
"Ha ha ha...! Katanya Sepasang Pedang Darah, tapi baru beberapa jurus saja kau sudah kewalahan," ejek Wulan Ayu sambil tertawa, "Aku akan memberi tahu padamu, kau sedang berhadapan dengan Pendekar Naga Sakti," tambahnya sambil tersenyum tipis menyungging.
"Apa...?! Pendekar Naga Sakti...? Tidak mungkin..?!"
Rancaka Sumba hampir terhenyak mundur mendengar perkataan Wulan Ayu, pikirannya tampak berubah. Semula nafsu membunuh laki-laki berpakaian serba merah itu begitu tinggi kini berubah sendu dan penuh keraguan.
Sedangkan Anggala hanya tersenyum mendengar perkataan Wulan Ayu tersebut. Perkataan gadis cantik itu tampaknya berhasil membuat mental seorang pendekar yang cukup kejam, menjadi gentar.
"Hmm... Aku memang agak ragu, tapi melihat kemampuan pendekar yang ku hadapi ini tampaknya jauh di atasku. Dia belum mau mengeluarkan semua kemampuan bertarungnya, tapi aku sudah kewalahan.
Aku harus melaporkan hal ini pada guru Elang Merah, dan meminta bantuan kakak Kalipaksi. Mungkin kemampuan pendekar muda ini setinggi kepandaian kak Kalipaksi," gumam Rancaka Sumba hampir tidak terdengar. Sepasang Pedang Darah itu seakan berbicara pada dirinya sendiri.
"Hmm... Kau beruntung hari ini, kisanak. Aku kurang bergairah bertarung. Lain kali kita lanjutkan lagi!" ujar Rancaka Sumba seraya menyarungkan sepasang pedangnya ke dalam warangka yang ada di balik punggungnya.
"Hup! Ayo, kita kembali ke Perguruan. Kita selesaikan urusan di sini lain kali," perintah Rancaka Sumba pada orang-orang bawahannya. Setelah berkata Rancaka Sumba melompat ke atas kuda dan langsung memacu kudanya meninggalkan tempat itu.
"Ha ha ha....! Pedang Darah, atau pedang parah?" ledek Wulan Ayu sambil berjalan ke dekat Pendekar Naga Sakti.
"Tampaknya gertakan Dinda berhasil membuat mental laki-laki itu ciut," kata Anggala sambil tersenyum.
"Rupanya nama besar paman guru Lesmana begitu menakutkan bagi para pendekar golongan hitam itu," simpul Wulan Ayu.
"Ya, paman guru cukup lama berpetualang. Nama besarnya membuat banyak pendekar golongan hitam gentar," tambah Anggala.
"Ya, sudah Kak. Sebaiknya kita istirahat, kita tunggu saja kedatangan mereka," kata sang Bidadari Pencabut Nyawa sambil memegang tangan Anggala yang sebelah kiri.
"Malu ah, lihat banyak penduduk yang memperhatikan kita," kata Anggala.
"Biar saja, apa urusan mereka," kelit Wulan Ayu sambil tersenyum manja.
__ADS_1
"Dasar tuan putri manja," ledek Anggala sambil tertawa kecil.
"Kakak...," rengek Wulan Ayu malah tambah manja, Anggala hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat sikap manja Bidadari Pencabut Nyawa itu.
Ki Sarip hanya tersenyum melihat Wulan Ayu begitu manja pada Anggala, mak Ripah mencubit lengan suaminya yang tampak memperhatikan tingkah kedua pendekar muda itu.
Desa ini cukup jauh dari gunung Garanggarang daerah Ogan Komering ulu selatan ( Sekarang ).
Desa yang cukup jauh dari gunung, namun tidak begitu jauh dari sungai komering ulu.
Para perampok dan para penyamun pada zaman ini cukup terkenal hampir di seluruh kawasan hutan yang ada di bagian pulau andalas, baik di daerah mana pun.
Desa Gragan, sebenarnya sebuah Desa yang cukup damai untuk para penduduk tinggal. Namun para perampok dan para penyamun yang menjadi bagian orang-orang dunia persilatan golongan hitam selalu mengganggu ketenangan para penduduk.
Seperti legenda asal mula Kerajaan Sriwijaya adalah sebuah kerajaan kecil di hulu anak sungai musi yang terganggu karena para perompak memutus pasokan perdagangan ke hulu sungai musi saat itu.
"Ki Apa, orang-orang Perguruan Elang Hitam itu memang sering mengganggu kedamaian penduduk di daerah ini?" tanya Anggala setelah menyantap makan malam bersama Aki Syarip dan mak Ripah.
"Iya, Nak. Mereka memang selalu menyantroni Desa Gragan ini, karena para penduduk kami boleh di bilang tidak ada yang mempunyai kemampuan silat dan tidak adanya perguruan golongan putih di daerah sini. Makanya mereka terlalu leluasa di sini," jawab Aki Syarip sambil menikmati teh jahe buatan istrinya.
"Tapi apakah mereka tidak merampok para penduduk, Ki?" tanya Wulan Ayu.
"Sejauh ini, tidak nak Wulan. Mereka hanya datang makan, kadang bayar terkadang tidak. Mereka banyak merekrut orang-orang dari daerah sini, tapi akhir-akhir ini mereka terdengar mulai bergabung dengan sebuah partai golongan hitam yang mulai mengembangkan sayapnya dan berencana menjadi partai yang menguasai dunia persilatan tanah andalas ini," jelas Aki Syarip.
"Masalah para penyamun dan perampok saja sudah membuat pusing orang-orang kerajaan, di tambah lagi orang-orang yang berpikir menjadi raja di atas penderitaan orang lain," sela Wulan Ayu.
"Nak Wulan seperti seorang petinggi kerajaan yang memikirkan rakyat jelata seperti kami," sambut Ki Syarip.
"Wulan Ayu itu putri, Ki. Di sebuah kerajaan di bagian barat pulau andalas ini," jawab Anggala.
__ADS_1
"Hmm..., Kak Anggala juga seorang Pangeran, Ki," tukas Wulan Ayu sambil memonyongkan bibirnya, gadis itu memang lagi menikmati ubi rebus masakan mak Ripah.
"Maafkan kami, Aden-Aden. Jika kami tidak sopan," ucap Ki Syarip.
"Ini bukan wilayah kerajaan kami, Ki. Jadi tidak usah sungkan, kami di sini sebagai penggelana dunia persilatan, bukan sebagai pangeran dan putri," sanggah Anggala.
"Kenapa anak berdua berpetualang, lebih enak hidup sebagai orang-orang di kerajaan, Nak," tukas Aki Syarip.
"Kami dari kecil hidup di tengah rimba persilatan, Ki. Jadi sudah takdir, mungkin?" kata Anggala sambil tersenyum, "Lagian kami lagi mencari seorang pendekar atas perintah kakek guru saya,"
"Siapa pendekar yang nak Anggala cari? Mungkin aki pernah mendengar atau melihatnya,"
"Namanya Fhatik, Ki. Dia bergelar Pendekar Naga Hitam," jawab Anggala.
"Pendekar Naga Hitam?! Rasanya aki pernah mendengar gelar itu, beberapa bulan ini ada pendekar yang kabarnya mengalahkan murid Kelelawar Iblis yang bergelar Setan Merah Pencabut Nyawa. Pendekar itu kabarnya bersekutu dengan Setan Merah Pencabut Nyawa, Nak Anggala," tutur Ki Syarip.
"Berarti masalah saya tambah rumit, Ki," kata Anggala sambil menuang teh ke dalam cangkir bambu.
"Yah, akhir-akhir ini orang-orang golongan hitam memang semakin merajalela, Nak," desah Ki Syarip, "Tidak hanya di desa Gragan ini, Nak. Mereka juga membuat resah berapa desa lainya," tambahnya lagi.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak ya teman-teman.
Rate, Like , Koment dan hadiahnya..
__ADS_1
Semua itu adalah penyemangat author dalam menulis. Terima kasih banyak.