
Beberapa menit kemudian, Andi pun sampai di rumah Rayyan yang sudah menjadi tempat tinggalnya selama bertahun-tahun.
"Kenapa muka kamu lecek banget kayak pakaian belum di cuci begitu, Ndi?"tanya Aurora yang akan makan malam di luar bersama Rayyan.
"Dia kalah start sama si Randy itu, sayang. Andi kurang gesit dalam urusan cinta. Ketinggian ego dan gengsinya. Mungkin dia memang berniat jadi Jones, Jodi, alias jomblo ngenes, jomblo abadi,"sahut Rayyan, kemudian menatap Andi,"Kalau kerja kamu kendor gara-gara patah hati, gajimu akan aku turunkan. Buat apa di gaji tinggi-tinggi? Nikah juga enggak. Jadi jomblo abadi tidak memerlukan banyak uang,"ujar Rayyan tanpa dosa.
"Tuan tega sekali berkata seperti itu. Jangan siramkan air garam di atas luka saya, Tuan!"keluh Andi yang sedang pusing memikirkan bagaimana caranya nembak Kanaya.
"Aku kesel sama kamu. PDKT gitu aja nggak becus,"ketus Rayyan yang malah sewot.
"Memangnya Tuan pernah PDKT ? Tuan juga tidak pernah PDKT. Sama Dila, Tuan di jebak. Sama nyonya, Tuan main jerat hingga nyonya terpaksa mau sama Tuan. Ups!"Andi langsung menutup mulutnya saat menyadari sudah keceplosan.
"Jangan suka menghina! Nanti kamu ketularan!"ketus Rayyan yang merasa kesal, walaupun apa yang dikatakan oleh Andi memang benar.adanya.
"Sudah! Sudah! Kalian ini malah berdebat. Kalau tidak jadi pergi makan malam, aku mau balik ke kamar,"kesal Aurora.
"Eh, jangan sayang! Ayo, kita pergi! Tinggalkan saja jomblo abadi ini,"ujar Rayyan yang masih sempat-sempatnya meledek Andi.
"Dasar bucin!"ujar Andi yang lagi-lagi menutup mulutnya karena keceplosan.
"Masih mending bucin dari pada Jodi, alias jomblo abadi,"cibir Rayyan merangkul pinggang Aurora berjalan ke luar rumah. Sedangkan Aurora hanya bisa menghela napas panjang mendengar perdebatan dua orang sahabat yang sekaligus atasan dan bawahan itu.
Andi membuang napas kasar berjalan menuju kamarnya,"Bagaimana caranya aku nembak Kanaya? Masa iya, sama seperti Randy tadi? Huff.. Aku harus nembak dia dengan cara yang berbeda,"gumam Andi berusaha berpikir keras bagaimana caranya nembak Kanaya.
*
Hari sudah berganti. Pagi itu lagi-lagi Andi harus menelan pil pahit karena kembali melihat Kanaya berangkat kerja bersama Randy dan terlihat akrab.
"Ndi, kamu bilang, ya, kalau kamu sudah benar-benar patah hati,"ujar Rayyan yang berjalan di sebelah Andi.
"Kenapa Tuan berkata seperti itu?"tanya Andi dengan raut wajah yang terlihat kesal, karena majikannya itu sangat suka meledeknya.
"Biar aku bisa bantuin kamu milih cara untuk mengakhiri hidup. Dan aku akan menyiapkan alat-alatnya,"ujar Rayyan datar tanpa dosa.
"Tuan mendoakan saya patah hati, lalu mati bunuh diri? Tuan tega sekali,"keluh Andi yang semakin terlihat kesal.
__ADS_1
"Aku tidak mendoakan. Tapi ini kenyataan yang cepat atau lambat akan terjadi, jika kamu tetap lemot seperti ini. Sudah jelas-jelas Randy gencar mendekati Kanaya, kamu malah lamban bergerak kayak kura-kura. Apalagi yang akan terjadi, jika bukan akhirnya kamu akan patah hati,"ujar Rayyan yang sangat gemas dan gregetan pada Andi yang menurutnya sangat lambat bergerak untuk mendekati Kanaya.
"Tuan tenang saja! Saya sudah memiliki rencana. Bahkan cadangannya pun sudah saya persiapkan. Jika rencana saya gagal, Tuan tinggal sedikit membantu saya melancarkan rencana cadangan, lalu Tuan akan melihat hasilnya,"ujar Andi dengan senyuman licik di bibirnya.
"Rencana? Aku rasa, rencana cadangan mu itu pasti sangat licik,"ujar Rayyan yang melihat aura dan senyuman licik di bibir Andi.
"Bukankah berjuang dalam cinta itu sah-sah saja?"tanya Andi masih dengan senyuman liciknya.
"Yah, terserah kamu, lah! Jika perlu bantuan ku, katakan saja!"ucap Rayyan membuang napas kasar,"Ndi, kamu pergi dulu sana! Carikan aku mangga muda! Ingat! Aku ingin mangga muda yang langsung dari batangnya! Dan aku tidak mau orang lain yang memetiknya selain kamu. Cepat pergi sana!"titah Rayyan seraya masuk ke dalam lift.
Andi tertegun di depan lift seraya mengernyitkan keningnya menatap Rayyan.
"Tuan, sedang ngidam?"celetuk Andi seraya menahan pintu lift yang hampir tertutup.
"Ngidam?"tanya Rayyan yang malah balik bertanya pada Andi dengan ekspresi wajah yang sulit dijelaskan.
"Kalau tidak ngidam, terus apa? Tuan meminta makanan yang tidak wajar pagi-pagi begini. Apalagi makanan yang Tuan minta itu seperti makanan yang di sukai ibu-ibu yang sedang hamil muda,"ujar Andi menatap wajah Rayyan. Andi baru menyadari jika pagi ini wajah Rayyan terlihat agak pucat.
Semalam Rayyan dari minta jatah seperti biasanya, tapi pagi ini Rayyan tidak berselera untuk sarapan. Karena tidak ada asupan makanan yang masuk ke tubuhnya, otomatis tenaganya belum terlalu pulih. Karena itulah wajah Rayyan terlihat agak pucat.
"Maksud kamu? Aurora sedang mengandung?"tanya Rayyan masih dengan ekspresi wajah yang sulit di jelaskan.
"Kamu pikir aku tukang selingkuh apa?! Aku bukan laki-laki buaya darat, ataupun laki-laki setia, yang di Setiap Tikungan Ada. Aku ini pria yang loyal pada pasangan ku. Monogami, alias hanya memiliki satu pasangan,"sergah Rayyan yang langsung menahan pintu lift karena Andi melepaskan pegangannya pada pintu lift itu untuk menutup mulutnya,"Cepat carikan apa yang aku minta! Kalau tidak, akan aku potong gajimu!"ancam Rayyan terlihat garang.
"Iya..iya..saya pergi,"ujar Andi bergegas pergi,"Ternyata bukan ibu-ibu yang hamil saja yang mengalami mood swing. Tapi, bapak-bapak yang mengalami couvade syndrome juga sama,"gerutu Andi sambil terus berjalan.
Sedangkan Rayyan yang baru saja memencet tombol lift menuju lantai tempatnya bekerja itu nampak terlihat berpikir.
"Mungkinkah apa yang dikatakan oleh Andi benar? Tapi, seingat ku, memang seharusnya minggu ini Aurora datang bulan. Tanggalnya memang tidak bisa dipastikan, kadang maju, kadang mundur. Aku akan memastikan, apakah besok Aurora datang bulan apa tidak,"gumam Rayyan yang sangat berharap jika Aurora kembali mengandung.
*
Andi tiba-tiba tersenyum smirk. Pemuda itu berjalan ke suatu tempat penuh dengan akal bulus di otaknya.
"Kanaya! Ikut aku!"panggil Andi setelah melihat Kanaya. Kali ini, suara pemuda itu tidak terlalu datar seperti biasanya.
__ADS_1
"Iya, Tuan,"sahut Kanaya mengikuti langkah kaki Andi dengan kening yang berkerut,"Mau di ajak kemana aku sama Tuan Andi,"gumam Kanaya dalam hati.
Kanaya mengikuti Andi yang melangkah menuju parkiran. Gadis itu semakin bertanya-tanya mau di ajak kemana dirinya oleh Andi.
"Dia menuju parkiran? Apa dia mau mengajak aku naik motor dan mau modus lagi padaku?"gumam Kanaya dalam hati memicingkan sebelah matanya, menatap punggung Andi yang berjalan di depannya penuh rasa curiga.
"Pakai helm!"ucap Andi seraya menyerahkan helm pada Kanaya.
"Kita mau kemana, Tuan?"tanya Kanaya nampak ragu untuk memakai helm yang di berikan Andi,"Saya trauma naik motor dengan Tuan,"ujar Kanaya nampak enggan di bonceng Andi mengingat Andi banyak modus.
"Bukankah sebagai bawahan, kamu harus menurut apa kata atasan?"tanya Andi yang lebih tepat di sebut sebagai peringatan.
"Iya, saya ikut,"sahut Kanaya menghela napas berat,"Tumben, nggak terlalu datar seperti biasanya. Dan bicaranya juga agak halus dari pada sebelumnya,"gumam Kanaya dalam hati.
Mau tak mau Kanaya pun memakai helm yang di berikan Andi dan naik ke atas motor Andi.
Andi menghela napas panjang,"Kali ini, aku tidak bisa modus lagi. Kalau aku nekat melakukannya lagi, dia benar-benar tidak akan mau aku bonceng lagi,"gumam Andi dalam hati.
Andi melajukan motornya dan kali ini tidak lagi modus seperti sebelumnya. Pria itu menaiki motornya hingga mereka memasuki sebuah perkampungan.
"Sebenarnya mau di ajak kemana, sih?! Kenapa masuk ke perkampungan seperti ini?"gumam Kanaya dalam hati.
"Kamu lihat di sisi kanan dan kiri jalan! Ngomong kalau ada pohon mangga yang ada buahnya!"ujar Andi yang melajukan motornya agak lambat.
"Iya, Tuan,"sahut Kanaya membuang napas kasar,"Astagaa.. Ternyata dia mengajak aku pergi mencari mangga? Sekarang, 'kan, lagi nggak musim mangga..Ya, pasti susahlah cari mangga. Memangnya, siapa yang lagi ngidam? Jangan-jangan.. Pacar Tuan Andi lagi hamil. Karena itu kemarin Tuan Andi jadi galau. Haishh.. Kenapa aku mikirnya kemana-mana, sih!"gumam Kanaya dalam hati seraya mengamati sisi kanan dan kiri jalan.
Cukup lama keduanya berkeliling di perkampungan itu. Dan tahu sendiri, 'kan, bagaimana jalanan di perkampungan? Banyak polisi tidur yang di pasang warga agar pengendara memperlambat kecepatan kendaraannya mengingat banyaknya anak-anak di daerah perkampungan.
Kanaya hanya bisa menghela napas berkali-kali ketika mereka melewati polisi tidur. Gadis itu menyilangkan satu tangannya di depan dadanya agak dadanya tidak membentur punggung Andi saat mereka melewati polisi tidur. Sedangkan sebelah tangannya berpegangan pada motor.
"Huff.. Bahkan dia menyilangkan tangannya di dada agar dadanya tidak membentur punggung ku,"gumam Andi dalam hati tersenyum kecut.
"Tuan, itu ada pohon mangga yang berbuah,"ujar Kanaya saat melihat ada pohon mangga yang berbuah.
...🌸❤️🌸...
__ADS_1
.
To be continued