Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Kelompok Iblis Perak, Bertukar Wujud


__ADS_3

"Heaaa.....!!" bentakan Ki Sura Jaya itu mengawali gerakan tangannya menyentak kedepan. Telapak tangan raksasa yang terbuat dari cahaya putih keperakan meluncur deras kearah kelabang raksasa itu.


Swosss....!!


Blaaamm.....!!


"Aaakhh...!" Ki Sura Jaya terpental sekitar tiga tombak kebelakang sambil memegangi dadanya. Anggala cepat melompat memegangi Pendekar Tapak Dewa itu.


"Kakek tidak apa-apa?" tanya Pendekar Naga Sakti sambil memegang bahu Ki Sura Jaya.


"Pukulan Tapak Dewaku, berbalik arah anak muda, aku terluka dalam yang cukup parah," jawab Ki Sura Jaya tampak tersengal. Pendekar Naga Sakti berdiri di depan Pendekar Tapak Dewa itu, dan mempersiapkan diri.


"Kakek istirahatlah dulu, biar Anggala coba menghadapi jelmaan Reksa Gana itu," ucap Pendekar Naga Sakti sambil maju sekitar lima langkah kedepan.


Rrrrrrrrrr.........!!


Kaki-kaki kelabang raksasa itu kembali mengeluarkan suara generitikan. Cahaya kuning kemerahan mengalir dari ujung puluhan kaki kelabang raksasa itu.


Belum sempat Anggala mempersiapkan pukulan jarak jauh bola cahaya dari mulut kelabang raksasa itu kembali meluncur bagai kilat kearahnya. Pendekar Naga Sakti terpaksa melentingkan diri keudara untuk menghindari serangan bola cahaya itu.


Blaaamm..!!


Cahaya merah membentuk bola itu menghantam tanah tempat Anggala berdiri, tanah dan debu mengepul menutupi pemandangan ditempat itu. Ki Sura Jaya yang baru berniat bersemedi terpaksa melompat menjauh. Lobang besar sebesar tubuh gajah raksasa menganga di bekas tempat Pendekar Naga Sakti berdiri tadi.


"Hiyaaa...!!" bentakan nyaring Pendekar Naga Sakti itu mengawali sentakan tinjunya kedepan belasan lidah kilat dan gelegar petir mengguncang tempat itu.


Jgar! Dess! Der!


Blaaar..! Blar!


Beberapa lidah petir dan mata kilat yang menyambar, tepat menghantam tubuh kelabang raksasa jelmaan Reksa Gana itu. Pijar bunga api tampak memercik di sekitar tubuh kelabang raksasa berwarna hitam kehijauan itu. Letupan gumpalan api menyebar membuat tempat itu terasa panas.


"Hooaaarrr....!!"


Jangankan mengalami terluka dan hancur. Tubuh kelabang raksasa itu tidak tergores sedikit pun, malah kelabang raksasa itu menekuk tubuhnya mirip orang berdiri. Hampir separuh kaki kelabang raksasa itu tidak lagi menyentuh tanah.


"Terbuat dari apa tubuh kelabang raksasa itu, pukulan Tinju Halilintarku tidak mempan," guman Anggala sampai tersurut mundur.


"Hati-hati anak muda, tubuh kelabang raksasa itu bagai lempengan baja, tubuhnya tidak terluka oleh pukulan dan tajamnya pedang," kata Ki Sura Jaya mengingatkan.

__ADS_1


"Ya Kek, apa yang harus kita lakukan?" tanya Pendekar Naga Sakti sambil menatap tajam kearah kelabang raksasa jelmaan Reksa Gana itu.


"Menurut cerita kekebalan tubuh orang yang menjadi kelabang raksasa adalah senjata mustika naga, coba gunakan pedang naga sakti yang Kau miliki, jika juga tidak berhasil kita harus mengadu nyawa dengan manusia yang telah menjual jiwanya ke siluman kelabang hijau itu," jelas Ki Sura Jaya sambil memegangi dadanya, walau Pendekar Tapak Dewa itu telah bersemedi untuk mengobati luka dalamnya. Namun waktu semedinya terlalu singkat. Jika orang lain yang terkena pukulan Tapak Dewa itu, sudah pasti tewas menggenaskan.


"Baik Kek, jawab Anggala singkat, Pendekar Naga Sakti itu segera bersiap dengan keadaan yang kemungkinan menjadi sangat sulit. Apa lagi ilmu iblis yang tidak mempan pukulan tenaga dalam dan senjata tajam seperti pedang itu.


Sring!


Anggala menghunus pedang naga sakti yang tersimpan di balik punggungnya. Cahaya putih kebiruan semburat keluar dari mata pedang mustika naga itu. Pendekar Naga Sakti merentangkan pedangnya di depan wajahnya, kemudian ia melintangkan pedangnya di depan dada dan mengacung kearah depan.


Set! Set!


Pendekar Naga Sakti memutar pedang naga sakti disekitar tubuhnya, kecepatan putaran pedang di tangan Pendekar Naga Sakti itu menimbulkan suara memecah udara. Hawa dingin terasa ke kulit bagi orang yang ada di dekatnya.


"Hoaaarr......!!"


Kelabang raksasa itu kembali mengumpulkan cahaya di kedua kaki depannya yang membentuk sabit. Cahaya itu begitu cepat terkumpul, dalam waktu singkat cahaya merah kehitaman itu telah melesat kearah Anggala bak mata kilat menyambar.


Wuss...!


"Hiyaaa..!" Anggala mengibaskan pedangnya kearah cahaya berbentuk bulatan yang mengarah padanya. Cahaya biru melesat dari mata pedang mustika naga itu, menyongsong cagaya merah.


Ledakan dua kekuatan pukulan itu menimbulkan kepulan api dan membuat tanah dan debu bersemburan keudara.


Pendekar Naga Sakti mengebutkan pedang naga sakti di sekitar tubuhnya. Angin berputar membentuk pusaran membesar bagai sebuah angin tornado yang mengusir debu-debu yang berterbangan.


"Hoaaarrr......!!"


Brrrrrrrrrrr.......!!


Kelabang raksasa jelmaan Reksa Gana itu menggeram marah, seluruh kakinya menimbulkan bunyi gemeritikan. Tiba tiba kelabang raksasa itu melesat kearah Anggala dengan begitu cepat.


Broll.!


Kaki-kaki kelabang raksasa itu menghujam tanah, membuat tanah berhamburan. Bagian ekornya mengibas cepat ke arah Pendekar Naga Sakti, dengan begitu cepat Anggala terpaksa menghindar. Jika saja Pendekar Naga Sakti tidak menggunakan ilmu 'Langkah Malaikat-nya, Tidak ayal murid Lesmana itu akan menjadi sasaran empuk siluman raksasa itu.


"Hmm..! Kau sengaja menyerangku, agar aku tidak berkesempatan menyerangmu lebih dulu Kelabang Hijau!" guman Anggala seperti bergumam pada dirinya sendiri.


"Heaaah...!" bentakan Pendekar Naga Sakti itu mengawali gerakan tubuhnnya melesat begitu cepat kearah kelabang raksasa itu.

__ADS_1


Srak!


Rrrrrrrrrr......!!


Sabetan pedang naga sakti tepat mengenai kaki kelabang raksasa itu di bagian kirinya. Sekitar lima batang kaki kelabang itu putus terpotong. Kelabang raksasa itu bergetar darah berwarna hijau tampak menetes dari kaki-kaki Kelabang yang terpotong.


Wusss...!


Siapa tipis berwarna putih menyelubungi tubuh kelabang raksasa itu. Begitu asap tipis itu sirna tubuh kelabang itu berubah menjadi berwarna merah. Seluruh kakinya yang tadi terpotong kini utuh kembali.


"Huh..! Benar-benar ilmu iblis!" geram Anggala sambil melintangkan pedang naga sakti di depan dada, "Aku harus merapal jurus 'Pedang Sembilan Naga tingkat lima'. gumannya lagi. Anggala langsung bersiap memainkan jurus-jurus pedang sembilan naganya.


"Hup! Hiyaaa...!!" Pendekar Naga Sakti langsung melesat menebaskan pedangnya kearah tubuh kelabang raksasa itu. Namun kelabang raksasa itu melesat menghindar. Anggala tidak memberikan kesempatan dengan jurus-jurus pedang dan ditambah ilmu 'Langkah Malaikat'. Pendekar Naga Sakti itu melesat dengan sangat cepat.


Cras!


Sebuah sabetan pedang naga sakti tidak sempat di hindari kelabamg raksasa itu, sekitar dua jengkal cangkang kelabang itu tampak menganga, darah berwarna biru kehijauan mengalir dari luka tersebut.


"Hooaaarrr.....!!"


Kelabang raksasa itu itu tiba-tiba menyemburkan cairan berwarna hijau dari mulutnya. Anggala cepat menegoskan diri menghindari percikan cairan berwarna hijau itu.


Bess!


Sebatang pohon yang cukup besar hampir sepelukan orang dewasa terkena percikan cairan berwarna hijau itu. Batang pohon itu langsung berlobang dan membusuk seketika dan mengeluarkan asap. Tidak lama kemudian pohon itu pun tumbang ke tanah. Begitu pun dedaunan dan rumput yang terkena cairan itu langsung bagai tersiram lahar panas.


"Hampir saja, jika cairan itu mengenai tubuhku, Aku akan meleleh seperti pohon itu," guman Anggala dalam hati, "Tampaknya tubuh kelabang raksasa ini tidak mempan pukulan baik dari tenaga dalam mau pun memakai pedang. Tampaknya memang harus menggunakan pedang secara langsung," Pendekar Naga Sakti seperti berbicara pada dirinya sendiri.


"Pendekar Naga Sakti, kita harus mengalihkan perhatiannya, Aku akan coba menyerangnya dengan pukulan jarak jauh, kau harus bisa mendapat kesempatan untuk menebas tubuh atau kepalanya," kata Ki Sura Jaya, tiba-tiba Pendekar Tapak Dewa itu melesat ke samping Anggala.


"Baik Kek," jawab Anggala sambil menatap tajam kearah Kelabang Hijau yang dalam wujud kelabang raksasa berwarna merah itu.


.


.


Bersambung....


Mohon maaf teman-teman, sekarang di tempat Author. Kalo malam mati lampu, jadi signal nya juga ikut mati, jadi author belum bisa up satu bab sehari.. Tetap dukung Pendekar Naga Sakti ya teman-teman. Terima kasih banyak.

__ADS_1


__ADS_2