
Pendekar Naga Sakti terjajarr tiga tombak ke belakang, kakinya sedikit terbenam ke dalam tanah, menahan hempasan tenaga benturan pertemuan kedua tenaga pukulan mereka.
Sedangkan Kepala Besi terlempar hingga menabrak pagar teras bangunan rumah besar di samping tempat mereka bertarung.
Brak....!
"Aaakh.....!"
Kepala Besi berusaha bangun dengan sempoyongan, namun ia terjatuh berlutut, darah mengucur dari mulutnya, tampak bagian dada bajunya berubah seperti sudah terkena api.
Melihat Kepala Besi jatuh berlutut, Iblis Tangan Kematian melesat ke arahnya, dan lansung menolong Kepala Besi berdiri.
"Bagaimana luka mu Ki? tampaknya cukup parah!"
tanya Iblis Tangan Kematian, sambil memapah Kepala Besi, Iblis Tangan Kematian pun memanggil beberapa orang Anggota nya untuk membantu Kepala Besi, dan si Tangan Besi.
Iblis Tangan Kematian juga memerintahkan anak buahnya untuk mengubur mayat si Tapak Besi, anak buah Iblis Tangan Kematian lansung menguburkan mayat si Tapak Besi di belakang bangunan rumah besar di pinggir pagar.
Sementara itu di arena pertarungan, salah seorang
anggota Partai Lembah Kematian, seorang tokoh Hitam yang bergelar Setan Rambut Putih, yang bernama Galak Sati, ia adalah Putra tertua Iblis Kematian Rambut Putih, namun ia lain ibu dengan Merak Sati. Namun selama ini Galak Sati tidak ikut dalam perjalanan Iblis Kematian Rambut Putih ke setiap perguruan dan Partai lain, karna ia sedang bertapa di goa kematian yang terdapat di Lembah Kematian ini.
"Heh....! Pendekar Naga Sakti, giliran ku melawannya!" tatang Galak Sati, sambil menunjuk ke arah Anggala.
Pendekar Naga Sakti merasa di tantang seperti itu , baru saja ia memutar tubuh hendak melompat, Simbar Buana telah melesat ke atas panggung itu, dan berdiri sekitar dua tombak di depan Galak Sati.
"Anggala, Kau istirahat dulu, biar dia jadi bagian ku!" kata Pendekar Cambuk Sakti, sambil tertawa kecil menghadap ke arah Anggala dan membelakangi Galak Sati.
Di anggap remeh seperti itu tentu saja membuat Galak Sati tersinggung, ia membentak ke arah Simbar Buana dengan cukup keras.
"Bangsat.!! Apa Kau tidak melihatku? Atau Kau sudah bosan hidup,hah.!!!"
"He he he....! Maaf aku lupa jika ada orang di atas panggung ini, ku kira hanya seorang Kakek jompo!!" sahut Simbar Buana, malah terkekeh sambil menghadap kembali ke depan Galak Sati, tangan kirinya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Heaa...!"
__ADS_1
Galak Sati mengeram marah dan lansung melompat menyerang Pendekar Cambuk Sakti itu, dengan sigap nya Simbar Buana menapaki serangan Galak Sati itu.
Plak...!
Tendangan Galak Sati di tepis Simbar Buana dengan tepukan telapak tangan ke arah telapak kakinya, tentu saja itu malah membuat Galak Sati tambah marah, ia lansung menyusul kan tendangan beruntun ke arah Simbar Buana.
"Hup...!"
Dengan begitu cepat Pendekar Cambuk Sakti itu berjumpalitan di udara, menghindari serangan kaki Galak Sati itu, Galak Sati yang di kuasai emosi terus mencerca dengan serangan cakar dan tendangan bertubi tubi, namun setiap serangan Galak Sati itu dapat di tahan dan di hindari dengan mudah.
Simbar Buana tertawa kecil sambil menapaki serangan Galak Sati yang begitu gencar ke arah nya, tingkah Simbar Buana berhasil membuat Galak Sati hilang kendali, sehingga serangannya tidak beraturan lagi, begitu ada celah Simbar Buana memberi kan serangan balik yang begitu cepat, sehingga dalam beberapa jurus Galak Sati kewalahan menghadapi nya.
Simbar Buana menyerang Galak Sati begitu beraturan, tendangan dan tinju nya susul menyusul, sehingga Galak Sati hampir tidak bisa mengimbangi kecepatan serangan Simbar Buana itu.
Wut....!
Sut...!
Buak....! Dik.....!
Sebuah pukulan tinju Simbar Buana tidak sempat di hindari Galak Sati.
Buak...!
"Aaakh...!"
Galak Sati melenguh tertahan ia terdorong ke belakang, belum sempat ia menyeimbangkan tubuhnya sebuah tendangan Simbar Buana menyusul lagi, sehingga.
Duak...!
"Aaakh....!"
Kedua kalinya mulut Galak Sati melenguh kesakitan, namun kali ini di iringi dengan semburan darah segar yang keluar dari mulutnya, dan tubuh nya terlempar menabrak pagar panggung itu.
Brak....!!!
__ADS_1
Galak Sati jatuh bergulingan di tanah, Melihat sang putra jatuh hampir saja Iblis Kematian Rambut Putih melompat ke arahnya, namun di tahan oleh Merak Sati.
Galak Sati melompat bangun sambil memegang dada, ia lansung berusaha mengobati luka dalam yang ia derita dengan mengalirkan hawa murni ke dadanya.
Sedangkan Simbar Buana malah berjongkok di atas panggung itu, sambil bersiul siul kecil, seperti menunggu sesuatu.
Setelah selesai mengobati luka dalamnya, Galak Sati lansung meningkat kan tenaga dalamnya, dan merapat 'Jurus Tapak Kematian'.
"Tapak Kematian ya, akan Ku coba hadapi dengan Jurus Tapak Dewa'. !" guman Simbar Buana, sambil meningkatkan tenaga dalamnya.
"Heaaa......!"
Galak Sati melesat bagai kilat ke atas panggung kayu itu, dan lansung menyerang ke arah Simbar Buana dengan kedua telapak tangan terbuka.
Tap.....!"
Boom......!
Keduanya sama sama terjajarr ke belakang, akibat benturan tenaga dalam mereka itu.
Galak Sati lansung melompat lagi menyusul kan serangan ke arah Simbar Buana, serangan Jurus Tapak Kematian nya saling susul menyusul namun selalu di tapaki oleh jurus Tapak Dewa milik Pendekar Cambuk Sakti itu.
"Heaa....!"
Blaaar......!
Ledakan besar terjadi, papan lantai panggung itu berterbangan ke udara dan kembali jatuh ke galang nya, Simbar Buana terjajar sekitar dua tombak ia berhasil menahan laju tubuhnya di pagar panggung itu dengan telapak kaki nya.
Sementara itu Galak Sati lagi lagi terlempar,namun kali ini ia tidak mengalami luka dalam parah, ia cepat menjejak tanah, walau ia sempat terdorong jauh ke belakang panggung.
Sret...!
Galak Sati menghunus pedang besar berkelok tujuh dari balik punggungnya, pedang itu berbentuk seperti ular sedang berjalan, mata pedang itu berwarna hitam, pertanda pedang itu mengandung racun mematikan, pedang itu bernama Pedang Sanca Kematian.
Jangan lupa Favorit dan like komentar ya, terimakasih.
__ADS_1