
Rayyan merebahkan tubuhnya di samping Aurora setelah mendapatkan apa yang di inginkannya. Walaupun sebenarnya Rayyan masih ingin, tapi pria itu menahannya. Tidak ingin Aurora marah lagi padanya.
"Apa kamu benar-benar menganggap aku sebagai istri mu?"tanya Aurora tiba-tiba seraya menatap langit-langit kamar.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"Rayyan malah balik bertanya, menoleh pada Aurora.
"Karena dari awal, kita sepakat bahwa kita hanya nikah kontrak selama satu tahun. Bahkan kamu sudah setuju jika tidak ada kontak fisik diantara kita. Tapi kamu malah..."Aurora menggantung kata-katanya, kemudian menghela napas panjang.
"Bukankah aku sudah mengatakan, bahwa aku tidak akan pernah menceraikan kamu. Aku bahkan sudah merobek surat perjanjian pernikahan kita waktu itu. Soal aku menyentuh mu, bukankah wajar jika sebagai seorang suami aku ingin kamu melayani aku?"tanya Rayyan seraya menatap Aurora.
"Tapi kamu menikahi aku tanpa sepengetahuan kedua orang tuaku,"sahut Aurora.
"Akhir-akhir ini, aku masih sangat sibuk. Aku akan menemui kedua orang tuamu, jika waktuku sudah longgar nanti,"sahut Rayyan yang memang akhir-akhir ini sangat sibuk.
"Kenapa kamu ingin aku tetap berada di sisimu? Bukankah kamu sudah tahu siapa aku dan bagaimana latar belakang ku? Bahkan mamamu pun tidak suka dan tidak setuju aku menjadi istrimu. Kenapa kamu masih ingin menjadikan aku istrimu? Apa kamu tidak malu jika suatu hari nanti orang-orang tahu bahwa aku mantan seorang wanita kupu-kupu malam?"tanya Aurora yang masih setia menatap langit-langit kamar.
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan masalah itu. Aku tahu bagaimana cara mengatasinya,"sahut Rayyan.
"Kamu benar-benar serius ingin hidup dengan aku?"tanya Aurora ingin memastikan.
"Kenapa? Kamu meragukan kata-kata ku? Kamu tidak ingin hidup bersama ku?"tanya Rayyan tanpa menjawab pertanyaan Aurora.
"Aku hanya ingin memastikan, sebelum aku mengambil keputusan,"sahut Aurora.
"Maksud kamu?"tanya Rayyan.
"Jika kamu memang serius ingin hidup dengan ku, aku ingin mengajukan beberapa persyaratan,"ucap Aurora yang kali ini menatap wajah Rayyan.
"Aku serius ingin hidup dengan mu. Katakan, apa persyaratan mu!"pinta Rayyan.
"Tapi, aku rasa kamu tidak akan setuju dan tidak akan sanggup dengan persyaratan yang akan aku ajukan,"ucap Aurora tersenyum remeh.
"Kamu meremehkan aku?"tanya Rayyan, saat melihat Aurora seperti yakin jika dirinya tidak akan sanggup memenuhi persyaratan Aurora,"Katakan padaku! Apa persyaratan kamu?"titah Rayyan.
__ADS_1
"Aku akan mengatakannya nanti malam. Jika kamu tidak sanggup memenuhi persyaratan ku, kamu harus janji akan menceraikan aku!"ucap Aurora memperingati.
"Baiklah. Kamu pikirkan saja apa yang kamu inginkan. Aku pastikan, aku bisa memenuhi persyaratan mu itu,"sahut Rayyan tersenyum smirk.
"Hei! Kamu mau apa?"pekik Aurora saat tiba-tiba Rayyan menarik selimut yang dipakai untuk menutupi tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang. Lalu pria itu langsung naik ke atas tubuh Aurora dan mengungkung tubuh Aurora.
"Sudah beberapa hari aku menahannya. Kamu akan berdosa, jika menolak untuk melayani suamimu,"ujar Rayyan kembali memulai aktivitas panas mereka di atas ranjang.
***
Rayyan beranjak dari ranjang, meninggalkan Aurora yang masih terlelap kelelahan karena dirinya. Beberapa menit kemudian, Rayyan sudah rapi dengan pakaian kantornya. Pria itu menghampiri Aurora yang masih terlelap, kemudian mengecup kening Aurora beberapa saat. Rayyan keluar dari kamar itu dan melihat Nala sudah berada di samping pintu kamarnya. Wanita itu menunduk memberi hormat pada Rayyan.
"Jaga istriku baik-baik!"ucap Rayyan.
"Baik, Tuan,"sahut Nala.
Rayyan meninggalkan rumah megah itu bersama Andi yang selalu menjadi bayang-bayang Rayyan.
"Waahh.. sepertinya hari cuacanya cerah dan hangat sekali. Bunga-bunga juga bermekaran di sana sini,"ujar Andi seraya melirik wajah majikannya yang pagi ini terlihat cerah.
Andi mengatakan apa saja skedul Rayyan hari ini dengan semangat. Semalam Andi bisa tidur dengan nyenyak, sehingga pagi ini terasa bersemangat. Apalagi melihat wajah majikannya yang pagi ini terlihat cerah.
"Sepertinya Tuan sudah baikan dengan nyonya, ya?"tanya Andi penuh senyuman.
"Kepo!"ketus Rayyan, kemudian menggigit roti bakar di tangannya.
"Menurut survei, berantem dengan istri itu merugikan, Tuan,"sahut Andi.
"Sok tahu!"sahut Rayyan.
Aurora terbangun dari tidurnya. Matanya berkedip-kedip, menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya. Menatap ke samping tempatnya berbaring dan tidak menemukan Rayyan lagi. Pria itu selalu saja bangun lebih dulu dari dirinya.
"Dia selalu saja seperti ini. Meninggalkan aku, setelah aku tepar,"gumam Aurora kemudian menguap. Aurora beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
__ADS_1
"Aku ingin melihat bagaimana ekspresinya jika nanti aku katakan apa persyaratan ku. Aku rasa... dia tidak akan setuju dengan persyaratan ku,"gumam Aurora penuh percaya diri.
Aurora melakukan aktivitas seperti biasanya. Bangun pagi sarapan, lalu melakukan latihan fisik. Hari ini Aurora berniat untuk melihat toko kue dan kafe milik nya. Sudah beberapa hari ini Aurora tidak melihat toko kue dan kafe miliknya.
Nala melirik Aurora. Perempuan bertubuh tegap itu mengernyitkan keningnya melihat majikannya hari ini terlihat ceria. Tidak seperti beberapa hari ini. Nala mengendarai mobil majikannya itu ke toko kue milik majikannya.
Di sisi lain.
"Bagaimana? Apa kamu sudah menemukan perempuan itu? Kenapa mencari informasi satu orang saja lama sekali? Sebenarnya kalian itu bekerja apa tidur? Apa kalian tidak tahu, kita rugi banyak karena sudah lama dia tidak bekerja. Dia itu tambang emas kita. Semakin cepat kita menemukan dia, maka akan semakin cepat juga kita mendapatkan banyak uang,"ujar perempuan yang tidak lain adalah Mami.
"Kenanga itu licin seperti belut, Mi. Sulit sekali menemukan dia,"ujar seorang pria berkepala plontos.
"Tok! Tok! Tok!"
"Masuk!"ucap Mami.
"Mi, saya sudah.menemukan perempuan bernama Kenanga itu,"ucap seorang pria bertubuh kekar.
"Benarkah? Kamu dan kelompok mu memang bisa diandalkan. Katakan! Dimana dia?"tanya Mami antusias. Mami memang menyuruh dua orang yang masing-masing mempunyai kelompok sendiri -sendiri untuk mencari Aurora.
"Ternyata nama asli Kenanga adalah Aurora, Mi. Dia memiliki sebuah toko kue dan juga kafe, yang baru di buka beberapa bulan ini, Mi. Saya rasa, karena itu dia berhenti bekerja pada Mami,"sahut pria bertubuh kekar di depan Mami.
"Jadi begitu. Dia berhenti bekerja padaku dan mencari uang halal yang tidak seberapa itu. Dasar bodoh! Dalam semalam dia bisa mendapatkan uang puluhan, bahkan ratusan juta, tapi malah berhenti hanya untuk membuka usaha yang untungnya tidak seberapa itu? Aku tidak akan membiarkan dia lepas begitu saja. Kita mendapatkan keuntungan yang sangat besar dari dia. Dan pendapatan kita menurun drastis, semenjak dia berhenti bekerja sekitar sebulan ini. Bawa dia kembali ke sini! Jika dia tidak mau kembali secara baik-baik, maka seret dia kesini. Kalau perlu, ratakan toko kue dan kafe miliknya itu,"titah Mami.
'Baik, Mi,"sahut pria bertubuh kekar itu,. bergegas keluar dari ruangan Mami.
"Kenapa masih diam di situ? Pergi sana! Bantu temanmu sana!"sergah Mami pada pria berkepala plontos.
"Ba.. Baik, Mi,"ucap pria berkepala plontos itu.
"Ingin berhenti bekerja padaku begitu saja? Tidak akan aku biarkan begitu saja. Dia itu satu-satunya orang yang bekerja padaku yang menghasilkan banyak uang. Mana mungkin aku melepaskan dia begitu saja? Tapi, dia ini termasuk licin juga. Aku suka. Aku sudah tidak sabar mencium bau cuan,"ujar Mami tersenyum miring. Senyuman yang lebih mirip seringai.
...🌸❤️🌸...
__ADS_1
.
To be continued