
Jaka Kelana menyeka darah yang menetes dari bibirnya. Pendekar muda itu tampak juga mengalami luka dalam walau tidak begitu parah.
"Sungguh seorang musuh yang berat untuk dihadapi. Apalagi jika mereka mengeroyok
sungguh suatu hal yang sangat berat," gumam Jaka Kelana sambil menyarungkan pedang serigala putih kembali kedalam warangka yang ada di balik punggungnya.
Perlahan Jaka Kelana berjalan mendekati mayat Klaew Kla setelah mengalirkan hawa murni ke bagian dadanya yang terasa sesak,
mayat Klaew Kla yang tampak masih mengalirkan darah dengan mata terbelalak.
Anggota Tujuh Pedang Pembunuh itu seakan tidak percaya jika nyawanya harus melayang di tanah Andalas hari ini. Jaka Kelana dengan perlahan mengalirkan hawa murni ke arah luka yang menganga di dada Klaew Kla setelah menelentangkan tubuhnya. Jaka Kelana menutup Mmta Klaew Kla yang masih terbelalak.
"Aku tidak membenci orang dan tidak memusuhi sesama manusia, cuma aku memusuhi orang yang berbuat curang dan berbuat kejahatan di dunia ini," kata Jaka Kelana sangat lemah seakan berbisik.
Setelah Menutup Mata kamu Jaka Kelana berjalan pelan meninggalkan tempat itu kembali ke arah warung Aki Syarif.
sementara itu Pendekar Naga Sakti tampak telah berdiri di sebuah Padang rumput yang cukup jauh dari warung Aki Syarif, Pendekar Naga Sakti berdiri menanti Khemkhaeng yang menyusulnya dari belakang.
"Ha ha ha....! Kau ingin dikubur di sini, Anak Muda!" kata Khemkhaeng dengan pongahnya seakan-akan ia bakal mampu membunuh Pendekar Naga Sakti seorang diri.
"Soal dikubur dimana jika sudah mati itu bukanlah jadi persoalan, Kisanak. Jika soal mati yang kau katakan, maka cobalah apa aku yang akan mati atau kau yang akan mengantarkan nyawamu di Pulau Andalas ini?!" sahut Anggala dengan begitu dingin dengan tatapan mata back mata elang yang
seakan-akan menusuk tajam ke relung hati manusia yang memandangnya..
"Baiklah, Anak Muda. Sebelum aku membunuhmu aku akan katakan padamu.
__ADS_1
kepalamu akan aku persembahkan kepada orang-orang partai teratai hitam, karena kepalamu akan menambahkan hasil uang emas yang akan diberikan oleh Saga Lintar kepada ku!"
"Cobalah. Kalau kau memang mampu, Kisanak," tantang Pendekar Naga Sakti sengit sambil menyilangkan Pedang Naga Sakti di depan dada kali ini Anggala berniat merapal jurus pedang sembilan Naga tingkat sembilan. Ia tahu jika Khemkhaeng memiliki kekebalan yang cukup sulit untuk ditembus.
Jadi pendekar Naga Sakti saat ini bersiap menggunakan jurus 'Pedang Naga'. tingkat sembilan yaitu ajian Pedang Naga Pemecah Sukma'.
Sebuah ajian yang digabungkan dengan pedang mustika naga itu, jika pedang itu tidak mampu menembus kekebalan maka ilmu 'Ajian Pemecah Sukma'. akan mampu menghancurkan dari dalam
Sampai sejauh ini hanya segelintir saja orang-orang yang mampu menandingi dan menghadapi ajian 'Pedang Pemecah Sukma'.
Anggala merentangkan pedang Naga sakti ke arah samping kanan, cahaya biru bercampur merah api tampak melingkar-lingkar menyelubungi tangan kanan Anggala dari arah bawah mengalir ke arah oedang Naga Sakti sedangkan tangan kiri Pendekar Naga Sakti tampak berada
sejajar dengan dada.
Cahaya biru bersilang merah itu kini mulai menyelimuti pedang mustika Naga Sakti. Melihat Pendekar Naga Sakti yang merapal jurus andalannya. Khemkhaeng yang berniat menghabisi Pendekar Naga Sakti dengan cepat segera merapal jurus pedang andalannya yaitu jurus 'Pedang Iblis Pembunuh'. tingkat tujuh.
Khemkhaeng mengerahkan hampir delapan puluh persen tenaga dalam yang ia miliki. Kali ini kedua pendekar Itu tampak berniat mengadu nyawa karena telah bertarung hampir puluhan jurus, namun belum ada dari mereka yang tampak terluka dan terdesak dan kedua pendekar yang sudah menggunakan banyak tenaga dalam ingin menyudahi pertarungan yang mereka lakukan.
"Hiyaaa.....!!" bentakan nyaring Pendekar Naga Sakti mengiringi tubuhnya melesat bagai kilat kearah pendekar dari Negeri Muathai itu. Pimpinan Tujuh Pedang Pembunuh itu pun tidak tinggal diam laki-laki berwajah hitam dengan rambut cepak dengan baju hanya rompi itu saja melesat menyongsong maju, sambil menyilangkan kedua pedangnya yang diselubungi cahaya merah kehitaman.
Trang...!!
Blaaarrrrr.....!!!
Suara dan tangan pedang begitu keras dan memekakkan telinga pijar bunga api dan angin berhembus bertiup kencang berputar
__ADS_1
membuat pepohonan yang ada di tepian padang, rumput kecil itu bergoyang dan daun-daun yang sudah tua berterbangan beberapa ranting dan dahan-dahan mati ikut terbang terkena angin yang berputar bagai angin torpedo, yang mengelilingi kedua pendekar yang saling adu kekuatan itu.
Suara ledakan tiba-tiba berdentum dengan semburan tanah dan debu dan gelombang api menghempas ke arah kiri dan kanan bahkan ke segala arah.
"Aaaa.....!!!"
Suara pergi kesakitan terdengar nyaring, setelah suara berderak pedang patah di tengah debu dan tanah yang terbang berhamburan dibawa oleh angin badai, angin
yang berputar kencang berkeliling sehingga rumput-rumput yang ada di tanah tercabut dan terpapar.
Begitu angin kencang berputar itu berhenti dan menghilang, tanah dan debu pun telah kembali gugur ke tanah.
Angin sepoi-sepoi tampak bertiup di tengah sebuah kawah tanah yang tadinya padang rumput kecil kini terlihat ada sebuah kawah yang dalamnya sepinggang orang dewasa.
Di tengah kawah tanah penuh daun dan ranting kayu yang berguguran tampak berdiri seorang pemuda dengan pakaian abu-abu dengan dalaman putih dengan pedang di tangan kanannya dia tidak lain adalah Pendekar Naga Sakti.
Di ujung kawah tanah kering yang penuh dengan semburan tanah daun dan ranting-ranting dan debu itu tampak sebuah lubang yang dalamnya selutut dan orang dewasa seukuran manusia.
Lobang itu panjangnya tidak kurang dari lima belas tombak, di ujung lobang itu tampak seorang laki-laki dengan tubuh hitam bagai sudah terpanggang di kedua tangannya yang tampak bersilang di depan dada sepasang gagang pedang dengan pedang yang tinggal setengah.
Di bagian dada laki-laki Itu tampak hancur sebuah bekas luka menyilang dari arah kiri kekanan menganga, darah hitam kemerahan mengalir dari luka itu. Mulut laki-laki itu tampak ternganga, matanya masih terbelalak menyiratkan bekas kesakitan yang amat sangat.
Orang itu adalah Khemkhaeng pimpinan Tujuh Pedang Pembunuh dari Negeri Muathai yang tampak tewas setelah kalah adu kesaktian dengan Anggala.
.
__ADS_1
.
Bersambung....