
Anggala cukup terkejut melihat sungai itu begitu dalam, bagai sebuah sungai tanpa dasar. Pendekar Naga Sakti yang memiliki kesaktian dari kakek Pertapa Naganya, baginya menyelam bukanlah hal yang berat. Ia bisa menyelam bagai seekor ikan, bernapas bagaikan di daratan.
Pengerahan ilmu kedikjayaan yang tinggi membuat Pendekar Naga Sakti mendengar sepelan apa pun suara yang ada di sekitarnya. Anggala menoleh ke belakang, terlihat Sarsih berenang ke arahnya.
"Sarsih..," bisik Anggala dalam hati. PendekarNaga Sakti itu pun segera berenang ke arah gadis itu dengan cepat. Wajah Sarsih yang mulai memerah karena terlalu lama menahan napas. Segera Anggala melihat ke arah mana ada celah. Setelah menggunakan ilmu 'Mata Malaikat'. nya Pendekar Naga Sakti bisa melihat ada sebuah goa yang tidak jauh dari mereka. Anggala segera menarik Sarsih dengan cepat ke arah goa itu.
Anggala tanpa pikir panjang lagi, dengan cepat menerobos goa yang berada di kedalaman sungai itu. Pendekar Naga Sakti langsung berusaha menembus air itu.
"Ah," Sarsih menarik nafas dalam-dalam, begitu kepalanya ke luar dari air. Terlihat gadis itu bernapas agak tersengal. Wajah Sarsih masih memerah karena terlalu lama menahan napas. Sedangkan Pendekar Naga Sakti terlihat tidak mengalami suatu apa pun.
"Kita di mana, Kak Anggala?" tanya Sarsih sambil mengatur napasnya, suaranya masih agak tersendat karena belum sepenuhnya bisa mengatur napas.
"Entahlah, ini seperti sebuah bangunan," jawab Anggala setengah berbisik sambil memandang ke sekeliling tempat itu.
"Hmmm...," Anggala hanya bergumam, begitu menyadari mereka di kelilingi dinding batu berwarna hitam. Belum sempat mereka berdua berpikir panjang, terdengar suara orang bercakap-caka. Pendekar Naga Sakti segera menarik Sarsih ke balik sebuah batu. Di air yang membentuk sebuah danau kecil di dalam gua itu.
Sarsih jadi terkejut di tengah ia sedang mengatur napas, ia sudah di tarik ke balik batu besar itu. Tidak lama kemudian muncul dua orang dari ujung sebuah lorong kecil di dalam gua itu. Kedua orang itu Pendekar Naga Sakti mengenalinya, yang muda adalah Raden Sembung Merah. Sedangkan orang tua yang menyusul di belaka ng adalah eyang Wira Cendana. Di belakang mereka berjalan dua orang lagi yang juga di kenali Anggala, mereka adalah senopati Kerajaan Pasemah Agung ini.
"Raden Sembung Merah....," desis Anggala dalam hati Pendekar Naga Sakti mengenali semua orang yang ada di dalam gua itu. Ke empat orang itu berjalan menyeberangi danau itu hanya menggunakan seutas tali tambang. Pertanda mereka mempunysi ilmu peringan tubuh yang cukup tinggi. Sehingga tidak butuh waktu lama mereka sudah berada di seberang danau kecil dalam gua itu.
Baik Anggala maupun Sarsih terlihat tertegun melihat dinding gua di sebelah sana, tiba-tiba terbelah dan menggeser. Ke empat orang itu itu memasuki dinding yang membuka bagai sebuah pintu itu. Setelah ke empat orang itu masuk, dinding gua itu kembali menggeser dan menutup. Anggala segera melompat ke luar dari air di susul Sarsih, yang sudah bisa mengatur napasnya.
"Seperti dugaanku, mereka adalah biang dari semua ini," dengus Sarsih.
Ayo, Sarsih," ajak Anggala.
__ADS_1
"He.., mau ke mana lagi, Kak?" tanya Sarsih tersentak. Tapi Pendekar Naga Sakti tidak menjawab. Anggala terus saja berjalan meniti batu yang berundak itu. Anggala berjalan meniti batu berundak yang melingkar menuju sebuah lorong. Keadaan di sana cukup terang karena di lorong itu terdapat obor pada setiap jarak tertentu. Anggala terus saja berjalan cukup cepat menyusuri lorong itu. Lorong itu cukup panjang dan berundak, sehingga Sarsih jadi kelelahan.
"Kak, Anggala. Istirahat dulu," pinta Sarsih dengan napas tersengal.
Anggala menatap ke arah gadis itu, walau di akuinya Sarsih mempunyai kepandaian cukup tinggi. Namun sipat manjanya masih terlihat, baru berjalan sejauh ini ia sudah minta istirahat. Sedangkan lorong itu masih terlihat cukup jauh dan berundak.
"Sedikit lagi, ayo," ajak Anggala sambil terus berjalan.
"Istirahat sebentar saja, Kak," rengek Sarsih.
Anggala akhirnya hanya bisa mengeluh dalam hati, Segera Pendekar Naga Sakti menyandarkan punggungnya pada dinding batu di belakangnya. Tanpa sengaja tangan Anggala menekan sebuah batu yang menonjol keluar.
Tapi mendadak Pendekar Naga Sakti jadi terkejut..... "Heh..!"
"Anggala dan Sarsih tampak saling pandang sejenak, lalu keduanya memasuki lorong itu. Dinding batu itu tampak kembali menggeser dan menutup ketika dua orang itu telah melewatinya. Pada setiap bagian di lorong itu terdapat obor yang tidak pernah padam. Anggala dan Sarsih perlahan menyusuri lorong tersebut.
"Kemana ini...?" tanya Sarsih, seperti pada dirinya sendiri.
"Entahlah," jawab Anggala pelan, setengah berbisik.
Mereka terus menyusuri lorong itu yang di terangi obor. Hingga akhirnya mereka sampai ke ujung lorong. Anggala jadi tertegun. Ternyata ujung lorong ini buntu. Tidak ada jalan lain, di depan mereka menghadang dinding batu yang cukup tebal berlumut.
"Kita terjebak, Kak," kata Sarsih mengeluh.
"Tempat ini di penuhi rahasia, Sarsih. Aku yakin ada jalan keluar dari sini," jawab Anggala berusaha menghibur Sarsih.
__ADS_1
Anggala mencoba memeriksa setiap jengkal dinding gua itu. sambil mencari-cari kemungkinan adanya suatu rahasia untuk mencapai jalan keluar dari lorong buntu itu. Semua dinding, lantai dan atap lorong itu terbuat dari batu berlumut. Sambil meraba setiap dinding itu, Anggala merasakan adanya hembusan angin pada sudut bawah dinding batu itu.
Cepat Anggala mengorek dinding batu itu. Walau cukup keras Pendekar Naga Sakti berhasil melakukannya. Anggala mengerahkan sedikit tenaga dalamnya, dengan pengerahan jurus 'Sembilan Matahari Cakar Elang'. Pendekar Naga Sakti berhasil membuat sebuah lobang kecil. Tampak seberkas cahaya semburat masuk melalui lobang yang di buat Anggala tadi.
"Mundur dulu, Sarsih," pinta Anggala.
Anggala juga ikut mundur beberapa langkah kebelakang. Setelah itu Pendekar Naga Sakti mengerahkan tenaga dalamnya ke arah kedua telapak tangannya, dengan pukulan 'Tapak Naga'. tingkat satu Anggala menyentakkan tangannya ke arah dinding itu.
"Hiyaaa...!"
Glaaarrr....!!
Ledakan keras terdengar ketika cahaya dari telapak tangan Anggala itu tepat menghantam dinding di depannya. Seketika itu pula dinding batu itu langsung hancur berkeping-keping. Menimbulkan debu yang berterbangan. Pendekar Naga Sakti dan Sarsih tampak mengibaskan tangan mereka berusaha mengusir debu yang menyebar menyebabkan nafas jadi sesak.
Pendekar Naga Sakti cepat melompat ke depan dinding yang ia buat tadi. Namun tiba-tiba Anggala mengurungkan niatnya. Pendekar Naga Sakti merasakan hawa racun berasal dari ruangan di depannya.
"Ada apa?" tanya Sarsih.
Ruangan ini beracun," sahut Anggala.
"Oh....!" Sarsih tersentak, "Jadi...?"!
.
Bersambung..
__ADS_1