
Sumi dan Aurora nampak larut dalam obrolan mereka. Hingga akhirnya Aurora berpamitan pada Sumi setelah mereka makan siang bersama. Sumi mengantarkan Aurora sampai ke depan restorannya. Hingga...
"Ckiiit..."
"Brakkk"
Brakkk"
Brakkk"
Tepat di jalan raya di sebelah kiri restoran Sumi terdengar suara tabrakan yang begitu keras. Bahkan ada beberapa kendaraan bermotor dan mobil yang menabrak pagar restoran Sumi.
Atensi semua orang yang ada di sekitar tempat itu, pun tertuju pada kecelakaan yang baru saja terjadi itu. Aurora yang penasaran pun berjalan menuju tempat kejadian kecelakaan lalu lintas itu. Sumi yang juga penasaran pun mengikuti Aurora yang berjalan lebih dulu.
"Nyonya! Nyonya jangan ke sana!"ucap Nala yang sudah seperti bayang-bayang bagi Aurora, bergegas mengikuti langkah majikannya.
"Aku hanya ingin melihatnya, La,"sahut Aurora.
"Jangan keluar dari pagar nyonya. Jika nyonya ikut berkerumun di lokasi kecelakaan, nyonya akan mempersulit petugas medis untuk menolong korban kecelakaan,"ujar Nala memperingati.
"Iya, aku tahu,"sahut Aurora.
"Astagaa..! Parah sekali!"gumam Aurora melihat banyaknya kendaraan yang terlibat kecelakaan.
"Banyak sekali yang terluka,"gumam Sumi.
"Mama.."gumam Aurora dengan ekspresi terkejut saat tanpa sengaja melihat mobil yang sangat dikenalinya. Mobil yang biasa dikendarai oleh ibu mertuanya.
"Nyonya! Nyonya mau kemana?"tanya Nala saat melihat Aurora berjalan'cepat, bahkan sedikit berlari,"Jangan berlari, nyonya! Nyonya sedang mengandung!"teriak Nala seraya menyusul Aurora. Terlihat kekhawatiran di wajah wanita biasanya terlihat datar itu.
"Ada mobil mama, La!"sahut Aurora masih berjalan cepat sedikit berlari.
"Ra! Hati-hati! Jangan berlari!"Sumi yang khawatir ikut mengejar Aurora.
Aurora berusaha membuka pintu mobil ibu mertuanya. Hingga akhirnya mobil itu benar-benar terbuka.
"Mama!"pekik Aurora hendak mendekati Naima yang matanya masih terbuka walaupun tidak terlalu lebar. Kepala wanita itu nampak penuh dengan darah.
"Jangan nyonya!"ucap Nala langsung memeluk Aurora agar majikannya itu tidak menyentuh Naima.
"Lepaskan, La! Mama perlu pertolongan!"bentak Aurora berusaha melepaskan pelukan Nala.
"Nyonya tidak tahu soal medis. Jika nyonya memindahkan nyonya Naima sembarangan, bisa saja Nyonya Naima akan mengalami cidera lebih parah,"jelas Nala.
"Benar kata Nala Ra. Kamu akan memperburuk keadaan mama kamu jika kamu tidak tahu cara menolongnya,"imbuh Sumi yang juga terlihat khawatir.
"Kita menjauh dulu! Biarkan petugas medis yang menolong nyonya Naima,"bujuk Nala.
__ADS_1
Memikirkan perkataan Nala dan Sumi akhirnya Aurora pun agak menjauh dari Naima. Namun matanya masih menatap pada Naima dengan penuh rasa khawatir.
Sedangkan Naima matanya masih terbuka sedikit. Wanita itu menatap Aurora dan Sumi yang berdiri bersebelahan. Melihat dua wanita yang sangat mirip itu menatap ke arah dirinya dengan tatapan khawatir.
Nala segera menghubungi Andi agar Rayyan mengetahui keadaan Naima. Aurora, Sumi dan Nala masuk ke dalam mobil dan mengikuti ambulance yang membawa Naima ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Aurora dan Sumi menunggu di depan ruang UGD dengan cemas. Entah mengapa, melihat Naima terluka parah seperti itu membuat keduanya teringat dengan ibu mereka.
Tidak lama kemudian, Rayyan datang bersama Hendrik dan Andi yang mengekor di belakang Rayyan.
"Sayang!"panggil Rayyan lembut dengan suara baritonnya.
"Miti"panggil Hendrik dengan suara yang sama baritonnya dengan Rayyan.
Aurora dan Sumi yang fokus pada ruang UGD, dengan beberapa perawat yang baru saja keluar pun menoleh. Aurora tersenyum tipis melihat suaminya.
Sedangkan Sumi melihat Rayyan dan Hendrik bergantian. Dua orang pria dengan postur tubuh dan tinggi badan yang terlihat hampir sama persis. Namun dengan wajah yang berbeda. Walaupun sama tampannya, tapi wajah Rayyan terlihat lebih tegas dari wajah Hendrik.
"Sayang, kenapa kamu menunggu di sini? Tidak baik ibu hamil berada di tempat seperti ini,"ujar Rayyan lembut seraya mengelus kepala Aurora.
"Aku hanya ingin tahu keadaan mama,"sahut Aurora.
"Aihhh.. perhatian dan mesra sekali!"gumam Sumi menatap Rayyan penuh kekaguman karena perlakuan Rayyan terlihat sangat lembut pada Aurora.
"Ehem,"dehem Hendrik saat melihat Sumi nampak terpesona melihat Rayyan. Hingga akhirnya Sumi menoleh pada Hendrik.
"Dia sudah ada yang punya. Kamu tidak berniat menjadi pelakor, 'kan?"tanya Hendrik pada Sumi pelan.
"Bagus. Lebih baik sama aku saja yang masih singel. Lagian, dia itu sudah bucin berat pada istrinya. Kamu yang imitasi ini tidak akan dilirik nya,"ucap Hendrik yang sejatinya merasa cemburu melihat Sumi terpesona melihat Rayyan.
Sumi hanya bisa menghela napas berkali-kali mendengar kata-kata Hendrik,"Aku sadar siapa diriku. Kamu tidak usah mengingatkan aku,"sahut Sumi datar. Merasa tidak suka jika dituduh ingin menjadi orang ke tiga dalam rumah tangga sahabatnya sendiri.
"Baguslah kalau begitu,"sahut Hendrik.
Biasanya Hendrik tidak pernah bersikap seperti itu. Dengan pacar-pacarnya sekalipun, Hendrik biasanya tidak pernah cemburu. Sudah bosan tinggal diputuskan saja. Bahkan Hendrik tidak terlalu peduli dengan kehidupan pribadi pacar-pacarnya. Mereka tidak setia padanya pun tidak masalah. Tapi melihat Sumi nampak mengagumi Rayyan, entah mengapa membuat hati Hendrik merasa. tidak suka.
"Kamu pulang saja duluan saja, ya!"bujuk Rayyan.
"Aku ingin tahu keadaan mama terlebih dahulu,"sahut Aurora keras kepala.
Rayyan tidak berkata apa-apa lagi. Takut istrinya yang emosinya tidak stabil itu marah padanya. Dan jika sudah marah, belum tentu mudah untuk membujuknya.
"Bagaimanapun, mama Naima adalah ibu kandung Rayyan. Mana mungkin aku tidak peduli padanya. Walaupun dia belum bisa menerimaku sebagai menantunya, dia adalah wanita yang telah melahirkan suamiku. Orang yang sekarang sangat mencintai dan memperhatikan aku,"gumam Aurora dalam hati.
"Apa ada keluarga nyonya Naima yang golongan darahnya sama dengan Nyonya Naima? Stok darah kami yang sama dengan Nyonya Naima habis,"ujar perawat yang baru saja keluar dari UGD.
Rayyan menatap pada Hendrik. Karena golongan darah Hendrik sama dengan mamanya. Sedangkan golongan darah Rayyan sama dengan papanya.
__ADS_1
"Aku semalam mengkonsumsi alkohol,"ucap Hendrik yang mengerti arti tatapan Rayyan.
"Andi, tolong carikan!"titah Rayyan.
"Baik, Tuan,"sahut Andi segera menghubungi seseorang.
Kebetulan ada dua anak buah Andi yang ikut dengan Andi memiliki golongan darah yang sama dengan Naima, hingga mereka tidak perlu merasa khawatir soal darah lagi.
"Katanya kamu mau berubah. Tapi masih minum minuman beralkohol,"cibir Sumi pada Hendrik.
"Aku hanya minum sedikit, sayang!"ucap Hendrik terdengar manis.
"Cih! Sejak kapan kita jadian? Sampai-sampai kamu memanggil aku sayang,"protes Sumi.
"Sejak sekarang,"sahut Hendrik tersenyum menebar pesona pada Sumi.
"Saat ini, kamu belum masuk calon suami kriteria ku. Ogah aku pacaran sama kamu,"ketus Sumi tidak terpengaruh oleh senyuman Hendrik.
"Tenang saja! Secepatnya aku akan segera berubah,"sahut Hendrik percaya diri.
"Berubah? Berubah jadi apa? Ultraman? Power rangers?"sahut Sumi seraya melipat kedua tangannya di depan dadanya.
"Berubah menjadi pangeran impian mu,"ucap Hendrik seraya menaik turunkan kedua alisnya dengan senyuman genit pada Sumi.
"Ibu anda sedang berjuang antara hidup dan mati di dalam sana. Tapi Tuan di sini malah merayu wanita,"sarkas Andi membuat Sumi menciut untuk bicara lagi.
"Memangnya aku bisa apa? Aku bukan dokter yang bisa menyelamatkan mamaku. Aku tidak bisa membantu apa-apa,"ketus Hendrik yang merasa kesal pada Andi karena menganggu kesenangannya merayu Sumi.
"Bantu doa! Bukan malah merayu wanita!"sarkas Andi.
"Kenapa aku merasa kamu cemburu padaku, ya? Kamu tidak berniat bersaing dengan aku untuk memenangkan hati Miti, 'kan?"tanya Hendrik menatap Andi curiga.
"Terserah Tuan mau menilai apa,"sahut Andi datar.
...🌸❤️🌸...
Notebook :
Tidak disarankan untuk menolong korban kecelakaan jika tidak mengerti medis. Beberapa alasannya adalah:
•Bagi orang awam yang tidak mengetahui pengetahuan medis, kesalahan mengangkat korban, bisa menimbulkan cedera baru.
•Korban yang mengalami patah tulang, ketika diangkat atau dipindahkan, kondisinya akan menjadi lebih parah jika salah cara dan proses pengangkatan.
•Ketika mengalami patah tulang di leher atau bagian lainnya, akan berbahaya. Jika salah dalam proses pengangkatan, korban bisa meninggal atau mengalami luka patah tulang yang lebih serius,
•Kalau sembarang angkat, korban yang mengalami patah tulang rusuk bisa tembus ke paru-paru.
__ADS_1
.
To be continued