Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
180. Narsis


__ADS_3

Rayyan menghela napas panjang memijit pelipisnya sendiri karena merasa pusing menghadapi kakaknya yang sukanya bikin masalah itu.


"Lalu, sekarang apa rencana kakak?"


"Tentu saja menikahi Miti, Ray. Dia, 'kan, sudah setuju mau menikah dengan aku,"ujar Hendrik penuh senyuman.


"Dia bukan setuju. Tapi terpaksa. Kakak mengancam akan menghamili adiknya, 'kan, jika Sumi tidak mau menikah dengan kakak?"


"Aku hanya menakut-nakuti dia saja, Ray. Aku tidak akan menikah dengan orang yang tidak aku sukai,"kilah Hendrik.


"Menurut kakak, jika mama tahu siapa Sumi yang sebelumnya, apa mama akan setuju kakak menikahi Sumi?"


"Mama setuju atau tidak, aku akan tetap menikahi Miti,"sahut Hendrik kukuh pada pendiriannya.


"Kakak benar-benar serius pada Sumi?"


"Kalau aku tidak serius. Untuk apa aku ingin menikahi dia? Aku tidak akan mati-matian berubah jika bukan karena dia. Apakah yang aku lakukan selama satu bulan ini tidak bisa membuktikan kesungguhan ku untuk berubah?"tanya Hendrik terlihat emosional karena merasa Rayyan belum percaya pada dirinya.


"Okey! Okey! Anggap saja aku percaya. Tapi, apa kakak tahu apa alasan Sumi tidak menyukai kakak?"


"Karena aku mencium dia dengan paksa. Karena sebelumnya dia bersikap biasa saja padaku. Dia mau mempertimbangkan aku. untuk menjadi suaminya. Tapi setelah aku mencium dia secara paksa, dia jadi bersikap ketus padaku dan terang-terangan menolak aku. Mengatakan kalau dia tidak akan lagi mempertimbangkan untuk menikah dengan aku,"


"Kakak salah. Bukan itu alasannya,"


"Eh, bukan itu? Kamu tahu apa alasannya?"


"Tentu saja aku tahu. Alasan Sumi adalah karena kakak sudah menunjukan rasa cemburu dan posesif kakak sebelum kalian memiliki hubungan khusus,"


Hendrik menghela napas panjang mendengar perkataan Rayyan. Hendrik baru tahu alasan apa yang membuat Sumi menolaknya.


"Jadi, karena itu?"tanya Hendrik menghela napas berat.


"Iya. Sebenarnya, siapa yang membuat kakak merasa cemburu?"tanya Rayyan yang sangat penasaran dengan sosok orang yang bisa membuat kakaknya menjadi cemburu.


"Asisten sialan kamu itu. Si Andi!"ketus Hendrik yang menjadi kesal setiap kali mengingat Sumi memuji Andi.


"What?! Kakak cemburu pada Andi? Apa yang membuat kakak cemburu pada Andi?"tanya Rayyan yang merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.


"Miti sangat kagum pada Andi. Dia bilang, Andi itu pria yang tegas, bijaksana dan bertanggung jawab. Tubuhnya kekar dan proporsional. Walaupun wajah dan kata-katanya sadis, tapi semua yang dikatakan Andi itu demi kebaikan. Aku merasa tidak terima dibandingkan dengan asisten sialan kamu itu,"sahut Hendrik dengan wajah yang terlihat kesal. Mengingat bagaimana ekspresi Sumi saat memuji Andi.


"Kakak kalah dengan Andi di mata Sumi? Seorang Casanova kalah dengan seorang jomblo? Memalukan sekali!. Ha.. ha..ha..ha.. "Rayyan malah tergelak mendengar pengakuan Hendrik.


"Jangan menertawakan aku!"ketus Hendrik bersungut-sungut.

__ADS_1


"Makanya, jangan terlalu posesif!"


"Cih! Apa kamu tidak berkaca? Lihatlah dirimu sendiri! Apa kamu pikir kamu tidak posesif? Kamu bahkan mengawasi Aurora selama satu kali dua puluh empat jam,"cibir Hendrik.


"Aku bukan posesif. Aku hanya tidak ingin terjadi apa-apa pada Aurora. Dia pernah diculik oleh Mami dan di jual Mami. Aku tidak ingin kejadian itu terulang lagi,"sahut Rayyan terdengar datar.


"What?! Di culik Mami? Wanita pemilik klub malam xx yang klub malamnya rata dengan tanah, ditangkap polisi dengan pasal berlapis yang akhirnya di hukum mati itu?"


"Hum,"


"Jangan-jangan, kamu yang membuat klub malam itu rata dengan tanah dan memasukkan pemiliknya ke dalam penjara?"


"Tentu saja. Aku tidak suka jika ada orang yang berani menyinggung ku. Apalagi dia sudah sangat berani menculik istri ku untuk di jual,"ujar Rayyan dengan suara dingin, sorot mata tajam dan berkilat penuh kebencian. Hendrik yang melihat adiknya seperti itu pun bergidik negeri.


"Untung saja waktu itu rencana ku, mama dan Natalie tidak berhasil. Jika berhasil, aku pasti akan di cincang oleh Rayyan,"gumam Hendrik dalam hati.


"Jika tidak ada lagi yang ingin kamu bicarakan, aku akan kembali ke kantor ku. Kamu tolong bantu aku untuk membujuk mama agar mau merestui aku dengan Miti,"ujar Hendrik seraya beranjak dari duduknya.


"Akan aku usahakan,"sahut Rayyan.


Setelah Hendrik meninggalkan ruangannya, Rayyan pun memanggil Andi.


"Ada apa, Tuan?"tanya Andi.


"Iya, Tuan. Tapi, kenapa tidak Tuan sendiri yang bicara dengan nona Sumi?"


"Kamu, 'kan, orang yang bijaksana. Jadi, lebih baik kamu saja yang bicara dengan Sumi,"


"Tumben, Tuan mengakui kalau saya bijaksana,"ujar Andi seraya merapikan jas dan dasinya dengan membusungkan dada, terlihat bangga pada dirinya sendiri.


"Bukan aku yang bilang begitu. Tapi orang lain. Dia bilang, kamu itu pria yang tegas, bijaksana dan bertanggung jawab. Dia juga memuji tubuhmu kekar, dan proporsional. Walaupun katanya wajah dan kata-kata mu sadis, tapi semua yang kamu katakan itu demi kebaikan,"jelas Rayyan sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Hendrik.


"Apa yang dikatakan orang itu semuanya adalah benar Tuan. Saya adalah orang yang tegas, bijaksana, bertanggung jawab, bertubuh kekar proporsional dan kata-kata saya selalu demi kebaikan,"sahut Andi bangga. Kata-kata Rayyan itu otomatis membuat Andi menjadi narsis.


"Cih! Narsis!"


"Saya tidak narsis, Tuan. Saya memang memiliki banyak kelebihan,"sahut Andi bangga.


"Iya. Kamu memang memiliki banyak kelebihan. Termasuk kelebihan bicara yang membuat mu selalu dipecat dimana pun kamu bekerja,"cibir Rayyan.


"Aiihh.. Tuan jangan membuka aib saya, dong!"keluh Andi.


"Kenyataan itu memang pahit. Tapi, mau tak mau harus kamu telan,"

__ADS_1


"Haiss.. Tuan sungguh tidak seru. Kenapa Tuan mengembalikan kata-kata saya?"protes Andi.


"Karena kata-kata itu tidak hanya berlaku bagiku, tapi juga bagi kamu,"sahut Rayyan enteng.


"Ngomong-ngomong, siapa yang begitu pintar menilai saya seperti itu Tuan?"tanya Andi antusias.


"Sumi,"


"Ohhh.. nona Sumi,"sahut Andi terlihat biasa saja.


"Ahh.. iya. Seharusnya yang dihukum dalam masalah ini bukan aku, tapi kamu!"


"Lah, kok, jadi saya, Tuan? Yang memberi ide pada Tuan Hendrik itu, 'kan, Tuan. Bukan saya,"protes Andi.


"Memang yang memberi ide itu adalah aku. Tapi, awal mula tindak pelecehan ini karena kamu. Dan itu terjadi sebelum aku memberikan ide itu pada kakakku,"


"Apa hubungannya dengan saya?"


"Hubungannya adalah, kakakku mencium Sumi secara paksa karena cemburu padamu,"


"Kenapa cemburu pada saya? Saya tidak memiliki hubungan apapun dengan nona Sumi selain atas perintah, Tuan,"


"Karena Sumi memuji kamu di depan kakakku. Jadi, kakakku cemburu dan mencium Sumi secara paksa,"


"Tetap saja Tuan tidak bisa menyalahkan saya. Saya tidak tahu jika nona Sumi memuji saya, apalagi meminta nona Sumi untuk memuji saya,"


"Ck, kamu memang pintar ngomong,"decak Rayyan yang selalu kalah berdebat dengan Andi.


"Tapi, Tuan.. masalah Tuan Hendrik ini, bagaimana jika nyonya Naima tidak setuju?"


"Biarkan aku yang mengurus hal itu. Nanti, aku akan bicara pada mama. Kamu urus saja Sumi,"


"Baik, Tuan,"sahut Andi yang bergegas mengerjakan perintah majikannya.


...🌸❤️🌸...


Notebook :


•Dalam ilmu psikologi, narsis adalah suatu keadaan ketika seseorang merasa terlalu kagum dengan dirinya sendiri. Narsis tidak selamanya dipandang buruk, ada beberapa perilaku narsis yang justru berdampak baik bagi pelakunya.


Namun, jika perilaku narsis ini sudah menjadi kebiasaan dan berlebihan, bisa jadi merupakan tanda gangguan kepribadian narsisistik.


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2