Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
37. Tidak Sinkron


__ADS_3

"Akkhh!" Apa yang kamu lakukan?"pekik Aurora langsung menutup matanya dengan kedua tangannya.


Rayyan tiba-tiba melepaskan handuk yang melilit di pinggangnya. Tubuh polos pria itu terpampang jelas di depan Aurora. Termasuk juga sosis yang satu paket dengan dua telurnya.


"𝙃𝙖𝙞𝙨𝙨..𝙖𝙥𝙖 𝙥𝙧𝙞𝙖 𝙞𝙣𝙞 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙥𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙖𝙡𝙪?"gerutu Aurora dalam hati. Otak menyuruh untuk menutup mata, tapi mata ingin melihat. Ya beginilah akhirnya, jemari tangan menutup mata, tapi direnggangkan. Mengintip dari celah jemari tangan.


Pikiran menolak, tapi tubuh menginginkan. Sungguh otak dan tubuh yang tidak sinkron. Tapi sebenarnya mana yang jujur antara otak dan tubuh? Tentu saja tubuh. Karena tubuh sering bergerak reflek.


"𝘼𝙨𝙩𝙖𝙜𝙖𝙖𝙖... 𝘽𝙚𝙨𝙖𝙧 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙡𝙞!"gumam Aurora saat mengintip ke arah pangkal paha Rayyan. Susah payah wanita itu menelan salivanya sendiri yang seolah menjadi batu yang menyangkut di tenggorokannya.


"Jangan sok malu! Kamu sangat suka melihat tubuhku yang seksi ini, 'kan?"tanya Rayyan narsis.


"Akkh! Aku mohon jangan!"pekik Aurora saat dengan cepat Rayyan menarik celana panjang yang dipakai Aurora, hingga tubuh bagian bawah Aurora terekspos sempurna.


Rayyan langsung menindih tubuh Aurora, hingga Aurora tidak punya kesempatan untuk menutupi tubuh bagian bawahnya. Rayyan menegang kedua tangan Aurora dengan tangan kirinya dan menekannya di atas ranjang, tepatnya di atas kepala Aurora. Mengunci pergerakan Aurora, hingga wanita itu benar-benar tidak bisa berontak. Rayyan mencium bibir Aurora dengan agresif, sedangkan Aurora berusaha agar tidak tergoda. Aurora hanya diam tanpa membalas ciuman Rayyan.


Tanpa melepaskan pagutan bibirnya, tangan Rayyan mulai melepaskan kancing piyama Aurora. Menaikkan penutup dada Aurora hingga kedua bukit kembar milik Aurora menyembul keluar. Aurora tidak dapat mengendalikan tubuhnya yang perlahan ingin disentuh lebih dan lebih oleh Rayyan. Aurora juga tidak dapat mengendalikan mulutnya yang perlahan mengeluarkan suara ******* karena cumbuan Rayyan.


Malam itu Rayyan kembali menyatukan tubuh mereka tanpa bisa Aurora menolaknya. Rayyan benar-benar membuat tubuh Aurora gelisah dan menginginkan Rayyan.


Rayyan mengakhirinya penyatuan mereka setelah melihat Aurora kelelahan. Bahkan tak lama setelah Rayyan turun dari tubuh Aurora, wanita itu sudah terlelap.


"Tidak sinkron. Mulutnya bilang tidak mau, tapi tubuhnya bereaksi berbeda. Tubuhnya selalu menginginkan tubuhku,"gumam Rayyan. Pria itu tersenyum melihat Aurora yang sudah terlelap.


Rayyan menatap tubuh Aurora yang masih polos tanpa sehelai benang pun yang menempel di tubuh wanita itu. Rayyan meneguk salivanya susah payah saat melihat dua bukit kembar milik Aurora. Tangan pria itu terulur untuk menyentuh dan membelainya.


"Ahh.."desah Aurora dengan mata yang tetap terpejam, saat Rayyan membelai kedua bukit kembarnya.

__ADS_1


"Aku masih menginginkannya, tapi dia sudah tidak berdaya,"gumam Rayyan dengan wajah tidak berdaya. Pria itu menutup tubuh Aurora dan tubuhnya sendiri dengan selimut, menahan diri untuk tidak kembali menyerang Aurora. Walaupun tubuhnya masih sangat menginginkan Aurora.


"Sepertinya aku harus melatihnya untuk berolahraga agar tubuhnya kuat untuk melayani aku hingga puas,"gumam Rayyan kemudian merebahkan tubuhnya di samping Aurora. Memejamkan matanya menyusul Aurora ke dunia mimpi.


***


Pagi harinya.


"Jangan menatap aku seperti itu! Kamu juga menikmatinya saat aku menyentuh kamu tadi. Bahkan suaramu sangat berisik saat kita bercinta tadi. Tapi aku suka. Sayangnya aku harus ke kantor. Jika tidak, aku akan membuatmu lemas seperti semalam,"ujar Rayyan setelah mendapatkan pelepasan. Pasalnya Aurora menatapnya dengan tajam.


"Dasar mesum!"umpat Aurora, tapi Rayyan malah tersenyum sembari mengedipkan sebelah matanya dengan genit.


Saat terbangun tadi, Rayyan kembali menggerayangi tubuh Aurora. Hingga akhirnya pagi itu mereka kembali bercinta.


Setelah semalam belum puas karena Aurora sudah kelelahan dan tertidur, Rayyan mengambil kesempatan mengulang penyatuan mereka pagi ini. Pria itu beranjak dari atas tubuh Aurora, melilitkan handuk di pinggangnya kemudian berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri.


Beberapa menit kemudian Rayyan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Dengan santainya pria itu berjalan menuju walk-in closet. Dada bidang, perut rata berotot dan rambut yang masih agak basah membuat Rayyan begitu maskulin dan menggoda di mata Aurora. Dari atas ranjang,wanita itu menatap tubuh Rayyan tanpa berkedip hingga Rayyan masuk ke dalam walk-in closet. Wanita itu nampak susah payah menelan salivanya sendiri.


Rayyan yang mengetahui Aurora menatap nya tanpa berkedip pun menipiskan bibirnya. Pria itu memang sengaja menunjukkan tubuhnya pada Aurora, karena Rayyan yakin, Aurora mengagumi bentuk tubuhnya.


"Dasar! Sok-sokan malu. Padahal juga ingin melihat tubuhku yang seksi ini,"gumam Rayyan terdengar narsistik.


"Kenapa iblis itu bisa memiliki tubuh seindah itu? Sialan! Otakku jadi kotor semenjak bersama dia. Satu tahun aku menemani Sumi melayani pelanggan, tapi otakku tidak pernah traveling dan se-mesum ini,"gumam Aurora setelah Rayyan masuk ke dalam walk-in closet.


Tak lama kemudian, Rayyan pun keluar dari walk-in closet dengan pakaian kantor yang sudah rapi. Pria itu berjalan mendekati Aurora yang berbaring miring dengan tatapan kosong. Wanita itu nampak sedang melamun.


"Mulai hari ini, Nala akan melatih kamu untuk berolahraga."ucap Rayyan membuat lamunan Aurora buyar.

__ADS_1


"Olahraga? Aku tidak mau!"tolak Aurora langsung menatap Rayyan.


Rayyan duduk di tepi ranjang menatap Aurora, kemudian memegang dagu Aurora,"Kamu sudah K,O duluan sebelum aku puas. Tubuhmu terlalu lemah. Jadi, mulai hari ini kamu harus berolahraga untuk melatih fisikmu agar bisa melayani aku sampai puas,"ujar Rayyan menarik salah satu sudut bibirnya, menciptakan senyuman miring.


"Aku tidak mau! Aku bukan budak ranjang mu! Dalam surat perjanjian kita, tidak ada kontak fisik di antara kita. Kamu melanggar perjanjian kita!"sergah Aurora.


"Surat perjanjian?"tanya Rayyan kemudian membuka laci nakas di samping ranjang dan mengambil sebuah map yang berisi surat perjanjiannya dengan Aurora.


"Yang ini, 'kan maksud kamu?"tanya Rayyan menunjukkan surat perjanjian yang ditandatangani Aurora sekitar dua minggu yang lalu.


"Iya. Apa kamu lupa, atau pura-pura lupa dengan point tambahan yang aku tuliskan?"ketus Aurora.


"Tak"


Rayyan menjentikkan jarinya.


"Tempatnya, aku akan melupakan bahwa pernah ada perjanjian di antara kita. Mulai saat ini, kamu adalah istriku seutuhnya,"ucap Rayyan tersenyum penuh arti.


"Apa maksud kamu?"tanya Aurora memicingkan sebelah matanya,"Aku tidak mau menjadi istrimu selamanya,"ketus Aurora.


"Sreek! Sreek! Sreek!


"Apa yang kamu lakukan?"pekik Aurora saat melihat Rayyan merobek-robek kertas perjanjian itu. Aurora berusaha bangkit dari tempatnya berbaring seraya menutupi tubuhnya yang masih polos dengan selimut. Berusaha meraih kertas yang dipegang Rayyan. Tapi Rayyan menghindar.


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2