
Siang itu warung Ki Suro tampak begitu ramai dengan pengunjungnya. Para tamu warung di hidangkan masakan yang di masak oleh Kemboja dan ibunya, ada pindang, seruit, dan gulai taboh.
Anggala juga tampak duduk di ruang makan keluarga Ki Suro, karena meja di warung penuh semua di pakai para tamu.
"Kali ini tidak makan di meja nak Anggala, kita makan di sini saja, tidak apa-apakan?" Tanya Ki Suro sambil duduk di samping Anggala.
"Tidak apa-apa Ki, malah saya yang tidak enak mengganggu keluarga Aki makan bersama," Jawab Manggala merasa kurang enak hati.
"Tidak apa-apa nak, anggap saja kita keluarga, iya kan nak Wulan?" Kata Ki Suro sambil tertawa.
"Eh... Terserah Aki deh..." Jawab Wulan Ayu sambil tertawa.
"Ayo kita makan, tampaknya Kemboja masak khusus untuk Kalian hari ini!" Ajak Ki Suro. Mereka pun menyantap hidangan yang telah di siapkan di depan mereka.
Baru selesai makan, terdengar suara kuda meringkik begitu banyak di depan warung Ki Suro itu.
"Ha ha ha...! Tampaknya begitu ramai! Cepat Kalian keluar, karna kami lapar dan mau makan!" Teriak pimpinan rombongan orang-orang berbaju merah itu. Orang yang berteriak itu memakai baju rompi merah dengan dalaman berwarna hitam kelabu, mata kirinya di tutup seperti kaca mata. Sebuah pedang besar tampak tersampir di balik punggungnya.
Para penduduk yang lagi makan dan yang telah siap makan cepat-cepat membayar ke Kemboja yang ada di meja depan. Setelah membayar mereka langsung berlari meninggalkan warung Ki Suro itu.
Kemboja tampak ketakutan dan langsung lari ke ruang dalam di ikuti dua temannya.
"Siapa lagi yang datang Kemboja?" Tanya Ki Suro sambil bangkit dari duduknya.
"Perampok Mata Satu dan anak buahnya Pak," Jawab Kemboja tampak agak takut.
"Siapa lagi itu Perampok Mata Satu?" Tanya Dewi Arau seraya bangkit dan berdiri dekat Kemboja. Dewi Arai berusaha menenangkan ketakutan Kemboja.
"Salah seorang bawahan Warok Singa Merah nak Arau," Jawab Ki Suro yang tampaknya telah mengenali semua dedengkot rampok dan penyamun yang bernaung di bawah kekuasaan Tiga Warok Singa Merah.
"Kemboja tidak usah takut, Biar uwo ( Panggilan kakak perempuan di daerah itu, sekarang daerah lampung) yang mengurus mereka," Kata Dewi Arau sambil memegang bahu Kemboja.
"Terima kasih Wo, hati-hati," Ucap Kemboja. Gadis itu tampak masih agak takut.
"Kemboja tidak usah takut, kan ada kami sepupumu," Kata Dewi Pingai sambil memegang bahu Kemboja.
"Tapi, Yuk, ( Ayuk panggilan bagi kakak perempuan) mereka itu sangat jahat, mereka kalau datang kesini selalu mau nganggui Kemboja," Jawab gadis itu.
"Kemboja di sini saja, biar kami yang melayani mereka," Kata Wulan Ayu sambil meletakkan pedang elang perak di atas dipan. Dewi Arau dan kedua adiknya menyusul Wulan Ayu ke depan.
"Ha ha ha... Begini kan enak, kita bebas duduk sesuka kita! Pelayan cepat siapkan kami makanan!" Ujar Si Mata Satu dengan tawanya yang membahana di ikuti tawa anak buahnya.
__ADS_1
"Sebentar Tuan, pelayannya lagi makan," Jawab nyi Nibah istri Ki Suro itu. Wulan Ayu datang dengan Dewi Arau beserta kedua adiknya.
"Biar kami yang antar Makwo ( panggilan untuk kakak perempuan ayah atau ibu)," Ucap Dewi Arau sambil mengambil tampah tempat pembawa makanan le meja tamu.
"Terima kasih nak Arau, hati-hati," Ucap nyi Nibah sambil mengisi mangkuk dan piring makanan.
"Ha ha ha...! Bora, lihat pelayannya memakai baju warna warni seperti pelangi, tapi semua memakai cadar, apa mereka semua sumbing ya? Ha ha ha...!" Ejek Si Mata Satu melihat Wulan Ayu dan keTiga Elang memakai cadar penutup wajah.
"Mungkin Kau memang benar Ketua, atau mereka lobang hidungnya seperti babi menghadap ke depan, ha ha ha...!" Jawab Bora sambil tertawa di ikuti tawa teman temannya.
"Anwa, coba kau tarik cadar gadis itu ketika dia meletakkan makanan nanti," Perintah Si Mata Satu berbisik pada salah seorang anak buahnya yang bernama Anwa itu.
"Baik Ketua!" Jawab Anwa sambil mengganguk pelan. Begitu Wulan Ayu meletakkan tampah tempat piring dan mangkuk di atas meja di depan Anwa, tangan perampok itu bergerak berusaha membuka cadar di wajah Wulan Ayu itu.
Tentu saja Bidadari Pencabut Nyawa tidak tinggal diam, dengan gesit ia menarik kepalanya kebelakang, "Eh Tuan mau apa? Jangan Tuan, wajah saya jlek," Wulan Ayu pura-pura ketakutan.
"Ha ha ha...! Ayolah cantik, buka cadarmu!" Ujar Anwa malah berdiri berusaha mengejar Wulan Ayu.
"Ha ha ha...! Ayo gadis cantik, perlihatkan wajahmu," Anwa tampak berusaha mendekati Wulan Ayu.
"Hei! Anwa, kalau gadis itu memang sumbing habis Kau! Ha ha ha....! Ujar Bora. Perkataan Bora itu malah membuat Anwa makin penasaran, ia terus mengejar Wulan Ayu.
"Jangan Tuan! Jangan!" Kata Wulan Ayu sambil berlari kecil ke arah luar warung, sambil pura-pura ketakutan.
"Dasar perampok bodoh, tertawalah Kalian sepuasnya, sebelum gigi Kalian lepas," Guman Dewi Arau dalam hati.
"Ha ha ha... Ayolah...!"
Buk..!
"Aakh...!
Anwa berusaha mengapai cadar di wajah Wulan Ayu, tiba-tiba kaki gadis itu bergerak cepat dan menghantam telak di dada Anwa. Perampok Singa Merah yang tidak siap itu harus tertelungkup di tanah, sambil mengerang kesakitan.
"Nih, Kau mau melihat wajahku bukan!" Bentak Bidadari Pencabut Nyawa seraya membuka cadarnya. Begitu cadar itu terbuka tampaklah wajah cantik sang bidadari dari barat itu.
"Bangsat! Siapa Kau berani menipu Perampok Singa Merah," Ujar Anwa sambil berusaha berdiri, perutnya terasa di hantam batu sebesar kerbau, sakitnya terasa di aduk-aduk.
Sret!
Anwa langsung menghunus goloknya, dan bersiap menyerang Bidadari Pencabut Nyawa.
__ADS_1
"Aku malaikat mautmu!" Jawab Bidadari Pencabut Nyawa sengit, matanya tampak agak memerah menahan amarah.
"Mati Kau....! Heaaa....!"
Anwa berteriak nyaring sambil melompat ke arah Bidadari Pencabut Nyawa dengan golok menebas ke depan.
Wut.!
Bidadari Pencabut Nyawa hanya bergerak sekitar satu langkah kesamping namun gerakannya yang begitu cepat hampir tidak terlihat mata biasa. Secepat kilat kaki kanan Bidadari Pencabut Nyawa bergerak ke arah perut Anwa.
Buak.!
"Aakh..!"
Lenguhan tertahan keluar dari mulut Anwa, sebelum tubuhnya terpental sekitar satu setengah tombak ke tanah.
"Bruk!
Tubuh Anwa tersungkur di tanah, darah segar mengucur di sudut bibirnya.
"Heaaa....!"
Bora melompat dengan bersalto di udara, ia langsung menyerang Bidadari Pencabut Nyawa, dengan memberikan sebuah tendangan terbang yang mengandung tenaga dalam, yang cukup tinggi.
Tap.!
Wulan Ayu menyambut serangan Bora itu dengan kepalan tangannya. Bora terpaksa melompat mundur ke samping Anwa, telapak kakinya terasa nyeri akibat beradu dengan kepalan tinju Bidadari Pencabut Nyawa itu.
"Huh..Ternyata tenaga dalam gadis ini begitu tingi, telapak kakiku terasa nyeri akibat pukulannya," Guman Bora dalam hati, untuk menghilankan nyeri di kakinya, ia mengalirkan tenaga dalam ke arah telapakkakinya.
"Anak-anak bantu Bora dan Anwa! Habisi gadis itu!" Perintah Si Mata Satu sambil menyantap makanannya.
"Baik Ketua!" Jawab anak buah si Mata Satu, tanpa menunggu perintah kedua mereka langsung melompat keluar dan mengelingi Bidadari Pencabut Nyawa.
.
.
Bersambung..
Jangan lupa tinggalkan jejak ya teman-teman.
__ADS_1
Terima kasih banyak.