Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
331. Mafia Pelit


__ADS_3

Neil tersenyum lembut mendengar pertanyaan Lana. Pria itu menghela napas panjang.


"Sudah aku katakan. Aku tidak menuntut kamu untuk mencintai aku. Aku hanya ingin hidup bersama mu. Tapi, jika kamu memang tidak ingin menikah dengan ku, aku tidak akan memaksamu. Melihat mu baik-baik saja sudah cukup membuat aku merasa bahagia,"


"Namun, aku mohon, tinggallah bersamaku! Tetaplah berada di sisiku! Izinkan aku menjagamu. Aku tidak ingin terjadi hal buruk lagi padamu. Aku berjanji akan menjagamu dengan nyawaku,"ucap Neil tulus dan penuh kesungguhan. Pria itu menggenggam erat jemari tangan Lana, seolah enggan untuk melepaskan Lana.


Jika Lana memang tidak ingin menikah dengan dirinya, Neil tidak akan memaksanya. Karena bagi Neil, cinta yang tulus adalah bahagia saat melihat orang yang dicintainya bahagia. Meskipun bahagia orang itu bukan karena dirinya. Tapi Neil sangat berharap, Lana mau tinggal bersama dirinya. Karena melihat Lana baik-baik saja sudah cukup membuat hati Neil merasa tenang dan bahagia.


Bukankah cinta itu tidak harus memiliki? Kalimat yang terdengar indah dan puitis memang, walaupun pada kenyataannya menyakitkan. Cinta sejati tidak harus memiliki hanya berlaku pada orang-orang yang benar-benar tulus dan ikhlas mencintai. Karena, selama kita belum bisa tulus dan ikhlas mencintai, pasti akan ada rasa ingin memiliki.


Namun, pertanyaannya adalah, apakah kita akan bahagia jika memaksakan memiliki orang yang tidak mencintai kita? Karena kenyataannya, sesuatu yang dipaksakan, akan mendatangkan kemungkinan buruk yang lebih besar dari pada kemungkinan baiknya.


Lana menatap lekat manik mata Neil yang penuh kesungguhan. Gadis itu nampak bimbang.


"Neil terlihat begitu tulus padaku. Haruskah aku menerimanya dan belajar mencintai dia? Mungkin dengan ketulusan hatinya, aku bisa melupakan orang yang selama ini masih sangat aku cintai. Orang yang telah pergi dan tidak akan pernah kembali lagi. Namun, entah mengapa aku tidak pernah bisa melupakannya,"


"Sekarang aku tidak punya siapa-siapa lagi dan tidak punya arah tujuan. Neil adalah tempat berlindung paling aman dari ayah sambung ku dan para mafia itu. Karena mereka pasti akan terus mencari ku. Mana mungkin aku meminta perlindungan darinya tanpa imbalan? Haruskah aku menerima cinta dan lamarannya? Bagaimana jika aku tanpa sengaja mengecewakan dia dan membuat dia tidak bahagia?"gumam Lana dalam hati mempertimbangkan segalanya.


Neil menghela napas dalam saat melihat Lana yang terdiam dengan tatapan gamang.


"Kamu ingin tinggal bersama ku atau tidak, aku tidak akan memaksa mu. Malam sudah larut. Kamu pasti sudah lelah. Sebaiknya kita pulang dulu. Kita bicarakan lagi semuanya besok,"ucap Neil tersenyum lembut. Neil tidak ingin memaksa Lana yang nampak masih memikirkan segalanya.


Neil membuka kaca mobilnya dan memberi isyarat pada supir pribadinya yang sedari tadi menunggu di luar mobil agar mereka segera pergi dari tempat itu.


***


Pagi menjelang. Dila keluar dari kamarnya untuk sarapan pagi. Wanita yang merasa menjadi nyonya di mansion suaminya itu selalu minta di layani dengan gaya angkuhnya.


Padahal tidak ada pelayan di rumah itu yang menganggap Dila sebagai nyonya. Mereka hanya menganggap Dila sebagai peliharaan majikan mereka yang suatu saat jika majikan mereka bosan akan di buang. Apalagi karena tingkah Dila yang angkuh itu membuat mereka benci dan tidak respek pada Dila.


"Kemana Neil?"tanya Dila pada pelayan yang melayaninya.

__ADS_1


"Tuan tidak pulang,"sahut pelayan itu singkat.


"Baguslah. Semoga dia sering-sering tidak pulang. Agar aku tidak perlu melayaninya. Hidup bersama dia sungguh-sungguh membosankan. Mau pergi selalu di awasi anak buahnya. Uang juga cuma sedikit. Menyebalkan sekali. Seandainya waktu itu aku bisa merayu Rayyan dan mendapatkan perlindungan dari Rayyan, nasibku pasti tidak akan seperti ini,"gerutu Dila dalam hati.


Setelah sarapan, Dila memilih keluar dari mansion itu. Wanita itu pergi tanpa arah dan tujuan hanya untuk menghilangkan rasa bosan. Dila merasa hidupnya benar-benar di kekang oleh Neil. Apalagi semenjak dirinya melarikan diri waktu itu, Neil benar-benar pelit padanya. Pimpinan mafia itu memangkas uang bulanannya, hingga Dila tidak bisa banyak berbelanja dan bersenang-senang.


Saat hari beranjak siang, akhirnya Dila memilih kembali ke mansion. Namun wanita itu mengernyitkan keningnya saat melihat Troy berdiri di depan pintu utama mansion milik suaminya itu.


"Apa Neil akan pergi? Kenapa banyak sekali koper di pintu utama? Tapi, biasanya Neil tidak pernah membawa banyak barang saat akan bepergian,"gumam Dila dalam hati saat melihat Troy dan tiga orang anak buahnya berdiri di depan pintu utama mansion dengan banyak koper.


Dila turun dari mobilnya, wanita itu bermaksud menghampiri Troy.


"Masukkan semua barang ini ke dalam mobil!"titah Troy pada anak buahnya.


"Baik, Tuan,"sahut tiga orang pria itu.


Dila mengernyitkan keningnya dan bergegas mendekati Troy.


"Kamu yang akan pergi,"ucap Troy tersenyum dingin.


"Aku?"tanya Dila bingung sekaligus kesal saat menyadari Troy tidak memanggilnya nyonya, tapi 'kamu'.


"Tuan, barang-barangnya tidak muat di bagasi,"lapor anak buah Troy.


"Masukkan ke dalam mobil! Jika perlu, keluarkan dari koper agar muat di dalam mobil,"titah Troy tegas.


Dila terlihat bingung saat melihat koper-koper itu di masukkan ke dalam mobilnya.


"Kenapa koper-koper itu di masukkan ke dalam mobil ku?"tanya Dila pada Troy. Karena mobil yang di pakai Dila memang spesial di berikan Neil untuk Dila.


"Karena kamu harus pergi dari mansion ini. Dan ini surat cerai dari Tuan Neil. Cepat tandatangani!"ucap Troy datar.

__ADS_1


"Surat cerai? Neil ingin bercerai dariku?"tanya Dila nampak terkejut, namun sesaat kemudian merasa senang,"Neil ingin menceraikan aku? Ini bagus sekali. Jika aku bercerai dari mafia pelit itu, aku bisa mencari pria kaya yang bisa membahagiakan aku. Tapi aku tidak ingin di ceraikan begitu saja. Aku harus bisa mendapatkan keuntungan,"gumam Dila dalam hati penuh dengan pikiran licik.


"Iya. Kamu sudah di buang oleh Tuan. Kamu tidak di butuhkan lagi. Cepat, tandatangani surat cerai ini!"titah Troy tetap dengan suara datarnya menyodorkan surat cerai pada Dila.


"Cih! Siapa juga yang mau bertahan di sisi orang abnormal dan pelit seperti majikanmu itu? Aku pasti akan menandatangani surat cerai ini. Tapi, apa yang aku dapatkan dengan menandatangani surat cerai ini? Aku tidak mau membubuhkan tanda tangan ku secara gratis, alias cuma-cuma,"ujar Dila dengan angkuhnya pada Troy. Wanita itu melipat kedua tangannya di depan dada dengan dagu yang terangkat ke atas.


"Kamu akan mendapatkan mobil itu dan uang bulanan terakhir kamu,"jawab Troy datar.


"Apa?! Mobil itu memang milikku. Jadi, dia hanya akan memberikan uang belanja bulanan saja? Mana bisa begitu?! Katakan pada Neil! Aku mau lebih! Aku mau harta gono gini! Enak saja hanya memberikan mobil itu dan uang belanja bulanan yang hanya sedikit,"bentak Dila tidak terima.


Troy tersenyum sinis mendengar perkataan Dila. Dari awal, Troy memang tidak suka pada Dila yang angkuh dan merasa berkuasa di mansion itu. Apalagi saat Dila membawa kabur harta Neil.


"Harta gono-gini? Percaya diri sekali kamu meminta harta gono-gini? Memangnya apa yang sudah kamu hasilkan selama kamu menikah dengan Tuan Neil? Kamu tidak menghasilkan apapun dan hanya bisa menghabiskan uang Tuan Neil. Kamu bahkan membawa kabur harta Tuan Neil. Tanda tangani surat cerai ini dan segera enyah dari tempat ini! Atau aku akan melempar kamu di kolam buaya!"ancam Troy dengan tatapan dingin mengintimidasi dan aura membunuh yang pekat.


Tiga orang anak buah Troy bahkan menodongkan senjata api pada Dila. Dila menelan salivanya kasar. Nyali wanita itu mendadak menjadi ciut karena mendapatkan tatapan dingin mengintimidasi dengan aura membunuh yang pekat dari Troy. Apalagi saat ini dirinya di todong dengan tiga senjata api sekaligus.


Tanpa berkata apapun Dila mengambil surat cerai dari tangan Troy dan segera menandatangani surat cerai itu. Setelah itu, Dila bergegas meninggalkan tempat itu dengan perasaan kesal.


"Sial! Aku di buang begitu saja tanpa di beri apapun oleh mafia pelit itu. Mobil ini dan uang belanja bulanan? Ini sedikit sekali. Dasar mafia pelit!"umpat Dila seraya memukul stir mobil nya karena kesal. Wanita itu membuang napas kasar,"Sudahlah! Mau menuntut juga tidak bisa. Aku tidak punya uang untuk membayar pengacara. Lagipula, seandainya aku punya uang banyak, aku rasa tidak akan ada juga pengacara yang mau aku sewa. Mereka tidak akan mau berhadapan dengan mafia seperti Neil. Setidaknya sekarang aku sudah bebas. Bukankah bagus jika aku di ceraikan mafia pelit itu? Aku bisa bebas mencari mangsa baru yang lebih kaya dan royal dari si pelit itu,"gumam Dila tersenyum cerah.


...🌟🌟🌟...


..."Cinta sejati tidak harus memiliki, dan mencintai bukanlah menguasai. Tapi, tetap saja nyesek di hati."...


..."Sesungguhnya, memiliki tidak harus dan belum tentu mencintai."...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2