Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
159. Licik


__ADS_3

Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya Naima selesai juga ditangani di UGD. Fina yang menangani Naima pun keluar dari ruangan UGD itu.


"Bagaimana keadaan mamaku, Fin?"tanya Rayyan begitu melihat Fina.


"Bersyukurlah pada Tuhan, karena Tante Naima bisa di selamatkan,"sahut Fina, lalu menatap Hendrik yang berada di samping Sumi. Fina nampak mengernyitkan keningnya.


"Syukurlah,"ucap semua orang.


"Kenapa kamu menatap aku seperti itu?"tanya Hendrik yang merasa diperhatikan oleh Fina.


"Aku merasa kaget aja. Ternyata kakak ada di sini juga. Entah karena kakak peduli pada Tante Naima atau karena di sini ada wanita cantik hingga membuat kakak betah ada di sini,"sahut Fina datar.


"Aku memang bukan anak yang baik. Tapi aku juga peduli dengan mamaku,"sahut Hendrik dengan ekspresi kesal.


"Syukurlah, kalau masih punya hati. Dulu, waktu Om meninggal, kakak, 'kan, di luar negeri, tidak bisa dihubungi. Sampai tidak tahu kalau Om sudah meninggal,"sinis Fina saat mengingat Hendrik tidak ada ketika ayah kandungnya meninggal dan di makamkan. Hendrik bahkan baru tahu satu bulan setelahnya.


Mendengar perkataan Fina Hendrik pun hanya bisa membuang napas kasar,"Waktu itu handphone ku hilang,"sahut Hendrik jujur adanya.


Hendrik sendiri sampai sekarang masih merasa menyesal karena tidak bisa melihat papanya untuk yang terakhir kalinya. Jarang berkomunikasi dengan keluarga, membuat Hendrik tidak terlalu peduli saat handphonenya hilang dan tidak segera menghubungi keluarganya dengan nomor barunya. Hingga Hendrik kelabakan saat tidak mendapatkan uang transfer seperti biasanya. Karena itu akhirnya Hendrik menghubungi keluarganya dan baru mengetahui jika papanya meninggal. Jika saja Hendrik tidak kehabisan uang, mungkin Hendrik yang berada di luar negeri waktu itu tidak akan pernah tahu jika papanya sudah meninggal.


"Dok, ada masalah dengan pasien yang ada di ruangan ICU,"ucap seorang perawat menghampiri Fina.


"Aku tinggal dulu! Nanti aku periksa lagi keadaan Tante Naima,"ujar Fina bergegas pergi.


"Sayang, kamu pasti capek. Kamu pulang bersama Nala, ya?"bujuk Rayyan yang tidak ingin Aurora kelelahan. Apalagi saat ini Aurora sedang mengandung.


"Nanti saja, Ray. Itu, mama sudah dibawa keluar,"ucap Aurora yang melihat Naima di bawa keluar dari ruangan UGD.


Akhirnya mereka pun mengikuti Naima yang di bawa ke ruangan rawat inap.


"Ra, aku pulang dulu, ya! Semoga Tante cepat sembuh,"ucap Sumi setelah beberapa menit ada di ruangan rawat inap Naima.


"Terimakasih, Sum,"sahut Aurora.


"Biar aku antar pulang,"tawar Hendrik.

__ADS_1


"Tuan Hendrik di sini saja! Biar anak buah saya yang mengantarkan nona Sumi pulang. Tuan Rayyan ada pekerjaan penting yang harus di selesaikan. Nyonya Aurora juga harus beristirahat. Tidak baik wanita yang sedang mengandung kecapean. Jadi, Tuan Hendrik lah yang harus menjaga nyonya Naima di sini,"ujar Andi datar.


"Kenapa kamu jadi mengatur aku? Apa posisi kamu hingga berani mengatur aku?"ketus Hendrik yang tidak suka di atur Andi yang hanya asisten adiknya,"Kamu sengaja ingin menghalangi aku dekat dengan Miti?"tuduh Hendrik yang merasa Andi selalu menganggu kebersamaannya dengan Sumi.


"Saya hanya ingin semuanya berjalan dengan baik. Tuan Rayyan punya banyak pekerjaan, sedangkan Tuan Hendrik pengangguran. Wajar jika Tuan Hendrik yang harus menjaga Nyonya Naima,"sahut Andi masih dengan ekspresi datarnya.


"Andi benar. Aku harus menyelesaikan pekerjaan ku yang tertunda. Dan istri ku juga harus istirahat. Jadi, sebaiknya kakak di sini menjaga mama. Bukankah kakak ingin berubah menjadi lebih baik? Maka mulailah dengan berbakti pada mama dengan menjaga mama saat mama sakit. Sedangkan aku akan bekerja untuk biaya pengobatan mama,"ujar Rayyan membuat Hendrik terdiam.


"Yang dikatakan Tuan Rayyan benar. Kata kamu, kamu ingin berubah. Maka mulailah dari sekarang. Jagalah mamamu! Berbaktilah padanya,"imbuh Sumi membuat Hendrik semakin tidak berkutik.


"Kenapa aku jadi terpojok di sini? Dasar asisten sialan! Ingin sekali aku sambelin mukanya yang sok datar itu,"gerutu Hendrik dalam hati, menatap Andi dengan penuh rasa kesal. Sedangkan Andi tetap saja memasang wajah datarnya.


"Ayo, sayang! Aku akan mengantar kamu pulang,"ujar Rayyan seraya memeluk pinggang Aurora mesra.


"Kalau begitu, aku pamit, ya, Ra!"ucap Sumi.


"Terimakasih, Sum!"sahut Aurora.


"Sama-sama. Mari semuanya!"ucap Sumi pada semua orang lalu melangkah keluar dari ruangan itu.


"Iya..iya.. Aku tidak akan menggoda siapapun selain Miti,"sahut Hendrik hanya bisa pasrah jika sudah berhadapan dengan Rayyan. Mau melawan pun tidak akan menang. Yang ada Rayyan akan menghukumnya. Jadi, lebih baik cari jalan aman. Yaitu menurut pada Rayyan. Itulah yang ada dalam pikiran Casanova yang ingin berubah menjadi lebih baik demi mengejar wanita yang menarik hatinya itu.


Akhirnya Rayyan, Aurora dan Andi pun keluar dari ruangan itu. Dan tinggallah Hendrik sendirian.


"Ternyata berusaha berubah menjadi baik itu butuh waktu dan perjuangan. Tidak seperti power rangers yang tidak perlu waktu satu menit sudah bisa berubah,"gumam Hendrik yang hanya bisa menghela napas panjang.


"Ray, bukankah kamu harus menyelesaikan pekerjaan kamu? Kenapa kamu ingin mengantarkan aku pulang? Aku bisa pulang bersama Nala,"tanya Aurora mendongak menatap wajah suaminya yang lebih tinggi darinya itu.


"Aku ingin membersihkan diri terlebih dulu. Badanku terasa lengket,"ujar Rayyan.


"Tuan ingin membersihkan diri atau ingin mengambil bekal?"celetuk Andi yang ceplas-ceplos.


"Mengambil bekal?"tanya Aurora mengernyitkan keningnya. Menoleh pada Andi yang berjalan bersebelahan dengan Nala di belakangnya dan Rayyan.


"Mengambil jatah dari nyonya. Soalnya nanti malam, 'kan, Tuan pasti pulang larut malam. Nyonya pasti sudah tidur saat Tuan pulang. Mana tega Tuan membangunkan nyonya yang sedang mengandung untuk meminta jatah. Jadi, Tuan pasti mau minta jatah lebih awal,"celetuk Andi yang ceplas-ceplos. Andi langsung menutup mulutnya karena merasa tidak seharusnya berkata seperti itu.

__ADS_1


"Sepertinya kamu tidak ingin pulang malam, ini,"ucap Rayyan terdengar datar.


"Tu.. Tuan, saya ingin pulang Tuan. Saya sudah lembur selama tiga hari,"ucap Andi kelabakan. Sedangkan Nala yang berjalan di sebelah Andi hanya melirik Andi sekilas.


"Sudahlah, Ray! Apa kamu tidak kasihan pada Andi? Aku juga curiga, jangan-jangan kamu cuma cari alasan. Pengen pulang untuk mandi itu cuma akal bulus kamu saja,"ujar Aurora menatap Rayyan curiga.


"Nyonya memang Dewi keberuntungan ku,"gumam Andi dalam hati merasa senang karena di bela Aurora.


"Mana ada yang seperti itu, sayang? Aku benar-benar cuma pengen mandi dan ganti baju doang,"ucap Rayyan kelabakan.


"Aku tidak pernah melihat Tuan tidak berdaya seperti ini. Nyonya benar-benar pawang Tuan,"gumam Andi dalam hati merasa geli melihat ekspresi wajah Rayyan yang panik karena nyonya-nya.


"Dasar Andi sialan!"gerutu Rayyan dalam hati, melirik Andi tajam. Membuat Andi merasa terancam.


"Nyonya, saya tahu tempat makanan tradisional yang enak dan sedang viral,"ucap Andi yang tahu kesukaan Aurora. Ingin berlindung dari majikannya yang terlihat marah padanya.


"Benarkah? Dimana?"tanya Aurora antusias.


"Akan saya antar nyonya ke sana besok pagi, asalkan malam ini saya bisa pulang ke rumah,"sahut Andi tersenyum cerah pada Aurora.


Andi sangat tahu apa yang disukai oleh Aurora, karena selain informasi tentang Aurora sebelum menikah, Andi juga selalu meminta Nala melaporkan kegiatan Aurora. Sehingga Andi tahu banyak tentang Aurora. Termasuk tentang apa yang di sukai dan tidak di sukai Aurora. Semata-mata hanya untuk berlindung pada nyonya-nya jika Rayyan menghukumnya. Licik. Memang benar Andi licik, agar bisa bebas dari hukuman.


"Okey. Aku mau,"sahut Aurora antusias, kemudian menatap suaminya,"Malam ini kamu jangan menyuruh Andi lembur,"ucap Aurora memperingati suaminya.


"Iya,"sahut Rayyan pasrah, kemudian menatap tajam pada Andi,"Dasar licik! Penjilat!"ucap Rayyan sinis menatap Andi. Sedangkan Andi mengulum senyum pura-pura tidak melihat majikannya yang terlihat kesal padanya.


"Nyonya adalah kartu As ku. Dewi keberuntungan ku,"gumam Andi dalam hati dengan wajah yang cerah.


Nala yang dari tadi berjalan di samping Andi nampak terlihat datar. Walaupun sesekali melirik Andi.


...🌸❤️🌸...


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2