Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
110. Berhenti


__ADS_3

"Halo, Ray!"ucap Natalie penuh senyuman menatap Rayyan.


Hendrik mengernyitkan keningnya menatap Natalie,"𝘼𝙥𝙖 𝙢𝙖𝙩𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙧𝙖𝙗𝙪𝙣? 𝘼𝙩𝙖𝙪 𝙙𝙞𝙖 𝙨𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙖𝙗𝙪𝙠? 𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙢𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜𝙜𝙞𝙡 𝙖𝙠𝙪 𝙍𝙖𝙮? 𝙏𝙪𝙗𝙪𝙝 𝙠𝙖𝙢𝙞 𝙢𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜 𝙝𝙖𝙢𝙥𝙞𝙧 𝙨𝙖𝙢𝙖, 𝙙𝙖𝙣 𝙧𝙖𝙢𝙗𝙪𝙩 𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙠𝙪 𝙥𝙤𝙩𝙤𝙣𝙜 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙍𝙖𝙮𝙮𝙖𝙣. 𝙏𝙖𝙥𝙞, '𝙠𝙖𝙣, 𝙬𝙖𝙟𝙖𝙝 𝙠𝙖𝙢𝙞 𝙗𝙚𝙙𝙖? 𝘿𝙖𝙣 𝙖𝙥𝙖 𝙞𝙣𝙞? 𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙙𝙞 𝙞𝙠𝙖𝙩 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙞𝙣𝙞?"gumam Hendrik dalam hati tanpa merespon kata-kata Natalie.


Natalie yang memakai baju tidur kimono itu berjalan mendekati Hendrik yang duduk bersandar di dashboard ranjang, degan kedua tangan yang diikat di dashboard ranjang.


"Kenapa? Kamu terkejut karena aku bisa membawa kamu ke atas ranjang ku, Rayyan sayang?"tanya Natalie dengan suara yang sengaja di buat sensuall.


Hendrik menghela napas panjang, Kemudian bertanya,"Kenapa kamu menculik aku?"


"Agar kita bisa bersenang-senang,"ucap Natalie masih dengan suara sensuall nya. Wanita itu mengambil obat dalam laci nakas, kemudian meminumkannya pada Hendrik. Hendrik yang tahu obat apa yang diminumkan Natalie padanya pun meminum obat itu tanpa di paksa Natalie.


Natalie sempat terkejut melihat pria yang dianggapnya Rayyan itu meminum obat yang di berikan nya tanpa paksaan. Padahal Natalie mengira harus memaksa pria itu untuk meminum obat. Namun Natalie tidak mau ambil pusing dengan hal itu. Yang penting, sekarang dirinya hanya ingin bersenang-senang.


"Kali ini, kita akan menghabiskan malam ini sampai pagi,"ucap Natalie seraya meraba dada bidang Hendrik. Menatap Hendrik dengan gaya sensuall. Sedangkan Hendrik tersenyum miring mendengar kata-kata Natalie.


"Lihatlah! Tubuh ku juga tidak kalah menggoda dari tubuh istrimu itu,"ucap Natalie seraya melepaskan baju kimono yang dipakainya hingga hanya lingerie seksi yang kini menempel di tubuh Natalie. Wanita itu meraba tubuhnya sendiri dengan gaya erotis.


"Cih! Menjijikkan sekali. Percaya diri sekali dia mengatakan tubuh nya tidak kalah menggoda dari tubuh istri ku. Jangan kan untuk menyentuh dan meniduri dia, melihat tubuh dan gayanya saja aku jijik,"ujar Rayyan memilih berhenti menonton Natalie yang sedang menggoda Hendrik yang di kira Natalie adalah Rayyan. Pria itu kembali berjalan menuju balkon kamarnya.


"Saya juga berhenti nonton, Tuan. Kalau pengen bisa berabe nanti. Soalnya belum punya musuh untuk di ajak duel,"sahut Andi menyengir bodoh.


Hendrik menelan salivanya susah payah melihat Natalie seperti itu. Apalagi obat yang diminumnya tadi mulai terasa reaksi nya. Natalie menggunting kemeja yang di pakai Hendrik, kemudian membuangnya asal. Meraba dada dan perut Hendrik hingga Hendrik tanpa sadar melenguh.


Natalie tersenyum miring kemudian ikut meminum obat itu agar bisa bercinta dengan pria yang di anggapnya Rayyan itu sampai pagi.


Natalie melepaskan celana yang dipakai Hendrik hingga saat ini tubuh pria itu polos tanpa sehelai benang pun. Natalie terus menggoda Hendrik dengan menjelajahi seluruh tubuh Hendrik dengan tangan, bibir dan lidahnya, hingga Hendrik semakin gelisah dan tidak bisa lagi menahan hasratnya yang semakin membuncah.

__ADS_1


"Ku mohon! Lakukanlah! Aku sudah tidak tahan lagi,"pinta Hendrik dengan suara berat dan mata yang berkabut hassrat. Jika saja kedua tangannya tidak di ikat, Hendrik pasti akan langsung menerkam Natalie.


"Memohon lah lebih tulus lagi! Maka aku akan mengabulkan nya,"ucap Natalie seraya melepaskan lingerie yang dipakainya, membuat hasraat Hendrik semakin tidak terbendung lagi. Natalie sendiri juga merasakan hasraatnya semakin naik.


"Natalie, aku mohon! Lakukan lah! Aku benar-benar sudah tidak tahan lagi. Please!"mohon Hendrik dengan suara berat, mata berkabut hassrat dan tubuh yang terasa semakin panas dan gelisah. Apalagi menatap tubuh Natalie yang saat ini sama polosnya dengan dirinya.


Natalie yang hasraatnya juga semakin naik pun memulai penyatuan mereka. Malam itu keduanya bercinta dengan sangat bergairah karena reaksi obat yang mereka konsumsi. Natalie melepaskan ikatan tangan Hendrik hingga Hendrik bebas menggagahi Natalie.


Rayyan duduk bersandar dii sofa yang ada di balkon kamar hotelnya itu. Tangannya masih memegang gelas berisi sampanye. Tatapannya kosong menatap rembulan yang di selimuti awan. Pikiran pria itu melayang memikirkan Aurora, istrinya.


Dulu Rayyan pernah menyukai Dila. Tapi Rayyan tidak terlalu memperhatikan Dila. Dan juga, Rayyan tidak pernah merasa rindu pada Dila seperti dirinya merindukan Aurora. Namun sayangnya sepertinya Aurora tidak merindukan dirinya.


Andi menutup laptopnya dan berhenti menonton Natalie yang melepaskan baju kimono nya hingga hanya menyisakan lingerie tipis dan seksi yang menempel di tubuhnya. Pria itu menghela napas panjang melihat Rayyan yang sudah beberapa hari ini terlihat murung. Andi beranjak dari sofa tempatnya duduk, kemudian menghampiri Rayyan di balkon kamar hotel itu. Melihat Rayyan dengan tatapan kosong.


Andi merasa dadanya sesak setiap kali melihat Rayyan sedih. Bagi Andi, Rayyan adalah orang yang paling berjasa dan berarti dalam hidupnya. Karena itu, Andi selalu menyingkirkan semua hal yang membuat Rayyan merasa tidak senang dan mencari cara agar Rayyan bahagia.


"Aku ingin bercerai,"ucap Rayyan tanpa ekspresi. Sedangkan Andi membulatkan matanya nampak terkejut.


"Ke.. kenapa?"tanya Andi ragu. Pasalnya ini adalah masalah pribadi.


Rayyan menghela napas yang terasa berat, kemudian berkata,"Karena walaupun aku mencintai dia, tapi dia tidak mencintai aku. Lalu... untuk apa aku tetap bersikeras mempertahankan dia di sisiku? Aku tidak ingin semakin dalam mencintai dia, dan terluka karena nya. Aku juga tidak mau dia tersiksa karena terpaksa hidup dengan ku. Karena itu, jalan terbaik adalah melepaskan dia,"ujar Rayyan yang terlihat jelas kesedihan di matanya.


"Mungkin.. Tuan kurang berusaha untuk meluluhkan hati nyonya? Apa Tuan tidak ingin mencoba berusaha lagi? Hanya saat bersama nyonya, Tuan bisa tidur dengan nyenyak. Setiap kali berpisah dengan nyonya, Tuan selalu kesulitan untuk tidur. Lagi pula, Tuan dan nyonya baru menikah beberapa bulan dan sebelumnya tidak saling mengenal. Wajar jika butuh proses lama untuk saling mencintai. Saudara satu kandung yang sejak lahir tinggal bersama pun sering bertengkar, apalagi Tuan yang baru bertemu dengan nyonya beberapa bulan. Cobalah lagi untuk meluluhkan hati nyonya, Tuan! Jangan menyerah dulu!"ujar Andi berharap majikannya tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan.


Rayyan menghela napas panjang mendengar kata-kata Andi. Memang benar yang dikatakan oleh Andi. Dirinya kurang berusaha untuk meluluhkan hati Aurora karena kesibukan nya dalam bekerja. Dan mereka juga baru beberapa bulan saling mengenal. Wajar saja jika butuh proses untuk saling mencintai.


Namun Aurora sudah dua kali tidak sadarkan diri di dalam kamar mandi dengan keadaan yang mengkhawatirkan, dan semua itu karena dirinya. Bahkan kali ini dokter mengatakan Aurora stres. Mengingat hal itu, Rayyan jadi enggan untuk mempertahankan pernikahannya.

__ADS_1


...𝙃𝙖𝙧𝙖𝙥𝙖𝙣 𝙨𝙞𝙖-𝙨𝙞𝙖...


...𝘼𝙠𝙪 𝙗𝙚𝙧𝙝𝙖𝙧𝙖𝙥, 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙩𝙚𝙢𝙥𝙖𝙩 𝙩𝙚𝙧𝙝𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 ...𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙖𝙠𝙪 𝙠𝙚𝙙𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣𝙖𝙣......


...𝙏𝙚𝙢𝙥𝙖𝙩 𝙗𝙚𝙧𝙘𝙚𝙧𝙞𝙩𝙖...𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙠𝙚𝙡𝙪𝙝 𝙠𝙚𝙨𝙖𝙝𝙠𝙪......


...𝙈𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙡𝙞𝙡𝙞𝙣 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙜𝙚𝙡𝙖𝙥 𝙠𝙪...𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙨𝙖𝙣𝙙𝙖𝙧𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙧𝙖𝙥𝙪𝙝𝙠𝙪.......


...𝙉𝙖𝙢𝙪𝙣 𝙣𝙮𝙖𝙩𝙖𝙣𝙮𝙖...𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙩𝙖𝙧𝙞 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙞𝙡𝙞𝙠𝙞......


...𝙃𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙝𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙩𝙪𝙗𝙪𝙝 𝙠𝙪 .. 𝙩𝙖𝙣𝙥𝙖 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙝𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙝𝙖𝙩𝙞𝙠𝙪......


...𝘼𝙠𝙪 𝙗𝙚𝙧𝙝𝙖𝙧𝙖𝙥 𝙢𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙢𝙪.....


...𝙉𝙖𝙢𝙪𝙣 𝙣𝙮𝙖𝙩𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙢𝙚𝙡𝙚𝙥𝙖𝙨𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙪.......


...𝘼𝙠𝙪 𝙗𝙚𝙧𝙝𝙖𝙧𝙖𝙥, 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙥𝙚𝙡𝙖𝙗𝙪𝙝𝙖𝙣 𝙩𝙚𝙧𝙖𝙠𝙝𝙞𝙧 𝙢𝙪.....


...𝙉𝙖𝙢𝙪𝙣 𝙣𝙮𝙖𝙩𝙖𝙣𝙮𝙖, 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖𝙝 𝙠𝙚𝙢𝙪𝙙𝙞𝙖𝙣 𝙗𝙚𝙧𝙡𝙖𝙡𝙪......


..."𝙉𝙖𝙣𝙖 𝟭𝟳 𝙊𝙠𝙩𝙤𝙗𝙚𝙧"...


...🌸❤️🌸...


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2