
"Ceklek"
"Anda ingin bicara dengan saya?"tanya Sumi pada seorang pria yang berdiri membelakangi dirinya. Pria yang terlihat sedang men-scroll layar handphonenya di depan dinding kaca yang menyajikan pemandangan di luar restoran
"Kamu?"
Hendrik yang berbalik tertegun melihat sosok wanita yang sangat mirip dengan Aurora. Hendrik menatap wanita di depannya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Wajah yang mirip, namun wanita di depannya ini memiliki tahi lalat di atas bibir sebelah kanan dan dibawah mata sebelah kiri. Sedangkan Aurora tidak memiliki tahi lalat di wajahnya. Rambut wanita di depannya ini berwarna pirang yang berbeda dengan Aurora dengan rambut yang berwarna blue black. Dan tubuh wanita ini, walaupun bohay, tapi masih lebih bohay Aurora. Dan satu lagi, suara mereka juga berbeda.
"Anda ingin bicara penting apa dengan saya?"tanya Sumi tenang seraya berjalan ke arah kursi dan duduk di salah satu kursi yang ada di private room itu.
"Kamu pemilik restoran ini?"tanya Hendrik yang sempat tertegun. Ikut duduk di depan Sumi. Menatap wanita di depannya itu tanpa berkedip,"Apa dia kembaran Aurora? Dia sangat mirip dengan Aurora,"gumam Hendrik dalam hati.
"Iya. Saya pemilik restoran ini,"sahut Sumi menatap Hendrik,"Ganteng,g tapi playboy, tidak masuk dalam kriteria ku. Ganteng tapi tidak punya pribadi, itu juga bukan kriteria ku,"gumam Sumi dalam hati.
Sumi memang pecinta pria tampan dan mapan yang punya pribadi. Bukan pria yang cuma mapan di atas ranjang doang. Yang tidak cuma bisa memenuhi kebutuhan biologis saja, tapi juga bisa memberikan materi. Sumi bukan materialistis, tapi realistis.
Memilih pasangan karena cinta, tapi tidak punya apa-apa selain cinta, memang makan cinta bikin kenyang?
Kalau dalam lagu, tak punya apa-apa, asal punya cinta yang tulus dan setia, semua terdengar indah dan romantis. Namun dalam dunia nyata, cuma modal cinta tapi nggak punya harta, itu namanya bukan romantis, tapi miris.
"Anda mengatakan ada hal penting yang ingin anda bicarakan. Kalau boleh tahu, apa itu?"tanya Sumi terlihat santai dan tenang.
"Oh, itu. Aku penasaran saja. Aku merasa baru kali ini bertemu dengan kamu. Tapi kemarin siang, waiter mengatakan bahwa semua yang aku makan gratis karena aku pernah menolong kamu. Apa mereka tidak salah orang?"tanya Hendrik memicingkan sebelah matanya. Langsung berbicara non formal pada Sumi.
"Tentu saja tidak. Aku tidak akan salah mengenali orang yang pernah menolong aku,"sahut Sumi yang ikut-ikutan tidak memakai bahasa formal.
"Oh, ya? Tapi aku benar-benar merasa tidak mengenal kamu,"ujar Hendrik yang memang merasa baru kali ini bertemu dengan Sumi.
Sumi tersenyum tipis,"Masih ingat kejadian seorang wanita bergigi tonggos yang di hina di sebuah butik beberapa hari yang lalu?"
"Tentu saja aku ingat,"sahut Hendrik cepat,"Lalu, apa hubungannya dengan kamu?"
__ADS_1
"Aku adalah wanita bergigi tonggos itu,"
"Kamu bercanda, ya?"ujar Hendrik tersenyum seraya menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku tidak bercanda. Aku memang sengaja memakai gigi palsu dan kacamata besar karena aku tidak ingin diganggu para pria hidung belang. Seperti kamu,"ucap Sumi to the point.
Mendengar kata-kata Sumi, Hendrik terkekeh kecil,"Ohoo.. rupanya kamu suka berterus terang dengan perasaan kamu, ya? Aku suka. Tapi, kenapa kamu bisa menilai kalau aku playboy?"tanya Hendrik yang semakin tertarik pada Sumi.
"Kamu suka tebar pesona, dan suka menggoda wanita. Mata kamu jelalatan jika melihat wanita cantik. Apa namanya kalau bukan playboy? Atau ingin aku beri gelar yang lain? Seperti buaya darat, pria hidung belang, mata keranjang, atau mau sebutan yang terdengar keren? Casanova mungkin?"tanya Sumi seraya mengangkat kedua alisnya.
Hendrik kembali terkekeh mendengar kata-kata Sumi,"Aiihh.. sepertinya kamu sangat mengerti soal pria,"
"Lumayan,"sahut Sumi santai.
"By the way, perkenalkan, namaku Hendrik,"ucap Hendrik dengan senyuman penuh pesonanya mengulurkan tangannya pada Sumi.
"Sumi Sumarti. Panggil saja Miti!"ucap Sumi seraya menjabat tangan Hendrik.
"By the way, gimana kalau nanti malam kita jalan-jalan?"ajak Hendrik yang semakin tertarik pada Sumi.
"Come on! Anggap saja sebagai ucapan terimakasih, karena aku telah menolong kamu,"bujuk Hendrik berharap Sumi tergoda padanya dan mau pergi bersamanya.
"Tidak! Tidak! Jangan memintaku untuk pergi dengan kamu sebagai ucapan terimakasih karena kamu telah menolong aku. Kamu tahu? Temanku terjebak dalam sebuah pernikahan karena dia harus membalas pertolongan yang diberikan orang yang terpaksa dinikahinya,"ucap Sumi yang mengingat tentang Aurora.
"Serius?"tanya Hendrik tidak percaya.
"Tentu saja aku serius,"
Mereka mengobrol seperti teman lama. Sumi yang mantan Kupu-kupu malam dan Hendrik seorang Casanova. Tentu saja keduanya sangat tahu karakter lawan jenis mereka dengan baik.
"Oh, ya, apa kamu sudah punya pasangan?"tanya Hendrik lagi-lagi to the point.
__ADS_1
"Aku belum punya pasangan. Tapi aku juga tidak mau menjadikan playboy seperti kamu menjadi pasangan hidup ku,"sahut Sumi jujur adanya.
"Aiihh.. kamu terus terang sekali. Aku benar-benar suka. Tapi, apa kamu tidak menyesal menolak pria tampan seperti aku?"tanya Hendrik penuh percaya diri.
"Aku tertarik padamu, sangat tertarik. Karena itu, aku tidak menyamar di depan kamu. Tapi, aku tertarik pada kamu hanya sebatas teman saja. Karena aku melihat kamu orang yang setia kawan,"ucap Sumi jujur adanya.
"Oh, kamu hanya ingin kita menjadi teman di ranjang?"tanya Hendrik tersenyum smirk. Nampak blak-blakan di depan Sumi karena melihat Sumi juga tidak menutup-nutupi perasaannya.
Mendengar kata-kata dan ekspresi nakal Hendrik, Sumi pun tertawa tanpa suara.
"Aku tahu kamu bisa menilai seorang wanita masih perawan atau tidak. Aku memang bukan wanita baik-baik, tapi aku ingin berubah. Jadi maaf! Sebaiknya kamu mencari wanita lain yang mau naik ke atas ranjang kamu dan berbagi peluh dengan kamu,"sahut Sumi jujur.
"Hemm.. kamu sungguh menarik. Okey, sekarang kita jadi teman biasa, tapi aku yakin, suatu saat nanti, kamu pasti jadi teman di atas ranjang ku,"ucap Hendrik penuh percaya diri.
"Kamu percaya diri sekali!"sahut Sumi tersenyum tipis.
"Tapi jujur, aku sangat terkejut saat melihat kamu. Kamu sangat mirip dengan seseorang yang aku kenal Apa kamu punya kembaran?"tanya Hendrik yang semakin penasaran dan tertarik pada Sumi.
"Aku tidak punya kembaran. Tapi, siapa orang yang kamu maksud mirip dengan aku?"tanya Sumi yang sebenarnya agak terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Hendrik,"Apa dia mengenal Aurora?"gumam Sumi dalam hati.
"Istri adikku,"jawab Hendrik jujur.
"Benarkah?"tanya Sumi dengan ekspresi terkejut yang tidak di buat-buat.
"Astagaa.! Jadi dia kakak iparnya Aurora? Kakak iparnya tampan seperti ini, pasti suami Aurora juga tampan,"gumam Sumi dalam hati. Tidak menyangka jika pria rupawan di depannya itu adalah kakak ipar Aurora.
"Hum. Kamu yakin tidak punya saudara kembar? Kalian seperti pinang dibelah dua. Seperti kembar identik. Aku rasa, tidak ada orang di dunia ini yang sangat mirip jika bukan kembar identik atau..."Hendrik menggantung kata-katanya.
"Atau apa?"tanya Sumi.
...🌸❤️🌸...
__ADS_1
.
To be continued