Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
269. Tidak Ingin Lagi


__ADS_3

Hendrik nampak keluar dari kamarnya bersama Sumi. Sepasang suami-isteri itu saling mengernyitkan kening dan saling bertatapan saat mereka sudah dekat dengan ruangan makan. Pasalnya mereka mendengar suara Naima dan suara bayi yang sedang tertawa. Sepasang suami-isteri itu pun penasaran dan bergegas masuk ke ruangan makan.


"Ma, anak siapa itu?"tanya Hendrik yang melihat Naima memangku seorang bayi tampan yang terlihat lucu dengan tubuh yang terlihat padat berisi. Bayi itu terlihat sangat menggemaskan.


"Ini adalah keponakan kamu. Anak Rayyan dan Aurora,"sahut Naima penuh senyuman.


Zayn menatap Hendrik dengan matanya yang bulat dan jernih seperti mata Aurora, tapi terlihat tajam seperti mata Rayyan.


"Aurora sudah ditemukan?"tanya Sumi nampak antusias.


"Iya. Mama nggak tahu kapan mereka pulang, tapi sepertinya mereka pulang semalam,"


"Lucu sekali. Eh, bukannya anak Aurora cewek, ya, ma? Tapi, ini, kok, wajahnya maskulin banget, ya, ma?"tanya Sumi seraya mengamati bayi dalam pangkuan Naima itu. Tangan Sumi terulur untuk mengelus pipi chubby Zayn yang terlihat menggemaskan.


Seingat Sumi, hasil USG Aurora menunjukkan bahwa bayi Aurora adalah perempuan. Tapi bayi yang di pangku ibu mertuanya itu malah terlihat seperti bayi laki-laki.


"Dia cowok. Namanya Zayn. Hasil USG nya ternyata keliru. Mama senang sekali. Mama punya cucu laki-laki dan perempuan,"ujar Naima nampak sangat bahagia.


Hendrik nampak tersenyum penuh arti. Pria itu kemudian berjongkok di sebelah kursi tempat Naima duduk dan memegang jemari mungil Zayn.


"Karena Rayyan sudah memberikan cucu laki-laki untuk mama, Miti tidak perlu hamil lagi. Aku sudah memiliki seorang putri dan Rayyan sudah memiliki seorang putra. Berarti aku sudah punya anak laki-laki dan perempuan. Karena keponakan ku berarti juga anakku,"ujar Hendrik yang lumayan trauma melihat Sumi melahirkan.


Hendrik benar-benar takut kehilangan Sumi. Karena itu, Hendrik tidak ingin memiliki anak lagi. Takut jika Sumi meninggal saat melahirkan.


"Kenapa kamu bicara seperti itu? Kamu tidak ingin memiliki anak lagi?"tanya Naima mengernyitkan keningnya menatap Hendrik.


"Saat menemani aku lahiran, badan Hendrik gemetar dan tubuhnya sampai berkeringat dingin, ma. Hendrik hampir pingsan di ruangan bersalin. Dia terduduk di samping ranjang ku seraya menangis,"ujar Sumi terkekeh geli jika mengingat bagaimana Hendrik berusaha menyemangati dirinya dengan tubuh yang gemetar. Hingga akhirnya pria itu terduduk dan menangis saat putri mereka lahir.


"Masa, iya? Pantas saja saat keluar dari ruang bersalin kaos yang dipakai Hendrik basah kuyup. Waktu itu mama nggak sempat nanya, karena mama terlalu bahagia mendapatkan cucu. Haiss.. Katanya Casanova, tapi menemani istri lahiran saja mau pingsan,"cibir Naima.


"Si.. siapa bilang aku hampir pingsan? Aku duduk karena aku lelah berdiri,"kilah Hendrik.


"Iya, terduduk karena hampir pingsan,"ledek Sumi kembali terkekeh, dan Naima pun ikut terkekeh.

__ADS_1


"Sayang, kamu jangan merusak nama baik aku, dong! Jangan membuka aib suami kamu sendiri!"protes Hendrik bersungut-sungut.


Pria itu merasa malu karena di ledek istri dan mamanya. Sedangkan Zayn hanya menatap tiga orang itu bergantian.


"Halahh.. Lagak kamu, Hen. Kalau beneran tidak takut, nanti kalau Miti melahirkan lagi, mama mau minta perawat untuk merekam ekspresi wajah kamu saat menemani Miti lahiran,"ujar Naima.


"Nggak! Aku tidak ingin Miti hamil lagi. Aku tidak ingin melihat Miti kesakitan seperti kemarin. Aku sudah punya seorang putri dan keponakan laki-laki. Tidak perlu lagi punya anak,"sahut Hendrik yang benar-benar tidak ingin Sumi hamil lagi. Tidak ingin melihat Sumi kesakitan lagi. Benar-benar takut jika Sumi sampai meninggal saat melahirkan.


"Sekarang kamu tahu, 'kan, bagaimana seorang wanita berjuang keras untuk melahirkan dengan taruhan nyawa? Karena itu, hormatilah wanita! Apalagi anak kamu perempuan. Jaga dia dengan baik. Jangan sampai jadi korban Casanova,"ujar Naima.


"Iya, ma. Aku pasti akan menjaga putriku dengan baik. Kalau dari dulu aku tahu bagaimana seorang wanita bertaruh nyawa untuk melahirkan, aku tidak akan pernah menjadi seorang Casanova,"sahut Hendrik dengan ekspresi serius.


"Ngomong-ngomong aku sangat geli saat mengingat mama dan Hendrik menemaniku lahiran. Penampilan mama dan Hendrik benar-benar berantakan. Mama dengan pakaian kusut dan rambut acak-acakan. Hendrik bahkan hanya memakai celana pendek dan kaos oblong yang terbalik,"ujar Sumi yang terkekeh geli jika mengingat penampilan suami dan ibu mertuanya.


"Jangan di ingat! Itu memalukan sekali,"sahut Naima terlihat kesal jika mengingat penampilannya waktu menunggu Sumi melahirkan.


"Iya, sayang. Jangan mengingatnya lagi. Itu benar-benar memalukan,"timpal Hendrik.


Tanpa di sadari Naima, Hendrik dan Sumi, Rayyan terdiam di depan pintu ruangan makan itu sejak saat mendengar pengalaman Hendrik menemani Sumi melahirkan. Pengalaman yang tidak dirasakan Rayyan saat Aurora melahirkan putranya.


Saat Aurora mengandung, berulang kali Rayyan mengatakan ingin menemani Aurora melahirkan. Namun, karena Aurora kabur, Rayyan tidak bisa merasakan momen menemani Aurora melahirkan. Rayyan juga tidak bisa melihat putra mereka yang baru dilahirkan hingga berusia tujuh bulan.


"Kita akan memiliki anak lagi. Dan nanti, kamu harus menemani aku melahirkan,"ucap Aurora pelan. Mengerti dengan perasaan Rayyan.


Wanita itu tersenyum tipis dengan tangan kiri memegang lengan Rayyan dan tangan kanan mengelus dada Rayyan.


"Ayo, kita masuk dan sarapan,"ajak Aurora tersenyum tipis, senyum yang sejatinya dipaksakan karena merasa bersalah pada Rayyan.


"Aurora!"pekik Sumi saat melihat Aurora.


Sumi langsung menghambur ke arah Aurora dengan senyuman lebar. Terlihat jelas kebahagiaan di wajah Sumi. Wanita itu langsung memeluk Aurora dan di balas hangat oleh Aurora.


"Sayang, pelan-pelan! Kamu baru saja melahirkan,"ujar Hendrik yang nampak khawatir melihat istrinya yang menghambur ke arah Aurora.

__ADS_1


"Kemana saja kamu selama ini?"tanya Sumi seraya memegang kedua pundak Aurora.


"Iya, mama juga belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kemana kamu selama delapan bulan ini?"timpal Naima.


"Ceritanya panjang, ma. Nanti, biar aku saja yang menceritakan semuanya setelah masalahnya selesai. Kita sarapan dulu. Aku tidak ingin terlambat pergi ke kantor,"ujar Rayyan sebelum Aurora menjawab pertanyaan Sumi.


Rayyan belum berhasil mengungkap misteri tentang pembunuhan papanya. Karena itu, Rayyan belum ingin menceritakan tentang kenapa Aurora menghilang selama delapan bulan ini. Sebab, Aurora menghilang karena ada hubungannya dengan meninggalnya papanya. Rayyan tidak ingin keluarganya salah paham pada Pak Hamdan.


Sumi pun tersenyum kecut mendengar kata-kata Rayyan. Sedangkan Naima dan Hendrik nampak mengernyitkan kening mereka mendengar perkataan Rayyan. Ketiga orang itu nampak penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Aurora. Sehingga Rayyan tidak mengizinkan Aurora untuk bercerita pada mereka.


Akhirnya mereka semua sarapan bersama tanpa membahas tentang menghilangkannya Aurora selama delapan bulan ini.


Setelah selesai sarapan, Aurora mengantarkan Rayyan ke depan rumah.


"Sayang, tentang kenapa kamu menghilang selama delapan bulan ini, biar aku saja yang menceritakan pada mereka. Aku tidak ingin mereka salah paham pada bapak. Sebelum aku menemukan siapa sebenarnya yang berniat melenyapkan nyawa papa ku, kamu jangan bercerita apapun dulu pada mama dan yang lainnya."ujar Rayyan terlihat serius.


"Hum. Aku mengerti,"sahut Aurora.


Rayyan menundukkan wajahnya, kemudian berbisik di telinga Aurora.


"Kamu jangan kemana-mana dulu. Biarkan mama melepas rindu pada putra kita. Kamu istirahat saja di rumah. Agar nanti malam kamu bisa melayani aku dengan kondisi fit,"ucap pria itu, kemudian mengecup bibir Aurora beberapa kali.


Aurora hanya bisa menghela napas mendengar perkataan suaminya. Wanita itu melambaikan tangannya saat mobil suaminya mulai melaju meninggalkan pekarangan rumah itu.


"Setelah delapan bulan tidak bertemu, dia tetap saja tidak berubah. Masih saja tidak mau absen meminta jatah,"gumam Aurora menghela napas panjang seraya melangkah masuk ke dalam rumah.


...🌟"Bagi orang-orang yang peka, pengalaman bisa menyadarkan mereka tentang kesalahan mereka sebelumnya."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2