
Ibu Bima menatap penghuni sel yang baru saja di masuki nya. Ada seorang wanita yang nampak bertubuh kekar sedang dipijat oleh dua orang narapidana yang lain. Semua orang yang ada dalam sel itupun menatap ibu Bima. Ibu Bima menatap sinis dan merendahkan pada semua penghuni sel itu.
"CK! Muka-muka orang miskin dan rendahan,"gumam ibu Bima yang masih bisa di dengar oleh penghuni sel itu.
"Apa ini nenek lampir bermulut busuk yang suka membuat keributan di sel itu?"tanya wanita yang sedang di pijit tersenyum miring.
"Apa kamu bilang? Nenek Lampir? Berani sekali kamu menghina aku. Dasar wanita jadi-jadian! Tampang mu itu tidak mirip wanita, tapi lebih mirip pria. Jangan-jangan saat mengandung kamu, ibumu terpaksa memakai celana kolor bapakmu karena tidak mampu membeli celana kolor. Jadi kamu terlahir dengan wajah yang lebih mirip laki-laki dari pada wanita. Dasar orang miskin! Kere! Rendahan!"sergah ibu Bima dengan ekspresi galak dan tatapan menghima serta merendahkan.
"Ohoo... Ternyata benar apa yang dikatakan oleh para napi yang pernah satu sel dengan kamu. Ternyata mulut kamu memang seperti cabai setan. Sepertinya, aku harus mendidik mulutmu agar bisa lebih sopan saat berbicara,"ujar wanita yang sedang di pijat itu, kemudian beranjak bangun dari tempatnya duduk.
"Mau apa kamu? Jangan coba-coba mendekati aku dan menyentuh aku dengan tangan kotor mu itu! Aku ini istri dan juga ibu seorang tentara. Keluarga ku semuanya tentara dan polisi. Jika kamu berani macam padaku, kamu akan menyesal,"ancam ibu Bima galak.
Sebenarnya ibu Bima agak takut melihat ekspresi wanita yang wajahnya memang lebih mirip pria itu. Apalagi tubuh wanita itu juga terlihat kekar dan ekspresinya juga nampak sangar. Wanita itu tersenyum dingin mendekati ibu Bima.
"Bugh"
"Akkh"
Ibu Bima memekik saat wanita bertubuh kekar itu mendorongnya ke dinding dengan kuat.
"Plak!"
"Plak!"
"Plak!"
Wanita bertubuh kekar itu menampar ibu Bima beberapa kali dengan kuat. Sedangkan ibu Bima nampak terkejut dengan aksi cepat wanita bertubuh kekar itu hingga tidak sempat menghindar.
"Kau.!"geram ibu Bima dengan bibir yang berdarah dan pipi bekas cap lima jari. Wajah wanita paruh baya itu terlihat penuh amarah.
"Apa?!"sergah wanita bertubuh kekar itu berkacak pinggang menantang ibu Bima.
__ADS_1
Dengan penuh emosi, ibu Bima menyerang wanita bertubuh kekar itu. Namun ternyata wanita itu memiliki ilmu bela diri. Dengan mudah wanita bertubuh kekar itu menangkis serangan ibu Bima yang yang ingin menjambak dan mencakar dirinya.
Wanita bertubuh kekar itu kembali menampar, memukul dan menendang ibu Bima hingga wanita paruh baya itu jatuh di lantai.
"Tolong! To.. Empp.."ibu Bima yang di hajar wanita bertubuh kekar itu berusaha berteriak minta tolong.
Namun dengan sadisnya wanita bertubuh kekar itu menutup mulut ibu Bima dengan kakinya yang tanpa alas. Walaupun sudah berusaha dengan sekuat tenaga, ibu Bima tidak berhasil menyingkirkan kaki wanita itu dari mulutnya.
"Apa kamu pikir di sini kamu bisa menjual nama, pangkat dan derajat keluarga mu? Di sini kamu hanya orang yang di buang. Dan setelah keluar dari tempat ini, gelar mantan narapidana akan menempel pada dirimu sampai kamu mati,"
"Jika aku sampai mendengar kata-kata hinaan, cacian, makian dan merendahkan orang lain dari mulut mu lagi, aku pastikan tidak akan hanya menginjak mulut busuk mu itu. Tapi aku akan merobeknya. Jika kamu berani mengadu pada orang lain, maka aku pastikan akan memberi hadiah yang tidak terlupakan padamu! Tinggal pilih! Hadiah gigi rontok, patah tulang tangan, patah tulang kaki, atau mungkin kamu suka hadiah yang lain,"ancam wanita itu dengan wajah yang tersenyum, tapi terlihat menakutkan.
Ibu bima pun membulatkan matanya mendengar setiap kata dari wanita yang masih menginjak mulutnya itu.
Narapidana yang lain hanya menonton perkelahian dua wanita yang tidak seimbang itu dengan ekspresi datar. Para napi itu sudah mendengar bagaimana pedasnya mulut ibu Bima dari napi yang lain dan barusan juga sudah mendengar dengan telinga mereka sendiri.
Jadi mereka tidak punya niat sama sekali untuk menolong ibu Bima. Apalagi orang yang berkelahi dengan ibu Bima adalah wanita yang paling ditakuti dan disegani di sel itu dan juga oleh napi dari sel yang lain.
Wanita bertubuh kekar itu melepaskan ibu Bima dan kembali duduk dengan tenang. Dua orang napi pun langsung mendekati wanita bertubuh kekar itu dan memijat wanita itu.
Dengan susah payah ibu Bima beranjak duduk di lantai sel yang dingin itu. Wajah wanita paruh baya itu babak belur.
"Sial! Tubuhku sakit semua dan tulang-tulang ku terasa patah semua. Wanita jadi-jadian itu benar-benar brutal. Apa dia napi yang dikabarkan sangat ditakuti oleh napi yang lain itu? Sepertinya aku telah menyinggung orang yang salah,"gumam ibu Bima dalam hati yang pernah mendengar tentang napi yang ahli ilmu bela diri dan suka menolong napi lain yang tertindas itu.
Tak lama kemudian, sipir yang pernah dihina ibu Bima pun datang menghampiri sel itu. Memanggil seorang napi agar keluar dari sel, karena ada keluarganya yang menjenguk.
"Aku mau pindah dari sini,"ucap ibu Bima berusaha ikut keluar dari sel itu mengikuti napi yang akan keluar dari sel.
"Kamu tidak bisa request pindah sel seperti request pindah kamar hotel. Kamu di sini adalah narapidana, bukan tamu kehormatan,"ujar sipir itu dengan wajah sinis, dengan cepat menutup kembali pintu sel, hingga ibu Bima tidak bisa keluar.
Pernah di hina dan direndahkan oleh ibu Bima, sipir itu tentu saja merasa senang melihat ibu Bima yang terlihat babak belur.
__ADS_1
"Cepat sekali. Baru juga di tinggal beberapa menit sudah babak belur seperti itu. Mungkin mulutnya yang pedas sudah membuat wanita bertubuh kekar itu tersinggung. Ternyata menempatkan nenek Lampir ini di sel ini adalah keputusan yang tepat. Seharusnya dari dulu nenek Lampir ini dimasukkan ke sel ini. Agar mulutnya yang seperti cabai setan itu tidak membuat panas telinga dan hati orang lain,"gumam sipir itu dalam hati. Merasa puas melihat ibu Bima yang babak belur.
Wanita bertubuh kekar itu berjalan mendekati ibu Bima. Masih dengan senyuman miring di bibirnya.
"Kamu ingin pindah sel? Cepat sekali? Kalau begitu, aku akan menyiapkan hadiah perpisahan untuk kamu. Besok akan aku berikan, atau kamu ingin aku memberikannya sebentar lagi?"tanya napi wanita bertubuh kekar itu, kemudian menatap pada sipir penjara,"Bu sipir! Perempuan ini ingin pindah sel. Tapi.. Jika dia pindah sel, aku takut besok dia akan pindah alam,"ujar napi itu masih dengan senyuman miringnya melirik ibu Bima penuh intimidasi.
Wanita bertubuh kekar itu mengaitkan kedua jemari tangannya, lalu membunyikannya. Menekuk kepalanya ke kanan dan ke kiri seolah sudah siap menghajar orang.
"Glek"
Dengan susah payah ibu bima menelan salivanya yang terasa membatu. Melihat ekspresi dan mendengar kata-kata hadiah dari wanita bertubuh kekar itu, nyali ibu Bima pun menciut. Ibu bima masih ingat dengan apa yang dimaksud hadiah oleh wanita itu. Apalagi saat wanita itu mengatakan bahwa dirinya besok akan pindah alam.
"A.. Aku tidak jadi pindah sel,"ucap ibu Bima terlihat ketakutan.
Sipir itu tersenyum puas melihat ibu Bima yang ketakutan. Kemudian pergi bersama napi yang dipanggilnya.
"Rasakan! Makanya kalau punya mulut itu di jaga! Punya mulut, kok, pedasnya nggak ketulungan. Busuknya melebihi air got. Ngidam apa emaknya dulu, sampai punya anak macam begitu,"gumam sipir itu dalam hati. Tidak habis pikir dengan ibu Bima yang mulutnya benar-benar membuat panas telinga dan hati.
Beberapa hari sudah berlalu. Semenjak berada dalam satu sel yang sama dengan wanita bertubuh kekar itu, ibu Bima tidak lagi bisa bicara sembarangan. Sudah beberapa kali ibu Bima di tampar wanita bertubuh kekar itu karena keceplosan menghina dan merendahkan orang lain. Sehingga ibu Bima berusaha menahan diri agar tidak bicara yang menyinggung perasaan orang lain. Wanita paruh baya itu menjadi pendiam karena takut keceplosan dan kena tampar.
Mungkin dengan tinggal di sel itu, wanita paruh baya itu bisa belajar mengendalikan lidahnya yang setajam silet yang baru di buka dari bungkusnya itu.
...π"Ada manusia yang harus dididik dengan cara lembut, ada pula yang harus dididik dengan cara keras."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
To be continued
__ADS_1