
Di sebuah desa dengan hamparan sawah yang sudah menguning keemasan, matahari sudah hampir tenggelam. Sepasang suami istri nampak mengendarai motor matic dengan laju pelan, melewati jalan yang di kanan kirinya dipenuhi hamparan sawah yang beberapa hari lagi siap untuk di panen.
"Untung saja padi kita tidak terlalu banyak yang roboh karena hujan semalam, ya, Pak. Kalau pada roboh, 'kan susah buat memanennya,"ujar sang wanita yang berusia sekitar lima puluh tahun yang saat ini sedang duduk di boncengan motor. Wanita berhidung mancung dan bibirnya bervolume, rambut lurus yang separuh nya sudah memutih. Namun masih terlihat cantik walaupun kulit wajahnya sudah banyak kerutan.
"Iya, Bu. Padi kita tidak terlalu gemuk, jadi tidak banyak yang roboh, Bu. Karena kalau terlalu gemuk, malah mudah roboh. Apalagi kalau hujannya lebat bercampur angin kuat. Pasti pada roboh semua,"sahut sang pria dengan wajah yang masih terlihat tampan di usia yang menginjak lima puluh lima tahun. Mata sayu, rambut keriting dan ada tanda lahir berwarna merah diantara jari jempol dan telunjuknya.
"Satu minggu lagi, padinya sudah bisa di panen, 'kan, Pak?"tanya sang istri.
"Iya, bu. Seminggu lagi kita bakalan panen besar,"sahut sang suami,"Ngomong-ngomong, bapak sangat bersyukur, Bu. Semenjak Aurora pulang membelikan kita sawah, dan kebun, kita tidak kekurangan apa-apa lagi. Aurora bahkan melunasi hutang-hutang kita di juragan Wirjawan,"
Ya, sepasang suami istri itu adalah orang tua Aurora. Yang mendadak kaya setelah Aurora pulang beberapa bulan yang lalu. Semua hutang-hutang mereka lunas dan sekarang bisa memiliki sawah dan kebun. Bahkan rumah mereka yang dulunya reot sudah selesai direnovasi. Rumah yang tidak terlalu besar, tapi terlihat nyaman dan lebih bagus dari pada rumah para warga yang ada di sekitar kampung itu.
"Tapi, pak, apa benar, Aurora mendapatkan semua uang untuk membayar hutang, membeli sawah dan kebun adalah uang dari judi online? Sejak kapan Aurora suka judi online?"tanya ibu Aurora yang bernama Bu Ella.
Bu Ella merasa masih ragu dengan cerita putrinya yang katanya mendapatkan uang dari menang judi online. Aurora tidak mungkin, 'kan, mengatakan jika dirinya menjadi kupu-kupu malam gadungan? Lalu bekerja sebagai apa yang dapat mengumpulkan uang yang banyak dalam waktu singkat? Nuyul? Mana mungkin Aurora mengatakan bahwa dirinya bekerja sebagai kupu-kupu malam gadungan atau mengatakan dirinya punya tuyul. Karena itu, Aurora akhirnya memilih mengatakan mendapatkan uang dari judi online. Karena alasan itu cukup masuk akal bagi Aurora. Ingat, bagi Aurora. Bukan bagi kita.
Memang ada orang yang kerjaannya berjudi itu kaya. Tapi hanya beberapa saja. Orang yang suka berjudi kebanyakan terlilit hutang, ataupun jika hari ini menang besok kalah. Lebih banyak kalahnya dari pada menang nya. Namun, tetap saja bikin kecanduan, karena pernah menang dan menjadi penasaran ingin menang lagi.
"Bapak juga tidak tahu, Bu. Semoga saja benar. Memang, sih, judi online itu kalau beruntung bisa dapat banyak uang. Tapi kalau buntung ya, bisa bikin miskin dan terlilit hutang. Bapak harap, Aurora tidak kecanduan judi online. Bahaya, Bu,"ujar ayah Aurora yang bernama Hamdan.
"Aurora sudah dewasa, Pak. Apa tidak kita nikahkan saja, pak?"tanya Bu Ella yang tangannya melingkar di pinggang Pak Hamdan. Masih terlihat mesra walaupun usia sudah tidak lagi muda.
__ADS_1
"Aurora dulu, 'kan, suka sama nak Bima yang jadi tentara itu, Bu. Yang dari kampung sebelah. Tapi ibu tahu sendiri, 'kan, keluarga nak Bima itu orang yang kaya raya. Mereka tidak suka nak Bima berhubungan dengan Aurora,"ujar Pak Hamdan.
"Iya, ya, pak..Padahal nak Bima itu anaknya baik banget, ya, Pak. Sayang sekali, orang tua mereka tidak setuju nak Bima menjalin hubungan dengan Aurora. Ibu lihat, nak Bima sepertinya suka banget sama Aurora,"sahut Bu Ella.
"Ya, gimana mereka mau punya menantu seperti putri kita, Bu? Aurora hanya anak orang susah seperti kita. Apalagi hanya lulusan SMA. Otak Aurora juga cuma pas-pasan. Bapak dengar, nak Bima sudah ditunangkan dengan anak seorang tentara juga, Bu,"sahut Pak Hamdan masih melajukan motornya pelan, mengingat jalan di persawahan itu banyak digenangi air setelah semalam hujan lumayan lebat.
"Sayang sekali, ya, Pak,"sahut Bu Ella terdengar kecewa.
"Ya, gimana, Bu. Kita kemarin orang miskin yang banyak hutang. Kita tidak mampu untuk menguliahkan Aurora. Aurora bahkan sempat akan di nikahi juragan Wirjawan karena sudah lama kita tidak bisa membayar hutang-hutang kita. Bapak merasa menjadi bapak yang tidak berguna, Bu,"sahut Pak Hamdan terdengar sedih.
"Jangan menyalahkan diri sendiri, Pak. Bapak, 'kan, sudah berusaha keras untuk membahagiakan ibu dan Aurora. Bapak sampai jadi pekerja harian di sawah juragan Wirjawan untuk mencukupi kebutuhan hidup kita sehari-hari. Malamnya, bapak masih membuat jaring ikan pesanan orang. Bapak sudah bekerja keras untuk kami. Jadi, jangan pernah merasa bersalah pada kami,"sahut Bu Ella menenangkan.
"Seandainya dulu kita tetap tinggal di kota. Mungkin Aurora bisa kuliah Bu,"sahut Pak Hamdan dengan nada yang terdengar kecewa.
"Iya.. iya.. Bapak tidak akan membahasnya lagi,"sahut Pak Hamdan menghela napas panjang.
"Kita pindah ke sini, menggunakan tabungan kita untuk membuka toko sembako, eh, malah habis terbakar. Membuat kita tidak memiliki mata pencaharian dan harus menggantikan barang-barang dagangan orang yang di titipkan ke toko kita. Sejak itu, hidup kita jadi susah. Hingga akhirnya terpaksa berhutang pada juragan Wirjawan. Dia meminjamkan uang berapapun yang kita mau, eh, ternyata ingin menjadikan Aurora sebagai istri muda. Padahal istrinya saja sudah banyak. Tapi masih kurang saja. Apa nggak ingat umur? Umurnya saja seumuran sama bapak. Ehhh... malah pengen menikahi Aurora yang baru lulus SMA. Amit-amit, deh,"ujar Bu Ella bergidik ngeri.
"Yang penting, sekarang kita sudah nggak punya hutang lagi sama juragan Wirjawan, Bu. Aurora bisa menikah dengan pria yang dia suka. Tidak perlu menjadi istri muda bandot tua itu,"sahut Pak Hamdan.
"Iya, Pak,"sahut Bu Ella.
__ADS_1
***
Natalie nampak baru saja memarkirkan mobilnya di halaman rumah Rayyan. Wanita itu berjalan menuju pintu utama.
"Mau apa kamu kemari?"tanya Andi menatap Natalie sinis.Menghadang Natalie di depan pintu.
"Aku ke sini di undang Tante Naima. Minggir! Jangan menghalangi jalanku!"sergah Natalie, menatap Andi tidak suka.
"Nyonya Naima tidak diijinkan bertemu dengan orang luar. Apa kamu pikir, kamu keluarga majikan ku?"ketus Andi seraya melipat kedua tangannya di depan dada.
"Lalu, kamu pikir, kamu itu siapa? Kamu itu hanya kacung. Tidak usah sok-sokan berlagak seperti majikan!"sergah Natalie mulai emosi.
"Ini adalah tugas ku. Aku tidak akan membiarkan kamu masuk untuk menemui Nyonya Naima. Kamu itu hanya akan meracuni otak Nyonya Naima. Aku peringatkan padamu! Jika kamu masih berbuat ulah untuk menganggu Nyonya Aurora, aku tidak akan segan-segan memberikan kamu pelajaran! Jangan sangka, aku tidak tahu konspirasi kamu dengan Tuan Hendrik dan nyonya Naima kemarin. Apa kamu pikir dengan mendekati Nyonya Naima, kamu bisa mendapatkan Tuan Rayyan? Mimpi! Kamu pikir, kamu bisa menyingkirkan Nyonya Aurora dari sisi Tuan Rayyan, lalu bisa mendekati dan memiliki, Tuan Rayyan? Itu tidak akan pernah terjadi! Apa kamu pikir, aku tidak tahu? Waktu itu kamu juga berkonspirasi dengan Nyonya Naima untuk menjebak Tuan Rayyan. Kalian memberikan obat perangsang dosis tinggi di minuman yang sengaja kalian berikan pada Tuan Rayyan dengan menyogok seorang pelayan. Apa kamu pikir aku tidak tahu? Kamu beruntung karena aku tidak membalas kamu. Sekarang, pergi dari sini! Jika tidak, aku akan menyuruh security untuk menyeret kamu keluar dari rumah ini!"ancam Andi.
"Kau.."geram Natalie yang tidak menyangka jika Andi mengetahui semua yang telah dilakukannya.
"Apa?! Dasar ulat bulu kegatelan! Pergi sekarang juga dari sini!"bentak Andi yang memang tidak suka pada Natalie.
"Kamu mengusir dia?"
...🌸❤️🌸...
__ADS_1
.
To be continued