
Seperti biasanya, setiap pagi, Nala sudah berada di depan pintu kamar Aurora. Menunggu Aurora keluar dari kamarnya untuk melakukan aktivitas seperti biasanya. Setelah Rayyan berangkat bekerja, biasanya Aurora akan berangkat ke toko kue miliknya.
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi, tapi Aurora tidak kunjung keluar juga dari dalam kamarnya.
"Tumben sekali jam segini nyonya belum keluar dari dalam kamarnya. Bik Mastuti juga belum kesini untuk mengantarkan sarapan untuk nyonya. Tadi Tuan Andi mengirimkan pesan padaku jika Tuan Andi dan Tuan Rayyan ada kerjaan mendadak ke luar kota. Apa karena tidak ada Tuan, makanya nyonya bangun siang?"gumam Nala dalam hati.
Nala masih setia berdiri diam di dekat pintu kamar majikannya. Menunggu Aurora keluar dari kamarnya. Setelah setengah jam menunggu, Nala jadi agak khawatir. Pasalnya sudah pukul setengah sembilan, tapi Aurora belum keluar juga dari kamarnya dan Bik Mastuti juga belum datang juga mengantarkan makanan untuk Aurora.
Hingga saat waktu sudah menunjukkan pukul delapan lewat empat puluh lima menit, Nala pun bertanya pada salah seorang pelayan yang dilihatnya sedang bersih-bersih.
"Apakah kamu melihat, Bik Mastuti?"tanya Nala yang sudah penasaran karena Mastuti yang biasanya mengantarkan sarapan untuk Aurora belum muncul juga sedari pagi.
"Tidak, non. Sedari pagi, saya tidak melihat Bik Mastuti,"sahut pelayan itu yang sebenarnya juga agak merasa aneh karena sedari pagi tidak melihat Mastuti di dapur. Padahal biasanya wanita paruh baya itu selalu memasak sarapan pagi untuk majikan mereka.
Nala yang penasaran pun berinisiatif untuk menghubungi Mastuti. Tapi saat menghubungi nomor Mastuti, nomor Mastuti malah tidak aktif. Nala terus mencoba menghubungi Mastuti, namun sudah berkali-kali dihubungi, nomor telepon wanita paruh baya itu tetap saja tidak aktif.
"Kemana, Bik Mastuti? Kenapa nomor telepon Bik Mastuti tidak aktif?"gumam Nala dalam hati yang merasa agak aneh dengan Mastuti yang tidak datang mengantarkan sarapan untuk Aurora dan nomor teleponnya juga tidak aktif.
"Tolong kamu cari Bik Mastuti, ya! Seharusnya Bik Mastuti sudah membuatkan sarapan untuk nyonya,"ujar Nala pada seorang pelayan yang baru saja lewat.
"Baik, non,"sahut pelayan itu bergegas mencari Mastuti.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya pelayan tadi kembali menemui Nala.
"Non, saya tidak menemukan Bik Mastuti. Padahal saya sudah bertanya pada semua pelayan di rumah ini, bahkan pada tukang kebun dan supir. Tapi tidak ada yang melihat Bik Mastuti. Saya juga mencari Bik Mastuti di kamarnya, tapi Bik Mastuti juga tidak ada,"jelas pelayan itu.
Nala mengernyitkan keningnya mendengar laporan dari pelayan itu. Merasa ada yang aneh dengan Mastuti. Karena tidak biasanya Mastuti tidak berada di dalam rumah itu, apalagi sampai nomor handphonenya tidak aktif.
"Aneh sekali. Apa aku telepon nyonya saja, ya? Sudah siang seperti ini nyonya belum keluar dan belum sarapan,"gumam Nala dalam hati yang juga mengkhawatirkan Aurora.
__ADS_1
Nala mencoba menghubungi Aurora, tapi sudah berulang kali menghubungi nomor Aurora, nomor telepon majikannya itu juga tidak aktif, sama seperti no telepon Mastuti. Nala juga mengetuk pintu kamar Aurora, tapi juga tidak ada respon dari dalam kamar itu.
"Aku tidak tahu, apakah ini cuma perasaan ku atau memang ada yang tidak beres. Tapi aku jadi merasa khawatir dan gusar. Karena sudah jam segini Bik Mastuti dan nyonya tidak kelihatan juga. Bahkan nomor telepon mereka tidak aktif. Pintu kamar nyonya. juga di kunci. Diketuk pun tidak ada respon dari dalam. Sebaiknya aku menghubungi Tuan Andi. Aku merasa tidak tenang jika terus-menerus seperti ini,"gumam Nala dalam hati.
Dengan wajah yang terlihat gusar, Nala pun menghubungi Andi. Sedangkan Andi nampak mengernyitkan keningnya saat melihat panggilan masuk dari Nala. Pemuda itu pun bergegas keluar dari meeting room untuk menerima panggilan masuk dari Nala itu.
"Kenapa Nala menghubungi aku? Aku harap nyonya baik-baik saja,"gumam Andi yang menjadi gusar.
"Ada apa?"tanya Andi yang terlihat gusar karena yang menghubungi dirinya adalah Nala, orang yang ditugaskan untuk menjaga Aurora. Dan Nala tidak akan menghubungi dirinya jika tidak ada hal yang penting. Karena itulah Andi menjadi gusar.
"Tuan, dari pagi nyonya Aurora belum keluar dari dalam kamar. Dan sampai jam segini pun Bik Mastuti belum mengantarkan sarapan untuk nyonya. Saya sudah menyuruh pelayan untuk mencari Bik Mastuti, tapi tidak ketemu. Bahkan tidak ada seorang pun di rumah yang melihat Bik Mastuti. Saya juga sudah menghubungi nyonya dan Bik Mastuti berulang kali, tapi nomor mereka tidak aktif. Bahkan saya juga sudah mengetuk pintu kamar nyonya, tapi tetap tidak ada respon dari dalam kamar nyonya"ujar Nala panjang lebar.
"Shiitt! Ada apalagi ini? Kamu tunggu di situ. Aku akan memberitahu Tuan tentang hal ini,"
"Baik, Tuan,"sahut Nala dan Andi pun mengakhiri panggilan itu.
"Aneh sekali. Aku harus segera melaporkan hal ini pada Tuan,"gumam Andi dalam hati.
Andi jadi merasa khawatir dan gusar setelah menerima laporan dari Nala. Apalagi saat dirinya menghubungi Aurora dan Mastuti, dan nomor keduanya tidak aktif juga.
Andi bergegas kembali masuk ke dalam meeting room dan menghampiri Rayyan. Andi membungkuk, lalu berbisik pada Rayyan.
"Tuan, bisa kita keluar sebentar? Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan soal, nyonya,"
Mendengar bisikan Andi, Rayyan pun langsung menoleh pada Andi. Rayyan melihat wajah Andi yang terlihat serius. Rayyan pun akhirnya keluar dari meeting room itu bersama Andi.
"Ada apa?"tanya Rayyan to the point.
"Tuan, sampai sekarang nyonya belum keluar dari dalam kamar. Bik Mastuti juga belum mengantarkan sarapan. Para pelayan sudah mencari Bik Mastuti, tapi tidak menemukan Bik Mastuti di rumah. Bahkan tidak ada seorang pun yang melihat Bik Mastuti sedari pagi. Nala dan saya juga sudah menghubungi nomor Bik Mastuti dan nyonya, tapi nomor mereka tidak aktif,"lapor Andi sesuai dengan laporan Nala.
__ADS_1
"Shiitt! Ada apalagi ini?"umpat Rayyan.
Rayyan segera mengambil handphonenya dari saku celananya dan langsung menghubungi Aurora dan Mastuti. Dan benar kata Andi, sudah berulangkali Rayyan menghubungi Aurora dan Mastuti, tapi nomor keduanya tetap tidak aktif.
Akhirnya Rayyan menghubungi Nala agar Nala membuka pintu kamarnya menggunakan password. Namun sayangnya Nala tidak bisa membuka pintu kamar Rayyan dengan password yang diberikan oleh Rayyan. Dan hal itu semakin membuat Rayyan menjadi khawatir.
"Kamu selesaikan urusan di sini. Aku akan pulang,"titah Rayyan pada Andi.
"Baik, Tuan,"sahut Andi.
Rayyan keluar dari kantor itu dan bergegas pergi menuju parkiran sambil terus berusaha menghubungi nomor Aurora. Hati Rayyan benar-benar merasa tidak tenang. Masalah kali ini benar-benar datang bertubi-tubi.
Belum selesai masalah mertuanya yang kemungkinan besar adalah orang yang membunuh papanya, malah gudang yang ada di perusahaan cabang miliknya di bakar orang. Belum juga selesai penyelidikan tentang siapa dalang dari pembakaran gudangnya. Sekarang malah Aurora belum juga keluar dari dalam kamar dan tidak dapat dihubungi. Belum lagi Mastuti yang entah menghilang kemana.
Saat ini pikiran Rayyan benar-benar menjadi kalut dan kusut. Ada tiga masalah yang harus di selidikinya. Masalah Pak Hamdan, gudang yang terbakar, dan masalah Mastuti yang menghilang. Dan sepertinya ketiga masalah ini juga tidak mudah.
Dua orang anak buah Andi yang menunggu di pintu utama perusahaan itu pun bergegas mengikuti Rayyan, saat melihat Rayyan keluar dari kantor cabang perusahaannya itu.
"Awas, Tuan!"
"Dor"
"Akhh!"
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
__ADS_1