Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Sepak Terjang Tiga Pendekar Mesum. Trisula Beracun


__ADS_3

Namun belum sempat mereka melakukan niatnya, Nila Sari dan ambarawati telah terlebih dahulu melompat dan Menghadang serangan kedua Penyamun itu.


Nila Sari dan ambarawati berdiri tegak di depan Seruni yang terbaring dalam keadaan terluka.


"Seruni, kau tidak apa-apa?" tanya Ambarwati.


"Lukaku cukup parah," jawab Seruni.


"Apakah kau bisa mencabut benda itu dari bahumu?" tanya Ambara Wati lagi.


"Yah, akan aku coba," jawab Seruni walau cukup lemah, gadis itu menekan luka di bahunya agar darah yang keluar tidak terlalu deras.


Walau meringis Seruni perlahan mencabut Trisula yang ada di bahunya perlahan-lahan bibir Seruni berubah menjadi hitam wajahnya berubah kebiruan.


"Tolong..! Seruni keracunan!" teriak Ambarawati melihat Seruni yang mulai lemah karena racun yang mulai memasuki aliran darahnya.


Wulan Ayu cepat melompat ke arah Seruni.


"Nilawati, hadapi Ujang Seta dulu, Aku akan berusaha menolong Seruni," kata Wulan Ayu.


Wulan Ayu segera mendekati Seruni yang mulai terkulai lemah karena racun itu, Wulan Ayu menekan luka yang ada di bahu seruni dan mengalirkan Hawa murni ke tubuh Seruni.


Wulan Ayu teringat akan obat yang ada


dibawa oleh Pendekar Naga Sakti


"Kak Anggala. Tolong berikan aku obat itu Seruni mengalami keracunan!" teriak Wulan Ayu dengan begitu lantang.


Anggala agak terkejut mendengar seruan


Wulan Ayu itu dengan begitu cepat Pendekar Naga Sakti bergerak ke arah Bidadari pencabut nyawa seraya mengambil obat yang ada di balik bajunya dan memberikan obat itu kepada Wulan Ayu


"Cepat berikan obat itu,Dinda


racun itu mulai menjalar ke seluruh tubuhnya jika sampai racun itu menjalar ke jantungnya maka Seruni tidak dapat di selamatkan," kata Anggala.


Setelah memberikan obat itu kepada Wulan Ayu Anggala, segera melesat kembali ke hadapan Ujang Akra.


"Maaf menunggu kisanak, aku masih ada urusan," kata Pendekar Naga Sakti.

__ADS_1


"Kau memang hebat anak muda tapi


aku tidak akan memberi ampun kepadamu.


Kepada orang-orang yang telah menghabisi keponakanku Ujang Komar," terdengar serak dan Parau suara Ujang Akra, dendam dan kemarahan telah menggerogoti manusia mesum itu.


Pendekar Naga Sakti hanya tersenyum mendengar perkataan Ujang Akra yang penuh kemarahan dan penuh dengan dendam itu.


"Apa kalian tidak menyadari? Sepak terjang kalian telah menyakiti orang banyak dan membuat Keonaran di muka bumi ini, Ujang Akra," tanya Pendekar Naga Sakti dengan suara datar dan begitu tenang.


"Ha ha ha...! Itu adalah kesenangan kami apa urusanmu anak muda?"


"Urusanku adalah membela orang-orang yang lemah dan orang-orang yang memerlukan bantuan kami," jawab Anggala.


"Walau itu adalah dosa kalian tapi adalah kewajiban kami mengajak kalian kembali ke jalan yang benar kalau kalian masih bisa diajak. berunding jika tidak apa boleh buat kami harus mempertaruhkan nyawa menghadapi orang-orang golongan hitam seperti kalian," tambah Pendekar Naga Sakti.


"Mulutmu memang besar anak muda, akan ku robek mulut besar mu itu. Akan kuberikan kepada anjing liar yang berkeliaran di tengah kampung. Kepalamu akan aku gantung di gerbang Perguruan Mawar Putih ini," geram Ujang Akra.


"Cobalah kalau kau mampu!" tantang Pendekar Naga Sakti.


"Terima kematianmu, anak muda!" bentak Ujang Agra seraya melompat menyarangkan sebuah pukulan tangan kosong bertenaga dalam tinggi ke arah Anggala. Pendekar Naga Sakti begitu tenang menghadapi serangan Ujang Akra itu, begitu Ujang Akra hampir mengenainya.


Pemuda itu menyorongkan tangannya ke depan sebuah bayangan berbentuk telapak tangan dari cahaya yang cukup besar menderu cepat ke arah Ujang Akra.


gerakannya terlambat, Ia hanya bisa menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Cahaya berbentuk telapak tangan itu tepat menghantam separuh tubuh Ujang Akra. Tubuh Ujang akra pental sekitar delapan tombak dari tempat itu beberapa saat pendekar golongan hitam yang terkenal dengan gelar pendekar mesum itu menggeliat dan berusaha melompat bangun darah mengalir dari sela-sela bibirnya


"Uhuakh..!"


Ujang Akra membatukkan darah segar.


Dengan ujung baju di lengan kirinya. Ujang Akra berusaha menghapus darah yang mengalir dari dagunya.


Sring!


Ujang Akra menghunus dua buah klewang yang ada di balik punggungnya.


Setelah beberapa saat Ujang Akra menyilangkan kelewang di depan dadanya, sedangkan aliran tenaga dalamnya mengalir ke arah dadanya untuk mengobati luka dalam yang ia derita.


Setelah berhasil menekan luka dalam yang dideritanya. Ujang Akra bersiap dengan jurus klewang kembar merenggut nyawa.

__ADS_1


Ujang Akra menyilangkan klewang di depan dadanya membentuk gunting.


"Heaaah....!"


Ujang Akra berteriak nyaring membahana seraya melompat ke arah Pendekar Naga Sakti kedua klewang yang membentuk gunting langsung mencerca ke arah leher


pemuda berbaju putih biru itu. Pendekar Naga Sakti yang telah bersiap dengan ilmu Baju Besi Emas'.nya. Dengan sigap menyorongkan dua tangannya ke arah depan sehingga sepasang klewang di tangan Ujang Akra yang membentuk gunting itu beradu dengan lengan Pendekar Naga Sakti itu.


Trang!


Ujang Akra terkesiap begitu klewang di tangannya menyentuh lengan Pendekar Naga Sakti bagai beradu dengan potongan besi baja yang begitu kuat, belum hilang keterkejutan Ujang Akra. Pendekar Naga Sakti telah bergerak begitu cepat memberikan sebuah tendangan ke arah dadanya.


Ujang Akra melengyh kesakitan dengan darah menyembur dari mulutnya setelah itu tubuh Ujang Akra kembali terpental ke tanah sejauh lima tombak dan jatuh bergulingan, beberapa saat Ujang Akra berusaha bangun. Darah semakin banyak mengalir dari sudut bibirnya hingga membasahi dagunya.


"Kurang ajar kau anak muda. Aku akan mengadu nyawa denganmu," desis Ujang Akra. Setelah berkata Ujang Akra menancapkan sepasang kelewang nya di tanah. Ujang Akra segera menyilangkan kedua tangannya di depan dada mulut Ujang aka komat-kamit membaca ajian kesaktian yang ia miliki.


Setelah beberapa saat kedua tangan Ujang akan berubah menjadi hitam pekat mengeluarkan asap Ujang Akra merapal jurus tangan beracun sebuah ilmu yang mengandalkan kekuatan racun, racun yang disimpan Ujang Akra di balik bajunya mengalir dengan kekuatan tenaga dalamnya ke arah lengannya.


"Jurus Tangan Beracun!" teriak Ujang Akra membahana. Setelah berteriak


dan mengatur nafasnya, Ujang Akra menyentakkan tangannya ke depan dua larik cahaya hitam kemerahan menderu cepat ke arah Pendekar Naga Sakti.


.


.


Bersambung...


Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.


Rate


Hadiah


Like


Koment


Favorit

__ADS_1


Dan Votenya teman-teman.


Terima kasih banyak.


__ADS_2