
Aurora mendongak menatap Rayyan yang berbaring miring memeluk tubuhnya. Mata pria itu terpejam. Wajah tampannya terlihat damai saat tidur. Sungguh, Aurora sangat terkejut saat Rayyan tadi mengatakan mencintai dirinya. Rasanya jantungnya berhenti berdetak. Aurora tidak menyangka jika pria datar, dingin dan kaku itu mencintai dirinya.
Namun Aurora bersikap seolah biasa saja saat Rayyan mengatakan mencintai dirinya. Bahkan sengaja mengalihkan pembicaraan saat Rayyan bertanya apakah dirinya mencintai Rayyan. Aurora tidak tahu, apakah dirinya mencintai Rayyan atau tidak. Namun yang pasti, Aurora merasa sangat bahagia saat Rayyan meluangkan waktu untuk dirinya. Apalagi saat pria itu bersikap lembut dan sering tersenyum pada dirinya.
"๐ผ๐ ๐ช ๐ฉ๐๐๐๐ ๐ก๐๐๐ ๐ข๐๐ข๐๐๐ฃ๐๐ ๐๐๐. ๐ผ๐ฅ๐๐ ๐๐ ๐๐ ๐ช ๐๐ช๐๐ ๐จ๐ช๐๐๐ ๐ข๐๐ฃ๐๐๐ฃ๐ฉ๐๐ ๐๐๐?"gumam Aurora dalam hati. Mengagumi wajah tampan pria yang saat ini sedang memeluk tubuhnya.
Hari sudah beranjak malam, Andi sudah membeli beberapa macam lauk yang di jual di lapangan desa. Karena setiap malam banyak orang yang berjualan di pinggir lapangan. Semua orang membantu Bu Ella menyiapkan makanan. Bahkan Rayyan pun ikut membantu mereka. Dan hal itu sukses membuat Aurora terkejut.
"๐ผ๐ ๐ช ๐ฉ๐๐๐๐ ๐ข๐๐ฃ๐๐ช๐๐, ๐ค๐ง๐๐ฃ๐ ๐ฎ๐๐ฃ๐ ๐๐๐๐จ๐ ๐๐๐ก๐๐ฎ๐๐ฃ๐ ๐จ๐๐ฅ๐๐ง๐ฉ๐ ๐๐๐ ๐ข๐๐ช ๐ข๐๐ข๐๐๐ฃ๐ฉ๐ช ๐ ๐๐ข๐ ๐ข๐๐ฃ๐ฎ๐๐๐ฅ๐ ๐๐ฃ ๐ข๐๐ ๐๐ฃ๐๐ฃ. ๐ผ๐ฅ๐ ๐๐๐ ๐ข๐๐ง๐๐จ๐ ๐ฉ๐๐๐๐ ๐๐ฃ๐๐ ๐๐๐ฉ๐ ๐ ๐๐ง๐๐ฃ๐ ๐จ๐๐ข๐ช๐ ๐ค๐ง๐๐ฃ๐ ๐๐ ๐ช๐ฉ ๐ข๐๐ข๐๐๐ฃ๐ฉ๐ช?"gumam Aurora dalam hati.
Malam ini, mereka akan makan malam lesehan bersama. Hal itu karena meja makan yang ada di rumah itu tidak akan cukup untuk menampung semua orang yang ada saat ini.
"Kalian jadi pulang subuh nanti?"tanya Bu Ella di sela-sela kegiatan mereka menyusun beberapa hidangan.
"Iya, Bu,"sahut Rayyan.
"Sayang sekali. Kalau kalian pulang besok subuh, kalian nggak bisa ketemu bapak. Soalnya bapak tadi menelpon, bapak nggak bisa pulang malam ini. Karena sore tadi baru dapat bibit coklat nya. Dan pas mau pulang, tiba-tiba temen bapak sakit. Jadi terpaksa mereka menginap dulu di sana. Nggak enak, 'kan, kalau ninggalin temen yang lagi sakit di perantauan. Jadi, bapak bakal pulang kalau temennya sudah baikan,"ujar Bu Ella sesuai dengan apa yang dikatakan oleh suaminya sewaktu menelpon tadi.
"Maaf, Bu! Saya benar-benar tidak bisa menunggu bapak pulang,"sahut Rayyan yang pekerjaannya memang menumpuk.
"Nggak apa-apa. Kamu nyari uang buat membahagiakan anak ibu juga, 'kan? Bapak yang malah nggak enak hati pada kalian. Kalian sudah jauh-jauh kesini dan Rayyan sudah meluangkan waktu ditengah-tengah kesibukan nya. Tapi malah nggak bisa ketemu sama bapak,"sahut Bu Ella menghela napas panjang.
"Ini, salah saya, Bu. Saya tidak memberitahu kedatangan kami terlebih dahulu. Karena sebenarnya saya ingin membuat kejutan untuk Aurora,"sahut Rayyan jujur adanya.
"Ya sudah, tidak apa-apa. Lain kali pasti ketemu sama bapak. Ayo, kita makan dulu! Semuanya sudah siap,"ajak Bu Ella.
"๐๐๐ข๐๐ฃ๐๐ฃ๐ฎ๐, ๐๐๐ฎ๐ฎ๐๐ฃ ๐๐ค๐ฎ๐๐ฃ ๐ข๐๐ ๐๐ฃ ๐ข๐๐ ๐๐ฃ๐๐ฃ ๐ ๐๐ข๐ฅ๐ช๐ฃ๐ ๐จ๐๐ฅ๐๐ง๐ฉ๐ ๐๐ฃ๐? ๐ผ๐ฅ๐๐ก๐๐๐ ๐๐๐ง๐ช๐จ ๐ข๐๐ ๐๐ฃ ๐ก๐๐จ๐๐๐๐ฃ ๐จ๐๐ฅ๐๐ง๐ฉ๐ ๐๐ฃ๐,"gumam Aurora dalam hati. Melirik suaminya sekilas.
Mereka pun makan bersama. Sebenarnya Aurora takut jika Rayyan tidak akan suka dengan makanan kampung yang di beli Andi, mengingat makanan yang sering di sajikan Mastuti di rumah. Namun, nyatanya pria tampan itu terlihat menikmati makanan yang tersaji. Bahkan tidak enggan makan lesehan bersama dengan Andi dan orang-orang yang mengikuti mereka pulang ke kampung Aurora.
Jujur, Aurora kagum pada suaminya itu. Teryata, semakin sering bersama Rayyan, semakin banyak hal baik pada diri Rayyan yang Aurora ketahui. Hal yang sebelumnya tidak pernah di ketahui oleh Aurora.
Tak lama kemudian, mereka pun selesai makan malam bersama. Orang-orang yang di bawa Rayyan membantu Bu Ella membereskan meja makan dan mencuci peralatan makan.Orang-orang yang di bawa Rayyan terlihat terbiasa mengerjakan semuanya. Karena mereka adalah orang-orang yang di rekrut Rayyan dari panti asuhan tempat Rayyan biasa memberikan donasi.
"Ray, aku masih rindu pada kedua orang tuaku. Apa boleh aku tinggal beberapa hari di sini?"tanya Aurora saat mereka duduk di ruang keluarga bersama Bu Ella.
"๐ผ๐ฅ๐ ๐๐๐ ๐จ๐๐ฃ๐๐๐๐ ๐ข๐๐ข๐๐ฃ๐ฉ๐ ๐๐๐๐ฃ ๐๐ ๐๐๐ฅ๐๐ฃ ๐๐๐ช๐ฃ๐ฎ๐ ๐๐๐๐ง ๐๐ ๐ช ๐ฉ๐๐๐๐ ๐๐๐จ๐ ๐ข๐๐ฃ๐ค๐ก๐๐ ๐ฅ๐๐ง๐ข๐๐ฃ๐ฉ๐๐๐ฃ๐ฃ๐ฎ๐?"gumam Rayyan dalam hati. Karena tadi sudah jelas-jelas Rayyan mengatakan bahwa mereka akan pulang besok subuh.
__ADS_1
"Berapa hari?"tanya Rayyan seraya menghela napas panjang.
"Satu Minggu,"sahut Aurora dengan senyuman lebar.
"๐ผ๐ฅ๐? ๐๐๐ฉ๐ช ๐ข๐๐ฃ๐๐๐ช? ๐ฝ๐๐ง๐๐ฃ๐-๐๐๐ง๐๐ฃ๐๐ฃ๐ฎ๐ ๐๐๐ ๐ข๐๐ฃ๐๐๐ข๐๐๐ก ๐ ๐๐จ๐๐ข๐ฅ๐๐ฉ๐๐ฃ,"gerutu Rayyan dalam hati.
"Kita ada acara keluarga tiga hari lagi. Jadi, kamu hanya bisa tinggal di sini selama dua hari saja,"sahut Rayyan.
"๐ผ๐๐๐ง๐ ๐ ๐๐ก๐ช๐๐ง๐๐? ๐ผ๐๐๐ง๐ ๐ ๐๐ก๐ช๐๐ง๐๐ ๐๐ฅ๐๐๐ฃ? ๐๐๐ง๐๐จ๐๐๐ฃ ๐๐๐ฎ๐ฎ๐๐ฃ ๐ฉ๐๐๐๐ ๐ฅ๐๐ง๐ฃ๐๐ ๐ข๐๐ข๐๐๐๐๐ง๐๐ ๐๐ฃ ๐ฉ๐๐ฃ๐ฉ๐๐ฃ๐ ๐๐๐๐ง๐ ๐ ๐๐ก๐ช๐๐ง๐๐. ๐๐๐๐๐๐ฃ, ๐ ๐๐ฎ๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐ฃ ๐ ๐๐ก๐ช๐๐ง๐๐๐ฃ๐ฎ๐ ๐๐๐ง๐ข๐ค๐ฃ๐๐จ ๐จ๐๐๐. ๐๐๐ง๐๐ ๐ ๐ฉ๐๐ฃ๐๐๐๐ก ๐๐ ๐ง๐ช๐ข๐๐ ๐ฎ๐๐ฃ๐ ๐จ๐๐ข๐, ๐ฉ๐๐ฅ๐ ๐จ๐๐ฅ๐๐ง๐ฉ๐ ๐ค๐ง๐๐ฃ๐ ๐๐จ๐๐ฃ๐ ๐๐๐ฃ ๐ก๐๐๐๐ ๐๐๐ฃ๐ฎ๐๐ ๐๐๐ง๐๐๐๐๐ฉ ๐จ๐๐ฅ๐๐ง๐ฉ๐ ๐ข๐ช๐จ๐ช๐ ๐๐๐ง๐ ๐ฅ๐๐๐ ๐จ๐๐ฅ๐๐ง๐ฉ๐ ๐จ๐๐ช๐๐๐ง๐,"gerutu Aurora dalam hati.
"Dua hari juga tidak apa-apa, Ra. Lain kali, kamu, 'kan bisa pulang lagi. Lagian, kamu sudah punya suami, tidak baik jika meninggalkan suami kamu terlalu lama,"ujar Bu Ella yang melihat Aurora terlihat tidak senang saat Rayyan hanya mengijinkan Aurora tinggal selama dua hari saja.
Mendengar penuturan Bu Ella, Rayyan pun mengulum senyum, sedangkan Aurora terlihat tidak senang.
"Bu, apa ada tempat untuk orang-orang saya tidur?"tanya Rayyan.
"Ada satu kamar yang kosong. Kamarnya untuk yang perempuan saja, ya?! Yang lainnya nggak apa-apa, 'kan, kalau tidur beralaskan kasur lantai dan karpet bulu di luar. kamar?"tanya Bu Ella.
"Nggak apa-apa, Bu,"sahut Rayyan.
"Saya baru pulang dari rumah Pak RT, Tuan. Takut di grebek atau di usir warga, kalau nggak laporan sama RT,"sahut Andi yang memang pergi ke rumah RT setempat setelah mereka selesai makan malam bersama tadi.
"Ah, iya, ibu sampai lupa dengan hal itu. Syukurlah kalau kalian sudah melapor pada Pak RT,"sahut Bu Ella,"Ibu akan menyiapkan tempat tidur kalian,"ujar Bu Ella.
"Biar saya bantu, Bu,"sahut Nala dengan wajah datarnya.
"Iya,"sahut Bu Ella penuh senyuman.
"Tuan, besok kita harus berangkat pukul lima pagi. Jika tidak berangkat pukul lima pagi, kita akan terlambat dalam rapat pemegang saham besok. Apalagi schedule Tuan besok sangat padat. Karena pekerjaan yang harus Tuan lakukan dari tadi siang harus Tuan selesaikan besok,"ujar Andi mengingatkan.
"Iya,.aku tahu.. Sudah, pergi sana! Bantu yang lain menyiapkan tempat tidur kalian!"titah Rayyan menghela napas panjang.
"Baik, Tuan,"sahut Andi.
Sedangkan Bu Ella yang sedang berdiri tidak jauh dari tempat itu untuk mengarahkan orang-orang Rayyan mengambil kasur lantai dan bantal dari sebuah lemari besar pun mendengar pembicaraan Rayyan dan Andi.
"Kamu mau kemana?"tanya Rayyan seraya memegangi tangan Aurora yang beranjak dari duduknya.
__ADS_1
"Mau membantu ibu,"sahut Aurora membuang napas kasar, masih merasa kesal karena Rayyan hanya mengijinkan dirinya tinggal di rumah orang tuanya selama dua hari.
"Sudah banyak yang membantu ibu,"ucap Rayyan langsung menggendong Aurora.
"Ray!"pekik Aurora karena terkejut dengan aksi Rayyan.
Bu Ella tersenyum tipis melihat anak dan menantunya itu.
"Aku harus menghukum kamu karena berani meminta ijin padaku di depan ibu, sehingga aku tidak bisa menolak permintaan kamu,"bisik Rayyan di telinga Aurora seraya membawa Aurora ke kamar Aurora.
"๐ ๐๐ฃ๐๐๐ฃ ๐๐๐ก๐๐ฃ๐ ๐๐๐ ๐ข๐๐ข๐๐ฃ๐ฉ๐๐ ๐ช ๐ช๐ฃ๐ฉ๐ช๐ ๐ข๐๐ก๐๐ฎ๐๐ฃ๐ ๐๐๐ ๐ก๐๐๐,"gumam Aurora dalam hati, menatap Rayyan yang sedang menggendong dirinya dengan tatapan curiga.
"Kenapa menatap aku seperti itu? Baru sadar jika suami kamu ini tampan?"tanya Rayyan bernada narsistik.
"GR. Narsis!"sahut Aurora memalingkan wajahnya dari Rayyan. Namun Rayyan malah terkekeh, membuat Aurora kembali menatap Rayyan.
"Kenapa? Masih penasaran dan belum puas melihat wajahku?"tanya Rayyan tersenyum smirk. Membuka pintu kamar Aurora, lalu kembali menutupnya.
"Aku pikir, kamu tidak bisa tersenyum apalagi tertawa, karena wajah mu datar seperti papan setrikaan dan dingin kayak es balok,"sahut Aurora seraya memicingkan sebelah matanya.
"Ohh.. begitu, ya?"sahut Rayyan tersenyum miring.
"Brugh"
"Rayy!"
...๐"Jangan menilai sesuatu dari cover nya, karena isinya belum tentu bagus atau jelek seperti covernya. Nilai lah dari isinya."๐...
..."Nana 17 Oktober"...
...๐ธโค๏ธ๐ธ...
โขJangan lupa sajennya, ya! Like dan komen. Gratis! ๐๐๐๐๐
.
To be continued
__ADS_1