
"Saya buka dengan harga tujuh puluh juta. Seperti biasanya, siapa yang menawar paling tinggi akan memiliki perempuan itu. Tapi....."Mami menggantung kata-katanya.
"Tapi apa, Mi?"tanya beberapa orang bersamaan.
"Perempuan ini beda dari yang lain. Saya sarankan, jika tidak memiliki ilmu beladiri, sebaiknya berpikir ulang untuk menghabiskan malam dengan perempuan ini. Soalnya, baru malam ini dia akan melayani pelanggan. Dia masih sok jual mahal. Dan mungkin akan sedikit melawan,"ujar Mami terlihat serius.
"Dia bisa ilmu beladiri?"tanya salah seorang pria.
"Benar. Bahkan beberapa saat yang lalu, dia baru saja mematahkan tangan dan kaki orang yang saya tugaskan untuk mendandani dia,"sahut Mami membenarkan.
"Semakin menarik,"
"Aku suka wanita yang agak liar,"
"Aku penasaran untuk menaklukkan dia,"
Alih-alih takut, para pria di ruangan itu malah semakin tertarik dan penasaran dengan Aurora, setelah mendengar penuturan dari Mami.
Akhirnya penawaran untuk menghabiskan malam bersama Aurora pun di mulai dengan penawaran pembukaan dari Mami sebesar tujuh puluh juta. Harga penawaran semakin naik dan gila-gilaan hingga mencapai seratus juta.
"Seratus juta,"tawar seorang pria dan yang lainya tidak ada yang menawar lagi.
"Baik, penawaran terakhir adalah seratus juta. Seratus juta ketiga,"ucap Mami, tapi tidak ada yang menawar lebih.
"Seratus juta kedua,"ucap Mami kembali melihat pada pria di hadapannya, dan tidak ada yang menawar lebih tinggi lagi.
"Baiklah, penawaran malam ini di tutup dengan seratus ju..."
"Seratus lima puluh juta,"ucap seorang pria tiba-tiba.
Mami tersenyum tipis mendengar penawaran itu,"Seratus lima puluh juta ketiga,"ucap Mami, tapi semua diam.
Mami menahan kebahagiaan di dalam hatinya. Membayangkan uang seratus lima puluh juta masuk ke rekeningnya malam ini.
__ADS_1
"Seratus lima puluh juta kedua,"ucap Mami lagi, tapi tetap tidak ada yang bersuara menawar lebih tinggi lagi.
"Baiklah, penawaran malam ini saya tutup dengan seratus lima puluh juta. Bagi yang menawar seratus lima puluh juta silahkan tinggal di sini untuk mengurus pembayaran, dan yang lainya silakan meninggalkan ruangan ini,"ucap Mami penuh senyuman.
"Berapa nomor rekening Mami?"tanya pria tampan yang menawar seratus lima puluh juta untuk menghabiskan malam dengan Aurora itu dengan senyuman yang menawan.
Dengan cepat Mami langsung menyebutkan nomor rekeningnya. Dan dalam waktu singkat, uang sejumlah seratus lima puluh juta sudah masuk ke dalam rekening Mami.
"Oke, sudah masuk, 'kan?"tanya pria tampan itu.
"Sudah, Tuan,"sahut Mami tersenyum lebar. Menatap pria yang begitu tampan dan mempesona di depannya tanpa berkedip.
"Saya tunggu perempuan itu di hotel xx di kamar nomor 375,"ucap pria itu tersenyum tipis kemudian meninggalkan ruangan itu.
"Baik, Tuan,"ucap Mami menatap pria itu tanpa berkedip sampai pria itu tidak terlihat lagi.
"Astagaaa..! Tampan sekali! Sudah tampan, tajir lagi. Senyuman nya itu.. astagaa.. bikin hatiku meleleh,"gumam Mami yang sangat mengagumi pria yang baru saja pergi itu,"Seandainya aku dilahirkan cantik seperti perempuan bernama Aurora itu, aku pasti kaya raya. Tapi yang pasti, perempuan itu akan lebih banyak menghasilkan cuan dari pada Kenanga. Benar-benar beruntung menculik perempuan itu. Walaupun pinggang ku masih encok gara-gara di banting dia tadi,"gumam perempuan paruh baya itu seraya memijit pinggangnya yang masih terasa nyeri.
Mami segera menghubungi anak buahnya untuk mengantarkan Aurora ke sebuah hotel berbintang lima, seperti yang di pinta pria yang telah mentransfer uang ke rekeningnya tadi.
Aurora tersadar dan menemukan dirinya berada di dalam mobil. Aurora menatap kesekeliling dan menyadari bahwa dirinya saat ini sedang berada di parkiran sebuah hotel.
"Kamu sudah sadar? Kebetulan sekali. Jangan berbuat macam-macam jika tidak ingin bodyguard kamu dan juga para pekerja di kafe kamu, kami habisi satu persatu. Atau mungkin kamu ingin bercinta dengan beberapa orang pria sekaligus dalam waktu satu malam?"ancam salah seorang bodyguard Mami.
Aurora hanya diam. Sebelum dirinya di bawa ke ruangan berdinding kaca tadi, Aurora sempat di bawa ke sebuah ruangan. Melihat seorang wanita di cambuk oleh seorang bodyguard. Bahkan Aurora juga di tunjukkan sebuah ruangan yang di dalamnya ada beberapa orang pria yang sedang menggilir seorang wanita. Semua itu membuat Aurora ketakutan.
"Cepat keluar dan ikuti kami,"ujar pria itu tadi. Aurora tidak bisa berbuat apa-apa selain menurut.
"𝘽𝙖𝙜𝙖𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙞𝙣𝙞? 𝘽𝙖𝙜𝙖𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙘𝙖𝙧𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙜𝙖𝙧 𝙖𝙠𝙪 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙗𝙚𝙗𝙖𝙨? 𝙍𝙖𝙮, 𝙖𝙥𝙖 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙖𝙧𝙞 𝙖𝙠𝙪?"gumam Aurora dalam hati. Entah mengapa, Aurora sangat berharap Rayyan menolong dirinya.
Aurora terus di giring menuju sebuah kamar hotel. Tepat di depan sebuah kamar hotel, Aurora melihat seorang pria kurus berkacamata membukakan pintu kamar hotel itu. Pria itu tidak mengatakan apapun, hanya tangannya yang memberi isyarat kepada Aurora agar Aurora masuk ke dalam kamar.
Begitu Aurora masuk ke dalam kamar hotel, pintu kamar hotel itu langsung di tutup kembali dari luar. Aurora diam mematung di depan pintu, menatap seorang pria bertubuh tinggi, tegap, dengan punggung lebar yang berdiri di depan dinding kaca yang menyajikan pemandangan di luar hotel itu. Pria yang memakai celana panjang dan kemeja berwarna hitam itu berdiri membelakangi Aurora dengan memegang gelas yang berisi minuman berwarna merah. Sesekali pria itu meneguk minumannya itu.
__ADS_1
"Aku tidak tahu ini akan berhasil atau tidak. Tapi aku harus mencobanya,"gumam Aurora lirih. Mencoba menenangkan dirinya dan menyusun kata-kata untuk bicara dengan pria yang berdiri beberapa meter di depannya itu.
"Ehem,.. Maaf, Tuan. Saya ingin bicara dengan anda,"ucap Aurora sopan.
Pria yang masih setia membelakangi Aurora itu menarik kedua sudut bibirnya saat mendengar suara Aurora, "Bicaralah,"ucapnya tenang, kembali meneguk minuman di gelasnya.
"Begini, Tuan. Sebenarnya saya bukan wanita penghibur. Saya memiliki toko kue di jalan xx dan sebuah kafe di jalan xx. Jika Tuan tidak percaya, Tuan bisa memeriksanya. Sore tadi, tiba-tiba sekelompok orang bersenjata api datang ke kafe saya dan memaksa saya untuk ikut dengan mereka. Saya di culik mereka. Saya wanita baik-baik dan sudah memiliki suami. Saat ini, suami saya pasti sedang khawatir mencari saya. Jadi, tolong lepaskan saya, Tuan!"pinta Aurora dengan suara selembut mungkin.
"Tapi, aku telah membayar mahal untuk bisa menghabiskan malam dengan kamu,"ujar pria itu masih setia menatap pemandangan di luar kamar hotel itu. Tanpa mau menoleh,. apalagi membalikan badannya untuk menatap Aurora.
"Saya akan mengganti uang ,Tuan.Berapa tuan membayar pada Mami untuk menghabiskan malam bersama saya?"tanya Aurora serius.
"Lima ratus juta,"ucap pria itu membuat Aurora membulatkan matanya.
"Tuan jangan bercanda! Mana ada orang yang mau membayar lima ratus hanya untuk menghabiskan malam dengan seorang wanita,"ujar Aurora seraya terkekeh. Berusaha merilekskan pikirannya sendiri agar tidak tegang.
"Saya orangnya, yang membayar lima ratus juta untuk menghabiskan malam dengan kamu,"sahut pria itu tenang, tanpa menoleh ke arah Aurora sama sekali.
"Baiklah, saya akan mengganti uang, Tuan. Tapi tolong lepaskan saya!"pinta Aurora.
"Melepaskan kamu? Sayangnya, saya tidak mau,"sahut pria itu.
"Sebaiknya anda melepaskan saya. Karena suami saya tidak akan suka jika saya di sentuh pria lain. Dia bisa melakukan sesuatu di luar dugaan Tuan,"ujar Aurora mencoba menakut-nakuti pria itu.
"Oh, ya? Memangnya siapa suami kamu, hingga saya harus takut padanya?"tanya pria itu masih tetap dengan suara tenang dan berdiri membelakangi Aurora.
"Rayyan Nugroho,"sahut Aurora terdengar bangga.
"Oh, ya? Rayyan Nugroho, ya? Tapi sayangnya, saya tidak takut,"ucap pria itu seraya membalik tubuhnya menghadap Aurora. Menampilkan senyuman menawan yang menghias bibirnya. Membuat wajah tampan pria itu terlihat semakin tampan.
"Kamu.."
...🌸❤️🌸...
__ADS_1
.
To be continued