Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
311.Penasaran


__ADS_3

Andi masih diam di tempat persembunyiannya. Melihat pengurus villa pergi, kemudian wanita yang di ajak bicara pengurus villa itu nampak berjalan ke arah dapur. Andi mengamati sekelilingnya. Tidak lama kemudian muncul pelayan yang tadi siang di tabrak Andi. Pelayan itu nampak membawa teko air minum dan berjalan ke arah dapur villa.


"Apa pelayan itu yang namanya Kanaya? Gadis yang akan di jebak oleh pengurus villa? Dari tatapan, suara dan gesture tubuhnya saat bicara dengan pengurus villa tadi siang, aku merasa gadis itu tidak menyukai pengurus villa,"gumam Andi dalam hati.


Andi mengendap-endap ke arah dapur villa. Pemuda itu melihat pengurus villa yang juga bersembunyi tidak jauh dari area dapur. Andi mencari tempat yang pas untuk mengintip, sekaligus mendengarkan percakapan orang yang ada di dalam dapur villa itu.


"Eh, Aya!"sapa wanita yang tadi berbicara dengan pengurus villa.


"Kenapa kamu sendirian di dapur?"tanya gadis yang ternyata namanya adalah Kanaya itu seraya berjalan ke arah dispenser untuk mengisi teko air yang dibawanya dari kamar tadi.


"Nih, lagi makan roti,"ujar wanita itu seraya menunjukkan roti yang sedang dimakannya.


"Wehh.. Enaknya,"ujar Kanaya.


"Nih, kalau kamu mau. Sekalian minumannya, nih,"ujar wanita itu menyodorkan roti dan minuman yang belum dibukanya pada Kanaya. Kanaya pun menghampiri temannya itu.


"Boleh-boleh. Maya,"ucap Kanaya tersenyum lebar menerima roti dan minuman dari rekan sesama pelayan nya itu.


"Maya? Namaku bukan Maya. Apa kamu sudah lupa dengan namaku?"tanya wanita itu.


"Maksudnya Maya itu, makasih, ya,"jelas Kanaya masih dengan senyuman di bibirnya.


"Bisa aja kamu,"sahut wanita itu terkekeh kecil.


Wanita itu terlihat lega karena Kanaya mau menerima pemberiannya. Dan sepertinya Kanaya tidak curiga sama sekali.


"Lain kali, kalau ada lagi, bagi-bagi lagi, boleh, dong!"canda Kanaya.


"Tenang saja. Tapi kalau dapat gratisan seperti ini lagi, ya! Soalnya kalau beli sendiri, kantongku auto bolong, nih,"ujar wanita itu kemudian terkekeh.


"Memangnya, siapa yang memberimu roti dan minuman ini?"tanya Kanaya.


"Waduh! Kenapa aku bilang seperti tadi, sih? Aku harus bilang apa sekarang? Nggak mungkin, 'kan, aku bilang kalau yang ngasih roti dan minuman itu adalah pengurus villa? Kalau aku bilang seperti itu, itu sama saja dengan membongkar rahasia. Kanaya akan langsung curiga jika aku bilang yang memberikan makanan dan minuman ini adalah pengurus villa. Karena sudah terkenal di villa ini, jika pengurus villa ini sangat pelit,"gumam wanita itu dalam hati karena keceplosan tentang roti dan minuman yang di dapatkannya dari pengurus villa.


"Bisa bantu saya?"suara seorang pria dengan nada datar, yang tidak lain adalah suara Andi itu terdengar saat wanita itu sedang kebingungan mencari jawaban atas pertanyaan Kanaya.

__ADS_1


Wanita itu dan Kanaya pun langsung menoleh ke arah pintu dimana Andi berada.


"Tentu saja boleh, Tuan,"sahut wanita itu cepat.


"Dia, adalah pria yang menabrak aku tadi siang,"gumam Kanaya dalam hati.


"Syukurlah. Orang ini datang di waktu yang tepat. Yaitu di saat aku kebingungan mencari jawaban untuk pertanyaan Kanaya,"gumam wanita itu dalam hati yang merasa terselamatkan dengan kedatangan Andi.


Wanita itu segera bangkit dari duduknya untuk menghampiri Andi dengan senyuman manis yang terukir di bibirnya.


"Bukan kamu! Tapi dia!"ujar Andi menunjuk pada Kanaya, membuat wanita itu menghentikan langkahnya.


"Oh, begitu, ya. Saya pikir saya yang Tuan panggil,"ujar wanita itu tersenyum kecut.


"Aku? Ada apa pria ini meminta bantuan dariku? Dan bantuan apa yang dia inginkan dariku?"gumam Kanaya dalam hati.


"Ikut saya!"ucap Andi masih dengan suara datarnya.


Tanpa menunggu jawaban dari Kanaya, Andi langsung membalikkan tubuhnya berjalan meninggalkan tempat itu.


"Iya,"sahut wanita itu.


Wanita itu menghela napas panjang melihat Kanaya keluar dari dapur villa itu meninggalkan dirinya sendirian.


"Eh, kalau Kanaya pergi bersama pria itu, lalu bagaimana dengan minuman tadi? Kanaya akan meminum minuman itu apa tidak, ya? Dan jika Kanaya meminumnya.. Bukankan kah dia sedang bersama pria itu? Dan sebenarnya bantuan apa yang diinginkan oleh pria itu? Ah.. Sudahlah! Aku pusing memikirkannya. Yang penting tugasku dari pengurus villa sudah selesai. Sebaiknya sekarang aku tidur saja,"gumam pelayan wanita itu kemudian meninggalkan dapur itu.


Di sisi lain, pengurus villa yang sedari tadi mengawasi dapur di tempat persembunyiannya pun mengernyitkan keningnya saat melihat Andi masuk ke dapur. Apalagi saat Andi keluar dari dalam dapur itu diikuti oleh Kanaya yang membawa roti dan minuman yang sudah diberinya obat tadi.


"Kenapa pria itu ke dapur villa dan kenapa Kanaya mengikuti pria itu keluar?"gumam pemuda itu, kemudian mengikuti Andi dan Kanaya dari kejauhan.


Andi yang mengetahui dirinya diikuti pun tersenyum miring,"Semoga saja, aku tidak salah mengambil tindakan,"gumam Andi dalam hati.


"Mau minta bantuan apa orang ini? Kemana dia akan membawa aku? Tapi, ngomong- ngomong, pria ini lebih tampan dan lebih gagah dari pengurus villa itu. Orangnya juga terlihat tegas dan berwibawa. Astaga.. Apa yang aku pikirkan?"gumam Kanaya dalam hati, namun gadis itu terus mengekor di belakang Andi.


"Kemana pria itu akan membawa Kanaya? Apa dia ingin membeli Kanaya untuk melayani dia malam ini?"gumam pengurus villa penasaran. Mengira Kanaya akan dijadikan Andi sebagai teman untuk menghabiskan malam.

__ADS_1


Andi membawa Kanaya ke tempat yang lumayan lapang, hingga pengurus villa tidak bisa terlalu dekat dengan Andi dan Kanaya. Karena pemuda itu harus mencari tempat untuk bersembunyi.


Dari tempatnya sekarang berada, pengurus villa itu memang masih dapat melihat Andi dan Kanaya dengan jelas, tapi tidak bisa mendengarkan pembicaraan Andi dan Kanaya karena jaraknya yang lumayan jauh dari Andi dan Kanaya.


Andi berhenti di tengah tempat lapang itu dan memasukkan kedua tangannya di dalam saku celananya. Pemuda itu menengadah menatap bulan yang bersinar terang dan bintang yang bertaburan menghiasi langit malam. Udara dingin alami tanpa AC dan tanpa polusi. Suasana yang tidak pernah di jumpai Andi jika berada di kota.


Kanaya yang berada di belakang Andi pun mengernyitkan keningnya menatap punggung lebar Andi.


"Kenapa pria ini mengajak aku ke sini? Apa sebenarnya yang diinginkan pria ini?"gumam Kanaya dalam hati.


"Sudah berapa lama kamu bekerja di villa ini?"tanya Andi memecah keheningan malam.


"Hampir satu bulan, Tuan,"sahut Kanaya yang semakin tidak mengerti dengan maksud Andi membawanya ke tempat itu.


"Apa kamu betah bekerja di sini?"tanya Andi lagi yang membuat Kanaya semakin mengernyitkan keningnya.


"Sebenarnya tidak, Tuan. Tapi, saya sangat membutuhkan uang. Dari sekian banyak lamaran kerja yang saya ajukan di beberapa tempat, hanya di tempat inilah yang menerima saya,"jelas Kanaya jujur adanya.


Andi menghela napas panjang mendengar jawaban Kanaya. Pemuda itu kemudian membalikkan tubuhnya menghadap Kanaya dan menatap Kanaya.


Walaupun tidak terlalu jelas, Kanaya bisa melihat wajah tampan dan tatapan tajam Andi di bawah sinar rembulan yang terang. Wajah yang menurut Kanaya tampan dan juga tegas, serta penuh wibawa.


"Aku ingin bertanya sesuatu yang sedikit pribadi. Mau menjawab atau tidak, itu adalah hak kamu. Tapi, jawaban kamu akan mempengaruhi apa yang akan aku lakukan nanti,"ujar Andi semakin membuat Kanaya tidak mengerti.


"Silahkan anda bertanya?"ujar Kanaya terlihat tidak sabar.


Kanaya benar-benar tidak bisa menebak, apa yang sesungguhnya ingin ditanyakan oleh Andi. Dan mengapa Andi mengajaknya ke tempat itu. Semua masih menjadi teka-teki bagi Kanaya.


Sedangkan pengurus villa yang sedari tadi mengintip pun merasa kesal karena tidak bisa mendengar pembicaraan Andi dan Kanaya.


"Apa yang sebenarnya mereka lakukan di sana?"gumam pemuda itu lirih dengan mata yang terus menatap ke arah Andi dan Kanaya.


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2