Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
200. Belum waktunya


__ADS_3

Aurora merebahkan tubuhnya di sofa Tantra seraya memainkan handphonenya. Menunggu suaminya pulang dari kantor. Tak lama kemudian, Rayyan pun pulang. Seperti biasanya, Aurora membantu Rayyan melepaskan dasi dan pakaiannya.


"Kenapa kemu terlihat tidak senang begitu?"tanya Rayyan saat menatap wajah Aurora.


"Enggak, kok. Biasa aja,"sahut Aurora seraya melepaskan kancing kemeja Rayyan.


"Jangan bohong! Kita sudah lama bersama. Aku tahu bagaimana ekspresi kamu saat senang, sedih, kesal, ataupun bahagia,"


Aurora menghela napas panjang mendengar kata-kata suaminya,"Aku hanya kesal pada Sumi,"sahut Aurora kemudian.


"Kenapa? Biasanya kamu tidak pernah mengeluhkan teman kamu itu,"tanya Rayyan yang merasa heran, karena selama ini Aurora memang tidak pernah mengeluhkan apapun tentang Sumi.


Hendrik yang malam ini pulang dan tanpa sengaja melewati kamar Rayyan pun berhenti mendengar pembicaraan suami-isteri di dalam kamar yang pintunya sedikit terbuka itu. Karena mendengar nama pujaan hatinya disebut-sebut, Hendrik jadi penasaran untuk menguping.


Andi yang melihat Hendrik berdiri di depan pintu kamar majikannya pun mendekati Hendrik. Lalu berdiri di belakang Hendrik tanpa disadari Hendrik.


"Aku kesal pada Sumi, karena dia itu terlalu naif. Dia pikir, semua orang akan bahagia jika dia berkorban demi orang-orang yang dia sayangi. Padahal mereka malah sedih jika Sumi berkorban untuk mereka. Menurut aku, berkorban demi orang-orang yang kita sayangi itu penting, bahkan harus. Tapi, ya, dilihat dulu bagaimana situasi dan kondisinya, dong. Jangan melulu berkorban dan memikirkan perasaan orang lain tanpa memikirkan kebahagiaan dan perasaan diri sendiri,"cerocos Aurora seraya melepaskan kancing kemeja Rayyan hingga kancing kemeja Rayyan sudah terlepas semua.


"Memangnya, apa masalahnya?"tanya Rayyan seraya mengernyitkan keningnya setelah mendengar penuturan istrinya itu. Belum tahu apa masalahnya, sehingga pria itu tidak bisa berkomentar apapun selain bertanya.


"Sumi tidak mau menerima kak Hendrik. Dia menolak menikah dengan kak Hendrik,"


Rayyan menarik Aurora ke arah ranjang, kemudian mendudukkan Aurora di atas pangkuannya.


"Sekarang ceritakan, kenapa kamu merasa kesal karena Sumi menolak kakak?"tanya Rayyan seraya memeluk pinggang Aurora dan menatap wajah Aurora.


"Sumi merasa tidak pantas dan tidak sebanding dengan kakak yang tampan, kaya, dan lulusan sarjana. Sedangkan Sumi hanya cantik imitasi, dari kalangan menengah ke bawah, bahkan mantan kupu-kupu malam. Sumi mengatakan, jika dirinya tidak pantas untuk kakak dan kakak berhak mendapatkan yang lebih baik dari dia. Dan yakin jika kakak pasti bahagia walaupun tanpa dia. Bukankah itu namanya naif?"


"Kamu benar, dia naif. Karena kurang kritis dalam penilaian dan tidak bisa memahami perasaan kakak. Tapi, jika dia memang seperti itu, kita mau apa? Kita tidak bisa memaksa dia untuk menikah dengan kakak bukan?"

__ADS_1


"Iya, sih,"


"By the way, kenapa kamu seperti berpihak pada kakak? Bukannya kemarin kamu marah padaku saat kakak melecehkan sahabat kamu itu?"


"Karena aku melihat Kakak tulus pada Sumi. Bahkan berusaha berubah agar bisa membuat hati Sumi tersentuh. Tapi Sumi malah merasa semakin tidak pantas untuk kakak. Kemarin dia membuat kakak berubah karena kakak ingin menjadi pria seperti kriteria yang diinginkannya. Tapi setelah kakak serius berubah dia malah mundur. Terus, maunya apa coba?"ujar Aurora menggebu-gebu.


"Astagaa.! Bumil memang sensi sekali. Baperan,"gumam Rayyan dalam hati.


"Nyonya menggemaskan sekali. Aku bisa membayangkan, Tuan pasti pengen tepok jidat menghadapi nyonya yang sensi dan baperan,"gumam Andi dalam hati. Menahan diri agar tidak tertawa.


"Aku nggak tahu, sayang. Kamu yang sesama wanita aja nggak tahu, lalu apa kabarnya dengan aku?"


"Iya, juga, sih,"


"Kakak sudah berusaha, tapi Sumi tetap menolaknya. Sekarang, biarkan takdir yang bicara. Kalau jodoh pasti bertemu,"


Andi yang ikut menguping pembicaraan sepasang suami-isteri itu menguluum senyum menahan tawa. Sedangkan Hendrik hanya bisa membuang napas kasar.


"Kenapa kamu malah tertawa? Yang aku katakan benar, 'kan? Kalau ketemunya di pelaminan sebagai pasangan itu namanya jodoh, tapi kalau ketemunya sebagai tamu undangan, ya, namanya mantan,"


"Kamu memang benar, sayang. Cuma cara kamu menyampaikan maksud kamu itu terdengar lucu di telinga ku,"sahut Rayyan jujur adanya.


"Ohh.. jadi lucu, ya?"tanya Aurora tersenyum smirk.


"Ha. ha .ha .ha . hentikan, sayang! Geli!"pinta Rayyan yang kegelian karena Aurora menggelitik pinggang nya.


Hendrik menghela napas panjang, kemudian beranjak meninggalkan kamar Rayyan. Andi menutup pintu kamar majikannya perlahan hingga tidak disadari sepasang suami-isteri yang ada dalamnya karena Aurora sibuk menggelitik Rayyan dan Rayyan sibuk tertawa.


Hendrik melangkah gontai menuju kolam renang, lalu duduk di kursi yang ada di tepi kolam renang itu. Pria itu duduk dengan tatapan kosong dan pikiran yang menerawang jauh.

__ADS_1


"Nggak usah dipikirin, Tuan. Kalau jodoh pasti bersanding di pelaminan jadi pengantin. Kalau nggak jodoh, ya, tinggal datang jadi tamu undangan, trus nyanyi lagu buat nyumbang memeriahkan acara pernikahan,"


"Haiss.. kamu ini mengagetkan aku saja. Mana ada orang yang sedih masih mau nyumbang lagu untuk memeriahkan acara pernikahan mantan?"


"Ada Tuan. Tinggal nyanyi lagu "KANDAS " pasti akan mudah dihayati, saat yang menyanyikan adalah orang yang sedang patah hati,"


"Sialan kamu!"umpat Hendrik.


"Sebagai manusia, kita harus bersikap dan bertindak sesuai situasi dan kondisi, Tuan. Seperti main layangan, ada waktunya kita harus mengulur benang dan ada pula waktunya kita harus menarik benang. Agar layangan kita bisa tetap terbang. Ada waktunya kita harus serius, ada pula waktunya untuk bercanda. Biar nggak stress dan lekas tua. Tuan sudah berusaha semampu dan sebisa Tuan, tapi nona Sumi tetap menolak Tuan.Jjadi, Tuan tidak perlu menyesalinya lagi. Jangan berubah karena Tuan ingin dicintai, tapi berubah lah agar Tuan layak untuk dicintai. Jangan putus asa jika apa yang kita impikan dan kita harapkan tidak menjadi kenyataan. Positif thinking aja, bahwa apa yang tidak bisa kita miliki dan tidak bisa kita dapatkan itu bukanlah yang terbaik untuk kita,"


"Teori itu mudah, tapi prakteknya susah. Karena praktek itu menggabungkan antara teori dan kerja nyata di lapangan,"


"Kalau Tuan bicara seperti itu, berarti Tuan adalah orang yang seratus persen gagal. Karena orang yang berusaha itu masih memiliki kemungkinan untuk berhasil. Sedangkan orang yang takut untuk mencoba adalah orang gagal yang sebenarnya,"


"Lalu aku harus bagaimana?"


"Saya dengar, masih ada beberapa job anda yang belum selesai. Selesaikan dulu semua pekerjaan anda di sini, baru anda pindah ke luar negeri. Bukankah fotografi adalah hobi anda? Alihkan ke sedihan anda dengan fokus pada pekerjaan anda. Jika anda fokus pada pekerjaan yang anda senangi, maka anda akan melupakan kesedihan anda. Yakinlah! Semua akan indah pada waktunya. Kalaupun belum indah, berarti belum waktunya,"


"Kalau itu aku juga tahu,"


...🌸❤️🌸...


Notebook :


Menurut yourdictionary.com, arti kata naïf digambarkan sebagai orang yang mudah percaya, atau tidak kritis, kurang pengalaman dan pemahaman duniawi, menunjukkan atau ditandai dengan kurangnya pengalaman dan penilaian kritis; sederhana tanpa terpengaruh atau bodoh, kekanak-kanakan, tidak curiga, dan mudah percaya.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2