Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
228. Aneh Sekali


__ADS_3

Dua orang anak buah Andi yang menunggu di pintu utama pun bergegas mengikuti Rayyan, saat melihat Rayyan keluar dari kantor cabang perusahaannya itu.


"Awas, Tuan!"pekik anak buah Andi tiba-tiba mendorong tubuh Rayyan


"Dor"


"Akhh!"pekik Rayyan langsung mencari tempat untuk berlindung sambil memegang lengannya yang terkena tembakan.


Anak buah Andi langsung mengikuti Rayyan ke tempat yang lebih aman. Tempat yang diperkirakan bisa di jadikan tempat untuk berlindung.


"Dor"


"Dor"


"Dor"


Suara tembakan kembali terdengar, tapi beruntung Rayyan dan anak buah Andi tidak terkena tembakan susulan itu.


Anak buah Andi tidak sengaja melihat sinar berwarna hijau di dada sebelah kiri Rayyan. Tepatnya di jantung Rayyan. Sinar yang diperkirakan anak buah Andi adalah bidikan laser dari penembak jitu. Karena itu anak buah Andi segera mendorong tubuh Rayyan. Tapi sayangnya tembakan itu masih mengenai tubuh Rayyan. Yaitu mengenai lengan kiri Rayyan.


Jika saja anak buah Andi tidak mendorong tubuh Rayyan, mungkin peluru itu akan menembus jantung Rayyan. Dan jika peluru itu menembus jantung Rayyan, bisa dipastikan jika Rayyan akan berpindah alam. Mati maksudnya.


Ketika bepergian jauh, Andi memang membawa beberapa orang anak buahnya. Orang-orang yang terlatih bertarung dan menggunakan berbagai macam senjata.


"Shiitt! Lacak di mana penembak jitu itu berada. Jika bisa, tangkap hidup-hidup. Lacak di gedung depan perusahaan ini. Sepertinya penembak jitu itu ada di sana,"titah Rayyan yang terlihat sangat murka.


"Baik, Tuan,"sahut anak buah Andi.


"Kalian cari penembak jitu itu sampai ketemu!Sebagian lagi lindungi Tuan,"ucap anak buah Andi pada rekannya yang lain melalui earphone yang dipakainya.


"Sepertinya mereka benar-benar ingin bermain-main dengan ku,"gumam Rayyan dengan wajah dingin dan kilatan mata yang tajam.


"Tuan, kita akan ke rumah sakit untuk mengobati lengan, Tuan,"ujar anak buah Andi.


"Nanti saja. Ini hanya tergores saja. Aku mau pulang,"tolak Rayyan.


"Tapi, Tuan.."


"Aku mau pulang!"tukas Rayyan memotong kata-kata anak buah Andi, tidak mau di bantah.


Akhirnya anak buah Andi menuruti keinginan Rayyan. Anak buah Andi mengobati luka Rayyan dengan obat-obatan yang selalu mereka siapkan di dalam mobil.


Rayyan bermaksud pulang naik pesawat agar lebih cepat sampai di rumah. Rayyan benar-benar ingin mengetahui keadaan Aurora. Kamar yang di kunci membuat tidak ada seorang pun yang bisa masuk ke dalam kamar. Karena kunci kamar itu menggunakan sidik jari dan password. Tapi entah mengapa tiba-tiba Aurora mengganti password pintu kamar mereka hingga Nala tidak bisa masuk ke dalam kamar untuk melihat keadaan Aurora.


Anak buah Andi yang lain pun melapor pada Andi tentang insiden yang baru saja terjadi. Hingga Andi sempat menghentikan kegiatannya di meeting room selama beberapa menit untuk memberikan pengarahan pada anak buahnya, tentang apa saja yang harus dilakukan anak buahnya.

__ADS_1


Andi juga menghubungi Roni dan menceritakan apa yang terjadi. Agar Roni membantunya sekaligus memperingati Roni agar berhati-hati.


"Kenapa semuanya jadi kacau seperti ini? Tunggu saja! Akan aku habisi kalian semua yang berani mencari gara-gara dengan Tuan Rayyan,"gumam Andi dalam hati dengan wajah yang terlihat dingin.


Di kantor Aiden.


"Tu.. tu.."


"Brak"


"Tuan ada berita buruk Tuan Rayyan lengannya tertembak oleh penembak jitu di perusahaan cabang Tuan Rayyan yang semalam gudangnya terbakar,"ujar Roni cepat setelah Aiden menggebrak meja kerjanya.


"Apa?!"tanya Aiden nampak terkejut.


"Tu . tu.."


"Brakk"


"Tuan Rayyan juga sudah menemukan orang yang ciri-cirinya sama dengan orang yang melenyapkannya papa Tuan Rayyan dan orang itu adalah ayah mertua Tuan Rayyan dan saat ini orang itu dalam keadaan koma dan di rawat di rumah sakit terbesar di kota ini,"ucap Roni setelah Aiden kembali menggebrak meja kerjanya.


"Astagaa.! Cobaan apalagi ini? Kenapa semuanya jadi kacau dan genting seperti ini? Kita harus lebih waspada, Ron!"ujar Aiden seraya membuang napas kasar. Aiden kemudian menghubungi Rayyan untuk mendapatkan info yang lebih jelas.


"Ray, aku dengar kamu tertembak. Bagaimana keadaan kamu?"tanya Aiden setelah Rayyan mengangkat teleponnya. Kekhawatiran nampak jelas di wajah pria rupawan itu.


"Aku baik-baik saja. Hanya terserempet peluru sedikit doang, kok. Kamu harus berhati-hati. Sepertinya mereka bergerak karena kita semakin menekan mereka. Mereka mencoba membakar gudangku, bahkan melakukan percobaan pembunuhan padaku. Kita harus benar-benar berhati-hati,"ujar Rayyan terdengar serius.


"Oke, kamu atur saja agar lebih cepat membuat mereka gulung tikar,"


"Okey. Ray, aku dengar, mertua kamu memiliki ciri-ciri yang sama dengan orang yang telah melenyapkan nyawa papa kamu. Apa benar begitu?"tanya Aiden hati-hati, karena masalah ini sepertinya rumit.


"Hum. Kamu benar,"


"Lalu, bagaimana sikap kamu pada Aurora jika mertua kamu benar-benar orang yang telah melenyapkan papa kamu? Bagaimana hubungan kalian nanti?"


"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan masalah ini. Aku akan mengambil keputusan terbaik untuk menghadapi semua kemungkinan,"


"Ray, aku harap kamu tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Jangan sampai kamu mengambil keputusan yang salah. Keputusan yang akan kamu ambil saat ini sangat berpengaruh, bahkan bisa jadi menentukan masa depan kamu kelak. Apalagi ada anak di antara kamu dan Aurora. Pikirkan anak kalian. Jangan sampai anak kamu menjadi anak broken home,"ujar Aiden menghela napas panjang.


Jika benar mertua Rayyan adalah pembunuh papa Rayyan, Aiden tidak ingin anak Rayyan menjadi korban dalam permasalahan itu. Menjadi anak broken home bukanlah hal yang baik bagi anak-anak.


"Aku, tahu,"sahut Rayyan yang masih berada di dalam mobil menuju bandara.


Rayyan membuang napas kasar setelah Aiden menutup teleponnya. Saat ini Rayyan hanya fokus ingin segera pulang dan mengetahui keadaan Aurora.


Setelah sampai di rumahnya, Rayyan bergegas menuju kamarnya. Rayyan melihat Nala masih berdiri di dekat pintu kamarnya dengan wajah yang terlihat khawatir.

__ADS_1


"Istriku belum keluar juga dari dalam kamar?"tanya Rayyan yang tinggal beberapa meter lagi dari Nala. Wajah pria itu terlihat khawatir.


"Belum, Tuan,"sahut Nala menunduk hormat.


"Sayang! Sayang! Dimana kamu?"panggil Rayyan setelah membuka pintu kamarnya.


Rayyan tidak melihat Aurora di atas ranjang maupun sofa. Bahkan ranjang mereka nampak masih rapi. Rayyan mencari ke dalam kamar mandi, tapi tidak ada. Mencari ke walk-in closet pun juga tidak ada.


"Dimana Aurora? Kenapa tidak ada di kamar?"gumam Rayyan jadi semakin khawatir. Rayyan pun keluar dari kamar itu dan menghampiri Nala yang masih berada di dekat pintu.


"Istriku tidak ada di dalam kamar. Apa sejak pagi kamu sudah ada di sini?"tanya Rayyan pada Nala.


"Iya, Tuan. Saya ke sini pukul tujuh seperti biasanya,"sahut Nala.


"Apa sejak jam tujuh tadi kamu tetap berada di sini?"


"Iya, Tuan. Saya tidak kemana-mana, tetap di sini,"


"Jadi kamu belum memeriksa rekaman cctv?"tanya Rayyan sambil berjalan menuju ruangan cctv.


"Belum, Tuan,"


Setelah tiba di ruangan cctv, Rayyan segera memeriksa rekaman cctv. Dari jam tujuh saat Nala datang terus mundur hingga rekaman saat dirinya keluar meninggalkan Aurora semalam.


"Aneh sekali. Kenapa tidak ada rekaman cctv Aurora keluar dari kamar? Tapi, Aurora tidak ada di kamar,"gumam Rayyan merasa curiga.


Akhirnya Rayyan menghubungi orang yang berjaga di ruangan cctv semalam.


"Halo! Saya ingin tanya, apa semalam kamu tetap memantau cctv, dan apa ada yang aneh dengan kamera cctv kita?"tanya Rayyan melalui sambungan telepon.


"Setelah Tuan keluar semalam, saya sempat pergi ke kamar mandi. Dan satu setengah jam dari Tuan pergi, cctv tiba-tiba mengalami gangguan beberapa menit, tapi setelah itu kembali normal,"sahut penjaga cctv semalam.


Rayyan mengakhiri panggilan dan membuang napas kasar.


"Shiitt! Berarti ada yang meretas cctv di rumah ini,"umpat Rayyan dalam hati. Pikirkan Rayyan menjadi tambah kusut dan khawatir pada Aurora yang menghilang tanpa kabar.


...🌸❤️🌸...


Notebook :


Broken home atau keluarga tidak utuh adalah penggambaran keluarga yang berantakan atau tidak harmonis lagi karena adanya perselisihan, pertengkaran, hingga berakhir pada perceraian.


Broken home lebih berdampak kepada anak-anak, yang kemungkinan menyebabkan anak-anak tersebut memiliki gaya hidup yang kurang baik.


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2