
"Kau akan menyesal karena tawaran paman ini hanya sekali ponakan," kata Fhatik terlihat berusaha membujuk Anggala.
Anggala hanya tersenyum tipis mendengar bujukan sesat Pendekar Naga Hitam tersebut, "Paman. Kakek guru masih meminta membawa paman kembali ke Lembah Naga dan menyerahkan kitab Naga Hitam yang paman curi dari beliau. Sebaiknya paman bertobat sebelum terlambat," sahut Anggala begitu tenang.
"Kau tidak usah mengajariku ponakan. Dalamnya laut dan tingginya gunung sudah aku jalani, sebaiknya kau terima tawaran paman ini. Jika tidak semua anggota Partai Teratai Hitam akan memusuhimu!" ancam Fhatik lantang.
"Paman kira aku takut pada semua cecunguk yang jadi antek dan kacung kalian berdua itu, Paman?" sahut Anggala bernada tantangan.
"Izinkan kami berdua membungkam mulut anak muda lancang itu, Ketua!" seru Macan Kuning dan Macan Jenggi berbarengan. Kedua saudara seperguruan itu tanpa menunggu persetujuan dari Setan Merah Pencabut Nyawa dan Pendekar Naga Hitam lagi.
Dess....! Tap!
Anggala mendapat serangan dadakan dari dua orang tokoh golongan hitam itu. Namun Anggala yang dari tadi diam-diam mempersiapkan diri dengan pukulan 'Tapak Naga'. tingkat dua Naga Bermainnya.
Blaaammm......!!!
__ADS_1
"Aaaa......!!"
Begitu debu dan gelombang api tersapu angin, Macan Kuning dan Macan Jenggi terlihat menggeliat dalam keadaan terluka parah. Mulut keduanya terlihat memuntahkan darah segar kehitaman.
"Kalian kira Pendekar Naga Sakti anak kemaren sore, Hah...!" bentak Saga Lintar sambil membantu Macan Kuning berdiri dan mendorongnya ke belakang. Macan Jenggi terlihat beringsut mundur dalam keadaan duduk memegangi dada.
Satu persatu pendekar golongan putih berhadapan dengan para pendekar golongan hitam yang berada di bawah naungan Partai Teratai Hitam. Namun tampaknya orang-orang golongan putih kali ini kalah jumlah di banding para pendekar golongan hitam.
Pertarungan yang tidak seimbang terjadi, orang-orang Partai Teratai Hitam yang terdiri dari perampok dan penyamun banyak yang mengadakan pengeroyokan pada para pendekar golongan putih.
Begitu pun dengan Wulan Ayu yang berhadapan dengan Merak Sati telah di keroyok dengan bantuan Tiga Botak dari goa Tengkorak yang merupakan kakak seperguruan Merak Sati.
Ketiga kakak seperguruan Merak Sati itu akhirnya memutuskan membantu mengeroyok Wulan Ayu karena mereka bertiga sudah berjanji akan membantu mengalahkan Bidadari Pencabut Nyawa tersebut.
"Hup!" Wulan Ayu melompat menjauh sekitar tiga tombak dari Merak Sati dan ketiga kakak seperguruannya itu.
__ADS_1
"Bukankah kau sudah menempa diri untuk balas dendam padaku, Merak Sati. Tapi rupanya kau tetaplah seorang pecundang yang berani main keroyokan secara licik!" kata Wulan Ayu sengit sambil melipat kipas Elang Perak dan memasukkan ke balik pinggang baju biru kesayangannya.
"Kau tidak usah banyak bacot, Bidadari Pencabut Nyawa! Hari ini di puncak Gunung Kerinci ini kau akan menjelang kematianmu!" hardik Merak Sati lantang.
"Soal kematian bukan kau yang menentukan! Hanya yang di atas yang tau siapa yang akan mati hari ini!" sahut Wulan Ayu sengit. Sang Bidadari Pencabut Nyawa langsung menghunus pedang Elang Perak yang tersampir di balik punggungnya di dalam balutan kain putih itu.
"Banyak bacot! Heaaahhh.....!!" Si Bongsor tampak geram dengan Wulan Ayu yang tampak begitu tenang menghadapi mereka berempat. Tanpa basa-basi lagi si botak dengan tubuh besar sesuai namanya itu merangsek maju.
Walau tubuh Bongsor begitu besar, namun gerakannya begitu ringan dengan golok di tangan ia mencerca cepat ke arah Wulan Ayu.
Merak Sati pun segera menghunus pedang yang terselip di balik punggungnya, dan segera melompat cepat membantu Bongsor.
"Shaaa....!" sebuah bayangan tiba-tiba melayang dan menerjang cepat ke arah Bongsor dsn Merak Sati. Tentu saja mendapat serangan dadakan itu Merak Sati dan Bongsor cukup terkejut dan terpaksa melompat menjauh.
.
__ADS_1
.
Bersambung....