
Sebelum sampai di rumah, Aurora sudah tertidur. Namun saat Rayyan ingin menggendongnya keluar dari mobil, Aurora malah terbangun.
"Rayy.. aku bisa jalan sendiri,"Aurora memegang tangan Rayyan yang hendak menggendongnya.
"Kamu, masih lemah, sayang! Aku tidak mau kamu jatuh dan membahayakan bayi kita,"ujar Rayyan tidak mau di tolak.
"Oh, astagaa.. ! Aku tidak menyangka kalau es balok, papan seterikaan yang kaku dan datar ini bisa memanggil aku sayang,"gumam Aurora dalam hati merasa senang.
Entah mengapa hatinya menjadi berbunga-bunga setiap kali Rayyan memanggil dirinya sayang. Rayyan menggendong Aurora masuk ke dalam rumah. Aurora melingkarkan tangannya di leher Rayyan dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Rayyan.
"Aku akan menyuruh Andi untuk menyiapkan kamar dilantai bawah. Kita pindah ke lantai bawah saja. Aku tidak ingin kamu naik turun tangga. Berbahaya jika sampai terjatuh,"ujar Rayyan yang tidak ingin terjadi apapun pada anak dan istrinya. Aurora yang mendengar perkataan Rayyan pun hanya diam dan menurut.
Rayyan merebahkan tubuh Aurora dengan hati-hati. Tidak ingin terjadi apa-apa pada istri dan anaknya. Sesaat kemudian, pria itu berjalan ke arah pintu karena mendengar suara ketukan di pintu kamarnya. Terlihat Bik Mastuti membawa buah-buahan yang sudah dipotong-potong.
"Terimakasih, Bik,"ucap Rayyan tersenyum tipis
"Sama-sama, Tuan,"sahut Mastuti yang sempat tertegun saat melihat Rayyan tersenyum.
"Tuan terlihat sangat bahagia. Aku belum pernah melihat Tuan tersenyum dan nampak bahagia seperti saat ini,"gumam Mastuti seraya berjalan menuruni tangga.
"Sayang, ini buah-buahan yang kamu inginkan. Makanlah!"ucap Rayyan seraya meletakkan buah-buahan itu di atas nakas. Lalu membantu Aurora yang mulai beranjak untuk duduk.
"Aiihh.. bagaimana aku tidak semakin mencintai dia, jika dia manis dan pehatian seperti ini padaku?"gumam Aurora dalam hati.
Pertemuan tidak terduga dan pernikahan tanpa direncanakan. Itulah mereka berdua. Pernikahan yang awalnya hanya sebatas kontrak. Seiiring berjalannya waktu, rasa cinta tumbuh di antara mereka berdua. Sikap Rayyan yang kaku dan kasar pun perlahan menjadi hangat dan lembut. Aurora yang keras kepala, ketus, acuh dan tidak perhatian pun akhirnya juga berubah. Aurora pelan-pelan menjadi lembut dan perhatian pada Rayyan. Keduanya semakin saling mencintai. Dan cinta mereka pun semakin kuat saat tumbuh benih cinta mereka di dalam rahim Aurora.
Rayyan duduk di samping Aurora, memeluk pinggang Aurora seraya mengusap perut Aurora lembut.
"Aku tidak sabar menunggu dia lahir,"ucap Rayyan dengan seulas senyum.
"Dia baru berusia satu bulan, Ray. Masih lama dia lahir,"sahut Aurora yang sedang mengunyah buah,"Kamu ingin anak laki-laki atau perempuan?'"tanya Aurora penasaran.
Mayoritas orang tua menginginkan anak pertama adalah anak laki-laki. Apalagi keluarga pebisnis seperti Rayyan. Biasanya keluarga kalangan pebisnis menginginkan anak pertama laki-laki untuk menjadi pewaris kerajaan bisnis mereka.
"Laki-laki atau perempuan sama saja. Dia tetap anak kita, dan aku mencintai dia. Yang penting, kamu dan dia sehat, itu sudah cukup. Anak laki-laki yang tampan seperti aku yang bersikap tegas dan berwibawa. Dan anak perempuan yang cantik seperti kamu. Anak gadis berambut panjang seperti kamu, pasti sangat menggemaskan,"sahut Rayyan dengan senyuman yang menghias bibirnya.
"Syukurlah! Dia tidak masalah anak kami laki-laki ataupun perempuan,"gumam Aurora dalam hati.
__ADS_1
Di tempat lain, siang itu Hendrik kembali mendatangi restoran tempatnya makan kemarin siang. Restoran yang kemarin siang dikunjunginya, namun langsung mendapatkan makanan gratis dengan alasan dirinya pernah menolong pemilik restoran. Dan yang lebih menarik lagi adalah, kabar bahwa pemilik restoran itu cantik.
"Pemiliknya cantik dan pernah aku tolong? Kalau begitu, pasti ada kesempatan buat pedekate ( pendekatan ), 'kan?"gumam Hendrik penuh senyuman.
Seorang Casanova mendengar ada wanita cantik, tidak mungkin, 'kan, tidak tertarik? Itulah si Hendrik, sang pengembara cinta. Entah kapan pengembaraan nya akan berakhir. Dan bagaimana akhirnya? Bahagia ataukah duka? Hanya author yang tahu. Karena dalam dunia pernovelan, author adalah penentu nasib dan takdir setiap pemerannya.
Hendrik keluar dari dalam mobil sport nya. Pria berwajah rupawan dengan bentuk tubuh proporsional dan senyuman maut yang membuat semua wanita tersepona, eh maaf typo, terpesona. Namun sayangnya mobil itu bukanlah hasil kerja keras Hendrik, melainkan hadiah dari adiknya. Bahkan pajak dan biaya perawatannya di bayar Rayyan.
Kenapa Rayyan memberikan mobil mewah limited edition itu pada Hendrik? Alasannya, karena akhir-akhir ini Hendrik tidak lagi minta uang lebih dari yang sudah ditransferkan oleh Rayyan perbulan. Dan Hendrik pun tidak berbuat ulah.
Senyuman cerah langsung terlihat di wajah Hendrik saat melihat waiter yang pernah dimintai nomor teleponnya kemarin.
"Hai, cantik!"sapa Hendrik membuat winter itu senang sekali tersipu malu.
"Tuan! Apa kabar? tanyanya malu-malu meong.
"Boleh minta tolong, nggak?"tanya Hendrik menebarkan senyuman penuh pesonanya.
"Tentu saja boleh,"sahut waiter itu penuh senyuman.
"Bisa bantu aku bertemu dengan pemilik restoran ini? Aku ingin membicarakan masalah tempo hari, saat aku menolong dia. Tapi jangan katakan kalau aku yang datang menemui dia! Aku ingin membuat surprise untuk dia. Katakan saja ada seseorang yang ingin bicara penting padanya. Okey?"pinta Hendrik masih dengan senyuman di bibirnya.
"Sebagai tanda terimakasih ku, aku akan mengirimkan pulsa untuk kamu,"ucap Hendrik seraya mengutak-atik handphone dan tak lama kemudian terdengar suara notifikasi pesan masuk di handphone waiter itu.
"Apa sudah masuk?"tanya Hendrik masih tebar pesona.
"Sudah, Tuan. Terimakasih!"ucap waiter itu senang.
"Sekarang, tolong pesankan aku private room dan katakan pada Nona kamu, aku menunggu dia. Okey?"pinta Hendrik lagi.
"Oke, Tuan,"sahut waiter itu antusias.
Waiter itu mengantarkan Hendrik ke private room, lalu menghampiri Sumi yang hobi melihat para koki memasak. Para koki yang kemarin sempat canggung karena Sumi berada di dapur, sekarang terlihat biasa. Malah mereka terlihat akrab dengan Sumi. Karena selain suka memuji cara memasak dan hasil masakan mereka, Sumi juga sering bertanya tentang seputar memasak.
"Nona, ada seseorang yang ingin bertemu dengan nona. Katanya dia ingin bicara penting dengan nona,"ucap waiter yang dimintai tolong oleh Hendrik tadi. Menghampiri Sumi yang sedang melihat chief memasak.
"Siapa?"tanya Sumi seraya mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
"Emm.. Saya juga tidak tahu namanya, nona. Saya lupa menanyakannya,"ucap waiter itu tidak berbohong, karena waiter itu memang tidak tahu nama Hendrik dan juga lupa menanyakannya. Saat akan memesan private room tadi, ada pelanggan yang memanggilnya, hingga akhirnya Hendrik sendiri yang memesannya. Dan saat kembali pada Hendrik, Hendrik sudah selesai memesan private room.
"Dimana dia sekarang?"tanya Sumi.
"Di private room, nona,"
"Laki-laki atau perempuan"
"Laki-laki, nona,"
"Antar saya ke sana!"pinta Sumi yang penasaran, siapa sebenarnya orang yang ingin bicara penting dengan dirinya.
"Siapa orang ini? Bukan salah satu dari pelanggan aku dan Aurora, 'kan? Semoga saja bukan,"gumam Sumi dalam hati.
Keduanya terus berjalan menuju private room. Akhirnya waiter itu berhenti di salah satu pintu private room.
"Orang itu ada di dalam, nona,"ucap waiter itu sopan.
"Terimakasih! Kamu boleh pergi dan kembali bekerja,"
"Baik, nona,"ucap waiter itu menunduk hormat, lalu meninggalkan Sumi.
"Tok! Tok! Tok!"
Sumi mengetuk pintu private room itu dengan jantung yang berdebar-debar. Takut jika yang ingin bertemu dengan dirinya adalah salah satu orang dari pelanggannya yang lalu
"Masuk!"
Suara bariton seorang pria yang terdengar lembut menyapa pendengaran Sumi. Sumi mengernyitkan keningnya, merasa mengenali suara itu.
"Ceklek"
"Anda ingin bicara dengan saya?"tanya Sumi pada seorang pria yang berdiri membelakangi dirinya. Pria yang terlihat sedang men-scroll layar handphonenya di depan dinding kaca yang menyajikan pemandangan di luar restoran.
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
To be continued