
Rayyan melepaskan tangan Aurora dan mengambil handphonenya yang diletakkan Aurora di atas ranjang. Rayyan kembali menunjukkan hasil tes DNA pada Aurora.
Aurora membulatkan matanya setelah membaca hasil tes DNA itu. Wanita itu menatap Rayyan dengan ekspresi tidak percaya.
"A.. Aku dan kak Aiden.. Apa maksudnya ini?"tanya Aurora dengan tatapan yang sulit untuk dideskripsikan.
"Hasil tes DNA itu akurat. Kamu adalah adik kandung Aiden yang sudah puluhan tahun di cari oleh Aiden. Bahkan Aiden enggan menjalin hubungan serius dengan seorang wanita, apalagi menikah karena belum menemukan kamu,"
"Kamu ada di dunia ini karena Aiden merengek pada kedua orang tuanya untuk memberikan dia adik kandung. Padahal kedua orang tua Aiden kesulitan untuk mendapatkan anak lagi. Hingga setelah berulang kali gagal melakukan program bayi tabung, akhirnya kedua orang tua Aiden memiliki kamu. Aiden sangat bahagia dengan kelahiran kamu. Dia sangat menyayangi kamu. Apapun yang kamu inginkan saat kamu masih kecil dulu, pasti dipenuhi oleh Aiden,"
"Kamu tahu? Aiden hidup membujang sampai saat ini karena dia lebih fokus pada perusahaan peninggalan kedua orang tua kalian dan mencari kamu. Selama puluhan tahun dia kesepian karena kedua orang tua kalian meninggal saat ingin menebus kamu dari penculik,"
"Selama puluhan tahun Aiden menyalahkan dirinya sendiri karena kamu hilang di taman saat Aiden membelikan es krim untuk kamu. Dia merasa sangat bersalah karena telah lalai dalam menjaga kamu. Hingga kamu hilang karena di culik dan kedua orang tua kalian meninggal karena mencari kamu,"
"Puluhan tahun dia enggan pulang ke rumah kalian dan memilih tinggal di apartemen. Karena Aiden merasa kesepian jika berada di rumah itu tanpa kamu dan kedua orang tuanya. Rumah itu membuat Aiden teringat kebersamaannya dengan kamu dan kedua orang tuanya. Kenangan itu membuat dia tersiksa dan semakin merasa bersalah karena lalai menjagamu hingga dia kehilangan kamu dan kedua orang tuanya,"
"Selama ini, sebenarnya Aiden hanya berpura-pura tegar. Aiden sering mabuk jika teringat kamu. Tapi aku memakluminya dan selalu berusaha mensupport dia. Aiden hidup sebatang kara di dunia ini semenjak usia sembilan tahun. Anak sembilan tahun memikul tanggung jawab melanjutkan perusahaan yang ditinggalkan kedua orang tuanya. Dan juga mencari adiknya,"
"Papaku lah yang membantu Aiden mengurus perusahaan Aiden hingga Aiden dewasa. Aku tidak dapat membayangkan bagaimana sedih dan terpuruknya aku jika berada di posisi Aiden,"
"Aiden pasti sangat senang jika mengetahui kamu adalah adik kandungnya. Dia tidak akan lagi berkubang dalam rasa bersalah jika dia tahu bahwa kamu adalah adiknya. Adik yang sangat diinginkannya dan sangat di sayanginya,"ujar Rayyan panjang lebar.
Mendengar penuturan Rayyan, dengan air mata yang berlinang Aurora bergegas keluar dari kamar itu. Aurora berlari menuju ke kolam renang di mana saat ini Aiden berada.
Aurora tidak dapat membayangkan bagaimana kehidupan kakaknya selama puluhan tahun ini. Hidup sebatang kara tanpa kasih sayang orang tua dan saudara saat masih berusia sembilan tahun. Bahkan memikul tanggung jawab melanjutkan perusahaan kedua orang tua mereka.
Dirinya sangat beruntung karena di rawat Bu Ella dan Pak Hamdan. Dilindungi dan di sayangi layaknya anak kandung. Tidak merasakan beban apapun dalam hidup, kecuali keadaan ekonomi yang sempat sulit.
Berbeda jauh dengan kakaknya yang harus berjuang mempertahankan perusahaan dan semua aset peninggalan kedua orang tuanya di usia yang masih kecil.
__ADS_1
Aiden yang sedang mengobrol bersama Hendrik dan Sumi nampak terkejut saat tanpa sengaja melihat Aurora berlari ke arahnya dengan berlinang air mata. Pria rupawan itu beranjak dari duduknya dengan perasaan dan ekspresi yang tidak dapat di deskripsikan.
Sedangkan Hendrik dan Sumi juga terkejut melihat Aurora yang seperti itu. Tanpa tahu apa yang terjadi. Dalam hati mereka penuh dengan tanda tanya yang semakin membuat mereka penasaran.
"Greb"
Tiba-tiba Aurora memeluk Aiden dengan isak tangis. Walaupun masih bingung dan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, namun secara refleks Aiden membalas pelukan Aurora. Entah mengapa Aiden merasa sangat sedih melihat Aurora menangis.
Setelah Aurora terlihat sedikit tenang, Aiden pun merenggangkan pelukan mereka. Dengan perasaan yang tidak dapat di deskripsikan, Aiden menghapus air mata Aurora dengan kedua ibu jarinya. Aurora mendongakkan kepalanya menatap Aiden yang lebih tinggi darinya. Aiden menatapnya dengan tatapan lembut yang menenangkan.
"Ada apa? Kenapa kamu menangis? Apa Rayyan menyakiti kamu?"tanya Aiden khawatir, layaknya seorang kakak yang adiknya di sakiti orang lain,"Aku akan menghajarnya, jika dia berani menyakitimu,"ucap Aiden yang malah membuat Aurora kembali menangis terisak memeluk Aiden.
"Begini kah rasanya memiliki seorang kakak?"gumam Aurora dalam hati yang semakin memeluk Aiden dengan erat dalam tangisnya.
Aurora merasa di lindungi dan diperhatikan. Merasakan hangatnya pelukan seorang saudara yang tidak pernah dirasakannya selama ini.
Hendrik dan Sumi hanya terdiam menatap Aurora dan Aiden. Benar-benar ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi. Sedangkan Rayyan nampak berjalan dengan tenang dengan Zayn yang berada di dalam gendongannya.
"Baru di anggap adik saja sudah galak?"sahut Rayyan menghela napas panjang.
"Jangan bercanda! Aku serius. Kenapa kamu membuat Aurora menangis?"tanya Aiden masih dengan tatapan matanya yang tajam.
Rayyan kembali menghela napas panjang. Pria itu membuka kunci layar handphonenya dengan sidik jarinya.
"Ini yang membuat dia menangis,"ucap Rayyan seraya menunjukkan handphone yang sedari tadi di pegangnya kepada Aiden.
Aiden yang masih memeluk Aurora pun mengambil handphone Rayyan dan membaca tulisan di layar handphone itu. Seketika Aiden pun membeku.
"Aku menemukan foto Aurora waktu Aurora masih berusia sekitar tiga tahun di rumah Pak Hamdan. Saat Pak Hamdan dan Bu Ella kecelakaan dan di bawa Andi ke kota ini, aku melihat rekam medis mereka. Aku sempat terkejut saat melihat golongan darah Pak Hamdan dan Bu Ella. Karena golongan darah mereka adalah A dan AB, sedangkan golongan darah Aurora adalah O. Jadi, aku curiga jika Aurora bukan anak kandung mereka,"
__ADS_1
"Saat aku bertemu dengan Bu Ella, aku menanyakan tentang hal ini. Beliau mengakui jika Aurora bukan putri kandungnya dan Pak Hamdan. Bu Ella juga tidak tahu siapa orang tua kandung Aurora dan menemukan Aurora saat berusia sekitar tiga tahun,"
"Semua itu membuat aku mengingat adikmu yang menghilang di usia yang sama dan sekarang pun, perkiraan usia adikmu dan Aurora adalah sama. Belum lagi saat aku tahu golongan darah kalian sama. Aku semakin curiga dan diam-diam melakukan tes DNA pada Aurora, Pak Hamdan, Bu Ella dan kamu sebelum kita kembali ke kota ini. Dan barusan, aku mendapatkan email hasil tes DNA ini,"jelas Rayyan panjang lebar.
Tanpa bisa di bendung, airmata Aiden mengalir begitu saja. Pria rupawan itu memeluk erat Aurora yang masih memeluknya. Ada perasaan haru dan bahagia yang membuncah di hatinya. Perasaan bahagia yang meluap-luap hingga lidah Aiden terasa kelu untuk berkata-kata. Aiden terlalu bahagia karena adik yang selama puluhan tahun dicarinya akhirnya ditemukannya.
Sumi nampak menitikkan air mata karena terharu melihat adik dan kakak yang baru tahu bahwa mereka bersaudara itu. Sumi juga pernah merasakan berada di posisi Aurora. Tidak mengetahui jika dirinya adalah anak angkat karena di perlakukan layaknya anak kandung oleh kedua orang tuanya. Sama persis dengan yang dialami Aurora saat ini.
Rayyan dan Hendrik pun ikut terharu melihat Aiden dan Aurora. Tidak pernah menyangka jika Aurora adalah adik kandung Aiden.
"Aku sangat bahagia bisa menemukanmu. Aku hampir putus asa mencari mu. Aku hampir kehilangan harapan untuk bertemu dengan mu lagi,"ucap Aiden yang berderai air mata memeluk Aurora, setelah beberapa saat terdiam.
Pria itu merasa cahaya hidupnya yang selama ini bersinar redup, kini menjadi terang benderang. Hatinya yang selama puluhan tahun terasa kosong, kini terisi kembali.
Aiden, Aurora, Rayyan dan Sumi tidak menyadari jika ada orang lain yang menyaksikan pertemuan kakak dan adik itu.
...πππ...
...Hidup tidak dapat diprediksi. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi esok hari....
...Kesedihan datang tanpa di pinta. Kebahagiaan datang walau tak diharap....
...Namun, tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Semuanya terjadi karena suatu alasan. Takdir yang tak terelakkan....
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
__ADS_1
To be continued