Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Kelompok Iblis Perak. Pertukaran


__ADS_3

Sementara itu ada dua mata menatap tajam kearah rumah besar Reksa Gana itu. Ia adalah Pendekar Naga Sakti yang menggunakan 'Ilmu Mata Malaikat'. nya. memperhatikan keadaan di dalam rumah besar itu.


"Ki, kamar Kelabang Ungu paling ujung. Aku akan turun menemui Kelabang Hijau, kalian culik putrinya. Kalian punya waktu singkat. Jadi berhati-hatilah," kata Pendekar Naga Sakti, selesai berkata ia pun melesat kearah rumah besar itu. Pendekar Tapak Dewa dan Bidadari Pencabut bersama Melati melesat kearah kamar yang di tempati Mekar Suri itu.


Kelabang Hijau tampak duduk termenung sambil menikmati minuman di gelas keramik di depannya. Entah apa yang ada dibenak tokoh hitam pimpinan delapan belas Iblis Perak tersebut.


"Sendirian Ki," ucap Pendekar Naga Sakti, entah darimana datangnya pendekar muda itu sudah duduk disamping Kelabang Hijau.


"Kau! Siapa Kau berani memasuki tempatku tampa izin?" tanya Kelabang Hijau sambil menatap tajam kearah Pendekar Naga Sakti.


Pendekar Naga Sakti hanya tersenyum tipis, "Aku adalah orang yang Kau incar di Desa Mekar Ramai Kisanak," jawab Pendekar Naga Sakti dengan begitu tenang.


"Kau Pendekar Naga Sakti?" mata Kelabang Hijau terbelalak seakan tidak percaya melihat siapa orang di depannya tersebut.


"Begitulah orang-orang memanggilku," jawab Pendekar Naga Sakti singkat.


"Pengawalku, bagaimana Kau melewati mereka? Tidak terdengar kegaduhan?" tanya Kelabang Hijau tampak terkejut. Namun ia masih berpikir jika menyerang Pendekar Naga Sakti maka keributan akan terjadi, sedangkan adiknya Kelabang Merah masih belum begitu pulih.


"Tenang saja Kelabang Hijau, pengawalmu masih ada di tempatnya," jawab Pendekar Naga Sakti sambil tersenyum.


"Apa maksudmu datang ke tempatku ini?" geram Kelabang Hijau.


"Aku hanya datang berkunjung kisanak, jika aku mau aku sudah menyeranmu dari tadi," jawab Pendekar Naga Sakti lagi, "Aku kesini memperingatkankan mu, sebaiknya kisanak jauhi Desa Mekar Ramai, dan kembalikan anak-anak yang telah diculik anak buahmu, jika tidak aku tidak menjamin seberapa banyak lagi korban yang akan berjatuhan," tambah Pendekar Naga Sakti berapi namun tetap tenang.


"Kau berani menasehati anak kemarin sore!" sergah Kelabang Hijau. Namun begitu ia menoleh kearah Pendekar Naga Sakti. Pendekar Naga Sakti sudah tidak berada disana lagi.


"Pengawaaal....!!" teriak Kelabang Hijau dengan begitu nyaring. Tidak lama kemudian dua orang anak buahnya muncul dari pintu depan.


"Ada apa Ketua?" tanya salah seorang pengawal pintu itu, ia tampak terkejut.


"Kenapa kalian biarkan Pendekar Naga Sakti masuk kemari hah..!" bentak Kelabang Hijau lagi.


"Maafkan kami Ketua, tapi kami tidak melihat siapa pun datang kesini?" jawab pengawal itu tampak ketakutan. Kelabang Hijau tampak memperhatikan wajah kedua anak buahnya.


"Apa aku yang bermimpi?" guman Kelabang Hijau dalam hati, "Tapi semua kejadian tadi begitu nyata," Kelabang Hijau tampak termenung.


"Ya sudah kalian kembali ke tempat kalian," perintah Kelabang Hijau. Dua anak buahnya tersebut hanya mengangguk. Keduanya saling pandang lalu beranjak pergi.


.


****

__ADS_1


Di kamar Kelabang Ungu. Gadis cantik berbaju ungu itu memutuskan untuk beristirahat dengan bersemedi. Perlahan Kelabang Ungu merasakan ada angin yang menerpanya, Kelabang Ungu perlahan membuka mata.


"K.. Kau..." Suara Kelabang Ungu langsung tersendat di tenggorokan ketika totokan Pendekar Tapak Dewa mengenai urat suaranya. Kelabang Ungu berniat bergerak, namun terlambat dua totokan di urat pergerakannya menyusul. Selanjutnya gadis itu pun jatuh pingsan saat Bidadari Pencabut memukul pangkal lehernya.


Tidak begitu lama ketiga pendekar itu telah berhasil menaklukan Kelabang Ungu. Mereka pun melesat cepat meninggalkan tempat itu.


"Kita tunggu Anggala disini," kata Pendekar Tapak Dewa setelah sampai kedalam hutan. Pendekar Tapak Dewa meletakkan Kelabang Ungu yang tidak sadarkan diri. Pada sebatang pohon yang cukup besar.


Wuss..!


"Saya di sini Ki," Pendekar Naga Sakti sudah berdiri tidak jauh dari Pendekar Tapak Dewa, "Bagaimana lancar?" tanya Pendekar Naga Sakti.


"Tuh..!" Bidadari Pencabut Nyawa menunjuk kearah Kelabang Ungu yang terbaring tidak sadarkan diri tersandar di batang pohon.


"Ayo kita tinggalkan tempat ini," kata Pendekar Tapak Dewa seraya membawa Kelabang Ungu.


"Kek biar saya yang bawa," ucap Pendekar Naga Sakti menawarkan diri.


"Biar saja anak muda, nanti kekasihmu cemburu," jawab Pendekar Tapak Dewa sambil tersenyum. Dengan sekali gerakan pendekar tua itu telah melesat jauh. Kegelapan malam bukan jadi halangan baginya.


"Ayo Kak, Melati..!" ajak Bidadari Pencabut Nyawa sambil melesat menyusul Pendekar Tapak Dewa. Tiga orang itu pun melesat ditengah dekatnya malam.


***


"Diam Kau! Jangan sampai mulutmu itu tidak bisa berbicara lagi," bentak Bidadari Pencabut Nyawa sambil berjongkok di dekat Kelabang Ungu yang terikat tidak berdaya itu.


"Huh... Katanya kesatria tapi beraninya main culik," racau Mekar Suri.


"Tutup mulut busuk mu itu Kelabang Ungu! Ayahmu telah menculik bocah-bocah tidak berdosa, jadi Kau yang harus membayar perbuatan ayahmu itu," bentak nyi Tantri sambil berkaca pinggang .


Mekar Suri jadi terdiam seribu bahasa mendengar perkataan Nyi Tantri tersebut. Tidak lama kemudian ki Sura Jaya keluar dari rumah kakek Wiratama disusul putrinya Melati.


"Jadi kita apakah putri Kelabang Hijau ini Ayah?" tanya Melati.


"Kita tunggu saja sampai Kelabang Hijau menyadari kalau putri kesayangannya sudah tidak ada di rumahnya. Baru kita kirimkan pesan pertukaran," jawab Pendekar Tapak Dewa.


"Biar saya yang mengantar pesan itu Kek," kata Pendekar Naga Sakti menawarkan diri.


"Baiklah... Sampaikan pesan ini pada Kelabang Hijau," sambung Pendekar Tapak Dewa lagi. Anggala mengambil daun lontar yang diberikan Ki Sura Jaya itu, dan melesat pergi.


****

__ADS_1


Sementara itu di markas Kelabang Hijau terjadi kegaduhan, ketika mengetahui Kelabang Ungu sudah tidak ada di kamarnya.


"Apa yang kalian lakukan sehingga Mekar Suri hilang kalian tidak tau. Hah..!" bentak Kelabang Hijau dengan mata memerah.


"Maafkan kami Ketua, tuan Putri berpesan kalau tadi malam dia tidak boleh diganggu," jawab salah seorang pengawal berbaju rompi hitam, " Jadi kami yang berjaga didepan kamarnya di suruh pindah," tambah pengawal itu lagi.


"Apa ini ada hubungannya dengan kedatangan Pendekar Naga Sakti tadi malam," guman Kelabang Hijau seperti berbicara pada dirinya sendiri.


"Pendekar Naga Sakti datang ke sini Kanda?" tanya Kelabang Merah dalam keterkejutannya.


"Entahlah... Tapi tidak satu pun pengawal yang tau bahwa dia datang, dia cukup lama berbicara denganku, namun para pengawal tidak mendengar apa pun?!" jawab Kelabang Hijau masih setengah tidak percaya.


Set...!


Creb!


Sebuah daun lontar melesat dan menancap tepat pada ujung kursi tempat duduk Kelabang Hijau, dengan cepat Kelabang Hijau membuka lipatan daun lontar itu.


"Kurang ajaaaarr...!" bentak Kelabang Hijau dengan mata memerah menahan amarah.


"Ada apa Kanda?"


"Ini...," Kelabang Hijau memberikan daun lontar di tangannya pada sang adik. Roksa Geni cepat membuka daun lontar itu dan membaca isi pesan yang tertulis disana.


Krak! Kelabang Merah meremas daun lontar itu hingga hancur. Wajahnya memerah menahan amarah. Delapan orang anggota Iblis Perak tampak bingung apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa yang terjadi dengan tuan Putri ketua?" salah seorang Iblis Perak memberanikan diri bertanya.


"Mekar Suri telah diculik, mereka ingin mengadakan pertukaran," jawab Kelabang Hijau, sambil berusaha mengontrol emosinya.


"Jadi kita harus bagaimana Ketua?"


"Mau tidak mau, kita harus melakukan penukaran, kerahkan senua orang-orang kita. Begitu selesai penukaran, kita habisi semua pendekar disana, kalau perlu kita bakar semua rumah penduduk disana, agar mereka tau kalau kita marah," kata Kelabang Hijau.


"Baik Ketua! Kami akan menyiapkan semua orang-orang kita," jawab salah satu Iblis Perak. Para anggota Iblis Perak pun keluar dari ruangan besar itu untuk mengumpulkan semua anak buah mereka.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2