
Pagi yang dingin menyelimuti Desa Talang kuda, udara dingin terasa ke dalam tulang. Orang-orang yang berjaga bersama Anggala dan Wulan Ayu tampak mendekatkan diri ke api unggun yang mereka buat.
.
Kopi hangat dan teh hangat buatan Ki Sarta, siap di minum kapan saja, namun dingin nya udara subuh itu membuat tubuh hampir menggigil.
"Waduh.. Nak Anggala udaranya dingin sekali," kata Ki Sarta dengan memeluk kedua tangannya sendiri.
"Iya nih Ki, saya sendiri terpaksa mengalirkan hawa panas, ke tubuh saya," jawab Anggala sambil tersenyum. Di minumnya kopi hangat di cangkir di depannya.
"Kenapa mayat Kala Ireng itu tidak kita kuburkan seperti yang lain nak Anggala?" Tanya Ki Sarta sambil menghirup kopi di cangkir keramik yang ia dapatkan dari pedagang dari negeri tirai bambu.
.
"Saya yakin Kala Pati dan Orang-orang Perguruan Belati Terbang itu akan datang untuk mayat Kala Ireng Ki," jawab Pendekar Naga Sakti, sambil menambahkan ranting pada api unggun di depan mereka. Para penduduk yang ikut berjaga hanya diam mereka pada mendekatkan diri ke api unggun, untuk mengusir dingin yang mendera tubuh mereka.
.
Semburat merah tampak telah keluar si upuk timur, menandakan hari telah mendekati pagi. Suara gemuruh derap kaki kuda menuju tempat itu terdengar jelas di keheningan malam. Anggala dan Wulan Ayu memberi isyarat pada orang-orang kampung untuk menyingkir, mereka tidak ingin warga desa jadi korban amukan orang-orang Perguruan Belati Terbang itu.
.
"Ki cepat masuk ke dalam warung, ajak warga untuk menyingkir dulu, biar kami yang akan melihat keadaan, mereka sudah semakin dekat," Pinta Anggala. Ki Sarta tanpa banyak tanya mengikuti permintaan Pendekar Naga Sakti itu. Tanpa di minta kedua kalinya warga desa dan Ki Sarta.
.
Tidak lama tampak di depan rombongan itu Kala Abang dan Kala Pati memimpin rombongan, jumlah mereka tidak kurang dari dua ratus orang, karna Kala Pati membawa semua orang-orang Perguruan Belati Terbang ke tempat itu.
.
Mereka lansung mengelilingi api unggun yang masih menyala di depan warung Ki Sarta itu. Kala Abang dan Kala Pati langsungmelompat turun dari kudanya. Mereka lansung membuka kain putih penutup mayat Kala Ireng itu. Tampak bekas luka di tubuh Kala Ireng itu.
.
"Ilmu apa yang di pakai Pendekar Naga Sakti itu, sehingga ia sanggup membalikkan belati terbang milik Kala Ireng," guman Kala Abang setengah berguman.
.
__ADS_1
"Tampaknya dua pendekar muda itu bakal jadi batu sandungan untuk mencapai tujuan kita Kanda!" ucap Kala Pati menyambung ucapan Kala Abang itu.
"Kemana mereka, tampak dari perapian ini mereka belum lama dari sini. Sepertinya ada yang mengawasi kita, cepat bawa jenazah Kala Ireng pergi dari sini, dan bakar kampung ini!" perintah Kala Ireng seraya melompat ke atas kudanya, beberapa orang muridnya yang dari menyiapkan tandu, cepat-cepat mengangkat mayat Kala Ireng ke atas tandu, dan segera meningggalkan tempat itu.
.
Sekitar lima puluh orang yang bersenjata golok lansung menyulutkan obor yang mereka siapkan, dan segera berpencar ke arah rumah penduduk. Belum sempat mereka melakukan perintah Kala Abang itu, Anggala dan Wulan Ayu telah turun dari pohon tempst mereka bersembunyi .
.
Set..! Set...!
"Aaakh...!"
Beberapa orang murid Perguruan Belati Terbang itu lansung terhuyung ke tanah, dengan tubuh tertancap sebuah ranting kayu yang di lemparkan Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa.
.
"Dasar manusia tidak punya perasaan, mayat teman Kalian telah di kubur dengan layak, dan mayat Kala Ireng di jaga dengan baik. Tapi masih saja Kalian berniat membakar rumah penduduk!" bentak Anggala dengan nada tinggi, tangan kanannya masih memegang beberapa ranting kayu yang siap ia jadikan sebagai senjata rahasia.
.
.
"Kita habisi saja mereka Kak, untuk apa berbasa basi dengan iblis berbentuk manusia ini!" begitu usai beucap Wulan Ayu melesat secepat kilat ke arah murid-murid Perguruan Belati Terbang itu. Secepat kilat kipas elang perak di tangannya terbuka puluhan jarum dari ujung kipas itu melesat ke arah murid Perguruan Belati Terbang itu.
Set..! Set....!
"Aaaa.....!"
Entah berapa orang murid Perguruan Belati Terbang itu jatuh ke tanah dengan memegangi bagian tubuh mereka yang terkena senjata rahasia dari kipas elang perak itu. Mereka lansung meregang nyawa, apalagi yang terkena di bagian leher, darah mengucur dari luka mereka.
.
Tidak hanya sampai di situ, kibasan dan ayunan kipas elang perak di tangan Bidadari Pencabut Nyawa tidak dapat di hindari oleh para murid Perguruan Belati Terbang itu. Kecepatan gerakan Bidadari Pencabut Nyawa yang memakai Jurus Bidadari kayangan itu hampir tidak terbendung. Dalam beberapa gerakan lebih dari sepuluh orang telah jatuh ke tanah. Semua korban senjata mustika di tangan Bidadari Pencabut Nyawa itu lansung tewas seketika.
.
__ADS_1
Di lain pihak, Pendekar Naga Sakti pun berkelebat bagai kilat menyambar dengan kesrmpurnaan ilmu peringan tubuhnya dan ditambah 'Jurus Delapan Langkah Malaikat'. nya dengan gesit ia menghajar murid murid Perguruan Belati Terbang itu.
.
Para murid Perguruan Belati Terbang itu berusaha memberikan perlawanan, namun kedikjayaan mereka jauh di bawah Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa itu, mereka hanya di jadikan sasaran empuk pukulan dan tendangan kedua pendekar muda itu.
Set..! Set!
Beberapa orang murid Perguruan Belati Terbang itu sempat melempar pisau terbangnya namun dengan sigap Pendekar Naga Sakti menangkap pisau-pisau belati yang di lemparkan padanya, dengan secepat kilat Pendekar Naga Sakti melemparkan kembali pisau belati yang ia tangkap itu ke arah murid Perguruan Belati Terbang itu. Kecepatan luncuran pisau belati terbang dua kali lipat dari sebelumnya. Sehingga murid-murid Perguruan Belati Terbang itu tidak sempat menghindar.
Cras..! Cup...!
"Aaaa...!"
Hanya teriakan terahir mereka menyayat hati, sebelum tubuh mereka ambruk ke tanah. Pisau belati mereka srndiri tertancap di dada dan perut mereka. Ketika metahari mulai menampakkan wajah nya di sebelah timur, yang terlihat di desa Talang kuda itu hanya mayat murid Perguruan Belati Terbang itu yang bergelimpangan. Beberapa orang yang masih hidup melarikan diri ke dalam hutan, tanpa mempedulikan lagi apa yang terjadi dengan teman-teman mereka.
.
Tanah di depan warung Ki Sarta itu kini di penuhi darah dan mayat manusia, tampak sepasang pendekar muda itu berdiri di tengah mayat murid Perguruan Belati Terbang yang bergelimpangan. Para penduduk keluar dari rumah mereka tampak terkejut dan banyak para wanita yang berteriak histeris, pemandangan itu begitu mengerikan bagi mereka.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa like
Koment
favorit
Dan Vote nya ya..
Terima Kasih..
__ADS_1