
"Bagaimana caranya kalian melayani pelanggan?"tanya Rayyan menatap wajah Aurora lekat.
"Sumi yang melayani mereka dan aku hanya diam bersembunyi. Setelah Sumi selesai melayani pelanggan, aku akan membuka pintu kamar hotel separuh, agar Sumi bisa keluar dari kamar. Lalu aku menyalakan lampu dan pamit pada pelanggan, baru setelah itu, aku keluar dari kamar hotel,"sahut Aurora.
"Kalau begitu, setiap hari kamu melihat teman kamu memuaskan pelanggan?"tanya Rayyan seraya mengernyitkan keningnya.
"Kenapa? Kamu penasaran bagaimana cara Sumi memuaskan pelanggan kami hingga pelanggan kami terkapar?"tanya Aurora dengan suara yang di buat sensuall berbisik di telinga Rayyan.
Aurora mencumbui leher Rayyan. Tangan Aurora meraba leher Rayyan, kemudian jemari tangan Aurora turun ke dada Rayyan, membuat pria itu memejamkan matanya menikmati sentuhan jemari tangan Aurora yang bergerak nakal di tubuhnya hingga darahnya terasa mengalir lebih cepat. Rayyan memeluk erat tubuh Aurora yang masih berada dalam gendongannya dengan posisi berhadapan.
Aurora mencium bibir Rayyan dan langsung mendapatkan sambutan hangat dari Rayyan. Saling mengecup, menyesap dan berbelit lidah. Aurora melepaskan pagutannya, menyatukan dahinya dengan dahi Rayyan. Mengatur napasnya dengan mata yang saling bertatapan dengan Rayyan.
"Akhir-akhir ini, kamu jadi semakin nakal,"ucap Rayyan seraya melangkah menuju ranjang. Rayyan duduk di tepi ranjang dengan Aurora yang masih ada di gendongannya,"Aku Sangat penasaran, bagaimana seorang kupu-kupu malam melayani pelanggannya?"ujar Rayyan menatap Aurora seraya mengangkat kedua alisnya beberapa kali dengan senyuman penuh arti yang menghias bibirnya.
"Mau melihatnya?"tanya Aurora dengan senyuman nakal yang menghias bibirnya.
"Sangat ingin,"ucap Rayyan seraya mengedipkan sebelah matanya.
"Bruk"
"Auwh"
Tanpa di duga Rayyan, Aurora mendorong tubuhnya hingga terlentang di atas ranjang. Dengan agresif Aurora mencium bibir Rayyan.
Rayyan meraba pundak Aurora dan melepaskan tali dress yang di pakai Aurora hingga dress itu melorot. Dua buah benda bulat kenyal itu pun terekspos sempurna dan Rayyan pun langsung mengelus, memainkan puncak kedua benda kenyal itu, lalu meremas keduanya dengan lembut.
"Emphh.. "lenguh Aurora yang masih mencium Rayyan agresif. Merasakan kenikmatan saat kedua benda kenyal miliknya itu di memainkan suaminya.
Aurora melepaskan pagutannya, kemudian melepaskan dress nya. Menjelajahi tubuh suaminya dengan bibir, dan lidahnya, dari leher, turun ke dada dan turun lagi ke perut. Tangan Aurora meloloskan celana boxer yang di pakai suaminya hingga benda tumpul yang sudah berdiri tegak dan berdenyut-denyut itupun terlihat. Aurora mulai memainkan benda itu dengan tangan, lidah, bibir dan mulutnya hingga Rayyan melenguh, mendesahh dan bergerak gelisah.
__ADS_1
"Ra.. Lakukan, Ra!"mohon Rayyan dengan mata sayu, napas memburu, dan tubuh yang terasa panas. Namun Aurora terus menggoda pusaka Rayyan, hingga Rayyan meracau tidak karuan. Bergerak gelisah tidak menentu.
"Ra.. ughh..Ra.."lenguuh Rayyan yang merasakan sesuatu akan menyembur dari benda yang sedang dikulum dan di jilat Aurora itu. Namun saat cairan itu sedikit lagi akan menyembur keluar, Aurora malah menghentikan aktivitasnya.
"Ra.. sebentar lagi akan keluar. Kenapa berhenti?"protes Rayyan terlihat frustasi saat hampir saja tiba di puncak, namun Aurora malah berhenti.
Aurora tersenyum miring kemudian mencium bibir Rayyan dengan sebelah tangannya yang menggoda benda pusaka Rayyan. Rayyan ingin membalikkan posisi mereka, namun Aurora menahannya. Karena melihat Rayyan semakin gelisah, akhirnya Aurora menyatukan tubuh mereka sepenuhnya.
Malam itu, Rayyan benar-benar kelabakan karena ulah Aurora. Namun juga merasa sangat senang. Rayyan mendekap tubuh Aurora yang sudah terlelap dengan senyuman yang menghias bibirnya.
"Akhir-akhir ini, kamu jadi nakal sekali. Bahkan sangat agresif,"gumam Rayyan membelai rambut Aurora lembut.
Rayyan merasa jika akhir-akhir istri berbeda dari biasanya. Lebih dulu menggoda dirinya, bahkan tidak segan untuk memimpin permainan. Namun semua itu malah membuat Rayyan semakin mencintai Aurora.
Rayyan tidak perduli dengan IQ Aurora yang pas-pasan dan berasal dari kalangan menengah ke bawah. Bahkan Rayyan tidak perduli jika istrinya itu pernah berprofesi sebagai kupu-kupu malam. Karena Rayyan mencintai Aurora apa adanya, dan merasa nyaman dan bahagia saat bersama Aurora. Semua itu sudah cukup untuk membuat Rayyan tetap mencintai Aurora dan mempertahankan Aurora di sisinya. Tidak perduli apa kata orang.
***
Waktu terus berputar besok adalah hari di adakannya resepsi pernikahan Rayyan dan Aurora. Undangan sudah tersebar dan semua persiapan pun sudah siap.
Aurora mengambil handphonenya yang berdering, menandakan adanya panggilan masuk. Aurora segera menerima panggilan video dari ibunya. Namun Aurora agak sedikit terkejut saat yang terlihat di layar handphonenya adalah bapaknya.
"Halo, Pak!"ucap Aurora dengan jantung yang tiba-tiba berdegup kencang. Aurora merasa cemas saat melihat wajah bapaknya yang terlihat sedih.
"Ra.. bapak dan ibu tidak bisa datang ke acara resepsi pernikahan kamu. Ibu kamu tadi sore di gigit ular saat pulang dari warung. Saat ini, ibu baru saja keluar dari UGD. Dokter telah berhasil mengeluarkan racun ular nya.Tapi ibumu harus menginap dulu di rumah sakit untuk beberapa hari. Bapak benar-benar minta maaf padamu karena tidak bisa hadir di acara penting dalam hidup kamu,"ucap Pak Hamdan yang merasa sedih dan tidak enak hati pada putrinya. Terlihat jelas kesedihan di wajah pria paruh baya yang masih terlihat tampan itu.
"Apa ibu sudah baik-baik saja?"tanya Aurora terlihat khawatir,"Aku akan pulang untuk melihat keadaan ibu,"
"Jangan, Ra! Kamu besok harus melaksanakan resepsi pernikahan. Bapak tidak ingin kamu membatalkan acara itu. Ibumu akan merasa sangat bersalah jika kamu membatalkannya acara itu karena ibu. Percayalah! Ibu akan baik-baik saja,"larang Pak Hamdan. Tidak ingin putrinya membatalkan acara yang sudah lama dipersiapkan, apalagi tinggal besok akan dilaksanakan.
__ADS_1
Pak Hamdan mengarahkan kamera kearah Bu Ella yang terbaring di ranjang pasien dengan selang infus di tangan nya. Wajah wanita paruh baya itu terlihat pucat.
"Apa ibu akan segera pulih?"tanya Aurora menatap sendu wajah ibunya dari layar handphonenya.
"Iya. Kata dokter, ibu tinggal butuh istirahat untuk memulihkan kondisi tubuhnya. Bapak benar-benar minta maaf karena tidak bisa hadir di acara resepsi pernikahan kamu,"ucap Pak Hamdan penuh sesal.
"Tidak apa-apa, Pak. Bapak jaga ibu baik-baik! Jika ada apa-apa, telepon aku!"sahut Aurora terlihat sedih.
"Iya. Bapak doakan semoga acara resepsi pernikahan kamu berjalan lancar. Jangan sedih karena bapak dan ibu tidak datang, ya! Bapak dan ibu akan sedih jika kamu sedih. Kebahagiaan kamu adalah segalanya buat bapak dan ibu. Jadi, tetaplah bahagia. Kamu jangan khawatir! Ibu pasti akan baik-baik saja. Jika ibu sudah sadar nanti, bapak akan menelpon kamu lagi"ucap Pak Hamdan tulus.
"Iya, aku mengerti, Pak,"sahut Aurora lesu.
Akhirnya Pak Hamdan mengakhiri panggilan teleponnya. Pria itu membuang napas kasar. Merasa tidak enak hati pada putri semata wayangnya.
"Kamu kenapa?"tanya Rayyan yang melihat wajah Aurora terlihat sangat sedih. Pria itu baru saja keluar dari dalam kamar mandi.
"Bapak dan ibu tidak bisa hadir di acara resepsi pernikahan kita. Tadi sore, ibu di gigit ular saat pulang dari warung,"sahut Aurora lesu.
"Di gigit ular? Apa ibu baik-baik saja?"tanya Rayyan terlihat khawatir.
"Hum. Ibu sudah baikan. Dokter telah berhasil mengeluarkan racun di tubuh ibu,"sahut Aurora.
"Jangan sedih, setelah resepsi pernikahan selesai, kita jenguk ibu,"ucap Rayyan menenangkan. Memeluk Aurora dan mengecup lembut puncak kepala Aurora.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
__ADS_1