Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Dendam Tiga Elang Part 9


__ADS_3

Senjata ini, menjadi salah satu senjata khas musuhnya mengeluarkan senjata andalannya. Bidadari Pencabut Nyawa segera melipat kipas elang perak dan menyimpannya di balik bajunya.


Sring!


Bidadari Pencabut Nyawa menghunus senjata andalannya, yaitu pedang elang perak. Begitu senjata itu keluar dari sarungnya, cahaya putih keperakan, yang menyilaukan mata keluar dari batang pedang pusaka itu. Di tambah dengan cahaya matahari yang mengenai mata pedang itu.


"Pedang itu akan jadi milikku hari ini gadis cantik! Heaaa....!!"


Jerit melengking keluar dari mulut Walet Hitam, maka seketika itu pula tubuhnya melesat cepat ke arah Bidadari Pencabut Nyawa. Tangan kanan Walet Hitam yang menggenggam payan itu teracung ke depan.


Trang!


Wulan Ayu tidak tinggal diam, ia cepat menahan serangan Walet Hitam itu dengan pedang Elang Perak di tangannya, suara gemerentangan kedua senjata itu beradu cukup memekakkan telinga.


Walet Hitam mencerca ke arah si Bidadari Pencabut Nyawa dengan cukup cepat dan bertubi-tubi, namun dengan ketangkasan dan kesaktiannya murid Malaikat Pemarah dan Bidadari Galak itu dapat mrngimbangi setiap serangan musuhnya itu.


Hampir dua puluh jurus berlalu Walet Hitam belum mampu mendesak Bidadari Pencabut Nyawa. Memasuki jurus kedua puluh lima Walet Hitam melempar sesuatu ke tanah, asap putih menutupi tempat itu.


"Hua ha ha...! Bidadari Pencabut Nyawa! Jangan senang dulu, ku tunggu kedatanganmu di puncak gunung pungur purnama tiga puluh hari dari sekarang!"


Suara Walet Hiram membahana di seantero tempat itu, begitu asap putih itu tertiup angin. Walet Hitam dan anak buahnya tidak ada di tempat itu lagi.


"Bangsat! Dasar pengecut Kau Walet Hitam!" Maki Wulan Ayu, tampak kesal karna musuhnya melarikan diri.


"Sudahlah Wulan, biarkan saja mereka, kita hancurkan mereka di sarang mereka nanti," Kata Dewi Arau, gadis cantik berbaju merah itu telah berdiri tidak jauh dari Bidadari Pencabut Nyawa.


"Maksudmu?" Tanya Wulan Ayu sambil mengerenyitkan keningnya agak bingung.


"Kami bertiga menuju tempat itu, kami ingin mencari pembunuh orang tua kami," Jawab Dewi Arau sambil tersenyum.


"Jadi Kalian mau ke gunung pungur?" Tanya Wulan Ayu lagi.


"Ya, sebenarnya undangan ke pertemuan itu untuk guru kami Elang Hitam, tapi beliau menyuruh kami yang pergi. Guru kami menceritakan tentang kejadian lima belas tahun yang lalu, saat beliau menemukan kami bertiga di tengah hutan. Guru Elang Hitam mengatakan mungkin kami bisa mencari tau siapa pembantai kepala kampung Tanjung Sari lima belas tahun yang lalu," Cerita Dewi Arau menjelaskan.


"Baiklah, kami berdua akan menemani Kalian ke pertemuan itu, lagian si Walet Hitam telah mengundangku kesana," Kata Bidadari Pencabut Nyawa sambil menyarungkan pedang Elang Perak ke dalam warangka yang ada di balik punggungnya itu.

__ADS_1


"Terima kasih banyak Wulan, Sebenarnya kami tidak ingin merepotkanmu dan Kak Anggala," Ucap Dewi Arau lagi.


"Ya sudah, tidak usah di pikirin, kita masuk yuk, Kalau tuhan berkehendak akan ada jalannya," Kata Wulan Ayu sambil tersenyum.


"Ayuk..!" Jawab Dewi Arau sambil membalas senyum Wulan Ayu. Kedua gadis itu memasuki warung Ki Suro di ikuti kedua adik Dewi Arau itu.


"Wah.. Bidadari Pencabut Nyawa nggak jadi ngamuk nih," Kata Anggala sambil tertawa memandang ke arah Wulan yang baru duduk di sampingnya.


"Huh.. Kak Anggala selalu ngeledekin dinda..!" Jawab Wulan Ayu sambil memonyongkan bibirnya ke depan.


"Kalau nggak ngeledekin dinda siapa lagi, ngeledekin Tiga Elang, nanti Kakak di hajar seperti perampok tadi malam," Kata Anggala sambil tertawa.


"Nah... Ayo minum dulu, nak Wulan pasti haus," Kata Ki Suro sambil meletakkan sekendi air teh hangat di meja yang di tempati Anggala dan ke empat gadis cantik itu.


"Terima kasih Ki," Ucap Wulan Ayu dan Anggala berbarengan. Ki Suro hanya mengangguk, ia menarik sebuah kursi yang kosong dan duduk di samping Anggala.


"Tadi kalau aki tidak salah dengar, waktu di luar, Kalian menyebut tentang Kampung Tanjung Sari?" Tanya Ki Suro, entah apa yang membuat orang tua itu penasaran?.


"Iya Ki kami tadi memang menyebut Kampung Tanjung Sari, emang ada apa Ki?" Jawab Dewi Arau sambil balik bertanya.


"Kami berasal dari sana Ki," Jawab Dewi Arau.


"Dari sana ya," Ucap Ki Suro, pandangan laki laki tua itu tampang menerawang jauh, entah apa yang ada di pikirannya.


"Aki tau Kampung Tanjung Sari?" Tanya Dewi Arau tampak penasaran.


"Ya, adik ku dulu tinggal di sana," Jawab Ki Suro singkat sambil menarik napas panjang. Ada semburat kesedihan di wajah tua Ki Suro.


"Sekarang adik Aki itu masih di sana?" Tanya Dewi Arau lagi.


Ki Suro hanya menjawab dengan menggelengkan kepala, wajahnya menunduk.


"Kemana adik Aki itu?" Tanya Dewi Arau semakin penasaran.


"Dia sudah tidak ada di dunia ini lagi," Jawab Ki Suro, "Lima belas tahun yang lalu kabarnya dia dan keluarganya di bantai oleh para perampok, yang menyedihkan lagi ketiga putrinya, kabarnya juga ikut menghilang," Tambah Ki Suro lagi.

__ADS_1


"Siapa adik Ki Suro itu?" Tanya Dewi Arau lagi sambil memandang wajah laki-laki tua di sampingnya itu.


"Namanya Suratma, Panggilannya Sura, istrinya bernama Sri, terakhir aku bertemu dia saat anaknya baru satu, setelah itu kami tidak pernah lagi bertemu, karna jarak Kampung Tanjung Sari dengan kampung ini jauh,"


"Suratma, itu ayah kami Ki," Ucap Dewi Arau matanya tampak berbinar.


"Kau putri Suratma?" Mata Ki Suro tampak terbelalak menatap ke arah Dewi Arau.


"Iya Ki, saya masih ingat nama ayah kami, dan nama ibu kami, saat kejadian itu umurku lima tahun," Jawab Dewi Arau menjelaskan.


"Ya Allah.... Ternyata Kau keponakanku Nak," Terdengar lirih suara Ki Suro, tanpa di minta ia langsung bangkit dan memeluk Dewi Arau sambil menangis, "Wak senang sekali Kalian masih hidup anakku,"


"Terima kasih Wak," Jawab Dewi Arau sambil menyeka air matanya dengan sudut lengan bajunya, "Pingai, Aurora ini Wak kita, adikku,"


"Wak," Sapa Dewi Pingai dan Dewi Aurora berbarengan, kedua gadis itu tampak ikut menangis terharu karna pertemuan yang membahagiakan itu.


"Kak, dinda juga ikut terharu," Kata Wulan Ayu sambil mengusap air matanya, dengan lengan baju biru kesayangannya itu. Wulan Ayu menyandarkan kepalanya di bahu Manggala.


"Malu ah.. Banyak orang," Kata Anggala setengah berbisik.


"Biarin, dinda bersandar pada kekasih dinda sendiri, bukan kekasih orang," Jawab Wulan Ayu dengan gaya manjanya. Anggala hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum.


.


.


Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan jejak ya teman-teman.


Terima kasih banyak.


"


.

__ADS_1


__ADS_2