
"Sebaiknya kau tinggalkan tempat ini, Anak Muda. Karena aku tidak pernah membiarkan musuhku hidup!" ancam Datuk Wangsaka ke arah Jaka Kelana sambil bergerak memutar ke arah kanan.
"Kau kira aku anak kecil, Datuk. Hingga kau bisa menggertakku...!" sahut Jaka Kelana tersenyum tipis.
"Jurus yang di pakai anak muda itu adalah jurus-jurus Srigala Putih, apa dia pendekar dari bukit kancah?" gumam Datuk Wangsaka dalam hati. Datuk Wangsaka langsung merangsek dengan jurus-jurus harimau hitam miliknya.
Sementara itu Anggala, Singo Abang dan Singo Jayo tampak berhadapan dengan ratusan anak buah tuan tanah Surya Karta di bantu orang-orang bertopeng yang jadi anggota Penyamun Bukit Kayangan.
Pertarungan terlihat berjalan tidak seimbang dari hitungan jumlah. Penyamun Bukit Kayangan yang mempunyai anggota sekitar seratus orang lebih, kini harus berhadapan dengan musuh yang berjumlah ratusan.
Harapan orang-orang Penyamun Bukit Kayangan hanya Nini Sumirah dan para pendekar yang membantu mereka.
"Heaaah....!"
Wut! Set!"
Sing! Wukk...!!
Ayunan golok yang saling berdesingan menyambut pagi terdengar sesekali berdentingan beradu di udara. Teriakan kesakitan juga terdengar susul-menyusul dari anak buah kedua Datuk yang mulai berjatuhan.
"Ayo, kenapa kalian ragu?" tantang Anggala ketika puluhan orang yang mengepungnya terlihat ragu-ragu menyerang.
"Hiiihhh.....!" dua orang langsung melompat sambil menyabetkan cepat golok mereka ke arah leher Anggala, namun kedua orang itu cukup terkejut ketika Pendekar Naga Sakti tidak mengelak sama sekali.
Trang! Trang!
"Hah....!!" mulut kedua anak buah sang Datuk tampak ternganga tidak percaya melihat mata golok andalan mereka bagai mengenai sebongkah potongan besi begitu mengenai leher Pendekar Naga Sakti.
Belum sempat keduanya melompat mundur, telapak tangan Anggala telah bergerak cepat menghantam ke depan.
Buak! Buak!
"Aagkh...!!" hanya lenguhan kesakitan tertahan yang terdengar dari mulut keduanya sebelum tubuh mereka terlempar sekitar dua tombak ke tanah.
"Ayo, kita bermain-main. Anak-anak!" ledek Singo Jayo sambil membentang tangan ke arah orang-orang yang mengepungnya. sudah lebih dari dua puluh orang yang jatuh ke tanah terkena kibasan telapak tangan murid Datuk Panglima Hijau itu.
Melihat gelagat para pendekar yang mereka hadapi begitu mudah membuat mereka berjatuhan membuat anak buah Datuk kembar itu hampir kehilangan nyali bertarung mereka.
"Kita serang dia secara serentak, ilmu yang di milikinya cukup tinggi," kata salah seorang anak buah tuan tanah Surya Karta itu.
"Heaaah....!" sekitar sepuluh orang langsung merangsek maju sambil menyabetkan dan menikamkan senjata mereka ke arah Singo Jayo. Di keroyok dengan begitu banyak orang Singo Jayo hanya tertawa terkekeh sambil melentingkan tubuhnya ke udara.
__ADS_1
"Hanya segitu kemampuan kalian, hah...!" ujar Singo Jayo sambil menjejak kaki di samping orang-orang yang mengeroyoknya.
"Hup!" Singo Jayo terpaksa berkelit cepat karena tiga orang yang ada di sampingnya, melompat sambil menebaskan golok ke arah bahu Singo Jayo.
"He he he...! Belajar dulu sana, baru kalian bisa menyurangiku....!" Singo Jayo dengan begitu cepat bergerak memutar dan telapak tangannya telak menghantam bahu salah seorang penyerangnya.
Plak!
"Akgh...!" keluhan tertahan terdengar jelas sebelum tubuh laki-laki yang di hantam telapak tangan Singo Jayo itu nyungsep mencium tanah.
"Heh..!" dua orang lainnya tersentak kaget belum sempat menyadari Singo Jayo kembali bergerak cepat menyusulkan serangan lanjutan.
Buak! Buak!
"Aaaa....!!" jeritan melengking dua orang kawanan itu terdengar nyaring di ikuti tubuh mereka terpental sekitar dua tombak terhantam tendangan kaki Singo Jayo itu.
"Bangsat!" Datuk Wangsaka mengembor marah melihat anak buahnya di buat kalang kabut oleh Anggala dan dua Singo dari bukit Tambun Tulang itu.
Datuk Wangsaka yang berhadapan dengan Jaka Kelana tampak mulai kehilangan kendali amarahnya. Terlihat dari serangan-serangan adik Datuk Wangsala itu agak kacau.
Tentu saja serangan musuh yang tidak teratur itu membuat Jaka Kelana mudah mendesak dan memberikan serangan balik yang cukup berarti.
Plak!
"Bangsat!" Datuk Wangsaka segera melompat mundur sekitar dua tombak ke belakang, dan segera mengusap lengannya yang terluka. Luka Datuk Wangsaka tampak langsung sirna setelah laki-laki tua itu mengusap hingga mengeluarkan asap putih tipis.
"Kurang ajar, pemuda ini memamfaatkan kemarahanku," desis Datuk Wangsaka menyadari kesalahannya sendiri.
Sret!
Datuk Wangsaka langsung menghunus keris yang terselip di balik pinggangnya, cahaya merah kehitaman terlihat semburat keluar dari mata keris yang berkelok sekitar lima itu.
"Keris Selaksa Merah...!" Jaka Kelana mengenali senjata di tangan Datuk Wangsaka tersebut.
"Kau akan mati di kerisku ini, Anak Muda!" geram Datuk Wangsaka sambil menatap tajam kearah Jaka Kelana, sedangkan keris di tangannya melintang di depan dada.
"Baiklah, Datuk. Aku pun mempunyai senjata, jangan sombong dulu...!" sahut Jaka Kelana.
Sring!
Cahaya putih keperakan tampak semburat keluar dari batang pedang Srigala Putih di tangan Jaka Kelana.
__ADS_1
"Kau... Kau Pendekar Srigala Putih?" Datuk Wangsaka cukup terkejut melihat pedang di tangan Jaka Kelana itu.
"Ya, begitulah orang-orang dunia persilatan memanggilku, Datuk," sahut Jaka Kelana begitu tenang.
Sementara Nini Sumirah yang berhadapan dengan Datuk Wangsala telah terlibat pertarungan sengit, serangan demi serangan mereka selalu berhasil menapaki setiap serangan lawan.
"Hup!" Datuk Wangsala membentak sambil melesat dengan kedua tangan terkembang membentuk cakar.
Set! Set!
Trak!
Begitu sigap Nini Sumirah menapaki serangan cakar Datuk Wangsala dengan tongkat rotan yang berwarna kehitaman.
Wuak!
Putaran tongkat di tangan Nini Sumirah membuat Datuk Wangsala terpaksa menarik mundur telapak tangannya ke belakang.
"Shaaa....!!" Nini Sumirah dengan begitu cepat menyorongkan ujung tongkatnya ke arah dada Datuk Wangsala yang baru menarik tangannya. Sang Datuk mengumpat dalam hati, dengan cepat ia meliukkan tubuhnya ke arah belakang menghindari ujung tongkat yang hampir mengenai dada kanannya.
"Heaaah....!" Datuk Wangsala dengan begitu cepat mengibaskan tangan kanannya ke arah Nini Sumirah, sebuah cahaya merah kehitaman melesat ke arah wanita tua itu.
Wuss!!
"Hiyaaa....!!" Nini Sumirah dengan cepat melentingkan tubuhnya ke atas dan berputar cepat beberapa kali, sehingga cahaya merah itu lewat di bawah tubuhnya.
Blass!!
Cahaya merah kehitaman itu tepat menghantam sebatang pohon di belakang Nini Sumirah. Batang pohon itu langsung melepuh bagai terkena cairan asam, seketika itu juga kulit pohon itu tampak mengeluarkan asap hitam.
Perlahan batang pohon itu tampak berubah menjadi kehitaman dan daun-daun langsung rontok dalam keadaan layu berwarna hitam kering.
"Racun Cakar Harimau hitam, sungguh pukulan yang menakutkan," gumam Nini Sumirah seakan berbicara pada dirinya sendiri.
"Hari ini kau harus mati, Sumirah....!!" ujar Datuk Wangsala sambil meningkatkan tenaga dalamnya, kedua tangan sang Datuk berubah menjadi merah kehitaman.
.
.
Bersambung.....
__ADS_1