
Setelah semua selesai di Kerajaan Pasemah Agung. Anggala dan Wulan Ayu pun melanjutkan perjalanan mereka untuk mencari keberadaan Pendekar Naga Terbang dan pengejaran pada Pendekar Naga Hitam, Fhatik Mahesa.
Suasana hutan montana di daerah pegunungan Dempo ini, begitu asri dan sejuk di pandang mata, sebuah sungai jernih mengalir di kaki gunung dari arah dataran tinggi Gunung Dempo.
Setelah berhari-hari berkuda sepasang pendekar muda itu memasuki sebuah wilayah dan para penduduknya hidup bertani.
****
Nun jauh dari keramaian, sebuah perguruan silat yang tampak terlihat cukup megah dan ramai para murid yang berlatih ilmu silat di sana.
Seorang gadis muda sedang lenggak lenggok dengan jurus 'Tarian Bidadari'. Perguruan ini memang berisi murid para wanita. Perguruan ini bernama Perguruan Mawar Putih, yang ketuanya seorang pendekar wanita bergelar Dewi Mawar.
Di tengah hiruk pikuknya suara para wanita berlatih tampak beberapa pasang mata melotot memandang dari balik daun rindang pepohonan, di luar tembok Perguruan Mawar Putih.
"He he he...! Ujang..., gadis-gadis di perguruan ini cantik-cantik dan manis-manis. Aku yakin mereka semua memiliki tubuh yang begitu nikmat di malam hari," bisik salah seorang dari tiga pasang mata yang mengintip dari balik rindangnya daun pohon.
"Aku sudah tidak sabar menjajal mereka, ayo Kuyung ( paman ) kita sampiri gadis-gadis itu, " jawab laki-laki yang di panggil ujang.
"He he he...! Iya mang, aku juga ingin bermain-main dengan para gadis itu," timpal pemuda yang berpakaian kuning dengan sepasang klewang hembrug di punggungnya,
"Heh...! Sabar lah sebentar lagi, biarkan para gadis itu lelah berlatih dulu, baru kita turun kesana, jika sekarang kita turun. Puluhan gadis itu tidak mustahil bisa mengalahkan kita, ilmu silat Dewi Mawar itu cukup tangguh, apalagi jurus 'Phoenix Api'. nya itu," cegah laki-laki uang di panggil kuyung, dia yang lebih tua di antara tiga orang itu memperingatkan.
Kedua pemuda di sampingnya hanya mengangguk, mengikuti kata-kata kuyung. Setelah cukup lama menunggu tampak para gadis itu mulai membubarkan diri dari latihan mereka, tubuh para gadis itu terlihat sudah bermandikan keringat.
"He he he....! Mau kemana gadis-gadis cantik? temani kami bermain-main dulu!"
Tiba-tiba sebuah suara menggema, para murid Dewi Mawar itu menoleh ke arah asal suara itu. Begitu pandangan mereka terhenti. Tiga orang laki-laki sudah berdiri di belakang mereka.
"Heh...! Siapa kalian, berani masuk Perguruan Mawar Putih tanpa izin!" bentak salah seorang gadis yang berpakaian serba merah. Para gadis yang lain tampak menatap tajam ke arah Tiga orang laki-laki itu, dengan penuh tanda tanya.
__ADS_1
"He he he...! Ujang, matamu memang tidak salah para gadis ini memang cantik-cantik dan bertubuh indah, dan banyak yang punya buah huldi besar-besar. He he he....!" tawa laki-laki yang di panggil kuyung itu terkekeh.
"Kau benar Kuyung, mata Ujang memang sangat tajam, apalagi kalau soal tubuh indah para wanita, ha ha ha...!" sambut temannya yang berbaju kuning dengan tawa terbahak-bahak.
"Heh...! Tiga Iblis Mesum, sebaiknya kalian tinggalkan tempat ini. Jika tidak kami tidak akan mengampuni kalian," bentak salah seorang gadis berbaju hijau dengan sebuah selendang kuning tersampir dari bahu sampai ke pinggangnya.
"Ha ha ha...! Dewi Selendang Kuning, rupanya kau mengetahui siapa kami. Tapi tidak apa, kami Tiga Iblis Mesum ingin menikmati tubuh gadis-gadis yang ada di sini," jawab laki-laki yang di panggil Kuyung. Dia adalah Iblis Hitam pimpinan Tiga Iblis Mesum.
Tanpa di perintah para gadis murid Perguruan Mawar Putih langsung berinisiatif mengepung ketiga Iblis Mesum dari arah penjuru. Mereka langsung menggunakan semua senjata yang ada di arena latihan itu. Baik pedang, klewang, kudok, dan trisula.
Namun Tiga Iblis Mesum tampak hanya tertawa melihat ke arah para pengepung mereka. Ketiga laki-laki itu malah cengegesan menggoda para gadis muda itu.
"Ayo, gadis-gadis. Kita main-main dulu," tantang Iblis Kuning, yang di panggil Ujang tersebut.
Sedangkan pemuda yang berbaju biru tampak cengegesan memandang ke arah para gadis yang mengepung mereka bertiga.
"Beri mereka pelajaran!" perintah Dewi Selendang Kuning. Tanpa menunggu perintah kedua kalinya belasan murid Perguruan Mawar Putih itu melompat menyerang.
"Hiyaaat...!"
Di sertai jeritan melengking para gadis itu melompat sambil menyarangkan senjata yang ada di tangan mereka, ke arah Tiga laki-laki yang ada di tengah-tengah itu.
"Hup!"
Begitu ringan dan gesit tiga laki-laki yang di kenal dengan gelar Tiga Iblis Mesum itu melentingkan diri ke udara menghindari serangan para gadis itu dengan begitu cepat.
"Heh!"
Para murid Perguruan Mawar Putih yang rata-rata masih mempunyai kepandaian dan tenaga dalam di bawah tingkat tiga puluh persen, tampak terkejut melihat musuh mereka menghindar begitu cepat.
__ADS_1
"He he he...! Gadis-gadis, lebih baik kalian temani kami malam ini, daripada kalian membuang tenaga sia-sia," kata Iblis Hitam sambil tertawa terkekeh. Laki-laki itu hanya meliuk-liukkan tubuhnya menghindari cercaan trisula dan klewang, yang menebas dan menikam ke arah tubuhnya.
"Bajingan!" teriak para gadis itu mengembor marah, melihat serangan mereka hanya di buat mainan oleh Tiga Iblis Mesum. Akhir-akhir ini di wilayah selatan pulau Andalas ini memang lagi terjadi kegemparan, di karenakan sepak terjang Tiga Pendekar perenggut kesucian para gadis. Beberapa penduduk desa di bagian timur Gunung Dempo sampai menyewa pendekar bayaran demi menghentikan sepak terjang Tiga Pendekar Pemetik Bunga itu.
"He he..!" tawa Kuyung terkekeh seraya menarik tubuhnya ke samping menghindari tikaman trisula di tangan salah seorang murid Perguruan Mawar Putih, dengan begitu cepat laki-laki mesum itu menyorongkan wajahnya ke arah pipi gadis itu. Hampir saja hidungnya menyentuh gadis berbaju merah muda yang berwajah manis itu.
Jika tidak salah seorang temannya mengibaskan klewang ke arah bahu laki-laki berpakaian serba hitam itu. Kuyung cepat melompat ke belakang menghindar sabetan klewang itu.
"Kau tidak apa-apa, Seruni?" tanya gadis berbaju hijau muda itu, begitu ia berada di samping gadis berbaju merah muda yang bernama Seruni itu.
"Aku tidak apa-apa, Nila. Terima kasih telah menyelamatkanku, jika tidak laki-laki mesum itu sudah berhasil mencium pipiku," ucap Seruni dengan wajah memerah menahan malu. Jika sampai laki-laki itu tadi berhasil menciumnya, tentu ia akan merasa malu setengah mati.
"Sama-sama, kita kan teman. Jadi berhati-hatilah," kata Nila Sari sambil melompat ke arah musuh yang tidak jauh darinya dengan mengayunkan klewang hembrug yang ada di tangan kanannya.
.
.
Bersambung....
Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.
Rate
Hadiah
Like
Koment
__ADS_1
Dan Votenya teman-teman.
Terima kasih banyak.