
Setelah makan siang, Anggala dan ketiga pendekar lainnya, beristirahat menunggu kepulangan Arya Geni,dengan Ki Kuwu.
Hampir sore barulah Pendekar Pedang Terbang, dan Ki Kuwu pulang dari ladang, mereka membawa beberapa ekor ayam hutan berukuran besar.
Sri Kemuning dan Nti Romlah menyambut mereka, dan memberi tau bahwa Anggala dan Wulan Ayu telah datang, Anggala dan Wulan Ayu di minta menginap di rumah Ki Kuwu semalam.
Mereka di hidangkan makan malam, ayam bakar bikinan Nyi Romlah, mereka bercerita tentang perjalanan mereka,sambil bersenda gurau malam itu, hampir pagi mereka baru beristirahat tidur.
Pagi pagi Para pendekar telah bersiap untuk meneruskan perjalanan, Nyi Romlah menyiapkan sarapan pagi, dan memberi para pendekar, bingkisan makanan untuk dalam perjalanan.
Setelah berpamitan dengan Ki Kuwu, dan Nyi Romlah, rombongan Anggala dan Arya Geni meninggalkan Desa Sungai Ular.
Rombongan Anggala dan Arya Geni menuju Desa yang di tuju oleh Simbar Buana dan istrinya Bidadari Gendeng, beberapa bulan yang lalu.
Para pendekar melakukan perjalanan dengan berkuda secara santai, mereka melalui hutan perbatasan Desa Sungai Ular dengan Desa di depan nya.
Setelah siang mereka beristirahat di pinggir sebuah sungai, untuk makan siang, yang tadi di siapkan Nyi Romlah tadi.
Setelah selesai makan siang, mereka pun melanjutkan perjalanan, menuju Desa tujuan mereka.
Hari semakin sore namun perjalanan para pendekar belum juga mencapai tujuan mereka, ketika matahari terbenam Anggala mengajak kawan kawannya, menginap di dalam hutan, mereka membuat api di dekat sebuah sungai.
Setelah semalaman di dalam hutan, paginya begitu matahari terbit mereka melanjutkan perjalanan, mereka memacu kuda dengan cepat, agar mencapai tujuan mereka cepat pula.
Baru sekitar satu jam perjalanan, mereka menemui
orang orang yang lagi bertarung, dengan sekelompok orang orang berbaju hitam bergambar tengkorak putih di silang pedang, dengan orang orang berbaju kuning, di bagian belakang baju mereka ada gambar kera berwarna putih.
"Orang orang Perguruan Kera Sakti, dengan Kelompok Tengkorak Besi! Kenapa mereka bertarung di sini?" guman Arya Geni, Senopati Agung Kerajaan Galuh Permata itu.
"Kak Arya kenal dengan mereka?" tanya Anggala, si Pendekar Naga Sakti.
__ADS_1
"Ya! Saya kenal mereka, Anggala!" jawab Arya Geni, sambil memperhatikan pertarungan di depan sana.
"Jadi siapa yang harus kita bantu Kak Arya?"
"Kalau dari golongan, yang jelas kita harus membantu Perguruan Kera Sakti!!"
"Baiklah Kak Arya, sepertinya orang orang Perguruan Kera Sakti itu, memang perlu pertolongan kita, karna mereka kalah jumlah!" kata Pendekar Naga Sakti, setelah berkata ia pun melesat ke tengah pertarungan dua kelompok itu.
"Hiaaa....!"
Duk....!" Duk.....!"
"Aaaa......!"
Dua orang Anggota Kelompok Tengkorak Besi, lansung terpental ke tanah, dan mengalami luka dalam yang cukup parah.
Salah seorang pimpinan Kelompok Tengkorak Besi, lansung menerjang ke arah Pendekar Naga Sakti, namun dengan sigap Pendekar Naga Sakti menahan serangan musuhnya itu.
Dik......!"
"Kau tidak perlu tau siapa aku, yang perlu kau tau, aku adalah orang yang akan memberi pelajaran pada orang orang golongan hitam seperti mu!" jawab Pendekar Naga Sakti, sengit.
"Heh...! Rupanya kau belum kenal dengan Denta, dari Kelompok Tengkorak Besi, yang bergelar Kapak Kembar Pencabutan Nyawa!!" bentak orang yang mengaku bernama Denta dan bergelar Kapak Kembar Pencabutan Nyawa itu.
Anggala hanya tersenyum tipis, mendengar gertakan orang yang bernama Denta itu, Arya Geni dan yang lain pun telah terjun ke arena pertarungan itu.
Kini keadaan telah berbalik arah,orang orang Perguruan Kera Sakti, berada di atas angin, karna bantuan Anggala dan kawan kawannya.
Denta melompat ke arah Anggala dengan sebuah pukulan tangan kosong bertenaga dalam tinggi, Anggala pun tidak tinggal diam ia pun menyongsong dengan sebuah pukulan tinju ke arah Denta, ia menggunakan sebuah jurus baru pemberian Pertapa Naga, yaitu 'Pukulan Tinju Halilintar'.
Duk.....!"
__ADS_1
Dua tinju bertenaga dalam tinggi itu beradu, Denta terjajar dua tombak ke belakang, sedangkan Anggala hanya terjajar mundur dua langkah kebelakang, pertanda pukulan Tinju Halilintar Anggala berada di atas angin.
"Huh!" dengus kesal si Kapak Kembar Pencabut Nyawa dengan cepat mengirimkan sebuah tinju yang mengandung tenaga dalam, dengan sigap Pendekar Naga Sakti menapaki serangan itu dengan tinjunya.
Duak!
Si Kapak Kembar Pencabut Nyawa terjajar mundur sekitar dua langkah, ia memegangi tinju kanannya yang terasa ngilu. Si Kapak Kembar Pencabut Nyawa cepat mengalirkan hawa murni kearah tinjunya, untuk menghilangkan rasa nyeri di Kepalan tinjunya.
"Huh! Akan kujajal ilmu pendekar muda ini dengan tinju Besuki," guman Denta dalam hati. Denta segera meningkatkan tenaga dalam nya ke arah dua tangannya. Sinar putih kehitaman menyelimuti kedua tinju Denta, pertanda ia telah mengerahkan sebuah pukulan kesaktian yang ia sebut 'Pukulan Tinju Besi.
"Heaaa....!" bentakan nyaring Si Kapak Kembar Pencabut Nyawa menggelegar, diiringi tubuhnya melesat kedepan dengan dua tinju menderu cepat mencerca arah wajah dan dada Pendekar Naga Sakti. Namun Pendekar Naga Sakti yang telah menyiapkan 'Pukulan Tinju Halilintar'. merangsek maju menghadang.
Desss...! Desss...!"
Duak! Dik!
Dua kekuatan dan dua tinju beradu di udara. Gelegar lidah petir menyambar kearah Si Kapak Kembar Pencabutan Nyawa tersebut, ia terpaksa menarik tubuhnya dengan cepat kebelakang hingga sekitar tiga tombak.
Merasa pukulan nya di halau musuh, Denta si Kapak Kembar Pencabut Nyawa, menghunus sepasang kapak besar dari baling punggungnya, dan ia bersiap menyerang dengan kapak besar itu.
Denta si Kapak Kembar Pencabut Nyawa, memainkan jurus kapaknya, kapak besar itu berputar putar di sekitar tubuhnya. Ayunan dan sabetan kedua kapak itu mengeluarkan suara mendengung memecah udara di sekitarnya.
Wung! Wung!
"Heaaa.....!" Denta melompat ke arah Anggala, dengan ayunan kapak mendesing memekakkan telinga.
Wing...! Wing.....!
"Hup...!" dengan tenang Anggala melentingkan tubuhnya ke udara, menghindari sabetan Kapak Denta, yang mengarah ke tubuhnya.
"Hiaaa...!" Ayunan kedua kapak Si Kapak Kembar Pencabut Nyawa itu begitu cepat, hingga yang terlihat hanya dua cahaya putih berputar di depan tubuhnya. Pendekar Naga Sakti yang juga mempersiapkan diri dengan ' Jurus Delapan Langkah Malaikat'. bergerak teratur menghindari setiap cercaan kedua kapak yang mengintai titik lemah ditubuhnya.
__ADS_1
Sambil menghindar Pendekar Naga Sakti mengirimkan sebuah tendangan yang begitu cepat, sehingga Si Kapak Kembar Pencabut Nyawa terpaksa menarik tubuhnya ke belakang, menghindari tendangan Anggala itu.
Bersambung....