
Tidak lama kemudian, Hendrik keluar dari kamar mandi dengan hanya melilitkan handuk di pinggangnya. Dada bidang dan perut rata pria itu terlihat jelas di mata Sumi.
"Astagaa.! Tubuhnya indah sekali. Padahal aku sudah pernah melihatnya sekali, tapi kali ini dia terlihat benar-benar seksi,"gumam Sumi dalam hati menelan kasar salivanya seraya memalingkan wajahnya. Tidak ingin terpergok Hendrik bahwa dirinya sedang mengagumi tubuh Hendrik.
"Bersihkan tubuh mu! Aku akan memesankan baju untuk kamu dan mengantar kamu pulang,"ucap Hendrik dengan suara datar tanpa menoleh pada Sumi. Pria itu mengambil baju di lemari pakaiannya.
Sumi menghela napas panjang saat kembali mendengar suara datar Hendrik. Entah mengapa Sumi jadi tidak enak hati mendengarnya. Merasa bersalah karena menuduh Hendrik tanpa bukti, hingga Hendrik jadi bersikap datar seperti ini padanya.
Selesai membersihkan diri, Sumi membuka sedikit pintu kamar mandi untuk mengintip apakah Hendrik ada di dalam ruangan itu atau tidak. Pasalnya, Hendrik belum juga memberikan pakaian ganti untuk dirinya. Namun Sumi melihat paper bag di atas ranjang.
Sumi mengeluarkan kepalanya dari pintu kamar mandi dan tidak melihat siapapun di ruangan itu. Sumi yang hanya memakai handuk sebatas dada dan paha itu keluar dari kamar mandi dan melihat isi paper bag di atas ranjang. Sumi bergegas membawa paper bag itu ke dalam kamar mandi setelah melihat isi paper bag itu adalah dress yang lengkap dengan pakaian dalamnya.
"Ukuran dress dan pakaian dalam ini. semuanya pas di tubuh ku. Apa dia begitu mengingat detai tubuh ku, hingga dia bisa membelikan dress dan pakaian dalam yang benar-benar pas dengan ukuran tubuhku?"gumam Sumi lirih setelah selesai memakai pakaian.
"Hendrik pergi kemana, ya?"gumam Sumi yang melihat jam digital diatas nakas Hendrik sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Sumi kemudian melangkah menuju pintu karena penasaran saat ini dirinya sedang ada di mana. Sumi juga merasa bosan karena menunggu Hendrik yang tak kunjung kembali ke ruangan itu.
"Ceklek"
"Tuan!"suara Andi membuat Sumi mengurungkan niatnya untuk keluar dari ruangan itu.
"Ada apa?"tanya Hendrik yang tinggal beberapa langkah lagi tiba di ruangan pribadinya.
Sumi pun tidak menutup rapat pintu ruangan yang sudah terlanjur dibukanya itu. Karena takut suara pintu yang ditutup akan menimbulkan suara dan membuat atensi Andi dan Hendrik teralihkan padanya.
"Tuan Rayyan menyuruh saya mengurus semua dokumen yang anda perlukan untuk tinggal di negara xx,"jawab Andi.
"Dokumen pribadi ku ada di rumah, Ndi. Nanti malam akan aku berikan padamu,"
"Baiklah. Em.. maaf, Tuan. Apa Tuan yakin ingin menetap di negara xx?"
"Aku yakin. Aku ingin memulai lembaran baru di sana,"
__ADS_1
"Apa nona Sumi sama sekali tidak tersentuh setelah Tuan menolong dia semalam?"
"Boro-boro tersentuh. Dia malah menuduh aku sengaja melakukan penculikan padanya,"
"Ck.ck.ck.. Sayang sekali! Pengorbanan Tuan semalam tidak ada artinya. Padahal muka sudah babak belur seperti itu,"ucap Andi sok prihatin.
"Tidak usah meledek aku! Ini semua gara-gara kamu!"
"Kenapa jadi karena saya?"protes Andi yang tidak terima disalahkan Hendrik.
"Karena kamu tidak segera membantu aku melawan para preman brengseek itu. Seandainya kamu langsung membantu aku menghajar mereka semua, aku pasti tidak akan babak belur seperti ini,"ketus Hendrik yang masih merasa kesal pada Andi karena wajahnya yang memar di beberapa bagian karena terkena pukulan para preman semalam.
"Ck. Itu karena ilmu bela diri anda terlalu cetek. Masa melawan lima preman kacangan aja nggak mampu,"cibir Andi.
"Sudahlah! Tidak perlu dibahas! Kamu membuat aku kesal saja,"ketus Hendrik.
"Jadi, Tuan benar-benar sudah menyerah memperjuangkan nona Sumi?"
"Jika itu memang sudah menjadi keputusan anda, saya hanya bisa mendukungnya. Asalkan Tuan tidak menjadi orang brengseek seperti dulu lagi,"
"Aku akan menikahi orang yang mencintai aku dengan tulus. Walaupun aku tidak mencintai orang itu, aku akan belajar untuk mencintai dia. Aku ingin berkeluarga dan memiliki keturunan. Aku juga ingin hidup seperti orang lain,"sahut Hendrik terdengar serius.
"Itu bagus,"sahut Andi.
Mendengar kata-kata Hendrik itu, entah mengapa Sumi menjadi tidak rela jika Hendrik benar-benar meninggalkan negara ini dan menikah dengan wanita lain. Semua kata-kata Hendrik tadi membuat Sumi jadi bimbang dan ragu untuk melepaskan Hendrik.
"Oh iya, kamu apakan preman semalam?"
"Saya suruh bersenang-senang dengan wanita yang menyuruh mereka menculik nona Sumi. Perempuan itu namanya adalah Resti. Ternyata dia memang selalu menyingkirkan semua orang yang dianggapnya sebagai saingannya,"
Andi menceritakan semua yang di ceritakan Resti padanya. Hendrik nampak terkejut mendengar cerita Andi. Demikian pula dengan Sumi yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan Andi dan Hendrik. Sumi baru tahu jika ternyata yang membuat matanya rusak sebelah dulu adalah Resti. Yang hampir mencelakai Aurora di hotel dulu adalah Resti. Dan yang semalam ingin mencelakai dirinya juga Resti. Sumi juga benar-benar merasa bersalah karena telah menuduh Hendrik yang bukan-bukan karena kejadian semalam.
__ADS_1
"Kalau begitu, saya permisi, Tuan!"pamit Andi setelah merasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, kemudian meninggalkan tempat itu.
Sumi bergegas duduk di sofa saat Hendrik akan masuk ke ruangan itu. Seolah tidak mendengar semua pembicaraan Hendrik dan Andi.
"Kamu sudah siap? Kamu ingin aku antar kemana? Ke rumah kamu atau ke restoran kamu?"tanya Hendrik setelah masuk ke dalam ruangan itu. Suara pria itu terdengar datar.
"Hen, aku.. aku minta maaf karena sudah menuduh kamu tanpa bukti,"ucap Sumi menatap Hendrik.
"Tidak masalah. Setelah ini kamu tidak perlu khawatir lagi akan bertemu dengan aku. Aku akan menetap di luar negeri secepat mungkin. Kalau sudah tidak ada yang ingin kamu sampaikan lagi, ayo pergi!"ajak Hendrik membalikkan tubuhnya hendak membuka pintu ruangan itu.
"Bagaimana jika aku hamil?"tanya Sumi cepat.
Hendrik mengurungkan niatnya untuk membuka pintu, lalu kembali membalikkan tubuhnya menatap Sumi.
"Lalu, apa yang kamu inginkan dari ku?"
"Kenapa masih bertanya? Tentu saja kamu harus bertanggung dan menikahi aku, jika aku hamil karena kejadian semalam,"sahut Sumi dengan wajah yang terlihat kesal.
"Okey, Jika kamu mengandung anakku, aku akan menikahi kamu. Kamu bisa menghubungi aku di nomor ini,"ucap Hendrik memberikan kartu namanya pada Sumi, kemudian keluar dari ruangan itu.
Mau tak mau, Sumi pun mengikuti Hendrik keluar dari ruangan itu. Karena Sumi tidak memiliki uang ataupun handphone untuk memesan ojek online maupun taksi online. Jadi, Sumi tidak bisa pulang sendirian.
Hendrik membawa Sumi ke restoran yang tidak jauh dari kantornya. Mengingat hari sudah beranjak siang dan mereka belum makan apapun setelah pergulatan panas mereka semalaman.
Setelah selesai makan, mereka meninggalkan restoran itu menuju restoran Sumi. Sepanjang perjalanan, mereka hanya diam tanpa bicara satu patah katapun. Sumi jadi merasa tidak nyaman dengan situasi itu. Hendrik yang biasanya tersenyum manis dan banyak bicara menjadi diam seribu bahasa.
"Apa dia sangat kecewa padaku? Karena aku sudah beberapa kali menolaknya dan tadi menuduh dia yang bukan-bukan?"gumam Sumi dalam hati. Benar-benar tidak nyaman dengan perubahan sikap Hendrik.
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
To be continued