
Sumi termenung mengingat kejadian tiga hari yang lalu. Hari dimana sikap Hendrik berubah seratus delapan puluh derajat. Dari yang biasa tersenyum hangat dan tidak berhenti mengajaknya bicara, jadi diam seribu bahasa.
Dan semua itu karena dirinya menuduh Hendrik sengaja menculik dan memberinya obat agar Hendrik bisa meniduri dirinya. Dan ternyata tuduhannya benar-benar salah. Karena nyatanya Hendrik lah yang telah menolong dirinya yang hampir dicelakai oleh Resti.
Aurora yang masuk ke dalam ruangan Sumi nampak mengernyitkan keningnya saat melihat Sumi diam termenung dengan tatapan kosong. Duduk bersandar di kursi kerjanya dengan wajah yang terlihat galau. Bahkan sahabatnya itu nampak tidak menyadari kedatangannya. Aurora menghela napas panjang seraya duduk di sofa.
"Kalau cinta ya, bilang cinta. Jangan gengsi dan terlalu memikirkan omongan orang,"ujar Aurora, tapi Sumi tetap diam dengan tatapan kosongnya,"Astagaa..! Udah galau tingkat dewa nih, anak,"gerutu Aurora yang melihat Sumi bergeming di tempatnya. Aurora beranjak mendekati Sumi yang masih berada di posisi tadi dengan tatapan dan ekspresi wajah yang sama.
"Sum! Sumi! Sum!"panggil Aurora seraya melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Sumi. Tapi tidak ada reaksi apapun dari Sumi.
"Sum!"panggil Aurora agak meninggikan suaranya.
Aurora membuang napas kasar melihat Sumi
yang begitu tenggelam dalam lamunannya. Hingga sudah di panggil Aurora beberapa kali pun tidak juga sadar dari lamunannya. Bahkan dengan suara yang lumayan tinggi pun juga tidak membuat Sumi tersadar dari lamunannya.
"Brak"
Aurora menggebrak meja kerja Sumi, karena sangking kesalnya Aurora pada Sumi yang benar-benar tenggelam di dalam lamunannya.
"Astaga.! Ra! Kamu ini apa-apaan, sih?! Bikin kaget orang aja! Jadi bumil kok, bar-bar pakai amat, sih!"gerutu Sumi seraya mengelus-elus dadanya karena merasa sangat terkejut mendengar suara meja yang di gebrak oleh Aurora. Bahkan kedua bahu Sumi sempat terangkat ke atas karena saking terkejutnya oleh aksi Aurora menggebrak mejanya tadi.
"Aku bukan bar-bar. Tapi aku lagi kesel pakai banget,"dengus Aurora.
"Lagi kesel? Kesel sama siapa? Kesel sama suami kamu? Kamu lagi berantem sama suami kamu?"cerocos Sumi yang melihat wajah Aurora benar-benar terlihat kesal.
"Aku kesal sama kamu! Sudah bikin orang kesel masih nggak merasa pula,"gerutu Aurora.
"Kenapa kesel sama aku?"tanya Sumi tidak mengerti. Pasalnya Sumi tidak melakukan apapun yang sekiranya menyinggung perasaan Aurora.
"Aku kesel sama kamu karena dari tadi aku panggil nggak nyahut-nyahut. Kamu seperti sudah tenggelam di Segitiga Bermuda yang ada di samudra Atlantik Utara, di lepas pantai Amerika Utara sana,"gerutu Aurora.
__ADS_1
"Jauh amat, Bun!"canda Sumi kemudian terkekeh. Menyembunyikan ke galauan hatinya.
"Tidak usah sok santai gitu. Tetep aja muka kamu kelihatan galau. Kalau cinta itu nggak usah di tahan, Sum. Nggak usah mikirin omongan orang. Nggak usah terlalu memikirkan apa yang akan terjadi di masa depan. Jalani aja sebaik yang kita mampu. Tidak usah di jadikan beban pikiran. Rumah sakit jiwa sudah penuh, jangan kamu tambahi lagi,"ujar Aurora membuang napas kasar.
"Sialan kamu, Ra! Kamu nyumpahin aku masuk rumah sakit jiwa?"ketus Sumi.
"Aku bukan nyumpahin kamu. Tapi, kalau kamu seperti ini terus, kamu bakalan bener-bener masuk rumah sakit jiwa. Kamu itu sudah galau akut tingkat dewa,"
"Sotoi kamu, Ra. Alias sok tahu,"
"Kamu masih kukuh sama pendirian kamu? Nggak mau menerima kak Hendrik sebagai pendamping hidup kamu?"tanya Aurora dengan suara lembut.
"Jangan bahas soal itu lagi, Ra! Setiap datang, kamu selalu saja membicarakan soal itu. Nggak ada yang lain, apa?"tanya Sumi menghela napas panjang.
"Okey.. okey.. aku tidak akan membahasnya lagi. Dan kali ini terakhir kalinya aku membahas soal ini. FYI hari ini pukul tiga sore, kak Hendrik akan berangkat ke luar negeri. Kamu jangan nyesel kalau nggak bisa ketemu sama dia lagi,"ujar Aurora membocorkan keberangkatan Hendrik ke luar pada Sumi. Berharap Sumi bisa mempertimbangkan kembali keputusannya tentang hubungannya dengan Hendrik. Aurora berharap Sumi mau mengakui cintanya pada Hendrik dan mencegah Hendrik pergi.
FYI :(Four Your Information : sekedar info)
"Aku sudah memberi tahu kamu. Apapun keputusan kamu, itu terserah padamu. Dan aku harap kamu memikirkan baik-baik keputusan kamu, agar kamu tidak menyesal di kemudian hari. Aku pergi dulu. Aku ingin melihat kafe ku,"pamit Aurora yang sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya membujuk Sumi.
Setelah Aurora pergi, Sumi menjadi gelisah. Wanita itu duduk di kursi kerjanya, lalu berdiri dan berjalan mondar mandir di ruangannya. Duduk di sofa dengan kaki dan tangan yang tidak bisa diam, kemudian berdiri lagi dan kembali mondar-mandir. Melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul setengah dua siang. Sedangkan perjalanan dari restorannya menuju bandara adalah sekitar empat puluh menit.
"Bagaimana ini? Jika aku hamil, aku punya alasan untuk menikah dengan dia. Tapi, jika aku tidak hamil, aku tidak akan bisa bertemu dengan dia lagi, dan mungkin untuk selamanya. Kecuali jika aku mencegahnya pergi hari ini. Tapi... setelah kejadian kemarin, dia sudah berubah seratus delapan puluh derajat padaku. Jika aku mencegahnya pergi dan mengatakan aku mencintai dia, apa dia tidak akan jadi pergi? Aku tidak yakin dia akan mengurangkan niatnya untuk pergi, jika aku mengatakan aku mencintai dia. Kemarin dia terlihat begitu kecewa padaku. Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?"gumam Sumi dengan wajah yang terlihat kusut.
Sumi terus merasa tidak tenang. Apalagi melihat waktu yang terus bergerak. Jika dirinya ingin mencegah Hendrik pergi, minimal Sumi harus sudah berangkat sebelum pukul dua lewat sepuluh menit. Namun sampai waktu menunjukkan pukul dua lewat lima menit, Sumi belum juga bisa menentukan pilihannya. Apa ingin mencegah Hendrik pergi atau tidak.
"A.. aku harus pergi. Aku ingin melihat dia untuk yang terakhir kalinya. Karena mungkin setelah ini aku tidak akan bertemu dengan dia lagi,"gumam Sumi bergegas mengambil masker dan kacamata hitamnya.
Pada akhirnya Sumi memutuskan untuk pergi melihat Hendrik di bandara. Dengan perasaan tidak menentu, Sumi ke bandara menaiki taksi online. Sepanjang perjalanan, Sumi kembali merasa bimbang. Apa harus mencegah Hendrik pergi atau tidak. Tapi Sumi takut dipermalukan jika hendak menolak cintanya mengingat dirinya sudah terlalu banyak membuat Hendrik kecewa.
Setelah tiba di bandara, Sumi memakai masker serta kacamata hitamnya. Kemudian mencari keberadaan Hendrik. Mengedarkan pandangannya ke semua arah. Hingga akhirnya Sumi tersenyum lebar di balik maskernya saat melihat Hendrik duduk di kursi tunggu. Tanpa terasa kakinya melangkah mendekati Hendrik. Hendrik nampak fokus pada layar handphonenya dan tidak memperhatikan sekelilingnya. Sedikit lagi, tinggal beberapa langkah lagi Sumi akan sampai di tempat Hendrik duduk.
__ADS_1
"Hei, Hen! Apa kabar?"tanya seorang wanita cantik memakai dress berwarna hitam yang langsung duduk di sebelah Hendrik, membuat Sumi menghentikan langkahnya.
"Oh, kamu. Aku baik-baik saja seperti yang kamu lihat,"sahut Hendrik tersenyum tipis pada wanita yang menegurnya.
Sumi kembali melanjutkan langkahnya dan duduk tidak jauh di belakang Hendrik.
"Kamu tambah ganteng aja, Hen,"puji wanita di sebelah Hendrik.
"Biasa aja,"sahut Hendrik santai.
"Kamu mau. pergi kemana?"
"Negara xx,"
"Wah, sama, dong! Mau berapa lama kamu tinggal di sana?"
"Rencananya untuk selamanya,"
"Serius? Kenapa kamu ingin menetap di sana?"
"Aku ingin melupakan seseorang dan tidak ingin mengingatnya lagi,"
"Deg"
Jantung Sumi rasanya berhenti berdetak saat mendengar jawaban dari Hendrik.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
__ADS_1