk, tanpa di sadari oleh Hendrik.
"Cih! Dasar workaholic! Buat apa kamu menimbun uang? Siapa yang akan kamu senangkan dengan uangmu itu? Jangankan istri, pacar aja nggak punya,"cibir Rayyan.
"Jangan salah, Tuan! Di kota besar ini semuanya butuh uang. Bahkan kalau kita mati juga harus punya uang, kalau tidak, nggak akan ada yang mau menggali kuburan untuk kita,"sahut Andi seraya berjalan menuju pintu keluar.
__ADS_1
Rayyan hanya menghela napas mendengar apa yang dikatakan oleh Andi. Karena apa yang dikatakan oleh Andi memang benar. Begitu pula dengan Hendrik yang membuang napas kasar mendengar kata-kata Andi. Namun tanpa sengaja matanya melihat ember yang diletakkan oleh Andi di sebelahnya tadi.
"Woi! Asisten sialan! Bawa ember kamu ini!"teriak Hendrik saat Andi sudah memegang handle pintu.
"Untuk Tuan saja! Tuan harus sering-sering diguyur dengan air seember, agar Tuan sadar. Bahwa hidup itu perlu perjuangan. Dan jika anda ingin sukses, anda harus mengandalkan diri sendiri, bukan bergantung pada orang lain. Karena jika Tuan bergantung pada orang lain, lama-lama Tuan akan gantung diri! 'Kan, nggak seru kalau jadi pak pocong yang gentayangan!"ujar Andi tanpa dosa.
"Asisten sialan!"
"Brak"
Karena merasa sangat kesal pada Andi, dengan penuh emosi Hendrik melempar ember itu pada Andi.
"Eits.. nggak kena!"ledek Andi yang bisa menghindari lemparan ember dari Hendrik kemudian bergegas keluar dari ruangan itu dan langsung menutup pintunya.
"Ceklek"
Pintu yang baru saja tertutup itu terbuka kembali dan menampilkan Andi yang hanya melonggokkan kepalanya saja.
"Jangan lupa, Tuan! Dua jam lagi harus sudah berada di meeting room!"ujar Andi memperingatkan, kemudian kembali menutup pintu itu.
Hendrik dan Rayyan hanya bisa menghela napas melihat kelakuan Andi itu.
"Bisa-bisanya kamu punya asisten macam dia,"ujar Hendrik.
"Apa kakak tahu? Aurora dulu juga tidak mencintai aku dan sangat membenci aku,"
...🌸❤️🌸...
__ADS_1
.
To be continued