
Kanaya nampak cepat akrab dengan Randy yang bersikap manis dan suka melontarkan kata-kata gombal sebagai rayuan. Sepanjang perjalanan, mereka mengobrol dengan seru. Setelah menempuh perjalanan menembus kemacetan, akhirnya mereka sampai juga di tempat mereka bekerja.
Andi yang baru saja memarkirkan motornya pun melihat Kanaya keluar dari mobil Randy.
"Dasar gampangan! Bukankah kemarin sudah aku bilang, agar jangan mau di antar jemput sama seorang pria sembarangan? Kenapa dia malah berangkat bareng Randy?"gerutu Andi yang terlihat kesal.
Andi mengikuti Kanaya dan Randy tanpa di sadari oleh ke dua orang itu. Karena keduanya sibuk mengobrol dan bersenda gurau. Dan hal itu semakin membuat Andi merasa kesal.
"Terimakasih, kak! Jadi repot-repot jemput saya,"ujar Kanaya tersenyum malu-malu.
Andi membulatkan matanya mendengar Kanaya memanggil Randy dengan panggilan 'Kak'.
"Kak? Sejak kapan dia memanggil Randy kakak?"gumam Andi dengan wajah yang semakin suram saja.
"Ah, tidak apa-apa. Apa, sih, yang enggak buat kamu? Aku rela ikut lomba lari keliling dunia, asalkan kamu yang menjadi garis finis nya,"rayu Randy yang membuat Kanaya salting, alias salah tingkah.
Sedangkan Andi... Jangan ditanya bagaimana keadaan pemuda itu sekarang. Yang pastinya sedang terbakar cemburu.
"Kak Randy bisa aja,"ujar Kanaya mengulum senyum dengan wajah yang memerah.
"Cih, di gombali gitu aja mukanya sudah memerah,"decih Andi.
"Setiap melihat senyumanmu aku dapat merasakan hangatnya matahari. Setiap melihatmu tertawa aku seperti melihat indahnya bintang,"lagi-lagi Randy melemparkan rayuan mautnya.
"Ohh.. Begitu? Jika hatimu dan hatinya bertemu di jalan, maka di sana ada DUA HATI, yaitu hati-hati di jalan,"ujar Andi dengan suara datar dan lewat di antara Kanaya dan Randy begitu saja seraya menempelkan handphonenya di telinganya, seperti sedang menelpon.
Randy yang sedang merayu Kanaya dan Kanaya yang sedang tersipu malu karena di gombali Randy pun spontan terkejut dan bengong di tempat mereka berdiri.
"Kenapa Tuan Andi seperti menuju kan kalimatnya itu padaku, ya? Waktu itu Tuan Andi juga bersikap seperti ini pada kami. Apa hanya kebetulan saja, ya? Tapi, dia tadi seperti sedang menelpon. Atau Tuan Andi sedang berpura-pura menelpon?"gumam Randy dalam hati penuh tanda tanya, menatap Andi yang berjalan semakin menjauh dan seperti sedang bicara dengan seseorang.
"Ada apa dengan si roller coaster itu? Kenapa dia tiba-tiba lewat di tengah-tengah kami? Persis seperti waktu itu. Dasar aneh!"gumam Kanaya dalam hati.
"Plak"
"Astagaa.!"
Randy terkejut saat mendapatkan tepukan di bahunya. Spontan Randy pun menoleh ke belakang. Begitu pula dengan Kanaya.
"Tuan"
__ADS_1
"Tuan"
Sapa Kanaya dan Randy bersamaan seraya menunduk hormat pada orang yang menepuk bahu Randy yang tidak lain adalah Rayyan.
"Tidak usah di pikirkan! Orang yang lagi galau karena terserang virus cinta emang suka nggak jelas seperti itu. Maklumi saja,"ujar Rayyan tersenyum tipis seraya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, lalu pergi menyusul Andi.
Seperti biasa, Rayyan tidak sengaja melihat Andi yang mengikuti Kanaya dan Randy. Rayyan hanya bisa menahan tawa melihat tingkah Andi yang sedang terbakar cemburu.
"Ohh.. Tuan Andi lagi galau? Siapa gadis yang bisa membuat Tuan Andi yang selama ini tidak tertarik pada wanita manapun itu menjadi galau seperti itu?"gumam Randy yang masih bisa di dengar oleh Kanaya.
"Ternyata dia sedang galau? Pantas saja sikapnya aneh banget. Kadang manis, kadang pedes, kadang perhatian, kadang jutek, kadang dingin, kadang hangat. Ternyata lagi galau? Pantas saja oleng!"gumam Kanaya dalam hati.
"Ah, nanti sore bareng lagi, ya! Aku tunggu kamu di lobby. Aku ke ruangan ku dulu, ya!"pamit Randy setelah melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Iya,"sahut Kanaya tersenyum manis.
"Sampai jumpa nanti sore!"ucap Randy kemudian meninggalkan Kanaya.
Sedangkan Andi berjalan menuju ruangannya dengan wajah suram dan hati yang terasa kesal.
"Gadis ini! Beraninya dia berangkat kerja dengan seorang pria. Malah manggil kakak lagi,"gerutu Andi lirih dengan wajah geram saat mengetahui Kanaya berangkat kerja bersama Randy dan memanggil Randy 'kakak'.
"Astagaa.. Tuan selalu mengagetkan saya saja,"keluh Andi seraya mengelus dadanya karena terkejut mendengar suara Rayyan.
"Kemarin kamu berhasil menggagalkan acara nonton mereka. Tapi, pagi ini kamu kalah telak, karena Randy berhasil berangkat kerja bareng sama gadis gebetanmu itu,"ujar Rayyan tersenyum tipis membuat Andi menghela napas panjang.
"Tuan, memata-matai saya?"tuduh Andi seraya memicingkan sebelah matanya.
"Apa aku kurang kerjaan, hingga aku sempat memata-matai kamu?"ketus Rayyan terlihat kesal karena di tuduh memata-matai Andi. Padahal Rayyan tidak sengaja melihat Andi yang mengikuti Randy dan Kanaya dan menebak apa saja yang dilakukan oleh Andi. Dan kebetulan semua tebakan Rayyan benar.
"Habisnya, Tuan bisa tahu semuanya dengan detail,"sahut Andi yang memang benar adanya. Rayyan seolah tahu dengan sangat detail. Padahal Rayyan hanya menebak-nebak saja.
"Berarti kamu ngaku, 'kan, kalau kamu sedang jatuh cinta? Sok-sokan nggak mau jatuh cinta dan bangga dengan status jomblo. Sekarang kamu kemakan omongan kamu sendiri. Kamu sedang terkena virus cinta dan cemburu,"
"Siapa yang cemburu? Saya tidak cemburu, kok!"kilah Andi.
"Halahh.. Masih ngeles aja kamu kayak bajaj. Kamu tahu, nggak? Kuli kuli apa yang menyakitkan?"
"Kalau kuli ya, kerjanya berat, Tuan. Memang, kuli apa yang menyakitkan?"
__ADS_1
"Kuli yang menyakitkan, ya, kulihat kamu bersamanya. Seperti kamu yang melihat Kanaya bersama Randy,"ledek Rayyan kemudian tertawa.
"CK. Kenapa sekarang Tuan jadi tengil sekali,"gerutu Andi.
"Aku SMS sama kamu. Senang Melihat kamu Susah,"sahut Rayyan kembali tertawa.
"CK. Tuan tega sekali pada saya,"keluh Andi.
"Cinta itu seperti angkot, Ndi. Rela nungguin orang yang belum tentu naik. Kalau belum bisa ambil hatinya ambil saja hikmahnya,"ujar Rayyan kembali tertawa seraya berjalan meninggalkan Andi.
"Kenapa Tuan sudah macam jailangkung saja. Datang tak di jemput, pulang tak di antar,"ujar Andi yang sering terkejut karena tiba-tiba Rayyan sudah ada di sampingnya, lalu pergi begitu saja.
"Sialan kamu! Berani-beraninya kamu mengatai aku makhluk halus! Dengar apa kataku sebelum kamu menyesal! Bergerak lah lebih cepat sebelum kamu menyesal karena keduluan orang! Turunkan egomu. Karena egomu akan menghancurkan kebahagiaan mu,"ujar Rayyan yang berbalik karena mendengar gerutu Andi, kemudian kembali melanjutkan langkah kakinya berlalu meninggalkan Andi.
Andi menghembuskan napas kasar setelah Rayyan pergi. Pemuda yang masih perjaka itu melanjutkan langkah kakinya berjalan menuju ruangannya. Setelah masuk ke dalam ruangannya, Andi duduk di kursi kerjanya tanpa melakukan apa-apa.
"Kalau aku berangkat kerja bareng Kanaya, akan ketahuan banget kalo aku PDKT sama dia. Karena tempat tinggal Kanaya di sebelah timur kantor ini, sedangkan tempat tinggal ku di sebelah barat kantor ini. Dan otomatis aku harus berangkat lebih pagi, jika aku ingin mengajak Kanaya berangkat kerja bareng,"gumam Andi yang entah gengsi mengakui dirinya menyukai Kanaya atau tidak mampu mengungkapkan rasa sukanya.
"Tok! Tok! Tok!"
Suara ketukan pintu di ruangan itu membuyarkan lamunan Andi.
"Masuk!"ucap Andi seraya membuka laptopnya tanpa melihat siapa yang masuk ke ruangannya.
"Maaf, Tuan! Saya ingin mengembalikan jas Tuan yang saya pakai kemarin,"ucap Kanaya seraya berjalan menuju meja kerja Andi.
Andi mengangkat wajahnya menatap Kanaya sekilas, lalu kembali menatap layar laptopnya. Entah kenapa pemuda itu jadi kesal melihat Kanaya.
"Tidak perlu di kembalikan! Ambil saja!"sahut Andi terdengar datar.
"Aihhh.. Ternyata suasana hati si roller coaster ini memang sedang tidak baik. Siapa yang sudah membuat hati si roller coaster ini menjadi galau? Aku jadi penasaran,"gumam Kanaya dalam hati.
"Kenapa masih berdiri di situ?"tanya Andi ketus membuat Kanaya tersentak.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
__ADS_1