
Rayyan masuk ke dalam kamarnya, tapi tidak melihat Aurora di dalam ruangan itu. Rayyan bergegas menuju ke kamar mandi yang ternyata terkunci dari dalam.
"Tok! Tok! Tok!"
"Sayang! Sayang!"panggil Rayyan sambil mengetuk pintu. Pria itu selalu saja khawatir jika Aurora mengunci diri di dalam kamar mandi.
Pengalaman melihat Aurora pingsan di bawah shower yang menyala dan didalam bathtub membuat Rayyan merasa khawatir jika Aurora berada di dalam kamar mandi dalam keadaan terkunci. Apalagi saat ini Aurora sedang mengandung. Rayyan semakin mengkhawatirkan Aurora.
"Sebentar lagi aku keluar, Ray!"teriak Aurora dari dalam kamar mandi.
"Sayang, aku sudah bilang jangan mengunci kamar mandi saat kamu ada di dalam! Aku takut terjadi apa-apa dengan kamu,"
"Iya.. iya.. maaf! Aku lupa. Aku tidak akan menguncinya lagi,"sahut Aurora dari dalam kamar mandi.
Rayyan menghela napa lega mendengar suara Aurora baik-baik saja. Pria itu kemudian melepaskan jas, dasi dan juga kemejanya. Rayyan mengambil handphonenya dari dalam saku celananya saat benda pipih itu bergetar. Setelah melihat siapa yang menghubunginya, pria itu pun menerima panggilan masuk di handphonenya itu.
"Ceklek"
Aurora keluar dari kamar mandi dan melihat Rayyan sudah bertelanjang dada. Pria itu berdiri membelakanginya dan terdengar sedang berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon dengan menggunakan bahasa asing. Tangan kiri pria itu memegang selembar kertas dan tangan kanannya memegang handphonenya.
Aurora tersenyum smirk, lalu mendekati Rayyan. Aurora memeluk Rayyan dari belakang, membuat Rayyan terhenyak. Namun pria itu masih melanjutkan pembicaraannya dengan orang yang menelponnya sambil melihat selembar kertas di tangan kirinya.
"Aku ingin,"gumam Aurora dalam hati dengan tangan yang mulai merayap di dada dan perut Rayyan.
Rayyan merasa tubuhnya meremang saat tangan Aurora mulai nakal merambat di perut dan dadanya. Bahkan Aurora mengecupi punggung Rayyan. Rayyan menjadi gagal fokus saat Aurora mulai melepaskan ikat pinggangnya. Bahkan membuka kancing dan resleting celana Rayyan.
Rayyan merasa tubuhnya semakin meremang saat dengan nakalnya tangan Aurora menyusup ke dalam celana boxer-nya. Rayyan meletakkan kertas yang di pegangnya dan menahan tangan kiri Aurora yang mulai menyentuh sesuatu di dalam celana boxer-nya.
"Dia berani menolak aku?"gumam Aurora dalam hati tersenyum miring.
Tangan kanan Aurora yang tadinya sibuk meraba perut Rayyan malah ikut dimasukkan Aurora ke dalam celana boxer Rayyan.
"Shiitt! Dia benar-benar menyiksaku!"umpat Rayyan dalam hati
Rayyan kembali menahan tangan nakal Aurora itu. Tapi karena tangan Rayyan satunya masih memegangi handphone, Rayyan hanya bisa menahan sebelah tangan Aurora saja. Sehingga tangan Aurora yang satunya bisa bergerak nakal mengelus sesuatu di dalam celana boxer yang mulai terbangun.
Rayyan berusaha mengakhiri pembicaraannya dengan orang yang menghubunginya. Namun orang itu masih saja belum mau mengakhiri pembicaraan mereka.
"Kita lihat, apakah kali ini kamu masih akan menolak aku?"gumam Aurora kembali tersenyum miring.
Rayyan merasa lega saat Aurora menghentikan aksinya menggoda dirinya. Namun rasa lega itu hanya sebentar. Pria itu membulatkan matanya saat Aurora berdiri didepannya dan membuka baju tidur kimono yang di pakainya. Istrinya itu memakai lingerie seksi berwarna hitam yang sangat kontras dengan kulitnya yang putih. Mencetak lekuk tubuhnya yang begitu menggoda di mata Rayyan.
__ADS_1
"Kita lihat, apakah kamu masih bisa bertahan mengabaikan aku,"gumam Aurora dalam hati.
Kali ini Rayyan susah payah menelan salivanya saat Aurora mendekat. Wanita itu meraba dada dan perut Rayyan, menciumi dada Rayyan. Walaupun sudah berusaha menahan Aurora dengan sebelah tangannya, agar Aurora berhenti mencumbuui dirinya, tetap saja Aurora mereruskan aksinya.
"Aku akan membuatmu tersiksa jika kamu terus menolak ku,"gumam Aurora dalam hati.
Dengan sekali gerakkan Aurora menarik celana boxer Rayyan, lalu menjilat sesuatu yang ternyata sudah berdiri dengan tegak tapi bukan tiang itu. Aurora menahan tangan Rayyan yang berusaha menghentikan aksinya.
Rayyan akhirnya mengakhiri pembicaraannya dengan seseorang di sambungan telepon itu. Melempar handphonenya di atas ranjang. Rayyan memegang wajah Aurora dan menjauhkan wajah Aurora dari tubuhnya.
"Hentikan, sayang! Aku takut menyakiti bayi kita,"ucap Rayyan yang beberapa hari ini tidak menyentuh Aurora. Karena beberapa hari ini Aurora terlihat belum terlalu sehat. Rayyan juga takut membahayakan janin dalam kandungan Aurora jika mereka melakukan hubungan suami-istri.
Aurora menepis tangan Rayyan yang memegang wajahnya dengan wajah yang terlihat kecewa. Tanpa berkata apapun, Aurora memakai baju tidur kimononya. Rayyan hanya bisa menghela napas melihat reaksi istrinya yang nampak kecewa itu.
"Sayang, jangan marah! Aku hanya takut akan menyakiti bayi kita jika aku melakukannya. Kamu tahu sendiri, aku selalu menahan diri untuk menyentuh kamu karena kamu sedang mengandung,"ucap Rayyan memegang tangan Aurora yang hendak melewatinya.
"Lepaskan!"ketus Aurora menghentakkan tangannya dengan kuat hingga pegangan tangan Rayyan terlepas. Wanita itu bergegas meninggalkan Rayyan.
"Sayang!"panggil Rayyan hendak mengejar Aurora,"Auwh! Shiitt!"umpat Rayyan yang hampir terjatuh karena celana panjang dan celana boxer-nya yang hanya melorot sampai ke kaki membuat Rayyan hampir jatuh saat Rayyan ingin melangkah.
"Tunggu sayang!"panggil Rayyan saat melihat Aurora keluar dari dalam kamar mereka.
"Shiitt!"umpat Rayyan melepaskan celananya dan bergegas memakai baju tidur kimono yang sudah disiapkan Aurora di atas ranjang. Rayyan bergegas keluar dari kamarnya dan mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan istrinya.
"Sayang! Hati-hati!"ucap Rayyan yang khawatir Aurora terjatuh. Namun Aurora tidak menghiraukan Rayyan.
"Shiitt! Susah sekali menghadapi Bumil. Emosinya jadi labil,"gerutu Rayyan dalam hati, terus mengejar Aurora yang masuk ke kamar mereka di lantai atas.
"Kenapa ikut kesini? Pergi sana!"bentak Aurora seraya mendorong dada Rayyan lumayan kuat.
"Sayang, jangan marah! Aku salah. Aku minta maaf!"
"Pergi! Aku tidak ingin melihat kamu! Pergi!"pekik Aurora kembali mendorong dada Rayyan.
"Okey, okey! Aku akan pergi. Jangan marah lagi, ya?"mohon Rayyan dengan suara lembut.
Rayyan terpaksa keluar dari kamar itu. Dengan berat hati turun ke lantai satu menuju kamar mereka saat ini.
"Huff... sabar.. sabar... Kata dokter, ibu hamil itu rata-rata memang mengalami mood swing. Demi bayi kami, aku harus sabar,"gumam Rayyan seraya berjalan menuju kamarnya.
"Tuan memang harus banyak bersabar. Tuan, tahu? Pelajaran yang paling susah dalam hidup itu adalah SABAR. Karena sabar itu belajarnya setiap hari. Latihannya setiap saat. Tapi ujiannya selalu mendadak,"ujar Andi yang tiba-tiba muncul membuat Rayyan terkejut.
__ADS_1
"Haisss.. kamu itu hantu apa manusia, sih?! Tiba-tiba muncul bikin kaget aja,"ketus Rayyan merasa kesal pada Andi.
"Tuan, saya ada sesuatu yang penting yang ingin saya bicarakan,"ucap Andi mengalihkan pembicaraan.
"Ada apa?"tanya Rayyan seraya mengernyitkan keningnya.
"Ini soal Nona Sumi dan Tuan Hendrik, Tuan,"
"Kita ke ruangan kerja ku saja,"ucap Rayyan langsung menuju ke ruang kerjanya di ikuti oleh Andi.
Rayyan duduk di sofa yang ada di ruangan kerjanya berhadapan dengan Andi.
"Ada apa dengan Sumi dan kakakku?"tanya Rayyan penasaran.
"Begini, Tuan. Tadi siang ibu nona Sumi masuk ke rumah sakit karena jatuh di kamar mandi. Tapi syukurnya cuma gegar otak ringan,"
"Carikan dokter terbaik untuk merawat ibu Sumi,"
"Baik, Tuan,"
"Lalu, soal kakak ku?"
"Beberapa hari yang lalu, Tuan Hendrik bertemu dengan nona Sumi di butik. Tuan Hendrik menolong nona Sumi yang dihina pelanggan butik yang lain, karena waktu itu nona Sumi sengaja menyamar menjadi jelek. Tadi siang Tuan Hendrik bertemu lagi dengan Nona Sumi, bahkan Tuan Hendrik mengantar Nona Sumi ke rumah sakit. Tuan Hendrik juga menemani Nona Sumi saat Nona Sumi menunggu ibunya di UGD,"
"Jiwa penolong nya tidak berubah. Tapi sayangnya, jiwa Casanova nya juga tidak berubah,"ujar Rayyan menghela napas,"Lalu, apa masalahnya?"
"Sepertinya Tuan Hendrik sangat tertarik pada nona Sumi. Dia bertanya pada Nona Sumi tentang wajah Nona Sumi yang sangat mirip dengan wajah nyonya. Tuan Hendrik curiga kalau Nona Sumi melakukan operasi plastik. Menurut Tuan, nona Sumi harus menjawab apa, jika Tuan Hendrik bertanya lagi soal itu?"
....🌟"SABAR adalah satu kata yang mudah di ucapkan. SABAR adalah ilmu tingkat tinggi yang sulit dipelajari dan tidak mudah untuk di realisasikan."🌟...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
Notebook :
•Mood swing alias perubahan suasana hati yang begitu cepat juga menjadi tanda-tanda hamil. Misalnya, bisa tiba-tiba senang, marah, sedih, resah, dan gelisah terhadap hal-hal kecil.
•Mood swing saat kehamilan trimester 2 itu normal terjadi. Bisa dikatakan setiap ibu hamil mungkin mengalaminya, meskipun tingkatannya berbeda-beda. Hal ini terjadi karena bergejolaknya hormon-hormon dalam tubuh ibu hamil. Misalnya, peningkatan kadar hormon estrogen dan progesteron dalam darah.
•Labil adalah kondisi di saat seseorang mudah berubah keadaan perasaan dan kejiwaannya, dari sedih berubah menjadi marah, sering marah-marah dikarenakan sesuatu yang tidak jelas, dan sikap-sikap lainnya.
__ADS_1
.
To be continued